
Rangga turun ke lantai dasar. Di basemant Rangga berlari ke sana ke mari mencari tempat pembuangan sampah di Mall itu. Dia sampai kelelahan tapi belum kunjung menemukan tempat sampah itu. Akhirnya Rangga bertanya ke sekuriti yang ada di basemant.
"Pak mau tanya," ucap Rangga.
"Tanya apa?" tanya sekuriti.
"Tempat pembuangan di mana ya Pak?" tanya Rangga balik.
"Di belakang Mall Mas, lurus aja lalu belok kanan. Mentok, baru belok kiri ya, nah tempat pembuangan sampahnya ada di ujung," jawab sekuriti.
"Oke, makasih ya Pak," ucap Rangga.
"Iya, sama-sama Mas," sahut sekuriti.
Rangga berlari kembali sesuai arahan sekuriti. Dia berlari secepat mungkin sampai kakinya tersandung dan terjatuh ke bawah.
Bluuug ...
Rangga terjatuh. Dia berusaha bangun meskipun tubuhnya kotor dan lututnya lecet.
"Aku harus bisa melawan ketakutanku, kotor tidak akan membuatku sakit, aku bisa bangun," ujar Rangga. Dia berusaha bangun meskipun phobia terhadap sesuatu yang kotor menghantuinya. Dia sempat sesak nafas sesaat tapi dia berusaha melawan ketakutan dalam hidupnya selama ini.
"Aku bisa." Rangga menyemangati dirinya sendiri untuk bangun. Akhirnya dengan usaha yang keras. Rangga bisa bangun. Dia berdiri kembali. Berjalan perlahan. Melupakan kotor dan rasa sakit di lututnya. Dipikirannya hanya ada baju pemberian Adelina. Dia terus berjalan hingga sampai juga di tempat pembuangan sampah. Sebuah kotak besar dipenuhi sampah kotor. Rangga terdiam. Melihat sesuatu yang ditakuti seumur hidupnya.
"Bau, kotor, banyak kuman, virus dan bakteri," ucap Rangga ketakutan.
Nafas Rangga mulai sesak. Melihat dan mencium sampah-sampah itu. Dia bahkan sampai muntah beberapa kali.
"Aku harus melawan diriku sendiri, ketakutan seumur hidupku," ucap Rangga. Dia lemas dan terduduk di bawah. Mengatur nafasnya. Menenangkan pikirannya.
"Aku tak bisa begini seumur hidupku, aku harus bisa," ujar Rangga meyakinkan dirinya sendiri.
Rangga berusaha mengumpulkan semua tenaganya. Berdiri kembali meski kedua kakinya bergetar. Dia memberanikan dirinya untuk berani. Berani melawan rasa takut pada hal kotor dan bau.
Perlahan tapi pasti Rangga berjalan mendekati kotak pembuangan sampah. Rangga berdiri di depannya. Melihat ke semua sudut mencari bajunya.
"Tidak terlihat, mungkin aku harus masuk ke dalam kubangan sampah itu," ujar Rangga. Bulu kuduknya mulai berdiri. Panas dingin melihat sampai di depannya.
Mau tak mau Rangga akhirnya masuk ke dalam kubangan sampai. Menginjaknya perlahan. Becek, kotor dan bau menyengat.
"Geli, apa nih yang ku injak," ucap Rangga. Dia terus berjalan sambil mengorak-ngarik sampah mencari baju pemberian Adelina.
"Mana lagi bajunya?" batin Rangga. Dia terus mencari dan mencari. Rasa sesak nafasnya berkurang saat dia asyik mencari. Dia lupa kalau tangan dan kakinya menyentuh sampah. Fokusnya hanya ke baju.
"Ini dia," ucap Rangga akhirnya menemukan baju dari Adelina.
"Untung masih utuh," ujar Rangga senang melihat baju itu masih baik-baik saja.
Rangga membawa bajunya ke luar dari kubangan sampah. Dia berjalan menuju ke lorong basemant.
"Aku harus mencari toilet bau banget badanku," ujar Rangga.
"Eh, tunggu, tadi aku udah gak papa tuh bersentuhan dengan sampah, berarti aku bisa mengalahkan phobiaku sendiri," ujar Rangga seneng. Kini dia sudah bisa mengontrol phobianya terhadap sesuatu yang kotor dan bau.
Rangga mencari toilet. Masuk ke dalamnya. Membersihkan tubuhnya. Kemudian mengenakan baju pemberian Adelina lagi. Dia berdiri di depan cermin di toilet itu.
"Ganteng juga, Adelina pasti suka kalau aku pakai baju pemberiannya," batin Rangga. Dia ke luar dari toilet. Berjalan di basemant. Tiba-tiba Rangga melihat Adelina dari ujung lorong. Melihat ke arahnya.
"Kak Rangga," teriak Adelina.
"Adel," sahut Rangga.
Rangga langsung berlari ke arah Adelina. Begitupun dengan Adelina yang juga berlari ke arah Rangga. Mereka bertemu di satu titik. Mengatur nafas yang tersengal-sengal. Jantung berdebar begitu kencang. Keduanya terlihat canggung.
"Adel cantik banget pakai baju berwarna pink," puji Rangga pada Adelina yang mengenakan plisket dan blizer berwarna pink. Begitupun dengan hijab, tas dan sepatu snikker berwarna senada.
"Kak Ranggakan suka warna pink, jadinya Adel yang pakai pink buat Kak Rangga," ujar Adelina.
"Aku suka Adel pakai warna pink, terlihat anggun dan feminim," puji Rangga.
"Makasih Kak Rangga," sahut Adelina.
Di antara obrolan keduanya. Aroma sampah masih melekat di tubuh Rangga. Adelina merasakan bau menyengat itu di hidungnya.
"Kak Rangga, bau apa ya?" tanya Adelina.
"Bau?" Rangga terkejut. Dia mencoba mencium bau itu juga. Benar kata Adelina bau menyengat. Dia baru sadar bajunya bau busuk. Mungkin gara-gara tadi masuk ke tempat sampah.
"Iya, baunya dari Kak Rangga," ucap Adelina.
Rangga tersenyum. Tak bisa dipungkiri dia memang sangat bau. Namun kali ini Rangga bisa bertahan dengan bau di baju yang dipakainya.
"Kak Rangga gak sesak nafas atau muntah?" tanya Adelina. Dia tahu persis kakaknya suka muntah dan sesak nafas kalau kotor dan bau. Namun kali ini dia terlihat happy. Tak ada kekhawatiran sedikitpun.
"Sudah kebal, semua ini karena aku suka baju ini," kata Rangga.
"Benarkah? Kak Rangga suka bajunya?" tanya Adelina.
"Suka banget," jawab Rangga.
Adelia tersenyum. Hatinya berbunga mendengar Rangga menyukai baju pemberian darinya. Dia tak menyangka Rangga akan berubah untuknya.
"Nonton yuk, ada film romantis," ujar Rangga.
"Adel mau nonton film kartun Kak," sanggah Adelina.
__ADS_1
"Kartun? Yaudah, kita nonton itu," sahut Rangga.
Keduanya sepakat menonton film kartun. Berjalan menuju lift di basemant. Naik ke lantai dua. Rangga dan Adelina sama-sama canggung. Mereka terlihat malu-malu. Membuang muka dan sesekali menengok. Biasanya mereka suka bercanda saat menjadi kakak adik. Tapi kali ini karena perasaan yang berbeda membuat keduanya segan dan bingung ingin memulai percakapan apa.
Sampai di lantai dua. Rangga dan Adelina berjalan di lorong lantai dua.
"Del, kakak agak bau, gak malu jalan sama kakak?" tanya Rangga.
"Gak masalah, justru Adel sukanya kakak begini, dari pada kaya sebelumnya," sahut Adelina.
"Kalau gitu sekarang yang pakai pink Adel aja ya," ucap Rangga.
"Iya boleh, asal Kak Rangga jangan pakai warna pink," sahut Adelina.
"Oke," jawab Rangga.
Mereka berdua masuk ke dalam bioskop. Membeli tiket, pop corn dan lemon tea. Rangga dan Adelina memasuki ruang prmutaran film. Mereka duduk berdua menunggu film akan diputar sambil memakan pop corn dan minum lemon tea.
"Kak Rangga jangan banyak-banyak ngambilnya, tar cepet habis," ujar Adelina.
"Iya, habis gabut," sahut Rangga.
"Kak Rangga bukannya mau nonton sama Queen?" tanya Adelina.
"Kak Rangga maunya nonton sama Adel," jawab Rangga.
Adelina tersenyum malu.
"Nanti Queen gak mau berteman lagi gimana?" tanya Adelina.
"Asal ada Adel, udah cukup," sahut Rangga.
Adelina benar-benar tersentuh. Baru kali ini denger Rangga menggombal tapi bikin kasmaran.
"Del, aku ... aku ...," ucap Rangga ragu.
"Apa?" tanya Adelina.
Tiba-tiba film itu diputar. Adelina terlihat kegirangan. Melihat film kartun kesukaannya tayang. Dia antusias sampai tertawa. Sayangnya dia tak begitu mendengarkan Rangga bicara.
Rangga mendekatkan wajahnya ke telinga Adelina yang tertutup hijab.
"Aku cinta sama kamu Del," bisik Rangga.
Adelina yang lagi asyik melihat film kartun kesukaannya langsung terdiam. Menoleh ke samping.
"Aku cinta sama kamu Del," ucap Rangga.
Adelina terdiam. Dia tak percaya kata cinta itu diucapkan Rangga padanya.
"Aku ... aku ...," kata Adelina ragu.
Rangga berdiri. Berteriak mengungkapkan rasa cinta pada Adelina.
"Huh ..." Sorak orang-orang di dalam ruangan itu.
"Berisik, harap tenang."
"Kawasan anak kecil Mas, harap silent."
"Nonton kartun kok berujung film drakor."
Semua oranh menyoraki Rangga yang sangat berani mengatakan cinta di saat film diputar. Tanpa malu dia mengungkapkan cintanya pada Adelina.
"Kak Rangga duduk," bisik Adelina pelan.
Rangga langsung duduk. Dia tersenyum malu ke arah Adelina.
"Aku juga cinta sama Kak Rangga," bisik Adelina.
"Beneran?" tanya Rangga.
Adelina mengangguk.
"Alhamdulillah gak jomblo lagi, malu sama Sweety yang gembrot aja laku," ujar Rangga.
Adelina tertawa mendengar ucapan Rangga. Mereka begitu senang sudah mengutarakan perasaan mereka masing-masing.
"Kak Rangga filmnya bagus ya?" tanya Adelina.
"Kroook ... kroook ... kroook .... " Rangga mengorok. Dia sudah tertidur karena kelelahan berlari dari tadi saat mencari baju pemberian Adelina.
"Kak Rangga-Kak Rangga," ucap Adelina melihat Rangga yang mengorok.
Setelah film itu selesai, Adelina membangunkan Rangga yang tidur pulas di kursi. Dia menepuk lengan Rangga dengan pelan.
"Kak Rangga ... Kak Rangga ...," panggil Adelina.
Rangga pun terbangun mendengar suara Adelina membangunkannya. Membuka matanya perlahan. Melihat ke sekeliling.
"Udah selesai filmnya?" tanya Rangga.
"Udah, pulang yuk Kak," jawab Adelina.
Rangga mengangguk. Keduanya akhirnya memutuskan pulang. Mereka berjalan ke luar dari bioskop sambil tersenyum malu-malu karena sudah menyatakan isi hati mereka.
__ADS_1
"Del, kalau nanti kakak lulus, mau gak jadi istri kakak?" tanya Rangga malu-malu.
"Adel mau sama-sama terus sama Kak Rangga," jawab Adelina.
"Jadi, kau mau tidak jadi istriku?" tanya Rangga lagi.
"Mau," jawab Adelina singkat.
"Kalau gitu kita harus bicarakan hubungan kita ini pada Papa dan Mama," usul Rangga.
Adeliana terdiam. Berhenti berjalan. Ekspresinya mulai berubah sendu.
"Kenapa Del?" tanya Rangga.
"Apa mereka akan setuju?" tanya Adelina. Dia tahu hubungannya dengan Rangga di mata Papa dan Mamanya sebagai kakak adik. Adelina ragu mereka akan merestui hubungan keduanya.
"Maka dari itu kita harus bicarakan ini pada Papa dan Mama," ujar Rangga.
Adelina terdiam. Dia tak begitu yakin.
"Del, kau ragu?" tanya Rangga.
"Tidak, kita harus memperjuangkan hubungan kita," ucap Adelina.
"Iya, kita harus berjuang untuk bersama," sahut Rangga.
Adelina tersenyum begitupun dengan Rangga. Mereka akan memperjuangan hubungan keduanya. Apapun rintangan di depan.
Rangga dan Adelina naik mobil meninggalkan Mall. Mereka kembali ke rumah Keluarga Ariendra. Sampai di rumah. Keduanya masuk ke ruang keluarga di lantai atas untuk bicara dengan Papa dan Mama yang duduk di sofa menunggu kepulangan keduanya.
"Assalamu'alaikum," sapa Rangga dan Adelina.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alina dan Farel.
Rangga dan Adelina menyalami tangan kedua orangtuanya untuk mencium tangan mereka satu per satu bergantian.
"Pas banget ada yang ingin Papa dan Mama ingin bicara denganmu Rangga," ucap Alina. Dia senang melihat Rangga sudah pulang. Dari tadi mereka menunggu Rangga pulang. Ada hal penting yang ingin disampaikan.
"Bicara? Bicara apa Ma?" tanya Rangga yang duduk di sofa seberang bersama Adelina.
"Soal Aara," jawab Alina.
"Aara kenapa Ma?" tanya Rangga. Dia belum tahu arah pembicaraan kedua orangtuanya.
"Kamu tahukan Aara itu anak kandung Papa dan Mama," ucap Farel.
"Iya Pa, tahu," sahut Rangga. Dia sudah tahu aku anak Papa dan Mama.
"Dari masih bayi, kami merawatmu, membesarkanmu dan nenyayangimu seperti anak kami sendiri," ucap Alina.
Rangga dan Adelina mendengarkan apa yang diucapkan kedua orangtua mereka.
"Kami tak pernah sekalipun membedakan kasih sayang kami padamu, Papa selalu berharap kau jadi imam di rumah ini," ujar Farel.
Rangga mengangguk.
"Mama senang bisa memilikimu sebagai anak Mama dan sekarang jauh lebih senang lagi saat Aara kembali ke rumah ini," ucap Alina.
Keduanya masih mendengarkan apa yang disampaikan Farel dan Alina.
"Papa tidak ingin Aara jatuh ke tangan lelaki yang salah, hidupnya dulu sudah sulit, Papa ingin dia bahagia," ucap Farel.
"Bersama orang yang tepat, yang Papa dan Mama mengenalnya luar dalam," ucap Alina.
"Orang itu kamu Rangga," sahut Farel.
Rangga dan Adelina terkejut. Tadinya mereka ingin membicarakan hubungan mereka, justru malah kedua orangtuanya meminta Rangga jadi calon suamiku.
"Gimana Rangga? Mama berharap kamu setuju," ucap Alina. Dia tidak tahu ada hubungan antara Rangga dan Adelina. Selama ini mereka hanya sebatas kakak adik tak ada hubungan lainnya.
Rangga terdiam. Dia bingung. Alina dan Farel bukan hanya kedua orangtuanya tapi malaikat penyelamatnya bagi Rangga. Hutang budi dan kasih sayang tak pernah bisa dia tebus dengan apapun. Dari kecil mereka begitu menyayangi Rangga seperti anak kandung mereka sendiri. Padahal Rangga sering sakit dan sulit dalam menerima apapun baik barang ataupun lingkungan barunya. Dengan sabar dan ketekunan Farel dan Alina merawat dan membesarkan Rangga.
Rangga jadi teringat masa kecilnya bersama Farel dan Alina. Saat ini Rangga malu ke luar dari mobil untuk masuk ke sekolah TK-nya.
"Ayo Rangga, anak Mama paling ganteng." Alina memberi semangat untuk Rangga agar mau ke luar dari mobil.
"Sini ke Papa, permen pink nih, kesukaan Rangga." Farel juga menyamangi Rangga.
"Rangga takut," ucap Rangga.
"Mama temenin ya sampai pulang," ucap Alina.
"Papa jaga di pintu, biar gak ada kuman jahat datang," ujar Farel.
Rangga mengangguk. Turun dari mobil. Langsung memeluk Alina dan Farel. Saat itu tak pernah terlupakan Rangga. Saat di mana Papa dan Mamanya mengantar sekolah. Begitu banyak kenangan yang indah bersama mereka. Membuat Rangga tidak ingin mengecewakan hati kedua orangtuanya.
"Rangga .. Rangga ...," panggil Alina.
Rangga masih terdiam.
"Rangga!" panggil Farel.
Lamunan Rangga terpecah. Kembali ke dunia nyata. Dengan jawaban yang harus disiapkannya. Dia menengok ke samping, melihat Adelina yang ternyata juga menengok ke arahnya. Kedua mata itu bertautan dan seakan berbicara satu sama lain. Mata Adelina berkaca-kaca kemudian kembali melihat ke depan dengan senyuman.
"Rangga gimana?" tanya Alina sekali lagi.
__ADS_1
Rangga menarik nafas dalam-dalam menghembuskannya begitu berat. Semua terasa sulit dan menyesakkan dada. Namun dia harus memutuskan.