Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 35


__ADS_3

"Tidak," jawabku.


"Kalau begitu beri aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku," ujar Axel.


Aku terdiam. Sejujurnya aku rindu pada Albern tapi apa itu cinta. Aku tidak bisa mencintai orang yang sudah menyakiti orang lain.


"Karena kau diam, aku anggap iya," ucap Axel.


"Axel tapi ...," kataku.


"Aara kau tak perlu melakukan apapun, cukup aku saja yang melakukannya," ujar Axel.


Aku hanya terdiam. Menunduk, aku tak tahu apa ini baik atau tidak, hatiku kacau sejak pergi meninggalkan Albern.


"Mulai hari ini kita pasangan," ujar Axel.


Aku tak begitu mendengarkan. Hati dan pikiranku tak ada di tempat ini. Axel terlihat senang sedangkan aku kebingungan.


Setelah hari itu Axel rutin menjemputku berangkat sekolah dan mengantarku pulang. Dia benar-benar menunjukkan perasaannya padaku. Hanya saja aku tidak begitu senang.


Seperti biasa, sepulang sekolah aku pulang bersama Ami, Dodo dan Axel. Kami berjalan bersama di tepi jalan lalu berpisah sesuai tujuan masing-masing. Axel mengajakku naik bus. Kami berdiri di lorong bus karena tak kebagian tempat duduk. Axel terus menjagaku. Dia melindungiku dari dempetan penumpang. Bus terus melaju, beberapa goncangan karena jalan tidak rata dan berlubang membuatku hampir jatuh, untung Axel menangkapku.


"Makasih Axel," ucapku.


Axel mengangguk.


Axel begitu baik sejak pernyataan cintanya padaku. Terkadang aku jadi tak enak hati. Dia terus memberiku perhatian. Haruskah aku membuka hati untuknya?


Aku mulai lelah, untung ada dua kursi kosong setelah dua penumpang di depanku turun. Aku dan Axel duduk. Lama-kelamaan aku mulai mengantuk. Tertidur di kursi, Axel menyandarkan kepalaku ke bahunya. Dia meraih tanganku dan memakaikanku sebuah gelang tanda cinta darinya. Gelang yang kembaran dengannya.


"Aara I Love You," bisik Axel di telingaku.


Aku tak mendengar semua itu karena tertidur pulas. Namun saat aku terbangun, aku terkejut saat aku mendapati kepalaku bersandar di bahu Axel dan dia merangkulku.


"Axel," ucapku.


"Kau sudah bangun?" tanya Axel.


Ku lihat jalan raya, tujuan kami sudah terlewat jauh.


"Kita ke mana?" tanyaku.


"Aku tak tega membangunkanmu, jadi kita ikut rute bus," ujar Axel.


"Oh ...," jawabku.


"Kita turun di halte selanjutnya ya?" tanya Axel.

__ADS_1


Aku mengangguk. Baru sadar di tanganku ada gelang, aku tercengang melihat sebuah gelang melingkar di tanganku.


"Ini?" tanyaku pada Axel.


"Gelang kita berdua," jawab Axel.


"Tapi aku tidak ...," jawabku.


"Kau akan terbiasa memakainya," ujar Axel.


Aku terdiam. Apa ini benar? apa aku harus melepas semua perasaan dan ikatanku dengan Albern. Hidup normal selayaknya anak remaja?


"Ayo turun!" ajak Axel.


Aku mengangguk. Kami turun di halte. Berjalan sambil bercanda. Kami juga jajan makanan yang dijual di tepi jalan. Bermain di alun-alun kota. Axel membeli balon lalu kami menerbangkannya bersama. Hari itu cukup menyenangkan, apa mungkin seharusnya aku bersama Axel?


Sore itu aku di antar Axel sampai kosanku. Ku lihat Albern sudah ada di depan pintu kosan. Axel langsung menghampiri Albern sedangkan aku terdiam di ujung kosan.


"Untuk apa kau di sini Bang?" tanya Axel.


"Untuk Aara," jawab Albern.


"Mulai hari ini jauhi Aara!" perintah Axel.


"Aku tak perlu menjauhinya, karena dia sudah menjadi takdir untukku," sahut Albern.


Axel menunjukkan gelangnya pada Albern.


"Benarkah? aku atau kau yang membodohi Aara?" tanya Albern.


"Apa maksudmu?" tanya Axel.


"Kau sudah menikah dan sekarang menjalin hubungan dengan Aara, bagaimana perasaannya saat nanti tahu kau sudah menikah," ujar Albern.


"Aku menikah karena kau tak bertanggungjawab, semua itu ku lakukan demi anak yang dikandung Raina," ujar Axel.


Albern terdiam.


"Seharusnya kaulah yang bertanggungjawab, tapi aku kena getah perbuatanmu," ujar Axel.


Albern masih diam.


"Kenapa diam? kau merasa bersalah?" tanya Axel.


"Aku memang salah tapi jangan menjalin hubungan dengan Aara, dia akan kecewa saat tahu statusmu," ujar Albern.


Axel terdiam.

__ADS_1


Di saat itu Albern menghampiriku, menarik lenganku. Membawaku pergi.


"Lepas!" pintaku.


"Aku suamimu, menurutlah sayang!" perintah Albern.


"Lepaskan tangan Aara!" ujar Axel nenghampiri kami.


"Aku tidak akan melepasnya," ujar Albern.


"Jangan memaksakan dirimu pada Aara, kau bukan siapa-siapanya," ucap Axel.


Albern terdiam kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Axel terkejut.


"Aara istriku," ujar Albern.


"Apa?" ucap Axel.


"Kami sudah menikah, jadi aku berhak membawa istriku pergi ke mana pun," ujar Albern.


Axel melihat ke arahku. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Albern.


"Aara apa itu benar?" tanya Axel. Matanya menatapku. Dia ingin tahu jawabanku. Mungkin saja semua itu salah.


"Axel," jawabku.


"Aara katakan padaku, apa itu benar?" tanya Axel.


Aku terdiam. Tak berani mengatakan yang sebenarnya saat melihat mata Axel penuh amarah dan kecewa. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Iya," jawabku.


Axel memukul tembok di sampingnya. Dia tak menyangka aku sudah menikah dengan Albern.


"Kau dengar sendiri, aku tak perlu mengusirmu dari hidup Aara," ujar Albern.


Axel terdiam.


"Axel," ucapku.


Axel menatapku, ku tahu dia sangat terluka karena kenyataan ini.


"Kenapa harus menikah dengannya Aara?" tanya Axel.


"Aku ...," jawabku.


"Apa tak ada orang lain selain dia, kenapa?" tanya Axel.

__ADS_1


Air mataku menetes melihat Axel kecewa dan marah. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.


"Kau akan hidup dengan lelaki brengsek ini?" tanya Axel.


__ADS_2