Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 93


__ADS_3

Pagi itu Axel duduk di kantin sarapan. Dia tak sempat sarapan di rumah, karena harus memperbaiki mesin produksi yang bermasalah sebelum pergantian shift di mulai. Untung saja Axel sudah tahu di mana letak masalahnya jadi dapat diperbaiki dengan cepat tanpa menghentikan proses produksi di land. Axel menikmati semangkuk sop hangat yang di belinya di depan parbrik. Banyak sekali penjual yang berjejer di depan pabrik. Ada penjual gorengan, soto, sup, siomay, batagor, nasi uduk, nasi kuning, dan masih banyak lagi.


Axel menikmati setiap sendok sup miliknya. Tiba-tiba seorang temannya duduk di kursi yang satu meja dengannya. Dia seorang juniornya di maintenance. Axel memiliki bawahan yang cukup banyak, beberapa di antaranya wanita. Salah satunya Sela Nafisa. Dia masih muda. Baru lulus SMA seperti Axel. Berasal dari kampung dan merantau di kota. Sela sangat mengagumi Axel yang tampan dan cold.


"Aku bawa gorengan, kakak mau?" tanya Sella meletakkan gorengannya dekat Axel. Namun Axel tak bergeming. Tetap memakan sup miliknya. Tanpa berkata apapun. Dan matanya fokus ke bawah.


"Aku dengar mesin produksi sudah berjalan lagi, kakak hebat ya, banyak yang coba memperbaiki tapi tak seorangpun bisa," ucap Sella memuji Axel.


Axel hanya diam. Sesekali mengecek handphone miliknya. Sebuah wallpaper dengan gambar Raina dan Bobo terpajang di handphone-nya.


"Itu siapa?" tanya Sella.


Axel tak menjawab. Hanya fokus mengetik sebuah pesan untuk Raina agar dia beristirahat setelah bersih-bersih rumah.


"Bisu apa? Gak bisa apa ngomong satu kata aja?" batin Sella.


Axel melanjutkan kembali makannya. Dia tetap fokus ke makanannya.


"Aku dengar Santi akan diangkat karyawan, setelah dua tahun dikontrak, apa itu karena kakak?" tanya Sella.


Axel hanya diam. Menghabiskan makanannya. Merapikan bungkus sup, berdiri. Berjalan meninggalkan Sella kemudian membuang sampah. Lanjut masuk ke land.


"Iiih ... bener-bener balok es," keluh Sella.


"Kenapa? Suka sama Kak Axel?" Seorang temannya datang menghampiri Sella. Dia juga bagian maintenance. Duduk di samping Sella dan menepuk bahunya.


"Naksir, suka malah," jawab Sella.


"Jangankan kamu, anak produksi, QC, gudang, maintenance juga suka sama dia."


Sella terlihat cemberut. Merasa sulit mendapatkan sedikit saja kesempatan untuk bisa bicara dengan Axel.


"Ganteng dan pinter, cold lagi, siapa yang gak klepek-klepek."


"Aku tahu, tapi gimana ya caranya biar bisa ngomong sama dia?" tanya Sella.


"Pertama dia hanya akan bicara soal masalah pekerjaan, kedua hanya bicara pada lelaki yang memang satu tim dengannya, ketiga bicara kalau ada topik penting tentang maintenance."


"Berarti aku harus bisa masuk ke dalam pembicaraannya?" tanya Sella.


"Iya lah, waktu briefing tuh, bicara sama dia. Pura-pura kasih masukan dan pendapat apalah, dia baru mau ngomong."


"Gak seru dong, gimana mau pede kate-nya?" ujar Sella.

__ADS_1


"Susah selain itu mah, diakan dah punya anak dan istri."


"Punya anak dan istri?" Sella terkejut. Dia tidak tahu kalau Axel sudah menikah.


"Bukannya baru lulus SMA ya?" tanya Sella.


"Kurang tahu, ada yang bilang mereka hamidun duluan."


"Gak tahunya pemain toh," ucap Sella.


"Gak tahu juga, ada yang bilang muka anaknya gak mirip sama dia ataupun istrinya."


Sella tersenyum licik. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


"Jangan-jangan bukan anaknya?" tebak Sella.


"Maksudmu?"


"Ya mungkin bininya selingkuh, atau hamidun sama oranglain duluan terus minta tanggungjawab sama Kak Axel," jawab Sella.


"Kalau gitu kamu punya peluang, secara kau masih perawan, cowok tuh kalau belum ngerasain perawan masih penasaran."


"Iyalah, masa dapet bekasan, apalagi Kak Axel ganteng dan pinter," sahut Sella.


"Iya ya, lebih mudah menyerang istrinya, baru melumpuhkan suaminya," ujar Sella.


"Benar-benar licik, pasti seru."


Mereka berdua tertawa dengan rencana licik keduanya.


Sore harinya, Axel berdiri mengantri di depan mesin absensi. Biasa ketika sore hari untuk yang shift satu sudah waktunya pulang. Pasti antrian seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari. Satu kewajiban sebelum rasa penat terlepaskan. Dengan karyawan yang berjumlah ribuan. Satu shift bisa ratusan. Maklum kalau mengantri meskipun mesin absensi otomatis itu ada beberapa namun tetap saja mengantri. Sella sengaja bertukar tempat dengan temannya demi berada di belakang Axel. Dia sengaja meminta teman di belakangnya untuk mendorong tubuhnya agar menjatuhi tubuh Axel namun Axel berpindah tempat membuat tubuh Sella jatuh ke tubuh seorang lelaki bertompel di pipinya.


"Alhamdulillah rejeki nomplok di sore hari." Lelaki itu kesenengan ketiban tubuh Sella. Sedangkan Sella justru marah-marah padanya.


"Amit-amit, siapa juga yang mau nempel sama lo," ucap Sella kesal.


"Lah Mba ayu sendiri toh yang nempel sama Sarijo," ucap Sarijo.


"Iiih ..., najis gue nempel sama lo, bisa bernasib sial," ketus Sella malah meledek Sarijo.


"Ya ampun Sella, niatan mepetin Kak Axel eh dapet Sarijo, mungkin pertanda jodoh tuh sama Sarijo."


"Iya, kalau jodohmu Sarijo, udah terima aja toh dia gak neko-neko."

__ADS_1


"Dijamin masih perjaka ting-ting."


"Ha ha ha." Sella justru jadi bahan tertawaa teman-teman beda land darinya. Dia sampai malu.


Tak lama Axel ke luar dari dalam. Menuju parkiran motor. Axel mencari motor miliknya. Setelah menemukan, Axel naik ke motornya, mengendarai ke luar dari area tempatnya bekerja. Dia pulang ke kontrakkannya.


Satu jam perjalanan karena macet dan jarak yang cukup jauh, akhirnya sampai juga di dekat kontrakkannya. Axel melihat pedagang bolen di tepi jalan. Axel sengaja berhenti. Dan membeli bolen untuk istri tercinta dan Bobo yang mulai doyan ngemil. Di saat seperti itu Axel melihat ada pemulung sedang mengais rongsokan dengan gerobak yang di dalamnya ada anak kecilnya. Axel meminta pada penjual untuk membungkuskan satu lagi untuk pemulung itu. Kemudian dia memberikannya pada pemulung yang berdiri tak jauh dari tempat penjual bolen.


"Makasih Den."


"Sama-sama Pak," ucap Axel.


"Baru pulang kerja ya Den?"


"Iya Pak, oya itu anaknya?" tanya Axel.


"Bukan, anak yang saya temukan di selokan saat masih bayi, sepulang sekolah dia memang suka ikut saya mulung."


"Sungguh mulia hati bapak, saya bangga meskipun hidup bapak tidak mudah tapi masih terpikir untuk merawat dan menyekolahkan anak ini," puji Axel.


"Saya hanya kasihan, anak ini tak punya dosa, tidak seharusnya dibuang di selokan."


"Masya Allah, semoga rejekinya dilancarkan Pak," ucap Axel.


"Amin."


Setelah itu Axel kembali mengendarai motornya. Dia mendapat pelajaran berharga. Meskipun kita miskin atau hidup dalam kesusahan bukan berarti kita tidak bisa berbuat kebaikan.


Sampai di rumah, Axel memarkirkan motornya di teras kontrakkannya. Dia mengetuk pintu. Baru satu ketukan pintu itu terbuka. Raina sudah cantik dan harum dengan dress biru favoritnya. Dress minim di atas lutut, membuat Axel kelabakan melihatnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Axel dengan mata tercengang. Kedua matanya terbuka lebar-lebar. Bak melihat hantu menyeramkan.


"Wa'alaikumsallam," sahut Raina.


"Sayang kau mau ke mana?" tanya Axel.


Raina tak menjawab langsung menarik tangannya masuk ke dalam. Axel melihat Bobo sudah tidur di kasur lipat yang ada di lantai ruang depan. Raina justru mengajaknya ke ruang tengah. Tempat ranjang yang biasa mereka gunakan untuk beristirahat.


"Aku tahu, pasti karena Bobo tidur, kau genit kaya gini," ucap Axel.


Raina mengangguk.


"Kalau sudah begini, siapa yang nolak," ujar Axel.

__ADS_1


Akhirnya sore itu bergulat dengan ranjang. Sudah lupakan berantakan dan keringat yang bercucuran. Lelah kerja juga hilang seketika. Perpaduan asmara sudah mengalahkan segalanya. Suara adu jotos dua aliran positif dan negatif tak terelakkan. Setrum menyetrum jadi satu. Untung tetangga tak tersetrum. Jikalau iya kasihan, mereka masih jomblowan dan jomblowati jangan sampai berujung jadi simpanan dan cemceman. Bantal guling berantakan melayang ke sana ke mari jalan-jalan mumpun si empunya asyik memadu cinta.


__ADS_2