
Aku dan teman-teman makan bersama. Alhamdulillah Dodo dan Ami begitu nikmat makan makanan yang sudah disediakan pelayan di rumah untuk kami. Ini kali pertamaku mengajak Dodo dan Ami ke rumah.
"Alhamdulillah Aara, enak dan nikmat, baru kali ini aku bisa makan beneran bukan khayalan," ucap Dodo.
"Ini bukan makanan kaleng-kaleng, beneran sultan," kata Ami.
"Iya dong, silahkan dibayar di kasir ya totalnya, khusus untuk kalian satu juta perporsi," ujarku.
"Aara parah lo, ini bercandakan?" tanya Dodo.
"Iya, kita inikan CS, masa iya bayar?" tanya Ami.
"Bisnis is bisnis, silahkan cuci piring, gosok baju, ngepel dan menguras kolam pakai sendok sebagai gantinya," jawabku.
Raina tertawa melihat Dodo dan Ami tercengang usai kekenyangan.
"Kapan selesainya kalau nguras kolam renang pakai sendok?" tanya Dodo.
"Mau mati aja mesti izin malaikat maut buat nguras kolam renang yang tak terselesaikan selama hidupku," ujar Ami.
"Sampai buyutan aku masih nguras kolam renang, kasihan kambingku punah," ucap Dodo.
"Ha ha ha." Aku dan Raina tertawa.
"Beneran ini Aara? Aku bayar pakai kartu pelajar bisa gak?" tanya Dodo.
"Aku bayar pakai kepala ikan asinku sebulan gimana?" tanya Ami.
"Ha ha ha. Aku bercanda teman-teman," jawabku.
Ami dan Dodo langsung mengelus dada.
"Kalau gitu boleh nambah ya?" tanya Ami dan Dodo.
"Boleh, tapi untuk yang keduanya dikenakan tarif perporsi dua juta dibayar dimuka," ujarku.
Kami semua tertawa. Senangnya bisa kumpul bersama. Ada saja yang bikin tertawa.
Usai makan kami berjalan ke lantai atas. Dodo dan Ami memperhatikan ke sekeliling ruangan yang dilewati.
"Aara ini beneran rumahmu? kapan kamu jaga lilin tahu-tahu udah gini?" tanya Dodo.
"Aku gak jaga lilin tapi jaga lava gunung merapi," jawabku.
"Kalau gitu aku jaga lava gunung es deh kali aja kaya juga," ujar Ami.
"Jangan, nanti kamu disantap beruang kutub, mesti belajar dulu jadi pawangnya biar aman," jawabku.
"Kalau gitu aku mau jaga samudra, kali aja lebih kaya darimu," ujar Dodo.
"Nah cara yang pintar, tolong jaganya ditemani paus pembunuh dan hiu, dijamin anda sudah tenang dan bahagia di sana, kita yang ditinggalkan akan mendoakanmu," ujarku.
"Ha ha ha." Kami tertawa.
__ADS_1
"Aara fotomu ada di mana-mana, terus lelaki tampan tadi siapa?" tanya Dodo.
"Dia adalah penghuni rumah ini, hanya orang yang memiliki mata batin yang bisa melihatnya," ujarku.
"Berarti aku punya mata ikan asin buat melihatnya ya?" ucap Ami.
"Kalau aku punya mata keranjang ya?" tanya Dodo.
"Ha ha ha." Kami tertawa.
Setelah itu kami duduk bersama di ruang keluarga di lantai atas. Ku dudukkan Bobo di karpet. Dia mulai mengoceh dan mulai miring-miring mau tengkurap.
"Aara lucu ya Bobo," ujar Ami.
"Iya lucu, montok," tambah Dodo.
"Udah mau tengkurep nih, cepet juga," ucap Raina.
Mereka bertiga senang sekali melihat Bobo, apalagi tingkahnya lucu dan mengemaskan, aku saja momy-nya gemes sama si gemoy Bobo.
"Bobo jadi anak tante cantik ya?" tanya Ami.
"Aku yakin Bobo kalau bisa ngomong akan bilang, pasti bilang astagfirullah, ampuni kebohongan ini," jawab Dodo.
"Atau, amit-amit, gak ada yang lebih oke dan kece apa? udah masa depan surem ditambah mesti makan ikan asin berabad-abad dari zaman fir'aun sampai nanti," ujarku.
"Udah Ami, jangan menawarkan kesengsaraan dan kengenesan pada bayi tak berdosa," timpal Raina.
Barulah kami mulai belajar bersama. Untung ada Raina jadi ada yang mengajari kita semua. Kami berdiskusi memecahkan masalah yang menyangkut materi yang sulit. Belajar lebih menyenangkan karena ada teman yang ingin sama-sama bisa.
Dodo dan Ami juga antisias untuk belajar bersama. Meskipun kami suka bercanda, selama belajar fokus.
Aku beruntung bisa memiliki teman-teman yang baik hati dan menyenangkan seperti mereka. Selalu ada saat suka dan duka.
Usai belajar kami bersantai. Berbaring di karpet sambil berbincang.
"Aara, apa kau simpanan lelaki tampan tadi? serius nih nanya," ujar Ami.
"Iya, masa kau kaya dadakan tanpa ke mbah dukun atau jaga lilin, minimal merampok bank," tambah Dodo.
Aku terdiam sesaat. Aku rasa Dodo dan Ami benar. Mustahil aku kaya dadakan. Suruh tuyul muter malah nongrong tik-tok-an sama yang punya rumah, pakai bilang tar kalau subcriber banyak, si tuyul diundang lagi biar femes. Nyuruh babi ngepet malah dance sama black warna pink.
Gak kelar-kelar, diputer terus lagunya sampai pagi, lupa kalau lagi ngepet.
Nemu lampu wasiat, jinnya baperan minta kaya malah diceramahin dulu tentang harta yang akan dipertanggungjawabkan, lebih baik miskin gak banyak yang harus dijelaskan nantinya, kata jinnya. Orang mau kaya malah diinsafkan agar tetap legowo jadi orang miskin.
Merampok bank? udah kaya maling internasional. Menggunakan alat canggih untum membobol pertahanan dan keamanan bank. Keren. Namun realitanya menyedihkan, merampok pakai assalamu'alaikum dulu, minta izin biar yang dirampok ridho, kapan merampoknya, keburu ditangkep. Udah alat-alat untuk merampok cuma sandal jepit, apa yang mau dirampok coba.
"Sebenarnya aku sudah menemukan surat wasiat dari nenek moyangku," ujarku.
"Pasti isi suratnya tentang warisan harta untukmu," tebak Dodo.
"Bukan," jawabku.
__ADS_1
"Lalu apa?" tanya Ami.
"Aku sudah menikah dengan lelaki tadi," jawabku.
"Apa?" Ami dan Dodo terkejut.
"Kau bercanda?" tanya Dodo dan Ami serius.
Aku menggeleng.
Dodo dan Ami saling mencubit masing-masing.
"Aduh ..., sakit Mi, kira-kira dong nyubit," ujar Dodo.
"Biar memastikan, ini asli bukan emas palsu," jawab Ami.
"Kenapa gak sekalian dipukul pakai palu biar memastikan ketahanan emasnya," ucap Dodo.
"Boleh, mumpung panas nih tangan," ujar Ami.
"Ha ha ha." Kami tertawa.
"Aara beneran?" tanya mereka lagi.
"Iya," jawabku singkat.
Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Dodo dan Ami. Mereka teman dekatku. Ku rasa berhak tahu. Kalau ada apa-apa mereka selalu ada di depan dalam suka dan duka bersamaku.
"Semoga kau bahagia ya Aara, langgeng," ujar Dodo.
"Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah," ucap Ami.
"Amin," jawabku.
"Kalian harus merahasikan pernikahan Aara," saran Raina.
"Beres, oke," ucap Dodo dan Ami.
Senangnya teman-teman sudah tahu kebenarannya. Aku tak perlu berbohong atau sembunyi-sembunyi di depan mereka.
***
Albern masuk ke ruangan kerjanya. Dia duduk sambil memikirkan undangan ulang tahun neneknya. Albern tampak cemas dan bingung. Tak lama sekretaris Nico masuk ke dalam ruangannya. Dia heran melihat Albern tampak galau dan tak bersemangat.
"Siang Bos," sapa Nico.
"Siang," sahut Albern.
"Ada masalah?" tanya Nico.
"Nenekku ulang tahun," jawab Albern. Ekspresi di wajahnya menunjukkan tidak senang. Dia terlihat khawatir.
"Lalu apa yang membuat Bos terlihat tak bersemangat? seperti punya beban," ujar Nico. Dia sangat mengenal Albern. Dari wajahnya sudah jelas dia punya masalah.
__ADS_1