
"Kami hanya mengobrol Pak," ucapku.
"Iya Pak," sahut Axel.
"Oh mengobrol, kalau begitu kamu ikut saya ke ruangan guru," ujar Gerry pada Axel.
"Baik Pak," sahut Axel.
"Kamu Aara kembali ke kelas," ujar Gerry.
"Siap Pak," sahutku.
Aku meninggalkan tempat itu dengan senang hati, sedangkan Axel diciduk Gerry ke ruangannya. Sampai di ruangan guru Axel duduk mendengarkan Gerry berbicara padanya.
"Apa hubunganmu dengan Aara?" tanya Gerry.
"Hanya sebatas teman," jawab Axel.
"Teman seperti apa?" tanya Gerry.
"Teman dekat," jawab Axel.
"Teman dekat ya? apa kau suka padanya?" tanya Gerry.
Pertanyaan Gerry cukup menantang Axel. Membuatnya bingung harus menjawab apa. Kalau jujur tentunya malu tapi kalau bohong apa itu baik.
"Iya, aku suka padanya," jawab Axel.
"Sial, harus bersaing dengan adik sendiri," batin Gerry.
"Kenapa kau suka pada Aara? diakan bodoh?" tanya Gerry.
"Karena Aara apa adanya, dia pekerja keras dan selalu optimis," jawab Axel.
Gerry sudah menahan kecemburuannya. Ingin rasanya dia memberitahu segalanya tapi dia belum mendapatkan hatiku jadi percuma saja.
"Kalian masih sekolah, lebih baik fokus belajar, apalagi sebentar lagi kelulusan, Aara harus bisa lulus, jadi jangan ganggu dia dengan urusan cinta seperti ini," ujar Gerry.
"Anda cemburu Pak?" tanya Axel.
"Cemburu?" Gerry heran Axel menebaknya dengan benar.
"Iya, anda juga suka pada Aara, dia itu memang unik dan baik, wajar kalau anda yang lajang juga suka padanya," jawab Axel.
"Saya tidak suka padanya, hanya sebatas guru saya mengingatkanmu," ungkap Gerry.
"Oke tidak masalah, tapi yang jelas aku akan tetap mendekati Aara, meskipun tidak di sekolah. anda tidak bisa menghalangiku," ujar Axel. Dia berdiri lalu meninggalkan ruangan itu. Gerry kesal, dia tak bisa nemperingatkan Axel untuk menjauhiku. Malah menyatakan cinta terang-terangan di depannya.
***
Pulang sekolah Axel pulang ke rumahnya. Dia berjalan menuju ke kamarnya. Dia tak melihat Raina ada di dalam kamar. Axel ganti pakaian lalu keluar dari kamarnya. Ibu Jonita menghampiri Axel yang baru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Axel, kau mau ke mana?" tanya Ibu Jonita.
"Pergi ke luar," jawab Axel.
"Cari istrimu sana! dari tadi dia belum pulang," ujar Ibu Jonita.
"Belum pulang?" tanya Axel balik.
"Iya, istrimu itu tak tahu aturan, sebagai istri seharusnya dia pulang tepat waktu, jangan-jangan dia selingkuh," ujar Ibu Jonita.
"Sebaiknya ibu tidak usah menuduhnya seperti itu," ucap Axel.
"Wanita miskin memang seperti itu, tak tau malu," ujar Ibu Jonita.
"Bu, aku pergi dulu," kata Axel. Dia malas bicara dengan ibunya yang selalu memandang apapun dari sisi negatif, apalagi menyangkut orang miskin. Di matanya tak ada gunanya. Tak ubah seperti sampah dan parasit.
Axel berjalan ke luar dari rumahnya. Dia naik mobil pribadinya, di antar supir pergi keluar dari rumah besarnya.
Di tempat lain aku berdagang seperti biasanya. Maklum kebutuhanku semakin banyak. Bukan hanya SPP tapi susu dan popok Bobo. Keringatku mengucur, lelah rasanya berjalan dari tadi. Aku duduk di sebuah pos keamanan, kebetulan ada seorang wanita yang sedang beristirahat juga.
"Bolehkah aku duduk juga?" tanyaku.
"Aara," sahut Raina. Aku tak menyangka wanita yang duduk itu Raina.
"Kau di sini juga?" tanyaku.
"Iya, aku jualan es krim," jawab Raina.
"Wah keren, semoga laris ya," ujarku.
"Amin," jawab Raina.
Tak lama Bobo rewel. Aku lupa belum membawa stok susunya, botol susu yang ku bawa sudah habis. Bobo rewel karena kehausan. Aku coba menenangkannya tapi tetap rewel.
"Bobo haus ya Aara?" tanya Raina.
"Iya sepertinya," jawabku.
"Kalau begitu berikan dia susu," ucap Raina.
"Aku lupa bawa stok susunya," sahutku.
"Kalau begitu biar ku gendong, kau pulanglah mengambil stok susunya," saran Raina.
"Apa tidak merepotkanmu?" tanyaku.
"Tidak, kasihan Bobo," jawab Raina.
Betul juga, Bobo jadi rewel karena kehausan, apalagi cuaca panas sekali. Pasti dia haus dari tadi ku bawa jalan di bawah terik matahari.
"Oke, aku pulang dulu, titip Bobo ya Raina," pintaku sambil memberikan Bobo pada Raina.
__ADS_1
"Iya," sahut Raina sambil menggendong Bobk.
Aku segera meninggalkan tempat itu untuk mengambil susu untuk Bobo. Tinggal Raina yang ada di pos keamanan itu.
"Bobo haus ya?" tanya Raina. Dia ke sudut ruangan pos keamanan itu. Membuka kancing bajunya dan menyusui Bobo.
"Haus ya, menyusulah yang banyak ya," ujar Raina sambil mengelus kepala Bobo yang sedang menyusu dengan lahap.
Bobo terus menyusu. Raina terlihat senang bisa menyusui Bobo, selama ini dia terus memompa asinya biar tidak kering, berharap suatu hari anaknya akan kembali.
Setelah setengah jam, aku kembali ke pos keamanan. Aku terkejut saat mendapati Raina sedang menyusui Bobo.
"Raina kau?" tanyaku.
Raina terkejut, melihatku yang baru datang. Bobo masih menyusu dengan lahapnya.
"Aku ... aku ...," ucap Raina bingung harus menjawab apa.
Aku dan Raina sama-sama terkejut. Kami berada di posisi yang membingungkan, hingga akhirnya aku menunggu Bobo sampai selesai menyusu. Tak tega rasanya melepas Bobo saat menyusu dengan lahap. Usai menyusu Bobo tidur. Raina mengembalikan Bobo padaku. Aku memangkunya di pangkuanku. Wajahnya terlihat damai, mungkin sudah terpenuhi rasa hausnya.
"Aara maaf ya, aku terpaksa menyusui Bobo," ujar Raina.
"Iya tidak apa-apa," jawabku. Sebenarnya aku penasaran kenapa Raina bisa menyusui Bobo, tapi aku gak. Apa sebaiknya aku tanya, siapa tahu aku juga bisa menyusui Bobo, tak perlulah ku beli susu mahal-mahal, tinggal ku susui langsung.
"Raina bagi tips dong," ujarku.
"Tips? tips apa?" tanya Raina.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menyusui Bobo sepertimu?" tanyaku.
Raina terdiam. Dia bingung harus menjelaskan apa padaku.
"Apa aku harus kursus susu menyusui dulu, atau olahraga apa gitu?" tanyaku yang sok tahu. Maklum teori menyusui sebagai mamalia sepenuhnya aku tak paham. Waktu pelajaran materi mamalia aku ngupil dulu gak sempet soalnya, yang ku dengan hanya mama-mama menyusui anaknya, aku pikir itu mudah tak perlu ku dengar sampai tuntas lebih baik ngupil biar nafas lega, teori yang bodoh.
"Sebenarnya kau tidak bisa menyusui Bobo," ujar Raina.
"Kenapa? aku wanita sepertimu?" tanyaku.
"Kau harus hamil dulu, baru ada asinya," jawab Raina.
"Oh aku harus hamil dulu, lalu caranya hamil gimana?" tanyaku.
Bodoh, Raina semakin bingung harus menjawab apa. Aku hanya memandangnya dengan polos, maklum cara supaya hamil aku belum paham.
"Kau harus menikah, melakukan hubungan suami istri dengan pasanganmu, setelah itu kau bisa hamil," jawab Raina.
"Berarti aku bisa menyusui Bobo, minta Buaya itu saja untuk menghamiliku, begitu kali ya?" batinku.
Namun otak lemotku tiba-tiba berpikir aneh, tumben dia sedikit tajam.
"Berarti kau sudah menikah dan hamil?" tanyaku.
__ADS_1
Raina langsung menatapku. Matanya penuh teka-teki yang belum terungkap