Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : ENDING


__ADS_3

Barra dan Deena pergi jalan-jalan untuk membeli baju ibu hamil, maklum perut Deena sudah membesar. Dia memerlukan baju ibu hamil yang lebih longgar. Sampai di toko perlengkapan ibu dan anak, ternyata parkirannya penuh. Barra terpaksa parkir di tepi jalan. Mereka keluar bersama dari dalam mobil, Barra menemani Deena berjalan menyeberangi jalan, dari arah kanan mobil melaju kencang, mobil itu seperti sengaja ingin menabrak mereka, Barra segera mengamankan Deena, dia menarik istrinya ke tepi, mobil itu hampir saja menyerempet Barra, untung saja Barra bergerak cepat.


Mobil masih melaju kencang, di dalam mobil Dinda marah-marah karena gagal menabrak Barra dan Deena, dia ingin menghabisi Deena karena sudah mengambil Barra darinya tapi justru dia malah kehilangan kendali mobilnya, mobilnya menabrak pembatas jalan hingga terpental dan mengalami kerusakan parah. Dinda mati di tempat dengan pendarahan di kepalanya.


Tak lama polisi datang dan mengidentifikasinya.


Di tempat lain Barra dan Deena yang sedang memilih pakaian terkejut saat melihat berita di televisi yang terpajang di dinding toko itu.


"Om, bukannya mobil itu tadi yang menabrak kita ya?" tanya Deena.


"Iya," jawab Barra.


"Nama pemilik mobilnya Dinda, itu bukannya mantan istrimu?" tanya Deena.


"Bisa jadi, jangan-jangan tadi Dinda ingin menabrakmu sayang?" tebak Barra.


"Iya, aku berpikir begitu juga," ucap Deena.


"Tapi alhamdulillah, Allah lebih tahu, orang yang menanam keburukan akan mendapatkan keburukan juga," ujar Barra.


"Iya Om," ucap Deena.


Barra memeluk istrinya, dia senang Deena baik-baik saja. Rencana Dinda gagal, bahkan dia malah meninggal akibat rencana jahatnya.


***


Akhirnya Ferdian, Anna dan Farel klarifikasi masalah yang terjadi di antara mereka bertiga. Semua menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Untung pers juga bekerja sama dengan baik. Mereka tahu Farel pebisnis yang baik, apalagi media mengenal sosok Leo Ariendra yang selalu baik, mereka semua tahu betul keluarga Ariendra terkenal baik dan dermawan di manapun mereka berada, jadi kasus itu tidak diperpanjang. Ferdian dan Anna juga sudah mengatakan letak kesalahan mereka. Akhirnya konferensi pers itu diakhiri dengan baik.


"Terimakasih Mas Ferdian sudah mau bekerja sama menyelesaikan semua masalah ini," ujar Farel.


"Iya, justru saya dan istri merasa bersalah, karena masalah keluarga kami, anda terbawa-bawa," ujar Ferdian.


"Saya juga minta maaf, gara-gara masalah ini, bisnis anda mengalami kendala," ucap Anna.


"Tidak, justru saya belajar dari masalah ini, terkadang hidup tak selalu mulus, setiap kendala menjadi awal untuk kita bangkit dan berusaha," ucap Farel.


Masalah itu selesai, Ferdian dan Anna juga bahagia. Kini mereka tinggal di rumah sederhana dan menyambut kehadiran buah hati mereka. Begitupun dengan Farel yang menyambut kehadiran buah cintanya bersama Alina.


Sampai di rumah, Farel langsung menaiki tangga berjalan menuju kamar. Dia senang sekali semua masalah selesai. Pintu terbuka, Alina menyambutnya dengan tangan terbuka, berharap pelukan dari suaminya. Farel langsung berlari memeluk Alina.


"I Love You," ujar Farel.


"I Love You Too," jawab Alina.


Farel dan Alina bahagia, apa yang terjadi membuat cinta mereka semakin kuat. Kini tinggal menunggu lahirnya sang jabang bayi yang dikandung Alina.


Mereka akan terus bersama sampai maut memisahkan mereka berdua. Membesarkan anak-anak mereka dan menatap masa depan indah yang bersama.


***


Alvan dan Haura berdiri di balkon rumah mereka, melihat indahnya pegunungan. Kebetulan mereka tinggal di daerah pegunungan yang hijau. Hamparan pepohonan memanjakan mata dan angin yang berhembus sejuk menyapu jiwa-jiwa yang tenang.

__ADS_1


"Sayang enak ya tinggal di sini?" ujar Alvan.


"Iya, apalagi di saat aku hamil begini," jawab Haura.


Alvan memeluk Haura dari belakang sambil memegang perutnya. Tinggal di daerah pegunungan memang impian Alvan dan Haura. Mereka ingin anak-anak mereka mengerti tentang alam dan indahnya bercocok tanam.


"Semoga anak kita kembar, biar rame rumah ini," ucap Alvan.


"Anak kita kembar sayang," ujar Haura.


"Kok tahu? kamu gak bilang kemarin?" tanya Alvan.


"Sengaja, biar surprise," jawab Haura.


"Mama dan Alvin pasti senang, anak-anak kita akan berlari sana sini di rumah Mama kalau kita ke sana," ujar Alvan. Dia membayangkan rumah besarnya itu akan banyak anak kecil dan membuat suasana rumah itu menjadi hangat.


"Iya sayang," ucap Haura.


Tak ada kebahagiaan yang lebih berharga selain bersama keluarga. Anak adalah anugerah yang membuat hidup kita terasa hangat dan penuh kebahagiaan.


***


Setelah seminggu, ternyata Kiara mendapat kabar kalau dia gagal keterima bekerja di hotel milik Raka. Kesempatannya untuk mendekati Raka gagal, tinggal menunggu kabar dari Hanan. Ternyata Hanan juga membatalkan makan malam tapi justru dia mengajak Kiara untuk hadir di acara lamaran adiknya.


"Yes, ternyata dia mengajakku ke tahap yang lebih serius," ucap Kiara senang.


"Kamu terlihat senang, kenapa?" tanya Ibu Yesi.


"Bagus dong, berarti dia serius itu," ucap Ibu Yesi.


"Aku mau dandan dulu Bu, acaranya siang ini," ujar Kiara.


Ibu Yesi mengangguk senang, anaknya mendapatkan mangsa. Segera Kiara berdandan secantik mungkin, nengenakan dress seksi, biar Hanan semakin tergoda.


***


Siang itu keluarga Raka masuk ke dalam rumah keluarga Andra. Mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk mengadakan acara lamaran antara Farhan dan Lilia. Acara baru mau dimulai, Kiara masuk ke dalam dengan pakaian yang terbuka, membuat yang melihatnya malu. Hanan juga sangat malu melihat penampilan Kiara yang seperti wanita murahan.


"Hanan," panggil Kiara dengan pede.


"Kiara?" Farhan terkejut melihat mantan pacarnya berpakaian seksi di acara lamarannya.


"Farhan!" Kiara terkejut ada Farhan di ruangan itu.


"Kiara!" Raka, Azkia, dan Kania juga terkejut.


Hanan yang duduk di karpet langsung berdiri menghampiri Kiara. Dia melepas jas yang dipakainya, lalu dipakaikan pada Kiara.


"Hanan kenapa?" tanya Kiara.


"Aku tidak ingin tubuhmu jadi tontonan orang lain, jaga auratmu, karena seorang wanita harus menjaga kehormatannya," ucap Hanan.


"Kau tidak suka?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Kiara aku suka, tapi pada tempatnya, saat kau jadi istriku nanti," ujar Hanan.


"Jangan Hanan!" Farhan menghampiri Hanan. Dia berdiri di antara Hanan dan Kiara.


"Jangan jadikan wanita murahan yang gila harta ini istrimu," ucap Farhan.


"Farhan, kenapa kau ikut campur?" tanya Kiara. Dia khawatir Hanan akan tahu siapa dia sebenarnya.


"Aku tahu, itu sebabnya aku ingin Kiara berubah," ujar Hanan.


"Wanita seperti dia takkan berubah," ucap Farhan.


"Kiara, aku ingin mengajakmu menikah, tapi aku tak punya apapun, aku baru merintis usahaku jualan baju muslim, kekayaan yang ku punya ini hanya milik orangtuaku, bersediakah kau menikah denganku yang miskin ini?" tanya Hanan.


"Sorry aku gak mau hidup miskin, aku butuh uang Hanan," ucap Kiara.


Kiara keluar dari rumah itu, dia tak mau hidup miskin. Tanpa diusir pun Kiara keluar dari rumah itu, Hanan hanya tersenyum.


"Hanan maaf bukannya aku melarangmu bersama Kiara tapi aku tahu dia seperti apa, ternyata kau jauh lebih pintar dariku mengusirnya," ucap Farhan sambil menepuk bahu Hanan.


"Aku hanya ingin tahu seberapa serius dia ingin bersamaku, ternyata nyalinya menciut saat aku mengajaknya hidup susah," ujar Hanan.


Acara lamaran itu akhirnya dilanjutkan. Farhan melamar Lilia. Semuanya ikut bahagia, lamaran itu hanya dihadiri keluarga inti, baru nanti acara pernikahan akan dilangsungkan mengundang semua keluarga, sahabat, kenalan dan rekan bisnis.


***


Leo dan Zara bersiap untuk foto keluarga bersama semua anggota keluarga. Dari anak, cucu bahkan buyut mereka. Semua anggota keluarga berkumpul di halaman rumah. Mereka bersiap melakukan foto keluarga di halaman rumah besar keluarga Ariendra. Suasana tawa, tangisan bayi-bayi, canda anak dan cucunya terdengar ricuh, membuat Leo dan Zara bahagia. Di usia mereka yang sudah sangat tua masih bisa berkumpul bersama keluarganya.


"Alhamdulillah ya Kek, kita bisa berkumpul semua," ujar Zara.


"Iya Nek, alhamdulillah Allah masih memberi umur panjang untuk melihat cucu kita," jawab Leo.


"Kakek, nenek, sini mau difoto!" ajak Alina yang sedang menggendong bayi lelakinya.


"Iya Alina, kakek dan nenek ke situ," jawab Zara.


Zara meraih tangan Leo yang sudah mulai keriput termakan usia.


"Kek ayo, kita foto buat kenang-kenangan," ujar Zara.


Leo mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju tempat berfoto di depan rumah mereka.


Semua anggota keluarga Ariendra berkumpul foto bersama, Leo dan Zara ada di tengah-tengah mereka semua.


"Siap?" tanya fotografer.


"Siap!" jawab semuanya.


Cekrek ...


Foto itu diambil dengan senyuman bahagia semua anggota keluarga Ariendra.


ENDING ....

__ADS_1


__ADS_2