Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Berusaha dan Bertahan Part 56


__ADS_3

Udara ruangan yang tertutup bebatuan itu semakin panas. Haura terbangun karena panas dan berkeringat hingga bajunya basah kuyup penuh keringat begitupun Alvan. Haura kehausan sampai terbatuk.


"Ugh....ugh...ugh...." Haura batuk.


"Kau haus ya Haura?" tanya Alvan.


"Tenggorokanku kering, haus, panas" ucap Haura.


"Aku juga merasakan yang sama" ucap Alvan.


Haura terus memegangi lehernya. Alvan berdiri dan berusaha menyingkirkan bebatuan yang menutup pintu keluar. Tapi seberapapun usahanya belum juga bisa membuka pintu keluar.


Alvan sampai kesal dan menonjok bebatuan itu dengan tangannya.


Dug.....dug....dug....


Haura berjalan menghampiri Alvan dan menghentikan tangannya yang terus menonjok bebatuan hingga berdarah.


"Hentikan Alvan...hentikan, nanti tanganmu sakit, lihat sudah berdarah" ucap Haura.


"Aku tidak bisa membawamu keluar dari sini, aku tak berguna" ucap Alvan.


Haura meletakkan tangan kanan Alvan yang berdarah didadanya.


"Siapa bilang kau tak berguna? dari tadi kau berusaha menyingkirkan bebatuan itu tapi jumlahnya memang banyak" ucap Haura.


Alvan menyentuh pipi Haura dengan tangan kirinya.


"Maafkan aku Haura" ucap Alvan.


Haura mengangguk. Alvan kembali menemani Haura duduk. Dia melihat Haura merobek sedikit pakaiannya untuk membalut luka dijari Alvan. Dia membalut keempat jari Alvan jadi satu dengan sobekan kain pakaiannya.


"Haura makasih ya" ucap Alvan.


"Nah ini baru benar, kau terlihat tampan lagi" ucap Haura.


Alvan tersenyum melihat Haura juga tersenyum padanya. Udara semakin panas. Pakaian Alvan dan Haura basah kuyup bahkan mereka makin kehausan. Alvan melepas pakaian atasnya karena sudah tak tahan kepanasan.


"Alvan aku malu" ucap Haura.


"Maaf Haura aku tak kuat, panas sekali" ucap Alvan.


"Alvan aku juga kepanasan, panas sekali" ucap Haura.


"Bukalah pakaianmu, aku akan menutup mataku" ucap Alvan.


Haura melepas pakaian atasnya hingga menyisakan pakaian atas bagian terakhir, Alvan menutup matanya.


"Alvan haus banget, ugh...ugh...ugh...." ucap Haura.


"Diam disini" ucap Alvan.


Alvan berdiri dan berjalan membuka matanya karena membelakangi Haura. Dia mencari ke bawah yang terdapat tanah. Alvan menggali tanah itu dengan tangannya hingga cukup dalam. Dia berharap ada air untuk diminum. Tapi belum ada air juga. Alvan putus asa, dia kembali menggali dan menggali hingga tangannya lecet semua.

__ADS_1


"Aw...." ucap Alvan kesakitan.


"Alvan ada apa?" tanya Haura.


"Tidak, aku pasti mendapatkan air" ucap Alvan.


"Jangan memaksakan diri, apalagi sampai melukaimu" ucap Haura.


Mendengar Haura berkata seperti itu, Alvan coba menggali dan menggali berjam-jam, bahkan tubuhnya dibasahi keringat. Haura sudah lemas, dia berbaring dibawah hampir pingsan.


"Ayolah, air dimana kau" ucap Alvan.


Alvan tak mendengar suara Haura mengelus kehausan dan kepanasan. Dia terpaksa menengok ke belakang, Haura berbaring dibawah tak berdaya.


"Dimana kau air?" ucap Alvan marah.


Alvan kembali menggali dan menggali dengan kemarahan yang berapi-api hingga muncullah air walaupun sedikit tapi cukup untuk minum beberapa teguk. Alvan coba mengambil air itu dengan tangannya. Dia membawa ke Haura. Air ditangannya dimasukkan ke mulut Haura tapi karena Haura sudah lemas, airnya malah mengalir keluar dari mulut Haura. Alvan kembali mengambil air, sekarang dia menggunakan cara lain. Alvan meminum air itu tapi tidak ditelan, ditahan dimulutnya lalu menghampiri Haura.


Alvan memangku Haura dan meminumkan air dimulutnya ke mulut Haura. Perlahan Alvan memindahkan air dimulutnya ke mulut Haura. Teguk demi teguk tertelan oleh Haura. Setelah semua tertelan Alvan kembali mengambil air dengan cara yang sama hingga beberapa kali. Akhirnya Alvan lemas dan kelelahan. Dia duduk bersandar didinding bebatuan itu sambil memangku Haura. Kepala Haura bersandar didada Alvan. Dia memeluk Haura yang lemas bahkan tak bicara lagi.


"Haura...Haura..." ucap Alvan pelan.


Alvan juga mulai tak bisa bicara dengan suara keras.


"Alvan ma...ka...sih" ucap Haura.


Haura berbicara tapi terbata-bata. Dia tak punya tenaga bicara dengan pelan sekalipun.


"Iya Haura" ucap Alvan.


"Haura kau ingat saat kita terdampar bersama dipulau tak berpenghuni, kita juga kesulitan seperti ini. Tapi kau selalu ceria dan tak putus asa. Kau harus tetap seperti itu Haura" ucap Alvan.


Haura mengingat saat terdampar bersama Alvan.


Saat mereka mencari binatang laut, tidur bersama ditepi pantai tak beralaskan apapun hanya dinginnya malam, gelap dan beratapkan langit penuh bintang dan bulan yang bersinar. Pagi harinya Alvan masih tertidur tapi Haura sudah bangun. Dia berusaha membuat api seperti yang dilakukan Alvan semalam. Dia berusaha dan berusaha hingga muncul percikan api. Kemudian Haura menggesekkan kedua batu itu dibawah tumpukan kaya hingga muncul api yang cukup besar membakar kayu itu. Barulah dia memanggang udang, kepiting, dan ikan. Bau harum makanan yang dibakar membangunkan Alvan. Dia menghampiri Haura yang sedang membakar binatang laut tangkapan mereka.


"Wah enak sepertinya" ucap Alvan.


"Iya dong siapa dulu, Chef Haura" ucap Haura.


"Tapi kepitingnya gosong tuh, emang enak dimakan?" tanya Alvan.


"Ah....ini kepiting memang harus dibakar sampai gosong biar gak nyapit kita saat dimakan, nyawa mereka banyak loh" ucap Haura ngawur.


"Oh gitu, bener juga ngawurmu" ucap Alvan sambil tersenyum


"Ayo makan, kalau gak aku abisin nih" ucap Haura.


"Tapi tanganku sakit" ucap Alvan.


"Tampan manja ya, baiklah ku suapi" ucap Haura.


Haura menyuapi Alvan, tak lupa dia menyuapi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenyang, makasih gadis cerewet" ucap Alvan.


"Bayar yah kalau kau sudah sehat dan kita bertemu lagi" ucap Haura.


"Oke" ucap Alvan.


"Janji" ucap Haura mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji" ucap Alvan menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Haura.


Haura tersenyum saat mengingat hal itu. Dia berusaha sadar dan bertahan.


"Alvan ka..u mene..pati jan..jimu" ucap Haura.


"Iya Haura" ucap Alvan.


"Kata..kan se...suatu yang in...dah" ucap Haura.


"Aku ingin tertawa bersamamu Haura" ucap Alvan.


Haura tersenyum mendengar ucapan Alvan. Dia senang akan tetap bersama Alvan dan tertawa lagi bersamanya.


***********


Rafael dan Alina berlari mencari jalan lain. Tapi beberapa jalan tertutup bahkan sebagian rusak dan terputus. Mereka melewati jalan yang rusak berjalan perlahan-lahan. Jalan itu tinggal seperempatnya yang utuh bahkan setengahnya berlubang kedalam. Alina ketakutan, tangannya dingin, menyadari itu Rafael menggendong Alina dipunggungnya berjalan perlahan-lahan.


"Kak Rafa, maafkan Alina menyusahkanmu jadinya" ucap Alina.


"Adik kecil aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri" ucap Rafael.


Alina terus memeluk kakaknya digendongannya.


Rafael melangkah naik ke atas hingga ke ruangan lapis kedua sebelum lapis pertama yang menuju jalan keluar wisata bawah tanah itu. Tapi pintu keluar tertimbun tanah hingga menutup rapat pintu keluar. Rafael menurunkan Alina.


"Adik kecil kau disini dulu" ucap Rafael.


"Iya kak" ucap Alina.


Rafael mendekati pintu keluar yang tertutup tanah. Dia mencoba menggali tanah itu tapi semakin digali semakin longsor dan memenuhi ruangan itu dengan tanah. Sadar akan hal itu, Rafael menghentikannya.


"Semakin digali, ruangan ini akan tertimbun dan penuh tanah, sepertinya aku harus menunggu tim penyelamat dari luar" batin Rafael.


Rafael kembali menghampiri Alina. Dia mengajak Alina duduk bersamanya bersamanya. Rafael duduk dan menyandarkan kepala Alina dibahunya.


"Kak bagaimana caranya kita keluar?" tanya Alina.


"Kita pasti bisa keluar, lebih baik kita berdoa ya" ucap Rafael.


Alina mengangguk. Mereka duduk sambil berdoa dan berharap akan segera datang pertolongan dari tim penyelamat.


*************


Rehan dan Cinta sedang duduk bersantai sambil melihat acara ditelevisi. Rehan meminum secangkir kopi hangat yang dibuat Cinta untuknya sedangkan Cinta duduk disamping Rehan mendengarkan acara berita sore hari.

__ADS_1


"Selamat sore pemirsa. Anda menyaksikan berita Netral New TV. Kami akan menginformasikan terkait bencana tanah longsor yang terjadi ditempat wisata Puncak Serbabu. Beberapa wahana mengalami kerusakan. Yang paling parah adalah wisata bawah tanah karena tertutup tanah longsor. Tim penyelamat sedang melakukan evakuasi korban. Belum ada pemberitahuan terkait siapa saja yang belum ditemukan dan masih terjebak didalam area wisata Puncak Serbabu" ucap Pembawa acara itu.


Rehan dan Cinta langsung terkejut mendengar berita ditelevisi itu.


__ADS_2