Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Firasat dan Mimpi Part 102


__ADS_3

"Mama kenapa Pa?" tanya Raka penasaran.


"Datanglah ke rumah sakit, nanti Papa jelasin." Leo tidak memberi tahu keadaan yang sebenarnya.


"Iya Pa."


Raka menutup telpon. Mukanya terlihat mencemaskan ibunya. Melihat suaminya yang terlihat murung, Azkia menghampiri Raka.


"Pa ada apa?" Azkia ingin tahu keadaan mertuanya. Dia merasa suaminya sedang bersedih setelah menerima telpon dari Papa mertuanya.


"Mama, kita harus ke rumah sakit."


"Mama kenapa?" Azkia mulai mencemaskan Zara.


"Papa gak tahu, kita harus segera ke rumah sakit Ma."


"Iya, ayo Pa."


Raka mengangguk. Dia berjalan menghampiri kedua anaknya.


"Farhan sepertinya lamaranmu harus ditunda, kita harus ke rumah sakit," ucap Raka.


"Rumah sakit Pa? siapa yang sakit?" tanya Farhan. Dia tidak tahu kenapa Papanya mengajak ke rumah sakit.


"Papa belum tahu pasti, yang jelas kakekmu menyuruh kita ke rumah sakit," kata Raka.


"Ya Allah jangan-jangan kakek atau nenek sakit?" ucap Kania. Matanya berkaca-kaca mendengar sambil berbicara. Dia teringat dengan kakek dan neneknya. Mereka berdua sudah tua apapun bisa terjadi.


"Kita positif thinkhing saja, doa sama Allah supaya kakek dan nenek baik-baik saja," ucap Azkia. Dia tidak ingin berpikir negatif. Hanya sebuah harapan dan doa yang ada dipikiran dan hatinya.


"Iya," ucap Raka, Farhan, dan Kania.


Raka dan keluarganya jalan keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah. Mobil itu melaju menuju rumah sakit.


***


Cinta sedang merapikan foto-foto lama untuk dibersihkan. Dia melihat foto-fotonya saat masih kecil hingga remaja. Foto ayah dan ibunya menjadi foto yang sangat penting untuk Cinta. Sudah sangat lama saat ia masih menjadi seorang anak, kini dia sudah menjadi orang tua, bahkan akan segera memiliki cucu. Foto-foto itu menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Banyak hal yang sudah berlalu dan masih diingat sampai sekarang.


"Papa, Mama, sudah sangat lama, waktu terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku masih jadi anak remaja, hidup bersama kalian. Tapi kini aku sudah memiliki 3 anak dan sebentar lagi akan memiliki cucu," ucap Cinta sambil memandang foto orangtuanya.


Ketika Cinta tersenyum-senyum melihat foto, Rehan menghampirinya.


"Ma kok senyum-senyum sendiri, ada apa?" tanya Rehan.


"Lihat Pa, dah lama ya. Sekarang kita udah jadi orangtua, besok mungkin jadi kakek dan nenek, kangen sama Papa dan Mama jadinya," ucap Cinta sambil menunjukkan foto orangtuanya pada Rehan.


"Gimana kalau kita main ke rumah Papa dan Mama?" tanya Rehan.


"Iya Pa, mumpung anak-anak pada ngumpul, kita main ke rumah Papa dan Mama," jawab Cinta.

__ADS_1


Tak lama foto yang dipegang Cinta terjatuh ke lantai begitu saja.


Tuar!


"Aaaa ...." Cinta terkejut.


"Ma," ucap Rehan menarik Cinta agar tidak terkena kaca yang pecah.


"Pa, perasaanku gak enak, aku jadi kepikiran Papa dan Mama," ucap Cinta. Dia memegang dadanya. Matanya terlihat berkaca-kaca, ada sesuatu dihatinya yang membuat emosi kesedihannya muncul.


"Mungkin karena tadi Mama memikirkan Papa dan Mama," ucap Rehan. Dia berusaha menenangkan Cinta, meskipun dia sendiri juga mencemaskan mertuanya.


"Iya kali ya Pa," ucap Cinta.


Suara handphone milik Cinta berdering di atas laci. Cinta segera mengambil handphone miliknya.


"Papa," ucap Cinta melihat panggilan dari Leo.


Cinta langsung mengangkat telpon dari Leo.


"Assalamu'alaikum," sapa Cinta.


"Wa'alaikumsallam," jawab Leo.


"Papa dan Mama baik-baik sajakan?" tanya Cinta yang ingin tahu keadaan orangtuanya.


"Papa baik-baik saja, datanglah ke rumah sakit, Mama ingin bertemu," ucap Leo.


"Papa menunggumu di rumah sakit," ucap Leo.


"Iya Pa," ucap Cinta.


Selesai bicara Cinta menutup telponnya. Air matanya menetes di pipi. Dia mengkhawatirkan orangtuanya. Rehan menghampiri Cinta dan memeluknya.


"Mama kenapa? bukannya tadi dapat telpon dari Papa," ucap Rehan.


"Kita harus ke rumah sakit Pa," ucap Cinta. Dia terlihat berat untuk mengatakannya. Ekspresi kesedihan terlihat jelas.


"Ke rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Rehan penasaran.


"Gak tahu, Papa hanya berpesan agar kita ke rumah sakit," ucap Cinta.


"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit, ajak anak-anak sekalian," usul Rehan.


"Iya Pa." Cinta setuju.


Rehan dan Cinta bergegas mengajak anak dan menantunya, pergi ke rumah sakit. Mereka segera mengendarai mobil menuju rumah sakit.


***

__ADS_1


"Tidaaaak," teriak Marwa yang terbangun dari tidurnya.


Keringat bercucuran, jantung berdebar, tubuhnya memanas, nafasnya tersengal-sengal. Suaminya terbangun dan merangkulnya.


"Sayang ada apa?" tanya Louis.


"Aku mimpi buruk," ucap Marwa. Air matanya mulai mengalir di pipinya tanpa disadari. iIngatannya tentang mimpi buruknya begitu jelas.


"Mimpi buruk apa?" tanya Louis.


"Mama ditutupi kain kafan," ucap Marwa.


"Astagfirullah," sahut Louis. Dia terkekut dengan apa yang diucapkan Marwa.


Marwa juga membaca istigfar. Mimpi itu begitu menakutkan. Dia kita membayangkan jika mimpi itu benar adanya. Bagi Marwa mamanya ada segalanya. Dia takut terjadi sesuatu pada mamanya.


"Gimana kalau kita telpon Papa dan Mama," usul Louis.


Marwa menggangguk. Louis mengambil handphone ada di atas laci dekat ranjang. Dia menelepon Leo.


"Assalamu'alaikum Pa."


"Wa'alaikumsallam."


"Papa dan Mama sehat?"


"Alhamdulillah Papa sehat, baru saja Papa mau menelpon kalian."


"Pa, sebenarnya ada yang ingin aku menelpon ingin tahu kabar Papa dan Mama."


"Louis, kalian harus segera pulang."


"Pulang? apa terjadi sesuatu Pa?"


"Kembalilah dulu, nanti Papa jelasin."


"Iya."


Selesai menelpon Louis menghampiri Marwa, dia memberitahukan semua percakapannya dengan Leo. Akhirnya mereka segera berkemas untuk kembali ke dalam negeri.


***


Pemakaman Kamboja Merah


Leo duduk di tepi batu nisan istrinya. Matanya kaca-kaca melihat foto di depan nisan. Lantunan doa terdengar dari mulut semua orang yang hadir di pemakaman. Semua anggota keluarganya berkumpul mengelilingi makam Zara. Mereka semua bersedih atas kepulangan ibu, mertua, dan nenek mereka. Begitu banyak kenangan yang terasa baru kemarin, seakan waktu tak cukup untuk dihentikan. Ingin kembali tapi tak bisa.


Leo terdiam. Mengingat semua kenangan bersama istrinya. Tiada yang lebih berharga selain Zara. Kehilangannya seperti kehilangan separuh hidupnya.


Kenangan-kenangan masa SMA diputar ulang dipikiran Leo. Masa indah itu tak pernah terlupakan. Pertemuannya dengan Zara adalah hadiah terindah dalam hidupnya. Jika boleh meminta dia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana mereka berbagi segalanya.

__ADS_1


"Aku ingin ikut bersamamu, Zara," ucap Leo.


"Papa ..., Papa ...," suara terdengar memanggil, samar-samar, mulai jelas dan keras.


__ADS_2