Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Part 108


__ADS_3

Pagi itu Anna memasak di dapur untuk suami dan ibunya. Meskipun di rumah sudah ada pembantu tapi Anna membiasakan diri memasak sendiri untuk keluarganya. Dia ingin memberi yang terbaik untuk mereka. Semua masakan dimasaknya penuh cinta, dia berharap suami dan ibunya akan senang memakan masakannya. Anna menyajikan semua makanan di atas meja kemudian dia mandi dan berganti pakaian, sekalian membangunkan suaminya untuk sarapan bersama.


"Mas bangun ... bangun ....," panggil Anna sambil menepuk-nepuk kaki suaminya.


Ferdian terbangun. Melihat Anna yang sudah rapi mengenakan baju kerjanya. Ferdian langsung membuang muka, dia paling benci melihat Anna bekerja, seakan dia tak berguna.


"Mas ayo sarapan, aku sudah masak," ucap Anna.


"Aku gak lapar," ucap Ferdian.


"Aku masak masakan kesukaanmu," ujar Anna.


"Aku bilang aku gak lapar," sahut Ferdian.


Anna menangis. Dia sudah berusaha melakukan segala hal untuk suaminya tapi Ferdian tetap saja seperti itu.


"Anna jangan menangis, aku akan sarapan," ucap Ferdian mengalah. Sebenarnya dia tak tega melihat Anna bersedih bahkan menangis tapi emosinya selalu tersulut saat ingat posisi Anna yang jauh lebih tinggi darinya. Apalagi orang-orang selalu meremehkannya karena istrinya yang bekerja keras sedangkan dia OB yang gajinya tak seberapa. Beberapa kali Anna menawarinya untuk memimpin perusahaan tapi Ferdian menolak, dia tak mau terkesan suami yang tak bisa apa-apa. Dia lebih memilih tetap jadi OB.


Anna tersenyum mendengar ucapan Ferdian. Dia mengajak suaminya turun ke bawah. Mereka berjalan menuju ruang makan, di sana Ibu Mutie, ibu kandung Anna sedang duduk sambil minum teh hangat. Muka Ferdian langsung masam melihat ibu mertuanya. Dia ingat betul setiap bersama ibu mertuanya pasti dia dihina. Ferdian duduk di samping Anna. Istrinya itu melayani semua keperluan sarapannya sebelum dia sendiri makan.


"Udah gak berguna masih dilayani juga," ucap Ibu Mutie.


"Bu, jangan berkata seperti itu," sahut Anna.


"Anna, lihat suamimu, bukan kerja yang bener, bikin gosip yang merugikan. Dia memang gak guna cuma parasit yang menjijikkan," ucap Ibu Mutie.


Ferdian yang tadinya duduk, langsung berdiri. Dia menunjuk ke arah Ibu Mutie.


"Ibu, selama ini aku diam karena menghormati Anna, tapi sekarang aku lelah. Kau ingin aku pergi dari Anna kan, oke, aku akan ceraikan Anna," ucap Ferdian.


Anna berdiri memeluk suaminya, dia berusaha menenangkan hatinya.


"Mas aku tidak mau bercerai, ku mohon maafkan ucapan ibu," ucap Anna.


"Anna ngapain sih kamu mengemis cinta lelaki tak berguna," ucap Ibu Mutie.


"Bu hentikan, ku mohon. Aku mencintai Mas Ferdian," ucap Anna.


Ferdian melepas pelukan Anna, dia berjalan meninggalkannya. Anna yang menangis menyusul Ferdian.


"Anna!" teriak Ibu Mutie.


Anna berhenti, menoleh ke belakang. Matanya sudah sembab.


"Bu aku juga akan meninggalkan rumah ini dan perusahaan, ambil semuanya. Aku hanya ini keluargaku utuh, maafkan aku," ucap Anna.


"Anna!" teriak Ibu Mutie.


Anna tak menggubris teriakan Ibu Mutie. Dia berjalan menyusul Ferdian. Semua harta dan kedudukan ditinggalkannya demi mengikuti suaminya. Bukan dia tak sayang ibunya tapi kini dia sudah punya suami, kemanapun dia pergi Anna akan ikut.


Anna memeluk tubuh Ferdian dari belakang.


Dia menangis, Anna tidak ingin Ferdian pergi tanpanya.


"Mas aku ikut, kemana pun," ujar Anna.

__ADS_1


"Ibumu, hartamu?" tanya Ferdian.


"Aku ini istrimu, kemanapun aku ikut denganmu. Harta hanya titipan, aku ingin bersamamu," ucap Anna.


Ferdian berbalik, dia memeluk Anna. Dia tak menyangka Anna akan meninggalkan semua itu untuk Ferdian.


"Anna ikut bersamaku berarti kau siap hidup susah?" tanya Ferdian.


"Iya," jawab Anna.


"Terimakasih Anna," ucap Ferdian.


Ferdian membawa Anna bersamanya keluar dari rumah besar itu. Dia yang tadinya tak tahu harus kemana, tapi adanya Anna di sampingnya, dia akan berusaha lebih keras untuk membahagiakannya.


***


Alina duduk di ruang keluarga bersama Haura. Siang itu dia malas untuk melakukan apapun. Bahkan dari kemarin belum mandi, Haura merasa saudara kembarnya agak aneh. Dia kenal betul Alina sangat rajin dan bersih, tapi Alina yang ini malas dan suka yang bau-bau.


"Alina kau merasa aneh tidak denganmu?" tanya Haura.


"Gak ada," ucap Alina.


"Tapi dari kemarin kau belum mandi dan bajumu kotor, kau tak risi?" tanya Haura.


"Justru aku suka seperti ini," ucap Alina.


"Aneh, seperti bukan kamu," ucap Haura.


"Masa sih?" ucap Alina.


"Apa tuh Alina?" tanya Haura.


"Gak tahu, padahal aku gak pesan," ucap Alina.


Alina membuka toples itu, sebuah rempeyek belut. Alina senang sekali melihatnya, dia yang tak sabar langsung membuka dan memakan rempeyek itu.


"Alina bukannya kau tak suka belut?" tanya Haura.


"Gak tau, tiba-tiba aku suka banget," ucap Alina.


"Dari siapa? jangan asal makan," ucap Haura.


Alina mencari pengirim toples itu tapi tak ada, tak lama handphone-nya berdering. Sebuah pesan masuk. Alina membuka pesan itu, ternyata itu dari Farel suaminya.


"Dari suamiku," ucap Alina.


"Perhatian banget, yakin masih marah?" ledek Haura.


"Gak sih, tapi aku sedih aja," ucap Alina.


"Alina kamu bener-bener aneh, pertama sikapmu yang tiba-tiba cengeng, suka yang bau dan kotor, makanan yang kau tak suka jadi suka, jangan-jangan kamu hamil?" tanya Haura.


"Masa sih, aku ...," ucap Alina langsung terdiam. Dia memastikan lagi tanggal haid terakhirnya.


"Tuh kan pasti kamu hamil," ujar Haura.

__ADS_1


"Aku baru telat dua minggu, masa hamil? mungkin karena aku stress," ucap Alina.


"Stress karena kamu sedang hamil, hormonnya naik turun, emosimu gak stabil," ucap Haura.


"Tapi kamu biasa aja, padahal kamu hamil," sahut Alina.


"Setiap orang beda-beda, bahkan ada temenku yang hamil tapi masih olahraga sana sini karena gak ngerasa hamil, ada juga yang tepar saat hamil, sampai berdiri aja kliengan," ucap Haura.


"Iya ya, temenku juga ada yang cerita kalau hamilnya berat banget sampai muntah terus, makan gak enak," ucap Alina.


"Nah kan, bisa jadi kamu memang hamil," ucap Haura.


Alina langsung tersenyum, seandainya hamil beneran Farel pasti akan senang dengan kabar itu. Selama ini mereka sedang menunggu kehadiran buah hati, Alina tak sabar ingin segera memeriksakan kandungannya.


"Haura antar aku ke rumah sakit," ucap Alina.


"Oke, tar aku minta Mama juga nemenin ya?" ujar Haura.


"Boleh, Mamakan dah pengalaman," sahut Alina.


***


Farel duduk di restoran yang kemarin saat bertemu Anna. Dia janjian dengan Dika temannya yang seorang detektif. Farel kembali melihat pemberitaan itu. Sudah beberapa hari masih trending. Farel menghela nafasnya, semua ini membuat Alina pergi dari rumah. Dia ingin masalahnya segera selesai, dia takut berdampak pada bisnisnya.


Tak lama Dika datang, dia duduk di depan Farel.


"Lama ya Rel nunggunya?"


"Gak juga."


"Aku dah selidikin Anna dan keluarganya."


"Ceritakan semuanya."


"Suami Anna bernama Ferdian, dia seorang OB di salah satu perusahaan. Hubungan Anna dan Ferdian kurang harmonis karena perbedaan kasta di antara keduanya, ditambah ibu mertuanya yang ikut campur dalam masalah rumah tangga mereka. Ferdian kerap marah gak jelas cuma karena dia merasa tak berguna untuk Anna. Dia menuduh Anna berselingkuh padahal Anna setia, itu hanya karena kekesalannya."


"Jadi peristiwa kemarin bisa jadi karena kekesalan suami Anna yang gak jelas itu?"


"Iya."


"Terus gimana caranya supaya pemberitaan ini berhenti?"


"Video itu sudah terhapus, tapi pemberitaannya tetap trending."


"Iya aku sudah melihatnya."


"Kalau sekarang kau klarifikasi, percuma, orang sudah terbawa pemberitaan palsu itu, sebaiknya tunggu berita ini mereda dulu, pasti akan ada berita trending lainnya, atau kau bisa bayar orang untuk membuat berita trending untuk menutupi berita ini. Banyak orang yang bisa bikin berita palsu dan membuatnya trending, ada juga sewa orang untuk jadi pendukungmu, semakin banyak yang membelamu semakin hilang pemberitaan buruk tentangmu."


"Tidak, itu tidak benar. Sepertinya aku harus mengajak Anna dan Ferdian duduk dan klarifikasi semuanya, semua inikan hanya salahfaham."


"Bisa juga, tapi pro dan kontra pasti tetap ada."


"Itu tergantung pola pikir masyarakat, setidaknya aku berusaha dengan benar."


"Oke, semoga masalahnya kelar."

__ADS_1


Farel tersenyum. Dia yakin menyelesaikan apapun harus dengan cara yang benar, apapun diawali dari niat, jika niat kita baik pasti hasilnya baik juga.


__ADS_2