Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
New Generation Part 83


__ADS_3

Bel berbunyi semua siswa keluar dari kelas mereka. Cinta keluar dari kelasnya. Dia berjalan menuju ke kelas Rehan. Baru masuk kelas Rehan langsung memeluk Cinta.


"Kak Rehan membuatku kaget"ucap Cinta.


"Kau mau ngapelin suamimu ya"ucap Rehan.


"Iya, kangen"ucap Cinta.


"Gadis kecil belakang sekolah disana sepi"ucap Rehan.


Cinta hanya mengangguk, Rehan menarik lengan Cinta menuju ke belakang sekolah. Mereka berbaring direrumputan sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


"Kak Rehan, aku mau tanya"ucap Cinta.


"Tanya apa gadis kecil?"tanya Rehan.


"Apa Kirana hari ini masuk sekolah?"tanya Cinta.


"Tidak, bahkan dia tidak masuk sekolah tanpa keterangan"ucap Rehan.


"Kemana ya Kirana?"ucap Cinta.


"Mungkin dia syuting"ucap Rehan.


"Sepulang sekolah aku mau nyari Kirana"ucap Cinta.


"Jangan pergi sendirian, minta antar bocah sialan itu"ucap Rehan.


"Kak Raka, dia kakak iparmu Kak Rehan"ucap Cinta.


"Iya sayang"ucap Rehan.


"Sayang cium"ucap Rehan.


"Gak mau"ucap Cinta.


"Aku gak akan menyerah"ucap Rehan.


Rehan mencengram kedua tangan Cinta dan menciumnya.


"Kak Rehan"ucap Cinta melepas ciuman itu.


"Ganas ya"ucap Rehan.


"Kak Rehan ini sekolah, nanti kalau ada yang melihat bisa repot"ucap Cinta.


"Iya sayang, ayo sholat setelah itu makan dikantin"ucap Rehan.


Rehan dan Cinta masuk ke mushola. Kemudian Rehan ke toilet berganti jadi laki-laki. Dia mengenakan peci dan sarung lalu menghampiri Cinta.


"Imammu datang gadis kecil"ucap Rehan.


"Kak Rehan imamku, kau tampan sekali"ucap Cinta meraba pipi Rehan.


"Aku memang tampan, itu sebabnya kau akan terus terhipnotis dengan ketampananku"ucap Rehan.


"Kak Rehan ayo wudhu lalu adzan ya, biar yang lain terketuk hatinya untuk sholat bersama kita"ucap Cinta.


"Subhanallah, iya gadis kecil"ucap Rehan.


Rehan dan Cinta wudhu lalu Rehan segera mengumandangkan Adzan.


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa Illaaha illallaah


Asyhadu allaa Illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar Rasullullah


Asyhadu anna Muhammadar Rasullullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Hayya 'alalfalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa Illallaah"ucap Rehan mengumandangkan Adzan.

__ADS_1


Rehan langsung menangis setelah mengumandangkan adzan. Cinta langsung menghampiri Rehan.


"Kak Rehan kenapa menangis?"tanya Cinta.


"Aku teringat semua dosaku gadis kecil, saat mengumandangkan adzan rasanya hatiku tersentuh dalam teringat semua kesalahan yang ku lakukan di masa lalu"ucap Rehan.


"Itu berarti hidayah Allah masih sampai padamu Kak Rehan. Bersyukurlah karena Allah memberimu hidayah bukti bahwa Allah menyayangimu sebagai hambanya"ucap Cinta.


"Alhamdulillah"ucap Rehan.


"Bahkan ada orang yang benar-benar sudah tertutup pintu hatinya hingga sulit hidayah itu datang padanya. Tapi Kak Rehan mau membuka hati hingga secerca hidayah masuk ke dalam hati Kak Rehan dan membuka pintu hati Kak Rehan untuk mendapatkan pintu hidayah yang selebar-lebarnya"ucap Cinta.


"Maha Besar Allah, ampunilah segala dosa-dosaku dan bimbinglah aku ke jalanmu yang benar"ucap Rehan.


"Amin"ucap Cinta.


Tak lama berdatangan guru-guru dan siswa yang ikut sholat dimushola itu. Sesibuk apapun kita tunaikanlah sholat, karena sesungguhnya sholat itu wajib hukumnya. Jangan sampai kematian datang saat kita belum sempat melaksanakan sholat.


Raka membawa roti dan menawarkan pada teman-temannya.


"Mau pada beli roti gak? murah dan enak"ucap Raka.


"Jualan roti kok kaku, gimana mau laku"ucap Azkia.


"Gadis muka tembok"ucap Raka.


"Pria lemah"ucap Azkia.


"Memang kau bisa berjualan, paling kau akan mengancam pembelimu dengan pedang"ucap Raka.


"Dari pada kau jualan kaya orang bisik-bisik, gimana orang tahu kalau kau jualan roti"ucap Azkia.


"Yaudah, jual rotiku sampai habis"ucap Raka.


"Gini aja kita taruhan siapa yang mampu menjual roti paling cepat, yang kalah harus berlari sepuluh putaran dihalaman sekolah, gimana?"tanya Azkia.


"Oke"ucap Raka.


"Kita bagi rotinya jadi dua"ucap Azkia.


"Gak masalah"ucap Raka.


Mereka membagi roti menjadi dua bagian masing-masing tujuh roti.


"Gadis muka tembok"ucap Raka.


"Pria lemah"ucap Azkia.


"Beraksi"ucap Azkia.


Raka dan Azkia berpisah arah, Raka ke kanan dan Azkia ke kiri. Azkia menghampiri siswa laki-laki yang berdiri ditiang depan kelas.


"Hei beli rotinya, kalau gak bogem mentah ini yang akan berbicara"ucap Azkia.


"Ampun, oke"ucap Dimas.


"Kau beli rotinya juga kalau masih ingin hidup" ucap Azkia pada siswa laki-laki lainnya.


"Oke"ucap ucap Dika.


Selain Azkia, Raka juga menawarkan roti hangat miliknya pada siswa putri yang sedang nongkrong dekat taman.


"Hai ladies mau beli roti hangat?"tanya Raka.


"Kak Raka......Kak Raka.....Kak Raka......"ucap siswa putri itu.


Mereka mengeroyok Raka dan minta foto lalu membeli semua roti hangatnya. Setelah itu Raka kembali ke tempat mereka taruhan.


"Lihat siapa yang menang?"ucap Raka berbicara pada Azkia yang baru tiba.


"Kau paling curang, dengan menggunakan ketampananmu untuk menggoda gadis-gadis supaya membeli roti hangatmu"ucap Azkia.


"Kau juga paling mengancam supaya orang mau membeli roti padamu"ucap Raka.


"Oke tidak masalah aku akan berlari sepuluh putaran dilapangan"ucap Azkia.


"Bagus, lakukan"ucap Raka.


Azkia berlari dilapangan, sementara Raka tertawa ditepi lapangan itu sambil meledek Azkia.


"Gadis muka tembok ayo yang semangat larinya jangan lelet kaya kura-kura"ucap Raka.


"Yang bisanya cuma berteriak doang itu namanya ayam jago"ucap Azkia.


"Hei kura-kura berlarilah"ucap Raka.

__ADS_1


"Ayam jago berkokoklah terus"ucap Azkia.


"Kura-kura lambat cepatlah"ucap Raka.


"Ayam jago bawel diamlah berisik"ucap Azkia.


"Kura-kura"ucap Raka.


"Ayam jago"ucap Azkia.


Tanpa sadar Raka ikut berlari bersama Azkia dan kelelahan bersamanya dibawah tiang bendera.


"Capek......"ucap Raka dan Azkia.


"Aku haus ayam jago"ucap Azkia.


"Kura-kura berendamlah diair sana"ucap Raka.


Raka berdiri kalau membeli air mineral di vending machine. Lalu dia memberikan satu botol air mineral pada Azkia.


"Kura-kura minumlah"ucap Raka menyodorkan botol air mineral pada Azkia.


"Ayam jago kau tak menyuapku atau sudah meracuni air minumku"ucap Azkia.


"Kura-kura kau menuduhku, sepertinya aku tidak usah sedikit baik padamu, mulutmu itu menusuk tajam"ucap Raka.


"Justru aku takut dengan sedikit kebaikanmu yang bisa menjeratku dalam kehancuran"ucap Azkia.


"Yasudah kalau....."ucap Raka.


Leg.....leg....leg...........


"Segar sekali air ini, rasanya aku hidup kembali dari kematian"ucap Azkia meminum air dari botol air mineral yang disodorkan Raka padanya.


"Dasar kura-kura"ucap Raka.


"Kenapa kau melihatku seperti itu ayam jago" ucap Azkia.


Raka dan Azkia terus berdebat setelahnya sampai bel masuk berbunyi dan mereka masuk ke kelas.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Leo pergi ke Markas Api sendirian. Mobilnya masuk ke parkiran markas itu. Leo turun dari mobilnya. Seorang ajudan mengantar Leo masuk ke dalam sebuah aula yang luas. Disana ada ring untuk bertarung. Entah apa yang diasiapkan Pak Theo untuknya, tapi Leo tetap akan berusaha membujuknya. Leo berdiri menatap ring itu.


"Ternyata kau punya nyali untuk datang ke sarang singa"ucap Pak Theo.


"Aku datang kesini untuk bersilaturrahmi dan meluruskan semuanya"ucap Leo.


"Leo Ariendra kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu"ucap Pak Theo.


"Aku berharap secerca kepercayaanmu terhadapku agar semua ini tidak membuat hubungan kedua anak kita jadi terganggu"ucap Leo.


"Apa yang kau ingin bicarakan padaku"ucap Pak Theo yang berdiri disamping Leo.


Leo akhirnya menceritakan semua kejadian yang terjadi 25 tahun lalu pada Pak Theo.


Proooook.......prooook......proooook........


Pak Theo bertepuk tangan mendengar penjelasan Leo.


"Kau pikir aku akan percaya dengan ceritamu" ucap Pak Theo.


"Apa yang ku katakan itu benar, demi Allah"ucap Leo.


Pak Theo langsung menonjok Leo tapi ditahan oleh tangan Leo.


"Tidak baik setiap masalah diselesaikan dengan kekerasan"ucap Leo.


Pak Theo menyerang Leo. Mereka bertarung satu sama lain hingga berada ditengah ring itu. Mereka bertarung sampai akhirnya keduanya tumbang bersama. Tapi Pak Theo memanggil anak buahnya. Leo harus menghadapi anak buah Pak Theo beserta Pak Theo sekaligus. Leo kesulitan melawan semuanya. Sampai dia babak belur. Azkia yang baru pulang sekolah melihat Leo dikeroyok Pak Theo dan anak buahnya dari tiang aula itu. Azkia mengintip perkelahian itu.


"Aku sepertinya pernah melihat orang itu tapi dimana? tunggu"ucap Azkia sambil berpikir.


"Iya, ada difoto dikamar Si ayam jago"ucap Azkia.


Azkia berganti pakaian dan memakai topeng yang menutup wajahnya. Dia turun di ring bertarung itu membantu Leo melawan anak buah Pak Theo. Beberapa kali bertarung anak buah itu mulai tumbang. Tapi Pak Theo sangat kuat hingga Azkia kualahan sampai dadanya terkena pukulan keras.


"Aw..............."ucap Azkia kesakitan.


"Om bukan lawan yang mudah, belum lagi anak buahnya, lebih baik aku segera pergi dari sini bersama bapak ini"batin Azkia.


Azkia menarik Leo meninggalkan tempat itu. Dia berlari ke parkiran.


"Itu mobilku"ucap Leo.


"Sekarang kita harus pergi dari sini, tempat ini tak aman"ucap Azkia.

__ADS_1


Leo dan Azkia naik mobil hendak meninggalkan markas itu. Awalnya gerbang sempat ditutup tapi Azkia menghajar penjaga gerbang itu lalu membuka gerbang kembali. Dia menyetir mobil itu meninggalkan markas itu.


__ADS_2