Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Keluar Menyelamatkan Diri Part 58


__ADS_3

Air semakin naik ke hidung. Barra menyuruh para wanita masuk terlebih dahulu. Haura, Alina, dan Deena masuk satu per satu ke lubang yang menuju ke lantai atas. Lalu disusul Alvan yang naik. Tinggal Barra dan Rafael yang tersisa didalam. Barra menyuruh Rafael masuk duluan. Tapi Rafael ingin Barra terlebih dahulu naik. Mereka sempat saling mempersilahkan, akhirnya Rafael menuruti kemauan Barra naik duluan. Setelah naik ke atas, Rafael menunggu Barra naik tapi belum juga melihat Barra naik.


"Kak Barra kenapa belum juga naik" batin Rafael.


"Kak Rafa ma...na Om?" tanya Deena yang mencemaskan Barra.


"Iya mana Om?" tanya Alvan.


"Aku akan turun lagi" ucap Rafael.


"Hati-hati" ucap Deena dan Alvan.


Rafael mengangguk. Dia masuk ke dalam lubang itu. Saat sampai di ruangan kedua yang sudah dipenuhi air, Rafael melihat Barra dikeroyok biawak yang hendak mengigitnya. Rafael langsung berenang menghampirinya. Dia membantu Barra melawan biawak-biawak itu. Mereka berdua memukul, menendang dan melempar biawak-biawak itu. Ketika Barra melawan dua biawak didepannya, seekor biawak menggigit lengannya hingga robek dan berdarah.


Barra kesakitan, dia mengibaskan biawak itu sekuat tenaga hingga biawak itu terbentur bebatuan. Setelah berhasil menyingkirkan biawak-biawak didepannya, Rafael menghampiri Bara membantunya menyingkirkan biawak-biawak yang tersisa hingga mereka tumbang. Rafael membantu Barra berenang menuju ke lubang keluar. Dia menyuruh Barra naik duluan karena kondisi lengannya yang terluka. Barra naik ke atas. Tinggal Rafael yang dibawah. Setelah Barra naik, Rafael gantian masuk ke lubang itu, naik ke atas tapi tiba-tiba tanah diatas lubang itu runtuh dan menimbun lubang itu hingga tertutup. Rafael tidak bisa keluar.


Barra sampai diatas. Deena langsung menghampirinya. Baru naik, tanah disampingnya longsor menutup lubang itu.


"Rafaeeel....." Barra berteriak.


Barra berusaha menggali tanah yang menutup lubang. Melihat itu Alina yang yang sedang lemas berlari menghampiri Barra yang menggali tanah itu. Dia ikut menggali tanah itu. Begitupun dengan Deena, Alvan dan Haura, mereka ikut menggali lubang yang tertutup itu.


"Kak Rafa....Kak Rafa hik hik hik....Kak Rafa hik hik hik" ucap Alina sambil menangis.


"Tenang Alina kita akan berusaha menggali lubang ini lagi" ucap Barra.


"Alina jangan me..nangis ki..ta akan meno..long Kak Rafa" ucap Deena.


"Kita harus lebih cepat lagi, air dibawah pasti sudah memenuhi ruangan itu" ucap Alvan.


"Kak Rafa pasti selamat" ucap Haura.


Mereka terus menggali. Terdengar suara gemuruh kembali. Seseorang memanggil mereka semua yang sedang sibuk menggali.


"Tanahnya akan longsor lagi, kita harus segera keluar dari sini kalau tidak kita semua akan tertimbun"


"Tidak, Kak Rafa masih didalam, kita tidak boleh meninggalkannya hik hik hik" ucap Alina.


Mereka semua tetap menggali, sedangkan orang-orang lainnya berlari menuju lorong yang mengarah ke jalan keluar dari wisata bawah tanah itu. Tanah mulai longsor, pintu lorong tertutup setengahnya.


"Pintu lorong akan tertutup" ucap Haura.

__ADS_1


"Gimana ini?" tanya Alvan.


"Kita harus pergi" ucap Deena.


"Lalu Rafael?" ucap Barra.


"Tidak, kita harus menolong Kak Rafa hik hik hik" ucap Alina.


Terjadi gemuruh lagi hingga seluruh ruangan tempat mereka berpijak bergetar dan bebatuan di atap berjatuhan.


Pluuuk....pluuuuk....pluuuuk.......


"Aw........" Mereka semua terkena bebatuan kecil yang berjatuhan.


Tidak hanya bebatuan kecil, bebatuan berukuran sedang juga berjatuhan. Kepala Haura hampir kejatuhan bebatuan tapi tubuhnya langsung ditarik menunduk dan ditutupi tubuh Alvan.


Pluuuuk.......


Bebatuan berukuran sedang yang berbentuk runcing itu mengenai punggung Alvan hingga menyebabkan goresan cukup dalam dan berdarah.


"Aw......" ucap Alvan kesakitan.


"Alvan kau terluka menolongku" ucap Haura.


Alvan dan Haura berdiri. Haura mengelus punggung Alvan yang terluka.


"Kita harus segera pergi atau mati" ucap Alvan.


"Tidaaak....." ucap Alina.


Lorong itu semakin tertutup tinggal menyisakan sedikit ruang. Haura, Deena, Alvan berlari ke arah lorong, Barra menarik lengan Alina dengan paksa. Dia bukan tidak mau menolong Rafael tapi keadaan tidak memungkinkan. Dan ada pesan dari Rafael saat Barra mau naik ke ruangan atas.


"Apapun yang terjadi selamatkan Alina kak" pesan Rafael pada Barra.


Barra terpaksa membawa Alina keluar dari ruangan itu walaupun Alina tidak mau. Mereka berlima keluar dari ruangan itu melewati lorong yang sempit karena tertimbun tanah. Sampai diruangan terakhir, mereka semua berkumpul melihat pintu keluar terakhir tertutup tanah dan bebatuan.


"Mari kita semua berdoa meminta perlindungan, menurut agama kita masing-masing" ucap Barra.


Semua orang mengangguk. Hanya Alina yang masih menangis ditemani Haura dan Deena yang menenangkannya. Mereka semua berdoa. Tak lama bebatuan dan tanah itu terbuka, tim penyelamat datang. Mereka membantu para korban yang masih hidup keluar dari wisata bawah tanah itu. Deena, Alina, Haura, Barra, Alvan dan orang-orang lainnya berada dilahan yang aman. Mereka mendapatkan pengobatan dan tempat istirahat. Barra dan Alvan mendapatkan pengobatan karena luka mereka masing-masing. Sedangkan Alina terus menangis, Deena dan Haura menghampirinya untuk menenangkan Alina.


"Kak Rafa hik hik hik....." ucap Alina menangis.

__ADS_1


"Alina jangan bersedih, semua yang terjadi sudah takdir, kita sudah berusaha. Semoga tim penyelamat bisa menyelamatkan Kak Rafa" ucap Haura.


"Iya Alina, a..ku yakin Kak Rafa a...kan baik-baik saja" ucap Deena.


Haura dan Deena memeluk Alina yang sedang menangis. Mereka berpelukan. Haura dan Deena tahu apa yang dirasakan Alina. Rafael bukan hanya sekedar kakak untuk Alina tapi teman hidupnya. Kehilangan Rafael berarti kehilangan separuh nyawanya.


Tak lama tim penyelamat membawa tandu, ditandu itu berbaring seorang lelaki yang kritis. Melihat itu Alina menghampiri tandu itu. Ternyata lelaki yang ditandu itu Rafael, hanya saja dia sudah tak sadarkan diri, mukanya pucat. Alina memegang pipi Rafael dengan kedua tangannya.


"Kak Rafa banguuun hik hik hik, bangun.....hik hik hik" ucap Alina menangis.


"Maaf Nona, Mas ini harus segera mendapatkan penanganan. Nafasnya sesak dan denyut jantungnya lemah, jika tidak segera mendapatkan penanganan khawatirnya tidak selamat" ucap tim penyelamat.


"Ayo Alina, biarkan Kak Rafa mendapat penanganan" ucap Haura mengajak Alina.


"Iya Alina" ucap Deena.


Alina membiarkan Rafael dibawa tim penyelamat ke dalam ambulan. Tak lama Rehan dan Cinta datang. Mereka menghampiri ketiga putri mereka.


"Alina, Haura, Deena" ucap Rehan dan Cinta.


"Papa, Mama" ucap Alina, Haura dan Deena.


Rehan dan Cinta memeluk ketiga putrinya. Perasaan mereka lega ketiga putrinya selamat dan sehat wal'afiat.


"Kita pulang yah nak" ucap Cinta.


"Tidak Pa, Kak Rafa dibawa ambulan ke rumah sakit" ucap Cinta.


"Aku mau menemani seseorang yang tadi menolongku Ma" ucap Haura.


"Aku ju...ga Ma" ucap Deena.


"Baiklah, Mama temani Haura dan Deena. Papa temani Alina ke rumah sakit" ucap Rehan.


"Iya Pa" ucap Cinta.


Cinta menemani Haura dan Deena. Sedangkan Rehan mengantarkan Alina pergi ke rumah sakit.


Rumah Sakit Al Ihsan


Alina dan Rehan masuk ke dalam rumah sakit. Alina berlari lebih dahulu dari Rehan. Dia berlari ke ruangan UGD mencari Rafael. Dia berdiri di depan ruangan UGD berharap cemas. Seorang Dokter keluar dari ruangan itu dan memberitahu tahu Alina kalau Rafael tidak bisa diselamatkan. Alina langsung berteriak dan menangis.

__ADS_1


"Tidaaaak......hik hik hik" ucap Alina.


__ADS_2