
Mirna masuk ke ruang operasi dikarenakan terjadi pendarahan yang tak memungkinkannya melahirkan normal. Setelah dua jam operasi itu selesai juga. Dokter memberi tahu pada Leo kalau bayi Mirna sudah meninggal dunia didalam kandungan. Saat itu Leo belum memberi tahu Mirna tentang anaknya karena masih masa pemulihan operasi ceasar. Bi Surti diminta Leo untuk menemani Mirna. Leo kembali ke ruangan rawat inap tempat Zara dan kedua bayi kembarnya berada.
"Leo.....kau dari mana?"tanya Zara.
"Tadi aku menemui Dokter yang menangani Mirna"ucap Leo.
"Terus gimana keadaan Mirna dan bayinya?"tanya Zara.
"Mirna sudah stabil, tapi bayinya...bayinya meninggal saat masih didalam kandungan, kemungkinan karena benturan saat jatuh dari tangga"ucap Leo.
"Innalillahi wa inna ilaihi raj'iun"ucap Zara.
"Untuk sementara kita tidak bisa memberitahukan kabar ini pada Mirna karena dia sedang masa pemulihan operasi caesar"ucap Leo.
"Kalau begitu kita baru bisa memberitahukannya saat dia sudah sehat"ucap Zara.
Leo hanya mengangguk, lalu menghampiri dua bayi kembarnya yang sedang tidur.
"Zara, Raka dan Clara masih tidur aja dari tadi" ucap Leo.
"Bayi memang lebih banyak tidurnya, mereka masih beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya"ucap Zara.
"Mereka lucu bikin Leo gemes pengen liat mereka bermain"ucap Leo.
Zara turun dari ranjangnya menghampiri Leo yang sedang memandangi kedua bayi mereka. Leo langsung berdiri memeluk dan mencium Zara yang menghampirinya.
"Zara sayang terimakasih ya sudah memberi Leo kebahagiaan dengan adanya dua buah cinta kita" ucap Leo setelah melepas ciumannya.
Zara mengangguk dan tersenyum pada Leo.
"Uweeek.....uweeek.....uweeeek......."suara kedua bayi mereka menangis.
"Raka dan Clara menangis bersamaan Zara"ucap Leo.
"Mereka haus Leo"ucap Zara.
Zara langsung menyusui kedua bayi kembarnya sambil duduk diranjang pasien.
"Aw......aw........."ucap Zara kesakitan.
"Zara sayang kenapa?"tanya Leo.
"Sakit Leo, karena aku masih baru menyusui seperti ini rasanya sakit....lecet semua, perih lagi"ucap Zara.
Leo langsung merangkul Zara dari samping dan menemaninya menyusui kedua bayinya.
"Apa mereka minum susu pendamping dulu?" tanya Leo.
__ADS_1
"Tidak perlu Leo, air susu ibu itu asupan terbaik untuk bayi selain membuat mereka kenyang, menjadi imunitas untuk mereka"ucap Zara.
"Tapi Zara kesakitan dari tadi"ucap Leo.
"Aku akan menahannya demi anak kita"ucap Zara.
Leo sampai meneteskan air mata melihat pengorbanan Zara dari melahirkan sampai menyusui yang prosesnya tak mudah dan penuh perjuangan.
"Zara sayang aku semakin cinta padamu"ucap Leo lalu mencium kening Zara.
"Zara juga semakin cinta sama Leo, pokoknya Leo suami terbaik Zara"ucap Zara.
Leo merangkul Zara sambil mengusap kepala kedua bayinya bergantian. Dia begitu bahagia memiliki mereka semua.
**********
Setelah tiga hari dirawat Mirna akhirnya diperbolehkan pulang. Leo dan Bi Surti menjemputnya untuk pulang. Mirna selalu menanyakan anaknya. Leo akhirnya memberi penjelasan pada Mirna mengenai kematian anaknya. Mirna syok sampai histeris, dia menangis terus menerus.
"Tidak.....ak......ak......tidak mungkin bayiku mati.....hik....hik......."ucap Mirna.
"Mirna kau harus mengikhlaskannya, biar bayimu tenang disana disisi Allah SWT"ucap Leo.
"Kalian bohong....anakku tidak mungkin mati....hik....hik......."ucap Mirna.
Bi Surti menghampiri Leo yang berdiri didekat Mirna yang menangis.
"Baik Bi Surti, makasih ya"ucap Leo.
"Sama-sama Den"ucap Bi Surti.
Leo akhirnya keluar dari ruangan itu. Sementara Bi Surti membujuk Mirna untuk diajak pulang.
Setelah beberapa jam kemudian Mirna mau pulang ke rumah besar Leo bersama Bi Surti.
**********
Satu Minggu Kemudian
Mirna masih bersedih atas meninggalnya putri kandungnya. Dia hanya bisa meratapi kesedihannya itu. Suatu ketika Mirna melihat kedua bayi Zara yang lucu-lucu. Dia teringat anaknya sendiri. Dia ingin memiliki seorang bayi untuknya. Malam itu Leo sedang lembur dikantor. Mirna memenami Zara mengasuh kedua bayinya malam itu. Saat itu Zara pergi ke toilet sebentar, Mirna yang gelap mata berpikir untuk membawa salah satu bayi milik Zara.
"Jika aku tidak bisa memiliki Leo, paling tidak aku memiliki bayi ini untuk menggantikan anakku" ucap Mirna.
Mirna mengambil Clara bayi perempuan Zara. Dia keluar dari kamar itu membawa tas miliknya. Clara dimasukkan ke dalam tas besar miliknya. Lalu dia keluar dari dalam rumah itu. Saat dipintu gerbang rumah Leo, securiti sempat menanyainya.
"Mirna mau kemana kok bawa tas segala?"tanya Pak Aman.
"Mau ke rumah saudara, Pak Aman, katanya sakit. Aku mau menengoknya, kasihan dia tidak memiliki kerabat selain aku"ucap Mirna.
__ADS_1
"Oh gitu, apa sudah bilang pada Den Leo dan Non Zara?"tanya Pak Doyok.
"Sudah Pak, maka dari itu saya diperbolehkan pergi malam ini, habis saudara saya sudah sakit parah"ucap Mirna.
"Semoga saudaranya cepet sembuh"ucap Pak Aman.
"Hati-hati dijalan sudah malam soalnya"ucap Pak Doyok.
"Baik Pak"ucap Mirna.
Mirna keluar dari pintu gerbang rumah besar itu. Dan sesegera mungkin mencari tukang ojeg, dia pergi membawa Clara.
Zara keluar dari toilet, dia tidak melihat Mirna ada dikamar itu. Dia menghampiri ranjang bayinya. Zara tidak mendapati keberadaan Clara bayi perempuannya.
"Dimana Clara....Clara kamu dimana sayang....bayiku dimana hik....hik.....Mirna, dimana Mirna......."ucap Zara sambil menangis.
Zara berlari keluar kamarnya, dia turun ke lantai dasar bertemu dengan Bi Surti dan Mba Ida. Zara menanyakan Mirna pada Bi Surti, akhirnya Zara dan Bi Surti mengecek ke kamar Mirna. Sementara Mba Ida mencari ke ruangan lain. Dikamar itu Mirna tak ada bahkan beberapa barang dan pakaiannya tidak ada.
"Non, Mirna jangan-jangan kabur membawa Clara"ucap Bi Surti.
"Tidak mungkin Bi......Clara kamu dimana nak hik.....hik....."ucap Zara.
Mba Ida masuk ke kamar itu memberitahu Zara tentang informasi yang didapatnya dari securiti.
"Non tadi Pak Aman dan Pak Doyok sempat melihat Mirna keluar dari rumah ini, katanya mau menjenguk saudaranya yang sakit"ucap Mba Ida.
"Gak Mungkin kalau nengok saudara membawa Clara juga, pasti dia membawa kabur Clara Non" ucap Bi Surti.
"Clara......anakku.....hik....hik....."ucap Zara sambil menangis.
Kemudian Zara pingsan, Bi Surti dan Mba Ida membawa Zara ke kamarnya, tak lama Leo pulang ke rumahnya. Bi Surti dan Mba Ida menceritakan semuanya pada Leo. Securiti dirumah itu mencari keberadaan Mirna keluar dari rumah besar itu. Leo menelpon polisi untuk segera mencari Mirna, dia juga menyuruh orang bayaran untuk mencari Mirna.
Satu bulan penuh Zara hanya bersedih dikamarnya. Dia terus menangis dengan hilangnya Clara bayi perempuannya. Pencarian belum membuahkan hasil padahal polisi dan orang bayaran sudah dikerahkan. Leo menghampiri Zara yang duduk diranjangnya sedang menyusui Raka sambil menangis memikirkan Clara. Leo duduk disamping Zara dan menyadarkan kepala Zara dibahunya.
"Zara sayang, Leo tahu kau sedih memikirkan Clara. Leo juga sama Zara, rasanya hati ini hancur. Tapi kita harus tetap semangat, tetap berusaha dan berdoa agar Clara segera ditemukan. Dan kita bisa berkumpul lagi bersama seperti sebelumnya"ucap Leo.
"Hik....hik.....apa kita bisa bertemu Clara lagi Leo?
Apa dia baik-baik saja Leo? lihat Raka, dia saja selalu lapar dan ingin menyusu hik....hik....pasti Clara juga samakan Leo"ucap Leo.
"Iya sayang, sabar ya. Leo yakin Clara pasti bisa ditemukan secepatnya, kalau perlu Leo akan membayar lebih banyak orang lagi untuk mencarinya"ucap Leo.
"Lakukan apapun Leo, Clara harus segera ditemukan, aku sangat mengkhawatirkannya hik......hik........"ucap Zara.
"Iya sayang, kau harus kuat, Raka juga membutuhkanmu Zara, kita akan terus berusaha dan berdoa untuk menemukan Clara"ucap Leo.
Zara mengangguk dan meneteskan air matanya tanda kepedihan dihatinya yang tak terbendung. Semenjak Clara hilang, Zara sering melamun dan lebih banyak dikamar bersama Raka. Dia terus memandangi foto bayi milik Clara. Zara berharap suatu saat nanti Clara akan ditemukan secepatnya.
__ADS_1
Flash Back OFF