Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Tidak Mudah Jadi Orangtua


__ADS_3

Masih Flash Back


Dua Minggu Kemudian


Leo menyelesaikan pekerjaannya barulah dia istirahat. Dia shalat diruangan rumah yang belum selesai dibangun. Pak Baron tak sengaja melihat Leo shalat. Dia bangga anak semuda Leo, rajin beribadah dan bekerja tidak seperti dirinya saat seusia Leo sudah banyak melakukan perbuatan dosa. Pak Baron menghampiri Leo dan shalat dibelakangnya. Selesai shalat, Leo melihat Pak Baron duduk dibelakangnya.


"Assalamu'alaikum"ucap Leo mengucapkan salam.


"Wallaikumsalam"ucap Pak Baron.


Leo menghampiri Pak Baron dan menyalaminya.


"Kau masih muda tapi rajin sholat"ucap Pak Baron.


"Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai manusia, dengan sholat saya bisa lebih dekat dengan Allah SWT, hati saya tenang dan segala permasalahan terasa ringan setelah menjalankan sholat"ucap Leo.


"Kau benar anak muda, oya siapa namamu?" tanya Pak Baron.


"Leo Pak"ucap Leo.


"Leo artinya singa, raja rimba. Kau kuat dan berani seperti namamu. Kelak akan menjadi raja bisnis dinegara kita"ucap Pak Baron.


"Amin, terimakasih atas doanya Pak"ucap Leo.


"Terus berusaha dan berdoa, bapak yakin semua yang kau inginkan akan terwujud"ucap Pak Baron.


"Iya Pak, Oya nama bapak siapa?"tanya Leo.


"Baron"ucap Pak Baron.


"Pak Baron, Leo bawa bekal cukup banyak, mari makan siang bersama"ucap Leo.


"Boleh juga, kebetulan bapak lapar"ucap Pak Baron.


Leo dan Pak Baron makan bersama diruangan itu. Pak Baron senang bisa makan bersama Leo. Dia seperti memiliki teman sekaligus keluarga.


Hari itu tidak ada lemburan, Leo bisa pulang sore hari. Dia mengambil ransel miliknya tapi tidak menemukan jaket miliknya didalam ranselnya. Leo mencari sekitar ruangan tempatnya menyimpan ransel itu tapi tak menemukannya. Ini bukan kejadian pertama kali, hari sebelumnya Leo kehilangan hoodie, sweater, dan kemeja miliknya. Leo merasa aneh, hampir tiap hari dia kehilangan barang miliknya. Tak lama Pak Baron menghampirinya.


"Leo kenapa kau seperti orang bingung?"tanya Pak Baron.


"Begini Pak, sudah beberapa hari ini Leo kehilangan barang milik Leo yang ditaruh didalam ransel"ucap Leo.


"Barang apa saja?"tanya Pak Baron.


"Hoodie, sweater, kemeja dan sekarang jaket" ucap Leo.


"Kau diam disini dulu, aku tahu siapa pelakunya" ucap Pak Baron.


Pak Baron meninggalkan Leo diruangan itu, dia menuju ke ruangan tempat Asep, Totok dan Karjo berada. Pak Baron langsung memarahi mereka.


"Kalian ada disini"ucap Pak Baron.


"Pak Baron, sore Pak"ucap Asep.


Asep, Totok dan Karjo ketakutan dengan kedatangan Pak Baron. Mereka berusaha bersikap manis padanya.


"Mau dipukul atau ditendang, biasanyanya itu baru permulaan, kalau aku belum puas bisa lebih dari itu"ucap Pak Baron.


"Ampun Pak Baron, kita salah apa ya?"tanya Totok.


"Iya Pak Baron, kita harus apa?"tanya Karjo.


"Ampun"ucap Asep.


"Kembalikan barang milik Leo yang kalian ambil" ucap Pak Baron.


"Baik Pak, kami akan mengembalikan barang milik Leo"ucap Totok.


"Kalau besok kalian masih bertingkah lagi seperti ini atau mengerjai Leo lagi, kau tau aku sudah terbiasa melenyapkan orang dengan tanganku sendiri, bahkan penjara sudah jadi rumahku, kalian paham!"ucap Pak Baron.


"Paham"ucap Asep, Totok dan Karjo.


Asep, Totok dan Karjo memberikan barang milik Leo pada Pak Baron. Mereka berjanji tidak akan mengganggu Leo lagi. Setelah itu Pak Baron mengembalikan barang itu pada Leo.


"Makasih ya Pak"ucap Leo.


"Sama-sama, Leo kau sering dikerjai mereka kenapa tak melawan? aku yakin kau bisa melawan mereka"ucap Pak Baron.


"Saya tidak mau mencari masalah hanya untuk hal kecil Pak, lagi pula yang mereka lakukan masih bisa saya tolerir, jika sudah melampau baru saya akan bertindak"ucap Leo.


"Kau pandai mengelola emosimu, bijak dan pola pikirmu dewasa"ucap Pak Baron.


"Terimakasih atas pujiannya Pak, tapi saya juga masih banyak kekurangannya dan masih harus belajar untuk lebih baik lagi"ucap Leo.


"Saya pamit pulang dulu Pak"ucap Leo.


"Salam untuk istrimu, bilang padanya masakannya enak"ucap Pak Baron.


"Baik Pak"ucap Leo.


Leo meninggalkan tempat itu, dia ingin menemui Zara ke tempat bekerjanya sekalian menjemputnya. Sampai ditempat Zara bekerja di tepi jalan raya. Leo menghampirinya dan berpura-pura menjadi pembeli.


"Neng beli martabak manisnya satu ya"ucap Leo.


"Rasa..."ucap Zara langsung terhenti saat melihat Leo ada didepannya.


"Leo, aku pikir pembeli"ucap Zara.


"Leo kesini mau beli martabak manis buatan neng Zara"ucap Leo.


"Mau rasa apa mas?"tanya Zara.


"Coklat susu keju kayanya enak, neng"ucap Leo.


"Tunggu sebentar ya mas saya buatkan dulu, silahkan mas gantengnya duduk disana"ucap Zara.

__ADS_1


"Baik, makasih neng cantik"ucap Leo.


Leo duduk dikursi tempat para pembeli menunggu dan makan ditempat. Sementara Zara membuatkan martabak manis untuk Leo.


"Zara, kau terlihat akrab dengan pembeli itu?" tanya Bu Titin.


"Dia suami saya Bu Titin"ucap Zara.


"Suamimu? ganteng banget tapi cocok sih, kamu cantik dia ganteng serasi jadinya"ucap Bu Titin.


"Ah, Ibu bisa aja"ucap Zara.


"Kalian masih muda, giat bekerja sambil sekolah benar-benar contoh anak muda yang baik"ucap Bu Titin.


"Kalau kita tidak bekerja keras dan sekolah, bagaimana masa depan kita nantinya. Berdiam diri tidak akan membuat mimpi dan cita-cita kita terwujud Bu"ucap Zara.


"Kau benar, Ibu senang melihat anak muda seperti kalian yang mau kerja apa saja yang penting halal, tetap sekolah dan bermimpi, anak muda seperti kalianlah yang akan sukses dikemudian hari"ucap Bu Titin.


Zara hanya tersenyum dengan ucapan Bu Titin.


Selesai membuat martabak pesanan Leo, Zara mengantarkan ke mejanya.


"Ini martabak spesial dibuat dengan cinta untuk mas yang ganteng"ucap Zara.


"Neng cantik mau martabaknya juga gak? kebetulan mas ganteng gak bisa ngabisinnya sendiri"ucap Leo.


"Boleh, tapi neng cantik maunya disuapin"ucap Zara.


"Mumpung sepi boleh deh mas ganteng suapin"ucap Leo.


Zara duduk didekat Leo makan martabak itu bersama. Kebetulan sedang tak ada pembeli dan keadaannya sepi. Mereka saling menyuapi, rasanya sore itu begitu menyenangkan untuk mereka.


Leo menunggu sampai Zara selesai bekerja, dia ikut membantu Bu Titin dan Zara merapikan barang dagangan dan gerobak milik Bu Titin. Setelah itu Leo dan Zara meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan menelusuri jalan Leo dan Zara terus berbincang.


"Zara lihat sebelah kanan itu kalau gak salah taman kenangan kita berdua"ucap Leo.


"Iya ya, sudah lama tak pernah ke taman itu lagi ya Leo"ucap Zara.


"Mau kesana sebentar?"tanya Leo.


"Memang gak papa?"tanya Zara.


"Gak papa baru juga jam 8 malam, ada lampu hiasnya sekarang, lihat cantik kelihatannya"ucap Leo.


"Indah ya Leo, kalau begitu ayo kita kesana sebentar"ucap Zara.


Leo dan Zara masuk ke taman bunga itu. Mereka menikmati indahnya taman bunga yang dihiasi lampu hias berkelip-kelip itu. Saat mereka sedang berjalan-jalan, ada seorang wanita dewasa sedang memangku bayinya. Dia terlihat menangis dan membawa sebuah silet. Wanita itu mengiris lengannya dengan silet itu sampai berdarah. Leo dan Zara secepatnya menghampirinya. Zara langsung menggendong bayinya yang menangis sementara Leo menolong wanita itu.


"Mba ayo kita kerumah sakit, darah ditangan mba terus mengalir, ini bahaya"ucap Leo.


"Tidak, biarkan saya mati. Tolong rawat anak saya dek"ucap Wanita itu.


"Tidak, anak mba lebih membutuhkan kasih sayang mba"ucap Leo.


Sampai dirumah sakit wanita itu langsung ditangani Dokter dan perawat diruang UGD. Leo dan Zara berada diluar ruangan UGD cemas menunggunya.


"Leo, semoga mba itu baik-baik saja ya, kasihan bayinya masih kecil"ucap Zara sambil menggendong bayi wanita itu.


"Iya Zara, kasihan bayi ini kalau ibunya sampai tiada. Tidak ada kasih sayang yang bisa menggantikan kasih sayang ibunya sendiri"ucap Leo.


Leo dan Zara terus berdoa untuk ibu bayi itu.


Setelah satu jam, wanita itu dibawa ke ruangan perawatan, dia harus dirawat beberapa hari sampai pulih karena kehilangan banyak darah. Karena wanita itu harus dirawat dirumah sakit untuk beberapa hari kedepan, Leo dan Zara membawa bayinya pulang ke kontrakan mereka.


"Uweeeek....uweeek.......uweeeek......"Bayi itu menangis.


"Zara bayinya menangis, harus diapakan ya?" tanya Leo.


"Mungkin dia lapar atau pup"ucap Zara.


"Yaudah Leo cek popoknya ya"ucap Leo.


"Biar Zara aja"ucap Zara.


Zara mengecek popok yang dipakai bayi itu ternyata dia pup.


"Leo kita tidak punya popok, gimana ya?"tanya Zara.


"Leo beli popok instant dimini market ya"ucap Leo.


"Beli sekalian susu bayi dan botol susunya ya Leo"ucap Zara.


"Oke"ucap Leo.


Leo pergi ke mini market membeli botol susu bayi, popok instant, dan susu bayi. Zara terus menenangkan bayi itu, tapi terus menangis. Untung Leo segera kembali. Dia langsung ke dapur membuatkan susu untuk bayi itu.


"Leo botolnya dicuci dulu ya"ucap Zara.


"Iya Zara sayang"ucap Leo.


Leo mencuci botol susu bayi setelah itu dia membuatkan susu untuk bayi itu.


"Bunda sayang nih susunya udah jadi"ucap Leo.


"Wah ayah pinter juga buat susunya"ucap Zara.


Kemudian Zara memberikan susu itu pada bayi itu, dengan cepat bayi itu meminum susunya.


"Leo dia lapar, makanya tadi nangis terus"ucap Zara.


"Zara sayang udah pantes punya bayi, ayo kita bikin malam ini"ucap Leo.


"Leo"ucap Zara malu-malu.


Bayi itu tertidur setelah puas minum susu. Zara membaringkannya diranjang secara perlahan agar tidak membangunkannya. Barulah dia menghampiri Leo yang sudah menunggunya diruang depan untuk melakukan hal romantis malam itu.

__ADS_1


"Zara sayang dede bayi udah tidur, sekarang giliran kita bermesraan"ucap Leo.


"Leo sayang udah gak sabar ya"ucap Zara.


"Dari tadi Leo udah pengen"ucap Leo.


Leo mendekati Zara, dia sudah bersiap dengan seluruh tenaganya untuk melakukan hal romantis itu, baru mau mendekati bibir Zara suara bayi itu menangis.


"Uweeek....uweeek.....uweeek......"Bayi itu menangis.


"Leo bayinya menangis"ucap Zara.


"Yah gak jadi nih"ucap Leo.


"Bentar ya Leo sayang"ucap Zara.


Zara masuk ke ruang tengah menuju ke ranjang itu lalu menggendong bayi itu. Leo kembali mengenakan pakaiannya, dia menghampiri Zara yang sedang menggendong bayi itu.


"Zara bayinya rewel ya"ucap Leo.


"Mungkin dia rindu ibunya, Leo"ucap Zara.


"Kalau Zara capek biar Leo gantiin gendongnya" ucap Leo.


Zara hanya mengangguk sambil menggendong bayi itu. Tapi bayi itu terus menangis, Leo kembali membuatkannya susu. Lalu bayi itu meminum susunya. Tak lama dia tidur lagi.


"Zara sayang ayo kita lanjutkan yang tadi"ucap Leo.


"Iya Leo sayang"ucap Zara.


Leo sudah tak sabar dia langsung membaringkan Zara dikarpet bawah ranjang, mereka mulai melakukan hal romantis itu, baru setengah jalan, bayinya kembali menangis.


"Uweeek......uweeeek.....uweeek......"Bayi itu menangis.


"Leo bayinya menangis"ucap Zara.


"Yah Zara belum tuntas"ucap Leo.


"Nanti dilanjut lagi ya"ucap Zara.


"Ternyata begini rasanya punya bayi, kebayang jadi orangtua gak mudah, mau romantisan aja nunggu antrian sama anak sendiri"ucap Leo.


Zara kembali mengendong bayi itu, tapi tetap menangis.


"Zara mungkin dia pup lagi"ucap Leo.


"Kau benar, mungkin dua pup"ucap Zara.


Ternyata benar, bayi itu kembali pup. Zara kembali mengganti popoknya. Sementara Leo kembali membuatkan susu untuk bayi itu. Bayi itu meminum susunya dengan lahap kemudian tidur lagi.


"Zara ternyata gak mudah ya jadi orangtua, jam segini saja kita masih bergadang mengurus bayi ini apalagi orangtua kita dulu ya, pasti mereka juga lelah mengurus kita saat masih kecil dulu"ucap Leo.


"Iya ya, sebentar-sebentar bayinya menangis, pipis, pup, haus minta minum susu, minta digendong sampai tidur, jadi orangtua ternyata tidak mudah. Sepertinya kita akan bergadang semalaman malam ini Leo"ucap Zara.


"Iya, kita bergadang tapi gak bisa melakukan itu"ucap Leo.


"Gak mau lanjut lagi Leo?"tanya Zara.


"Nanti setengah jalan lagi, jadi gak enak"ucap Leo.


"Uuu...kasihan Leo sayang, sini Zara peluk"ucap Zara.


Zara langsung memeluk Leo, dia menyandarkan kepalanya didadanya Leo.


"Zara, apa kita lapor polisi saja biar bisa menemukan keluarga Ibu dan bayi ini?"tanya Leo.


"Betul juga, ibu bayi ini tidak membawa kartu identitas, jadi kita tidak bisa menghubungi keluarganya. Kondisinya juga belum memungkinkan untuk ditemui"ucap Zara.


"Tapi mungkin kita tunggu sampai kondisinya membaik"ucap Leo.


"Jujur Zara heran, kenapa dia mau mengakhiri hidupnya padahal dia memiliki seorang bayi, gimana nasib bayi ini, kalau tadi kita tidak ke taman"ucap Zara.


"Kau benar, entah apa yang terjadi padanya sampai harus begini, kasihan bayinya jika ibunya meninggal"ucap Leo.


"Besok kalau ibu bayi ini sudah membaik kita cari tahu alasannya"ucap Zara.


"Oke"ucap Leo.


Akhirnya Leo dan Zara bergadang semalaman mengurus bayi itu. Mereka baru merasakan rasanya jadi orangtua. Dari situ mereka belajar dan akan berusaha lebih menghargai dan menghormati orangtuanya lagi, mereka sadar menjadi orangtua itu tidak mudah.


Visual Leo



Visual Zara



Visual King



Visual Niken



Visual Gerald



Visual Nafiza



Visual ini hanya hiburan semata

__ADS_1


__ADS_2