
Leo masuk ke rumah besarnya membawa Kirana, Ibu Meta, dan Pak Irwan. Saat masuk ke dalam rumah, Ibu Meta dan Pak Irwan takjub melihat rumah milik Leo yang besar dan megah. Leo mengajak mereka ke ruang keluarga, disana Zara sudah menunggu. Ketika Kirana memasuki ruang keluarga, Zara langsung menghampirinya dan memeluknya.
"Ini Mama sayang"ucap Zara.
"Mama? Ini Mamanya Kirana?"tanya Kirana.
"Iya sayang, Mama kangen denganmu nak hik...hik...."ucap Zara sambil menangis.
"Kirana juga kangen sama Mama"ucap Kirana.
Setelah itu Leo, Zara, Ibu Meta, Pak Irwan dan Kirana duduk diruang keluarga.
"Ma, ini Pak Irwan dan Ibu Meta yang sudah merawat dan membesarkan Kirana"ucap Leo.
"Pak Irwan, Bu Meta, terimakasih sudah merawat dan membesarkan Kirana selama ini"ucap Zara.
"Sama-sama Nyonya"ucap Pak Irwan dan Ibu Meta.
"Cantik juga istrinya Leo Ariendra"batin Pak Irwan.
"Ma, mereka akan tinggal bersama kita dirumah ini"ucap Leo.
"Iya Pa"ucap Zara.
Leo mengantar Pak Irwan dan Ibu Meta ke kamar mereka, sementara Zara mengantarkan Kirana ke kamarnya.
"Nah Kirana, ini kamarmu nak. Papa dan Mama sudah menyiapkan ini sejak lama, bahkan lama sekali hik...hik...."ucap Zara sambil menangis.
Zara tidak percaya akhirnya bisa bertemu dengan putrinya yang hilang selama 17 tahun.
"Mama jangan menangis lagi, Kirana sekarang sudah ada disini"ucap Kirana sambil mengusap air mata Zara.
"Iya, Mama gak akan nangis lagi, Kiranakan sudah ada disini. Oya Kirana nama aslinmu Clara Aurellia"ucap Zara.
"Terserah Mama mau panggil Clara ataupun Kirana, sama saja, aku anak Mamakan"ucap Kirana.
"Iya sayang"ucap Zara.
"Ma, Kirana suka kamar ini, serba pink, warna kesukaan Kirana"ucap Kirana.
"Apa masih ada yang kurang nanti biar Papamu menyuruh orang untuk menambah kekurangannya"ucap Zara.
"Gak usah Ma, ini sudah sangat bagus, Kirana suka kamar ini"ucap Kirana.
Zara kembali memeluk Kirana dan coba melihat tanda dipundaknya. Dan ternyata Kirana memiliki tanda yang sama dengan putri kandungnya. Zara yakin Kirana memang putri kandungnya.
Leo membuka pintu kamar untuk Pak Irwan dan Ibu Meta. Mereka memasuki kamar itu.
"Pak Irwan, Ibu Meta, ini kamar kalian semoga betah ya, kalau ada yang kurang nanti bilang saja"ucap Leo.
"Ini sudah lebih dari cukup Bos"ucap Ibu Meta.
"Iya Bos"ucap Pak Irwan.
"Kalau begitu saya tinggal dulu"ucap Leo.
"Baik Bos"ucap Pak Irwan dan Ibu Meta.
Leo keluar dari kamar itu, Pak Irwan dan Ibu Meta langsung menutup pintu kamar itu.
"Akhirnya kita bisa masuk ke dalam keluarga Leo Ariendra, setahap demi setahap kita akan mendapatkan hartanya"ucap Ibu Meta.
"Aku gak sabar, ingin judi dan mabuk sepuasnya. Berapa banyak uang Leo Ariendra yang bisa kita kuras"ucap Pak Irwan.
"Sepertinya besok kita harus mulai mengeruk dompetnya, aku ingin shopping bersama teman-temanku"ucap Ibu Meta.
"Kita akan mengambil semua yang ada dirumah ini"ucap Pak Irwan.
"Tanpa sisa"ucap Ibu Meta.
__ADS_1
"Ha.....ha...ha...."ucap Pak Irwan dan Ibu Meta tertawa.
Mereka begitu senang bisa masuk dirumah besar itu, rencana untuk mengeruk kekayaan Leo akan dimulai.
Kirana jalan-jalan didalam rumah besar milik Leo itu. Dia melihat-lihat foto, pajangan dan berbagai hal didalam rumah itu. Tak sengaja dia melihat Raka yang sedang bernyanyi sambil bermain gitar dibalkon lantai atas. Kirana terkesima dengan suara merdu Raka dan ketampanannya. Sudah lama Kirana suka pada Raka, hanya dia tak berani mendekatinya karena Raka terkenal dingin dan cuek.
Proook......proooook....prooook......
Kirana tepuk tangan setelah Raka selesai bernyanyi.
"Suaramu merdu"ucap Kirana.
"Kau siapa?"tanya Raka.
"Aku......"ucap Kirana ragu menjelaskan dirinya.
"Dia Kak Clara yang hilang Kak Raka"ucap Marwa yang baru datang.
Marwa langsung merangkul Kirana dari samping.
"Clara?"ucap Raka.
Raka berdiri lalu melewati Marwa dan Kirana begitu saja.
"Huh, dasar es batu"ucap Marwa menggerutu pada Raka yang berjalan menjauh dari tempat itu.
"Kak Kirana jangan sedih ya, Kak Raka memang kaya gitu, nyebelin deh pokoknya. Aku aja yang selama ini jadi adiknya gak pernah tuh bicara panjang lebar sama dia, jadi kakak harus terbiasa punya saudara kembar kaya dia"ucap Marwa.
Kirana hanya mengangguk dengan ucapan Marwa. Dia berusaha memahami sikap Raka padanya.
Malam itu Leo sekeluarga makan malam bersama. Leo memperkenalkan Kirana dan kedua orangtua angkatnya pada Raka dan Marwa.
"Raka, Marwa, ini Kirana, Pak Irwan dan Ibu Meta. Mulai hari ini Kirana dan orangtua angkatnya akan tinggal bersama kita. Kirana adalah Clara, saudara kembarmu Raka. Jadi mulai sekarang kalian berdua harus bisa berbaur dan menerima Kirana sebagai anggota keluarga kita"ucap Leo.
"Terserah Papa"ucap Raka singkat.
"Kak Kirana, Marwa jadi punya temen, nanti setelah makan ke kamar Marwah ya. Banyak yang ingin Marwa ceritakan sama kakak"ucap Marwa pada Kirana.
"Yasudah, mari kita semua mulai makan"ucap Zara.
Semua mulai makan dimeja makan itu. Leo dan Zara senang bisa berkumpul bersama semua anaknya. Hari ini sangat membahagiakan untuk mereka karena bisa bersama kembali putri pertama mereka.
*************
Cinta bangun dari tidur dan melihat jam didinding ternyata sudah pukul 5 pagi. Dia kaget karena bangun kesiangan setelah kemarin pulang dari rumah sakit. Cinta langsung berdiri tapi badannya masih lemas, dia sampai sempoyongan dan hampir terjatuh, untung Rehan menangkapnya.
"Cinta, ayo istirahat lagi kau masih belum pulih total"ucap Rehan.
"Aku mau sholat dulu"ucap Cinta.
"Aku antar ya, Cinta mau wudhukan?"tanya Rehan.
Cinta hanya mengangguk, Rehan akhirnya memapah Cinta untuk sampai toilet untuk berwudhu. Setelah itu Cinta sholat, Rehan memperhatikan Cinta saat sholat.
"Apa Tuhan itu memang ada, hingga Cinta selalu bersujud menyembah Tuhan. Bahkan disaat dia sakit seperti ini, dia tetap beribadah. Seperti apa rasanya memiliki Tuhan?"batin Rehan.
Rehan menghampiri Cinta yang baru selesai sholat.
"Cinta hari ini tidak usah dagang ya"ucap Rehan.
"Tapi aku tidak enak dengan pelangganku, sudah dua hari ini aku gak dagang"ucap Cinta.
"Cinta, sekarang kau istirahat, sebentar lagikan mau berangkat sekolah, soal pelangganmu gak usah dipikirin dulu. Nanti aku bantu nyari pelanggan baru kalau pelanggan lama kecewa dan tidak mau berlangganan lagi ya"ucap Rehan.
"Makasih Reni"ucap Cinta.
Cinta kembali berbaring diranjang, sementara Rehan keluar dari kamar asrama itu. Dia menelpon Sekretaris Yuda.
"Hallo Yuda"ucap Rehan.
__ADS_1
"Hallo Predir"ucap Sekretaris Yuda.
"Tolong pesankan 40 bungkus nasi dengan lauk pauknyanya dan antarkan ke alamat pelanggan yang nanti ku kirim. Pastikan makanannya harus benar-benar enak. Bilang itu nasi bungkus dari Cinta"ucap Rehan.
"Baik Presdir"ucap Sekretaris Yuda.
Setelah bicara dengan Sekretaris Yuda, Rehan menutup telponnya.
"Semoga dengan ini, pelanggannya Cinta gak pada kecewa, kasihan Cinta. Akan ku lakukan apapun untuk melihatnya tetap tersenyum"ucap Rehan.
Rehan masuk kembali ke kamar asrama itu dan menemani Cinta yang sedang berbaring.
***********
Pagi itu Raka berangkat sekolah bersama Kirana. Dia hanya diam melihat ke luar kaca mobil itu, Kirana terus memperhatikan Raka yang menjaga jarak darinya. Kirana mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung itu.
"Raka, kau kelas 2 IPA 1 kan?"tanya Kirana.
"Iya"ucap Raka.
"Seandainya dulu kita bersama dari kecil, mungkin banyak hal yang kita lalui bersama"ucap Kirana.
"Kau kelas 2 IPA 4 kan?"tanya Raka.
"Raka tau kelasku"ucap Kirana.
"Iya, kau artis sinetron Pacar SMA kan?"tanya Raka.
"Iya betul, Raka pernah nonton sinetronku?"tanya Kirana balik.
"Pernah sekali"ucap Raka.
"Menurutmu, sinetronnya bagus gak?"tanya Kirana.
"Bagus, cuma aku gak suka sinetron"ucap Raka.
"Oh begitu ya"ucap Kirana.
"Raka cool banget, padahal dari dulu aku suka sama dia, tapi ternyata kita saudara"batin Kirana
Raka kembali diam dan hanya menatap ke kaca mobil. Bagi Kirana paling tidak Raka mau bicara padanya walaupun sedikit.
Kelas 2 IPA 4
Rehan mencatat materi yang disampaikan guru. Walaupun dia sendiri sebenarnya sudah memahami materi itu. Tak lama handphonenya bergetar, dia meminta izin ke toilet pada guru yang mengajar dikelasnya. Dia keluar kelas dan melihat panggilan dihandphonenya. Rehan langsung menuju ke belakang sekolah. Dia mengangkat panggilan telpon itu.
"Hallo Yuda"ucap Rehan.
"Hallo Presdir"ucap Sekretaris Yuda.
"Ada apa menelponku Yuda?"tanya Rehan.
"Presdir cepetan balik ke kantor, Bos besar datang ke kantor dan mengaudit petinggi perusahaan kita"ucap Sekretaris Yuda.
"Apa?....oke, aku akan kembali ke perusahaan sekarang juga"ucap Rehan.
Rehan langsung minta izin pulang dan langsung keluar dari sekolah itu naik mobil pribadi yang menjemputnya. Mobil itu menuju ke Perusahaan Bright Light Group. Didalam mobil Rehan langsung berganti setelan jas rapi miliknya. Dia siap menghadapi Papanya.
Sampai diperusahaan, Rehan langsung menuju ke ruangan kerjanya. Dia cepat-cepat merapikan ruangan kerjanya dibantu Sekretaris Yuda.
"Presdir, itu dada masih menonjol"ucap Sekretaris Yuda.
"Buset deh, dari tadi dadaku menonjol gini masuk ke perusahaan, untung belum ketemu Papa"ucap Rehan.
Rehan langsung melepas bra berisi bola pimpong itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Yuda, kau sudah memberi tekanan pada petinggi perusahaan untuk tutup mulut tentang kerja sama kita dengan Bos Leo?"tanya Rehan.
"Sudah Presdir, tapi sekarang mereka sedang diaudit Bos besar dan anak buahnya"ucap Sekretaris Yuda.
__ADS_1
"Ngapain juga Papa pakai acara mengaudit petinggi perusahaan, apa jangan-jangan dia tahu kerjasamaku dengan Bos Leo"ucap Rehan.
"Harusnya sih tidak Presdir, kita sudah membereskan semuanya dengan rapi, kecil kemungkinan sampai bocor ke telinga Bos besar"ucap Sekretaris Yuda.