Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
New Generation Part 6


__ADS_3

Cinta mengayuh sepedanya ke sekolah. Dia terburu-buru karena sudah kesiangan, tadi pagi ban sepedanya bocor dia harus menambalnya dulu. Saat sampai di depan sekolah, gerbang pagar sekolah sudah ditutup. Cinta memarkirkan sepedanya di dekat pagar luar, dia berjalan menuju pintu gerbang pagar sekolah. Namun ternyata sekolah sudah di kunci gembok pagarnya. Dia tidak bisa masuk ke dalam. Hanya berdiri berusaha untuk memanggil security yang ada di dalam tapi teriakannya diacuhkan oleh security itu.


"Aduh sudah ditutup, mana hari ini ulangan matematika. Kalau aku tidak dapat nilai dan bolos hari ini, beasiswaku terancam dicabut" ucap Cinta.


Dia khawatir tidak bisa masuk ke sekolah dengan begitu cinta tidak akan mendapatkan nilai ulangan matematika, beasiswanya akan terancam dicabut sedangkan dia membutuhkan beasiswa itu agar tetap bisa sekolah. Membiayai sekolahnya sendiri sangat besar, dia tak mampu membayar biaya sekolah di sekolahan yang terhitung sekolah swasta favorit itu.


Tap ... tap ... tap ... tap ...


Suara langkah kaki mendekat ke arah Cinta. Langkah itu semakin terdengar jelas, seseorang datang dari belakang dan menghampirinya.


"Kau kesiangan"ucap Raka.


Cinta membalikkan badannya dan melihat Raka tepat berada di belakangnya.


"Iya aku kesiangan"ucap Cinta.


"Ayo manjat pagar"ucap Raka.


"Lalu sepedaku gimana? nanti hilang kalau di luar" ucap Cinta. sepeda itu seperti teman dan harta satu-satunya yang dimiliki cinta. Bukan sekedar harta tapi sebagai transfortasinya untuk bekerja selama ini. Meskipun itu sepeda butut tapi banyak hal yang sudah dilewatinya bersama sepeda itu.


Raka tidak bicara satu katapun langsung berjalan menuju ke arah sepada Cinta yang terparkir di pagar luar sekolah. Raka mendorong sepeda itu menuju ke sebuah warung depan sekolah.


"Raka sepedaku mau dikemanain?"tanya Cinta. dia tidak tahu mau dibawa ke mana sepedanya oleh Raka. Cinta terus mengikuti Raka dari belakang yang sedang mendorong sepedanya.


"Tadi kau bilang takut hilangkan? di warung Mpok Odah lebih aman"ucap Raka.


Cinta mengangguk. Dia baru tahu apa yang akan dilakukan Raka pada sepedanya.


Raka menitipkan sepeda Cinta di warung Mpok Odah di depan sekolah. Melihat itu Cinta kagum pada Raka yang terlihat dingin dan pendiam tapi ternyata care juga. Selama ini cinta salah mengira kakak tidak pernah peduli padanya.


"Ayo"ucap Raka.


"Kemana?"tanya Cinta.


"Manjat pagar"ucap Raka.


"Tapi...," gumam Cinta.


Raka berjalan menuju pagar sekolah, tak ada lagi pilihan yang bisa dipilih cinta selain mengikuti Raka menuju pagar belakang sekolah. Mereka berdiri tepat di depan pagar belakang itu. Cinta tidak tahu apa yang akan dilakukan Raka agar bisa naik ke atas.


"Ayo naik ke pundakku"ucap Raka sambil berjongkok di depan Cinta.


"Tapi aku berat Raka"ucap Cinta.


"Kau mau dihukum atau beasiswamu dicabut" ucap Raka. Dia memberikan sebuah pilihan pada Cinta yang membuat gadis itu masih terdiam memikirkan apa pilihan yang akan dipilihnya.


Cinta sempat bengong, dia tak percaya Raka peduli padanya. Akhirnya cinta menentukan pilihannya.


"Oke, tapi jangan mengeluh kalau aku berat" ucap Cinta.


Cinta menaikkan kakinya dipundak Raka. Lalu Raka berdiri perlahan agar cinta tidak jatuh, Raka menundukkan kepalanya ketika melihat roknya Cinta yang berada di atasnya. Pipinya kemerahan malu dengan apa yang sekilas dilihatnya tadi.

__ADS_1


"Ayo naik pagarnya"ucap Raka.


"Aku sedang mencoba"ucap Cinta sambil meraih pagar bagian atas, akhirnya Cinta sampai ke atas pagar.


"Raka kau tidak naik juga?"tanya Cinta.


"Nanti aku lewat depan, cepatlah turun dan masuk kelas"ucap Raka.


"Makasih Raka"ucap Cinta.


Raka tidak membalas ucapan terimakasih dari Cinta, dia berlalu meninggalkan Cinta begitu saja.


Cinta turun dari pagar dengan perlahan. Lalu berjalan menuju kelasnya, untung guru matematika belum datang. Tak lama Cinta masuk kelas, guru matematika datang dan memulai ulangan matematika. Cinta cemas memikirkan Raka yang belum juga masuk ke kelas. Selesai ulangan matematika, Cinta minta izin ke toilet pada gurunya. Dia keluar kelas untuk mencari keberadaan Raka, tak sengaja dia melihat Raka dihukum berdiri ditengah halaman sekolah yang biasanya untuk upacara bendera.


"Kasihan Raka, pasti dia lelah berdiri dari tadi" ucap Cinta.


Cinta berjalan ke kantin sekolah membeli air mineral untuk Raka. Kemudian dia menghampiri Raka yang sedang dihukum berdiri di tengah halaman itu sambil membawa botol air mineral di tangannya.


"Raka kalau sudah selesai, ini minum untukmu, aku taruh sini ya"ucap Cinta sambil meletakkan botol air mineral itu di dekat Raka berdiri.


Setelah meletakkan botol air mineral itu, Cinta berjalan meninggalkan Raka. Baru berapa langkah, Raka bicara pada Cinta.


"Terimakasih"ucap Raka.


"Sama-sama"ucap Cinta.


Cinta senang walaupun hanya kata-kata terimakasih dari Raka tapi dengan itu Raka mau bicara padanya. Cinta meninggalkan tempat itu dengan senyuman yang manis di bibirnya.


Cinta kembali ke kelasnya dengan senyuman yang ada di bibirnya, setidaknya hubungannya dengan Raka mulai membaik.


"Raka keren banget kalau lagi main basket, ingin sekali mengenalnya tapi gimana ya?"ucap Kirana. Dari dulu Kirana sudah ngefans pada Raka yang sangat tampan dan cool. Dari semua siswa laki-laki di sekolahannya Raka merupakan laki-laki yang paling terkenal dan dan sulit didekati oleh banyak wanita. Itu yang membuat Kirana kagum dan ingin sekali menjadi orang yang spesial untuk Raka.


Beberapa teman sekelas Kirana menghampirinya yang sedang melihat Raka main basket.


"Kirana, Raka ganteng ya, keren lagi"ucap Ica.


"Diakan cowok paling ganteng dan populer di sekolah kita"ucap Lily.


"Coba gue jadi pacarnya, betah deh di sekolah gak usah pulang ke rumah"ucap Fina.


"Ngarep lo"ucap Ica.


"Kirana tuh cocok sama Raka"ucap Lily.


"Iya Kirana, kau dan Raka serasi lo kalau kalian jadian"ucap Fina.


Semua teman Kirana selalu menjodohkan Kirana dengan Raka yang dianggapnya memang serasi dan cocok. Bagi mereka Raka terlalu sempurna jika berpasangan dengan gadis biasa saja Kirana merupakan artis yang terkenal jadi jangan cocok bersanding dengan Raka.


"Kalian bisa aja, aku malu mau kenalan dengan Raka"ucap Kirana.


"Kenalan aja, ngapain malu. Emang sih Raka terkenal cool dan tertutup, apalagi sama cewek kaya kita. Tapi berusaha dulu tak ada salahnya"ucap Ica.

__ADS_1


"Iya Kirana, nanti keburu diambil orang"ucap Lily.


Kirana memikirkan ucapan teman-temannya. Dia ingin sekali mengenal Raka tapi ragu. Mungkin besok atau lusa Kirana harus memberanikan diri untuk mendekati Raka dan berkenalan dengannya. dengan begitu Kirana bisa menjadi orang yang spesial untuk Raka.


***


Kirana pulang ke rumahnya di Perumahan Permata Indah. Dia turun dari mobil pribadinya masuk ke dalam halaman rumahnya. Kirana masuk ke dalam rumah, berjalan menuju menuju ke kamarnya di lantai atas. Baru mau masuk kamar Ibunya memanggilnya.


"Kirana sini, ada yang ingin Ibu bicarakan"ucap Ibu Meta yang sedang duduk bersama ayahnya diruang keluarga lantai atas.


"Baik Bu"ucap Kirana.


Kirana berjalan menghampiri kedua orangtuanyadi ruang keluarga. Dia duduk di sofa bersama ayah dan Ibunya.


"Kirana ini kontrak syutingmu yang baru"ucap Ibu Meta sambil memberikan kontrak syuting itu pada Kirana.


Kirana mengambil kontrak syuting yang diberikan ibunya dan membaca kontrak syuting itu.


"Tapi Bu, bukannya Kirana sedang syuting di sinetron juga"ucap Kirana.


"Kamu di sini figuran jadi gak full syutingnya, habis syuting sinetron lanjut syuting ini, oya sabtu minggu kamu juga ada jadwal syuting sebagai bintang tamu di acara Talk Show"ucap Ibu Meta.


"Tapi kapan aku istirahatnya, Kirana ingin jalan-jalan bersama teman-teman Bu"ucap Kirana. selama ini Kirana selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk bermain di rumah. Sepulang sekolah dia harus syuting sampai malam. Kirana bahkan kehilangan waktunya sebagai anak remaja. terkadang dia kelelahan dan tidur di lokasi syuting. Kirana merasa kesepian dan kesendirian. Rasa bosan selalu membayangi hidupnya. Ingin rasanya Dia menghabiskan waktu seperti anak-anak seusianya. Berjalan-jalan, berbelanja, jajan bersama teman-temannya. Namun semua itu hanyalah impian semata, pada kenyataannya ayah dan ibunya selalu menuntutnya untuk tetap bekerja. Dia bagaikan mesin uang untuk keluarganya bukan hanya sekedar sampingan.


"Mumpung kamu masih tenar, jangan disia-siain kesempatan ini"ucap Ibu Meta.


"Kirana juga ingin seperti orang lain Bu, punya teman dan bisa bermain seperti anak seusia Kirana"ucap Kirana.


"Ini pasti hasutannya Cinta, Ibu sudah bilang jangan dekati anak itu, udah tau miskin malah dideketin. Bergaul itu sama yang kaya biar ketularan kayanya, ini malah nempel mulu ma yang miskin, heran deh"ucap Ibu Meta. Dia tidak suka Kirana bergaul dengan Cinta yang dianggapnya malas-malasan dan miskin. Cinta dianggap memberi pengaruh tidak baik kepada anaknya itu.


"Sudahlah ikuti kata Ibumu, jangan bikin dia marah"ucap Pak Irwan.


"Iya Yah"ucap Kirana. Dia hanya bisa menerima keputusan yang sudah diputuskan oleh kedua orang tuanya. Hidupnya bagaikan sapi perah dan patung yang harus mengikuti perintah majikannya. Dia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.


Setelah bicara dengan orangtuanya, Kirana masuk ke kamarnya. Sementara Pak Irwan dan Ibu Meta membicarakan Kirana.


"Anak pungut itu berguna juga Pak"ucap Ibu Meta.


"Dulukan aku sudah bilang, rawat saja nanti kita bisa mamfaatin dia, benarkan"ucap Pak Irwan.


"Untung dia gak tahu kalau dia anak pungut"ucap Ibu Meta.


"Kita harus menyimpan rahasia ini sampai kapanpun, supaya anak itu bisa kita manfaatkan terus"ucap Pak Irwan.


Pak Irwan dan Ibu Meta mengekspoitasi Kirana. Mereka tidak bekerja malah pengangguran, hanya mengandalkan hasil kerja Kirana. Kirana sampai harus bekerja sepulang sekolah hingga larut malam belum lagi sabtu minggu dia juga tetap bekerja. Mereka tidak membiarkan Kirana memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Kirana bagaikan mesin uang berjalan untuk mereka. Tak peduli Kirana lelah atau pun sakit sekalipun. Bagi mereka yang penting Kirana bisa menghasilkan uang untuk hidup mereka.


Kirana berbaring di kamarnya sambil menangis. Dia merindukan masa kecilnya dan hari-hari di saat dia masih bebas seperti dulu. Meskipun dulu tetap saja dibatasi ruang geraknya.


"Aku ingin seperti anak yang lain bisa melakukan hal yang aku suka. Punya teman, bermain dengan teman sebaya, dan beristirahat dengan cukup hik...hik...hik....."ucap Kirana.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian tidak mengerti yang Kirana rasakan hik....hik...."ucap Kirana.

__ADS_1


Kirana sedih karena kehilangan waktunya sebagai anak remaja, kebebasannya seperti direnggut. Dia hanya bisa mengikuti kemauan orangtuanya.


Didepan layar seolah tersenyum tanpa beban padahal hatinya terluka, hidupnya bagai anjing yang dirantai yang tidak bisa kemanapun sesuka hatinya.


__ADS_2