Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 86


__ADS_3

Malam itu Albern sudah menyelesaikan semua masalah Martin. Semua masalah itu terselesaikan dengan baik dan pelaku sudah ditangkap polisi.


Martin juga sudah dibawa ke rumah sakit. Tinggal masalah yang akan dihadapinya bersamaku. Dia pergi naik taksi. Untung saja Albern sudah menyewa kosan untuknya tinggal sementara waktu. Dia tidak bisa pulang langsung ke rumahku. Butuh persiapan untuk datang dan menghadap kedua orangtuaku.


Sampai di kosan. Albern membuka pintu. Sudah satu bulan sejak menyewanya, Albern jarang membersihkannya. Dia sibuk mengurus masalah Martin baik masalah kantor dan masalah pribadinya. bahkan tak ada waktu untuk bertemu denganku meskipun itu sebentar saja. Dia ingin fokus menyelesaikan masalah Martin. begitu lebih cepat selesai dan bisa kembali padaku dengan tepat waktu.


Ruang kos itu tampak kotor. Debu di mana-mana. berantakan dan bau. Albern berdiri di depan pintu tercengang dengan keadaan yang ada di dalam kamar kosnya.


"Sepertinya aku harus membersihkannya dulu," ujar Albern. Dia mengambil peralatan kebersihan. Kemudian menyapu, mengepel dan merapikan semua barang di ruangan itu. Barulah Albern duduk.


"Aku kangen sama kamu sayang," ujar Albern memikirkanku.


"Besok aku akan menemui orangtuamu," ucap Albern. Dia senang semua sudah menyelesaikan masalah Martin. Tinggal bertemu denganku.


"Bau, sepertinya aku mandi dulu," kata Albern. Dia berdiri. Masuk ke dalam toilet. Mandi dan berwudhu. Kemudian ke luar. Mengenakan pakaian. Sholat kemudian tidur. Berharap hari esok dia akan bertemu denganku.


***


Pagi itu semua orang sarapan di ruang makan. Hanya Rehan dan Cinta yang tidak ada. Mereka pergi ke rumah Haura dan Alvan. Jadi yang makan di ruangan itu hanya Alina, Farel, Rangva, Adelina dan aku. Kami duduk di kursi masing-masing. Aku duduk di samping kanan Rangga. Sedangkan Adelina duduk di samping kiri Rangga.


"Aara ambilkan Rangga piring Nak," ucap Alina. Dia ingin Aara bisa lebih dekat pada Rangga.


"Iya Ma," sahutku. Aku bersikap biasa saja. Ku pikir hal yang biasa jika aku mengambilkan piring untuk Rangga.


Aku mengambil piring meletakkan di depan Rangga.


"Sekalian ambilkan nasi dan lauk pauknya Nak untuk Rangga," pinta Alina.


Aku mengangguk. Namun merasa ada yang tidak beres. Tumben Mama memintaku melayani Rangga. Biasanya juga sendiri-sendiri. Tapi aku tetap berpikir positif. Tak ingin menduga-duga.


Aku mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk ke piring Rangga.


"Makasih Aara," ucap Rangga.


"Iya," sahutku.


Ku lihat muka Rangga dan Adelina terlihat tegang. Seperti sedang menonton film horor. Apa mungkin mereka bergadang semalaman.


"Aara ambilkan minum Rangga sekalian, dia suka minum dulu sebelum makan," ujar Alina meminta.


"I-iya Ma," sahutku. Di sini aku merasa ada yang tidak beres. Sepertinya Mama sengaja agar aku dan Rangga dekat. Apa mungkin karena masalah perjodohan itu?


Sudahlah. Jangan berburuk sangka. Mungkin aku saja yang berpikir berlebihan.


"Tidak usah Aara, aku bisa mengambilnya sendiri," sanggah Rangga.


"Gak papa Rangga, sekalian mengambil minum untukku," sahutku.


Adelina berdiri. Kami semua terkejut melihatnya berdiri. Semua mata tertuju pada Adelina.


"Biar Adel yang ambilkan minum untuk semuanya ya," ucap Adelina.


"Baiklah, ambilkan kita semua air minum," sahut Farel.

__ADS_1


Adelina mengangguk. Dia mengambilkan kami semua minum dan meletakkannya di depan kami. Dia terlihat tegang. Entah kenapa aku merasa baik Rangga dan Adelina sedang menyimpan sebuah rahasia bersama.


"Ayo sarapan, ke buru makanannya dingin," ucap Farel.


"Iya Pa," sahut semuanya.


Kami semua berdoa sebelum makan kemudian sarapan bersama. Menikmati hidangan yang dimasak Mama dan koki di rumah kami. Setelah sarapan aku membantu Adelina merapikan piring di meja. Papa, Mama dan Rangga sudah meninggalkan ruang makan. Tinggal kami berdua.


"Adel ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?" tanyaku. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.


"Kak aku dan Kak Rangga ingin bicara empat mata dengan kakak," ucap Adelina.


"Oke, kita bicara setelah ini ya," ucapku.


Adelina memgangguk. Dia tersenyum. Membuatku lega. Aku takut dia marah padaku.


Kami membereskan semuanya ke dapur. Meski kami memiliki pembantu tapi Papa dan Mama selalu mendidik kami agar bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Itu hal dasar yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup.


Aku dan Adelina naik ke lantai atas. Kami masuk ke kamar Adelina. Di dalam Rangga sudah menunggu kami. Duduk di ranjang. Kami menghampirinya. Dan ikut duduk di ranjang yang sama.


"Ayo apa yang ingin kalian bicarakan denganku?" tanyaku. Lebih baik langsung ke intinya dari pada aku jaim. Toh setiap masalah memang harus segera diselesaikan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya.


"Aara, kau tahu rencana perjodohan kita?" tanya Rangga.


Aku terdiam sesaat. Memikirkan ucapan Rangga. Memang benar, beberapa minggu lalu Mama bicara padaku soal perjodohanku dengan Rangga. Aku juga belum bicara lagi soal itu pada Mama. Ku pikir Mama hanya bicara padaku. Mungkin pada Rangga juga. Itu sebabnya kenapa Rangga jadi aneh pagi ini.


"Tahu, Mama menyampaikan hal itu padaku," sahutku.


"Aku belum memberi jawaban," sahutku. Memang benar aku belum bicara apapun pada Mama. Aku masih menunggu Albern. Dia akan kembali katanya.


Adelina terdiam. Menunduk. Sepertinya dia bersedih dengan jawabanku. Begitupun dengan Rangga.


"Kenapa?" tanyaku.


Mereka masih diam. Seperti ada beban dipundah mereka. Namun masih ragu mengatakannya padaku.


"Tenang, sebenarnya aku ingin menolak, karena aku sudah menikah," ucapku.


"Apa?" Rangga dan Adelina terkejut. Mereka tak menyangka aku sudah menikah.


"Saat aku duduk di kelas 3 SMA aku terpaksa nikah dadakan dengan seorang lelaki yang usianya di atasku," sahutku. Semua ini tak bisa ku rahasiakan lagi di depan Rangga dan Adelina. Aku takut mereka salah faham. Kalau dari cara bicara dan sikap mereka, sepertinya kedua insan ini saling mencintai. Aku tidak ingin jadi pembatas di antara mereka.


"Jadi kakak sudah menikah?" tanya Adelina.


"Iya, nanti suamiku akan datang ke sini mengenalkan dirinya pada orangtua kita," jawabku.


"Alhamdulillah," sahut Adelina dan Rangga senang. Mereka berharap ini awal yang baik untuk hubungan mereka berdua.


"Sebenarnya aku dan Adelina saling mencintai," ujar Rangga. Dia mengatakan isi hatinya. Mengakui hubungan diantara keduanya. Pantas saja tadi di ruang makan mereka terlihat tegang. Dan Adelina menggantikanku mengambil air minum. Ternyata karena ini.


"Iya Kak, kami saling mencintai, tapi ...?" ujar Adelina. Dia tak bisa berani melawan orangtua. Biar bagaimanapun restu orangtua penting.


"Soal perjodohan itu?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya," jawab keduanya. Mereka terlihat berharap ada sedikit harapan untuk masa depan hubungan keduanya.


"Masalah ini memang harus dibicarakan dengan Papa dan Mama, agar tidak salah faham terus," ujarku.


"Iya Kak, kita memang harus bicara dengan mereka," ujar Adelina.


"Tapi kita harus bicara dengan baik-baik, aku yakin Papa dan Mama akan mengerti," tambah Rangga .


Aku mengangguk. Senang melihat mereka berdua bersama. Rangga dan Adelina memang cocok. Mereka sudah saling mengenal dan bersama dari masih kecil.


"Selamat ya atas hubungan kalian, semoga bisa nyusul kaya kakak," ucapku pada keduanya. Aku berharap mereka akan menikah juga seperti aku dan Albern. Dan hidup bahagia.


"Iya Kak," ucap Adelina.


"Makasih ya Aara," sahut Rangga.


Aku mengangguk dan tersenyum


"Terus kapan kita bicara sama Papa dan Mama?" tanya Adelina.


Aku dan Rangga terdiam. Kami memang harus bicara diwaktu yang tepat. Agar tidak terjadi salah faham lagi.


"Akhir minggu ini Papa dan Mama akan mengadakan pertunangan antara aku denganmu," ujar Rangga.


"Apa? Minggu ini?" Aku terkejut. Ku pikir tak secepat itu. Ternyata lebih cepat dari perkiraanku.


"Iya, akan menimbulkan masalah jika sampai di acara pertunangan, kita harus mencegah sebelumnya," usul Adelina.


Benar juga. Tamu Keluarga Ariendra pasti banyak dan orang-orang berpengaruh. Akan sangat memalukan jika tidak jadi. Aku harus segera bertindak.


"Oke, aku harus bicara dengan Albern dulu, agar dia segera ke rumah," ucapku.


"Albern?" Mereka bingung.


"Nama suamiku Albern," sahutku.


"Oh, kirain tukang tambal ban," jawab Rangga.


"Aku pikir penasehat hukum atau guru spiritual," ujar Adelina..


Aku tertawa. Saking tegangnya mereka jadi lucu.


"Yaudah, jangan terlalu dipikirin, pasti ada jalan ke luarnya," ucapku.


"Iya," sahut Rangga dan Adelina.


Akhirnya kami bisa bicara bersama-sama. Semoga hari ini Albern datang. Aku harus segera bicara soal ini padanya dan dia segera menemui kedua orangtuaku.


***


Albern merapikan pakainnya. Dia berdandan rapi di depan cermin. Hari ini Albern akan datang ke rumahku. Untuk memperkenalkan dirinya pada kedua orangtuaku. Albern sudah menunggu lama untuk ini. Dia harus mematenkanku di depan umum. Biar semua orang tahu aku miliknya.


"Sayang, aku datang, tunggulah!" ujar Albern.

__ADS_1


__ADS_2