Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Spesial Episode Leo Dan Zara


__ADS_3

Kini Leo dan Zara sudah menjadi kakek dan nenek. Perjalanan panjang sudah mereka lewati. Suka dan duka hidup menjadi kenangan yang tak terlupakan. Air mata dan senyuman menghiasi hidup mereka selama ini. Leo sesosok suami yang belahan jiwa Zara. Begitupun dengan Zara, dia matahari dihidup Leo. Bertahun-tahun lamanya mereka hanya dua orang anak SMA yang terjebak di kamar hotel yang sama. Menikah karena kesalahfahaman tapi karena itu Leo dan Zara belajar banyak hal, dan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Kemandirian, kedisiplinan, keteguhan hati, kesetiaan dan kerja keras mereka sudah dibuktikan. Leo dan Zara bahagia pada akhirnya. Benar kata pepatah orang baik akan mendapatkan yang baik juga. Menanam jagung akan tumbuh jagung. Begitupun apa yang dilakukan Leo dan Zara selama ini. Sekarang mereka memanen apa yang sudah mereka tanam dahulu.


Leo mengajak Zara untuk bernostalgia ke masa lalu. Mereka pergi ke tempat pertama mereka bertemu di Hotel Cempaka. Leo sengaja membooking kamar hotel no 102. Dikamar itu penuh kenangan untuk Leo dan Zara. Mereka memasuki kamar hotel itu. Leo dan Zara mengingat kembali saat pertama bersama diranjang.


"Leo waktu bergulir begitu cepat, dulu ranjang itu kita memulai hubungan yang akhirnya mengikat kita berdua" ucap Zara.


"Iya Zara, jika waktu itu aku tak tidur diranjang itu mungkin hidupku masih gelap gulita tanpa matahari yang menyinari hidupku" ucap Leo.


Leo dan Zara sengaja memanggil nama seperti dulu saat mereka masih muda. Air mata tanpa disadari menetes dipipi mereka.


"Kamar ini sudah banyak perubahan tapi kenangan didalamnya tak pernah berubah Leo" ucap Zara.


Leo merangkul Zara dan mencium kepala sampingnya.


"Tempat ini akan selamanya jadi kenangan yang tak terlupakan untuk kita Zara" ucap Leo.


Zara mengangguk. Kamar itu memang menjadi kenangan terindah untuk Leo dan Zara. Bahkan menjadi saksi awal cinta mereka dirajut hingga menjadi cinta yang kokoh tak tergoyahkan apapun yang menerjang.


Leo dan Zara pergi ke kosan tempat mereka mengekos dulu. Kosan yang bisa dibilang sempit itu jadi tempat bernaung mereka dari panas dan hujan selama satu bulan. Banyak hal yang terjadi di kosan itu.


"Zara kau ingat dulu aku tidur dilantai dan kau diatas ranjang" ucap Leo.


"Aku ingat Leo, ingat semuanya walaupun semua itu sudah sangat lama hik hik hik" ucap Zara sambil menangis.


Leo memegang pipi Zara dengan kedua tangannya sambil menghapus air mata yang menetes dipipinya.


"Zara, ditempat ini aku mengenalmu dengan baik. Aku mulai mencintaimu seiring waktu berjalan. Kita berbagi sebungkus nasi dan berbagi apapun. Kita tertawa dan menangis ditempat ini. Awal dimana kita merasakan sulitnya mencari uang dan memahami arti bersyukur dengan keadaan yang selama ini kita miliki" ucap Leo.


Zara mengangguk dengan berurai air mata.


"Aku ingat saat Leo membantuku membuat pembalut dari kain, saat kita belajar bersama, dan bermimpi hari esok akan lebih baik" ucap Zara.


"Zara aku mencintaimu sampai nafas terakhirku" ucap Leo.


"Aku juga mencintaimu Leo sampai jantung ini berhenti berdetak" ucap Zara.


Leo memeluk Zara. Mereka merasakan indahnya cinta yang dimilikinya. Kasih sayang yang mendalam membuat mereka selalu bersama hingga kini.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Leo dan Zara pergi ke sekolah SMA Buana tempat mereka sekolah SMA dulu. Leo mengantar Zara ke kelasnya, kelas 2 IPA 1.


Zara ingat masa-masa sekolahnya dulu. Saat bersama teman-teman dikelasnya, salah satunya dengan Niken sahabatnya.


"Leo waktu itu aku masih imut-imutkan?" tanya Zara.


"Iya, bukan hanya imut, Zara sangat cantik dan manis" ucap Leo.


"Leo..." ucap Zara memeluk Leo.


"Leo juga tampan dan keren" ucap Zara.

__ADS_1


Leo mencium Zara. Meskipun mereka sudah tua tapi keromantisan diantara keduanya masih terjaga.


"Zara kau masih ingat saat kau pingsan?" tanya Leo.


"Iya, saat itu aku dapat satu roti yang ku belah jadi dua. Sepotong untuk ku makan dan sepotong untuk Leo" ucap Zara.


"Bahkan untuk satu buah rotipun kita berbagi untuk merasakan kenyang bersama" ucap Leo.


Zara bersandar didada Leo. Merasakan hangatnya kasih sayang yang Leo berikan padanya.


"Zara disekolah ini mimpi kita mulai terwujud sedikit demi sedikit. Aku yang dulu malas belajar, selalu dihukum karena jarang mengerjakan PR dan nilai ulanganku jelek, tapi karena adanya dirimu semua itu berubah lebih baik. Bahkan aku ikut lomba cerdas cermat bersamamu" ucap Leo.


"Mimpi kita terwujud karena kegigihan Leo untuk berusaha dan bekerja keras" ucap Zara.


"Semangat, kesetiaan, kerja keras, dan doamu membuatku seperti sekarang Zara" ucap Leo.


"Leo..." ucap Zara.


"Zara" ucap Leo.


Indahnya masa SMA tak pernah terlupakan untuk mereka berdua. Leo dan Zara berkeliling di semua tempat dan ruangan di SMA Buana sambil mengingat kenangan yang mereka pernah lewati bersama.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Leo dan Zara pergi ke Rumah Singgah Tuna Wisma. Mereka masuk ke tempat itu. Rumah untuk para tuna wisma itu kini sudah lebih baik.


Bahkan sudah dibatasi seperti sebuah kamar. Ranjang darurat kini berubah menjadi ranjang empuk yang nyaman untuk tidur. Rumah singgah itu lebih luas dari dan fasilitasnya lebih lengkap dari sebelumnya. Ada dapur umum, tempat nonton televisi, perpustakaan, tempat makan, lapangan bola, taman bunga. Mereka yang tinggal disana bisa mengikuti kursus jahit, masak, membuat kerajinan dan masih banyak lagi. Mereka dibekali keterampilan jadi saat sudah keluar dari rumah singgah bisa berdagang dan membuka usaha lainnya.


"Leo dulu kita tidur disini bersama yang lainnya, mengantri mandi bersama, itu menjadi hal yang menyenangkan untuk kita" ucap Zara.


Leo dan Zara berkeliling menyapa semua orang disana. Leo memesan makanan yang cukup banyak untuk dimakan bersama orang-orang yang tinggal di rumah singgah itu. Leo menyumbangkan fasilitas sebuah laboratorium komputer untuk rumah singgah itu agar orang yang tinggal disana bisa belajar komputer. Dengan begitu mereka punya keahlian lainnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Leo dan Zara pergi ke mini market tempat Leo dan Zara bekerja dulu. Leo sebagai tukang parkir dan Zara sebagai penjual kopi seduh. Mini market itu masih berdiri. Leo dan Zara menyempatkan berbincang dengan tukang parkir di mini market itu. Mereka bercerita masa lalu mereka dan berbagi ilmu dan pengalaman mereka hingga kini semua orang mengenal mereka sebagai salah satu orang terkaya di negaranya. Leo mencoba jadi tukang parkir lagi seperti dulu. Dia membantu memarkirkan sebuah mobil. Tapi Leo malah kena marah pemilik mobil. Dia takut mobilnya lecet soalnya mobilnya masih baru dan keluaran terbaru.


"Pak kalau sudah tua gak usah jadi tukang parkir, makanya saat masih muda kerja keras biar hari tua hidup bahagia" ucap Iwan.


"Justru karena saya sudah tua seharusnya anak muda lebih menghormati Pak tua ini" ucap Leo.


"Pak tua kalau kau seorang pejabat atau konglomerat aku pasti menghormatimu, kau hanya seorang tukang parkir bahan gajimu sebulan hanya seharga uang jajanku sehari" ucap Iwan.


Ismi, istri Iwan turun dari mobil, dia melihat suaminya menghina seorang bapak tua. Dia langsung menghampiri suaminya. Matanya terkejut saat memperhatikan wajah bapak tua itu.


"Leo Ariendra, salah satu orang terkaya di negara kita" ucap Ismi.


"Apa? Leo Ariendra. Bapak ini?" tanya Iwan terkejut dengan penuturan istrinya.


"Iya Pa, lihat fotonya mirip bapak ini" ucap Ismi menunjukkan foto Leo Ariendra pada suaminya.


Iwan melihat dengan jelas foto Leo Ariendra dan wajah bapak tua itu. Tak lama Dudi seorang tukang parkir menghampiri mereka.

__ADS_1


"Bos Leo, biar saya saja yang meneruskan pekerjaan ini" ucap Dudi.


"Tidak apa-apa nak, saya hanya ingin mengenang masa lalu saat jadi tukang parkir" ucap Leo.


"Jadi anda Leo Ariendra?" tanya Iwan.


"Ini memang Bos Leo Ariendra" ucap Dudi.


Leo hanya diam sementara Iwan sangat malu. Dia tadi sudah menghina Leo. Bahkan merendahkannya seperti sampah. Padahal dia salah satu orang terkaya dinegaranya.


"Bos Leo saya minta maaf atas perkataan saya tadi" ucap Iwan.


"Iya Bos Leo" ucap Ismi.


"Lain kali hargai dan hormatilah orang lain, baik dia seorang pejabat, konglomerat, ataupun dia hanya seorang pengemis sekalipun. Di mata Allah kita sama saja hanya amal ibadah yang membedakan" ucap Leo.


Iwan dan Ismi menunduk malu.


"Harta dan tahta tidak abadi, semuanya akan kita tinggalkan, tapi akhlak yang baik akan kita bawa sampai mati" ucap Leo.


"Iya Bos Leo" ucap Iwan dan Ismi.


Iwan dan Ismi menyadari kesalahan mereka. Seharusnya mereka lebih menghargai orang lain. Karena duniawi hanya bersifat fana tapi kebaikan akan terus bersama kita selamanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


King dan Niken sedang berada dirumah kaca tempat semua binatang peliharaan King dipelihara dan dirawat. Kini King memiliki banyak binatang peliharaan bahkan beragam. Ada undur-undur, siput, kura-kura, lintah jumbo pemberian Raja waktu ke pulau hitam, bebek, ayam warna-warni, kecoak Afrika, tikus putih, kepiting, dan lain-lain.


"Mi, Papi sekarang udah tua. Tapi hewan peliharaan Papi udah bongkar pasang pemain bahkan ada yang kabur dan kawin lari" ucap King.


"Ada juga yang masuk wajan dimasak Mami" ucap Niken.


"Cucu kita Kaisar bahkan meneruskan kegemaranku, memelihara ayam warna warni" ucap King.


"Iya sih Pi, tapi Kaisar sampai dibawa tidur segala Pi, ngiler aja mesti ada Si Bolo dan Lolo" ucap Niken.


"Gak papa asal malam pertamanya nanti gak bawa Si Bolo dan Lolo segala" ucap King.


"Yang bikin Mami baper itu, Bolo dan Lolo diajak BAB segala coba Pi, kira-kira tuh mereka kebauan gak sih Pi?" tanya Niken.


"Mungkin, itu namanya dia pecinta binatang sejati, bahkan ada yang dibawa ke tiang gantungan bersama. Tapi binatang peliharaannya kabur duluan gak sanggup digantung, biar majikannya aja yang digantung" ucap King.


"Pi, waktu bergulir cepat. Banyak hal yang kita lalui bersama. Apalagi persahabatan kita bersama Leo dan Zara. Rasanya baru kemarin ya Pi masih SMA" ucap Niken.


"Iya Mi, kangen masa SMA. Dulu Mami galak dan bawel tapi Papi jatuh cinta karena itu" ucap King.


"Mami juga jatuh cinta karena sering berantem sama Papi" ucap Niken.


King dan Niken duduk di bawah pohon. King merangkul Niken sedangkan Niken bersandar dibahu King.


"Semoga kita bisa selalu bersama keluarga dan sahabat kita" ucap King.

__ADS_1


"Amin" ucap Niken.


King dan Niken menikmati masa tua mereka bersama anak dan cucu mereka. Waktu bergulir begitu cepat, masa SMA jadi kenangan terindah untuk mereka.


__ADS_2