Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Undangan untuk Leo


__ADS_3

Setelah mengelilingi semua ruangan dirumah besar orangtuanya. Leo menemui Pak Ibrahim yang sedang dikebun buah dihalaman rumah itu.


Pak Ibrahim memetik buah anggur yang sudah matang sambil menikmati nya dan berdiri di dekat pohon anggur itu. Tak lama Leo menghampirinya sambil membantunya memetik buah anggur itu.


"Pak Ibrahim apakah rumah ini akan dijual kembali?"tanya Leo. Dia ingin sekali membeli rumah peninggalan orangtuanya itu kembali. Rumah itu sangat berarti untuk Leo. Banyak kenangan yang tersimpan di dalam rumah itu. Kenangan masa kecilnya saat bersama kedua orangtuanya. Di rumah itu Leo dilahirkan dan dibesarkan hingga bertemu dengan Zara. Leo akan merasa sangat senang jika rumah itu bisa kembali padanya.


"Nak Leo, Bapak membeli rumah ini untuk mengenang sahabatku Anton, ayahmu. Tidak ada niat bagiku menjualnya pada siapapun"ucap Pak Ibrahim. Sebenarnya Pak Ibrahim juga membeli rumah itu karena ingin mengenang mendiang ayahnya Leo. Dia tak berniat untuk menempati rumah itu untuk tempat tinggal. Rumah itu seperti museum yang akan selalu mengingatkannya pada sahabatnya itu. Mereka bersahabat sudah cukup lama dari sejak Pak Ibrahim bukan siapa-siapa. Papanya Leo lah yang telah menyemangatinya hingga menjadi seperti ini.


"Jika suatu hari nanti saya membeli rumah ini kembali, apa Bapak berkenan menjualnya pada saya?"tanya Leo. Dia berharap Pak Ibrahim menjual padanya. entah besok ataupun lusa. Leo akan menanti sampai Pak Ibrahim mau menjual rumah itu padanya.


"Bapak tadi sudah bilang, Bapak membeli rumah ini untuk mengenang sahabatku Anton, untuk saat ini Bapak belum tertarik menjualnya"ucap Pak Ibrahim.


"Baiklah kalau begitu, jika nanti bapak berniat menjual rumah ini, sayalah orang pertama yang harus bapak hubungi"ucap Leo. Dia tidak bisa memaksa Pak Ibrahim untuk menjual rumah itu. Leo tetap saja harus menunggu keridhaan-nya menjual rumah besar itu kembali padanya.


"Oke....,tapi kenapa kau begitu ingin sekali membeli rumah ini?"tanya Pak Ibrahim. Dia ingin tahu kenapa Leo bersikeras ingin membeli rumah besar itu kembali.


"Rumah ini satu-satunya kenangan yang ditinggalkan orangtuaku, disini penuh kenangan dan hanya dirumah ini saya bisa mengingat kembali masa kecil saat bersama orangtua saya" ucap Leo.


"Memang seharusnya begitu, rumah orangtua kalau bisa jangan dijual, karena kenangan didalamnya jauh lebih berharga dari pada uang" ucap Pak Ibrahim. Dia setuju dengan pendapat Leo mengenai alasannya untuk membeli kembali rumah itu.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya Pak Ibrahim" ucap Leo. Dia berpamitan untuk meninggalkan rumah itu.


"Silahkan, hati-hati nak Leo"ucap Pak Ibrahim.


"Assalamu'alaikum"ucap Leo.


"Waalaikumsalam"ucap Pak Ibrahim.


Leo meninggalkan rumah itu, dia mengendarai mobilnya menuju ke perusahaan miliknya. Selama setengah jam perjalanan dari rumah besar milik orang tuanya sampai ke kantornya. Leo turun dari mobilnya berjalan masuk kedalam lobi. Dia masuk ke dalam lift naik ke lantai atas. Dia ingin bertemu Kepala HRD, melewati ruang HRD. Beberapa orang terlihat sedang interview, Leo berjalan melewati ruangan untuk interview itu, tersenyum dan memberi salam pada mereka yang sedang duduk menunggu giliran interview. Dia tak sengaja mendengar seseorang sedang memohon. Tak lama seorang lelaki yang tangan sebelah kirinya cacat keluar dari ruangan itu. Dia terlihat sedih tapi menyempatkan menyapa Leo.


"Selamat pagi Pak, Assalamu'alaikum"ucap Ali.


"Waalaikumsalam"ucap Leo.


Setelah mengucapkan salam dia pergi begitu saja dengan wajah yang terlihat murung. Leo penasaran dan masuk ke ruangan interview.


"Selamat pagi Bos"ucap Reno.


"Pagi, Reno tadi ada yang interview?"tanya Leo.


"Iya Bos"ucap Reno.


"Untuk posisi apa?"tanya Leo.


"Itu Bos, bagian Cleaning Servis"ucap Reno.


"Bagaimana hasil interviewnya?"tanya Leo.


"Diakan cacat Bos, mana mungkin bisa kerja, jadi saya tidak menerimanya" ucap Reno.


"Apa tadi kau sudah mengetesnya untuk mengerjakan pekerjaan Cleaning Servis?"tanya Leo.


"Belum Bos"ucap Reno.


"Bagaimana bisa kau menilainya tidak bisa kerja, sementara kau sendiri belum mengetesnya"ucap Leo.


"Maaf Bos"ucap Reno.


"Reno selama dia bisa mengerjakan pekerjaannya apa salahnya memberikan dia kesempatan. Kalau setiap orang cacat dianggap remeh oleh kita lalu bagaimana cara mereka bisa mencukupi kebutuhan hidupnya"ucap Leo. Bagi Leo siapa saja berhak bekerja asalkan dia mampu meskipun orang itu disabilitas sekalipun. Jika bukan dia siapa lagi yang akan peduli pada mereka.


"Benar Bos"ucap Reno.


"Telpon dia kembali dan beri kesempatan"ucap Leo.


"Baik Bos"ucap Reno.


Leo meninggalkan ruangan interview itu, dia berjalan menuju lift untuk pergi ke lantai atas.


Sampai diruangannya, Leo duduk dan melihat pekerjaan yang menumpuk dimeja kerjanya.


"Semangat Leo"ucap Leo menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Leo mulai mengerjakan satu persatu pekerjaannya. Tak lama Sekretaris Beti masuk ke ruangan kerjanya.


"Bos, Anda mendapatkan undangan bergengsi dari sebuah Event Penghargaan Wirausaha Muda" ucap Sekretaris Beti.


"Benarkah?....coba bawa kesini"ucap Leo.


Sekretaris Beti memberikan undangan itu pada Leo.


"Acaranya besok sore ya, Sekretaris Beti tolong atur jadwal saya besok. Mungkin dari habis dhuhur saya sudah pulang untuk bersiap menghadiri acara itu"ucap Leo sambil melihat undangan yang diberikan Sekretaris Beti.


"Baik Bos, apa ada yang lain?"tanya Beti.


"Tidak, kau boleh kembali ke ruanganmu"ucap Leo.


"Baik Bos"ucap Sekretaris Beti.


Sekretaris Beti keluar dari ruangan kerja Leo.


"Aku harus pulang sore ini untuk memberi tahu Zara tentang ini"ucap Leo.


Leo tersenyum bahagia, dia ingin mengajak Zara pergi ke acara itu. Ini pertama kalinya Leo diundang diacara bergengsi itu.


***********


Pulang dari perusahaan Leo mampir ditoko kue untuk membeli klapertart. Semenjak hamil Zara suka makan berbagai macam kue. Leo senang bisa membeli makanan kesukaan Zara.


"Alhamdulillah kehidupanku dan Zara sekarang jauh lebih baik, bahkan rejeki kami berlebih, aku bisa memberikan tempat tinggal yang layak untuk Zara dan buah hatiku"ucap Leo dalam hatinya sambil membawa klapertart ke berjalan menuju ke mobil miliknya.


Sampai dirumah Leo melihat Zara sedang duduk menonton film bersama Bi Surti sambil makan camilan diruang bioskop dirumah mereka.


"Wah enak nih, nonton film sambil makan camilan"ucap Leo.


"Leo sayang....udah pulang, sini gabung nonton film romantis"ucap Zara.


"Non, romantis apanya, inikan film kartun Si Kancil Mencuri Ketimun di Sawah Pak Maman" ucap Bi Surti.


"Oh iya Bi, Oya perasaan Bibi dari tadi diem aja kenapa?"tanya Zara.


"Habis film kartun gak ada yang kaya oppa Non, yang ada kaya kerbau dan buaya. Udah gitu digigit, ditiban, kejatuhan pohon berkali-kali gak mati coba, nyawanya banyak amat"ucap Bi Surti.


"Leo, kau tahu aja Zara lagi pengen makan klapertart"ucap Zara.


"Tadi Dede bayinya nelpon Papanya biar dibeliin klapertart"ucap Leo.


"So sweet banget sih Papanya dede bayi"ucap Zara.


"Non Bibi undur diri ya, tak ingin berada diantara kalian, apalagi jadi orang ketiga"ucap Bi Surti.


"Bi Surti, Leo menaruh klapertart dimeja makan untuk Bibi, Pak Aman, Pak Kodir dan Pak Doyok ya"ucap Leo.


"Siap Den, terimakasih"ucap Bi Surti.


"Sama-sama Bi"ucap Leo.


Bi Surti keluar dari ruangan itu. Tinggal Leo dan Zara berduaan diruangan itu. Keadaan sudah sepi, Leo langsung mencium bibir Zara dengan penuh kelembutan, Zara membalas ciuman dari Leo. Mereka saling menikmati ciuman itu.


"Zara sayang, Leo punya kabar baik"ucap Leo selesai melepas ciumannya.


"Kabar apa Leo?"tanya Zara.


"Leo mendapat undangan untuk menghadiri Event Penghargaan Wirausaha Muda"ucap Leo.


"Wah, selamat Leo sayang"ucap Zara.


"Zara nanti ikut Leo ke acara itu ya"ucap Leo.


"Iya Leo"ucap Zara.


"Ayo dimakan klapertartnya, nanti dede bayinya ngiler"ucap Leo.


Zara pun memakan klapertart yang dibelikan Leo.

__ADS_1


"Ehm.....enak Leo, aku suka"ucap Zara.


"Zara sayang kalau mau makan apa, bilang Leo ya"ucap Leo.


"Iya Leo sayang"ucap Zara.


Selesai makan klapertart Leo memeluk Zara sambil nonton film romantis.


"Zara sayang, akan ada seorang anak diantara kita, dia akan memanggilku Papa dan memanggilmu Mama, Leo jadi kangen dengan Papa Mama, ingin rasanya bisa berziarah ke makamnya tapi tidak ada. Hanya doa yang selalu Leo panjatkan setiap hari"ucap Leo.


"Iya Leo, semoga Papa dan Mama berada ditempat yang terbaik dan diringankan siksa kuburnya"ucap Zara.


"Amin"ucap Leo.


"Nanti saat Zara melahirkan, usia kita baru 22 tahun ya"ucap Leo.


"Iya ya, kita sudah punya anak diusia muda Leo" ucap Zara.


"Gak papa, yang penting kita bisa menjaga amanah yang diberikan Allah pada kita"ucap Leo.


"Jadi gak sabar pengen lihat dede bayi"ucap Zara.


"Pasti lucu kaya Siva ya"ucap Leo.


"Betul juga, dulu Siva sampai ngunyah cabai ya, lucu dan gemesin"ucap Zara.


"Nanti anak kita pasti juga lucu dan gemesin Zara"ucap Leo.


"Leo pengen tidur dipangkuan Leo"ucap Zara.


"Kemarilah"ucap Leo.


Zara tidur dipangkuan Leo, tangan Leo mengelus perut Zara yang masih datar karena baru hamil dua bulan.


"Dede, ini Papa. Baik-baik dan sehat terus ya diperut Mama"ucap Leo.


"Iya Papa kata Dede bayinya Leo"ucap Zara.


"Leo pengen dipijet"ucap Zara manja pada Leo.


"Iya sayangku, Leo pijat ya"ucap Leo.


Leo memijati Zara yang berbaring nyaman dipangkuannya, semenjak hamil Zara jadi manja dan tidak mau berjauhan dari Leo.


************


Bi Surti, Pak Kodir, Pak Doyok dan Pak Aman sedang makan klapertart yang dibelikan Leo sambil menonton televisi diruang keluarga dirumah itu.


"Nih yang paling aku gak suka, pelakornya cuma satu kurang seru, peran utamanya terlalu lemes kaya cacingan, cowoknya kurang pinter selingkuhnya jadi gajebo kurang greget apalagi adegan jambak-jambakannya gak kaya orang tarik tambang"ucap Bu Surti.


"................"Pak Kodir, Pak Doyok dan Pak Aman hanya melongo.


"Hei, kalian ini nonton sinetron apa lagi kesurupan dari tadi melongo aja"ucap Bi Surti.


"Kita ini melongo ngelihat Bi Surti dari tadi nonton Bi Surti yang ngocehnya gak ada habisnya sepanjang sinetron diputar, malah ramean nonton Bi Surti dari pada sinetronnya"ucap Pak Doyok.


"Aku malah nonton Bi Surti mukul nyamuk udah berapa kali sejak ngomel-ngomel"ucap Pak Doyok.


"Aku sedih, Bi Surti ngabisin klapertartnya selama ngomel, padahal aku belum nyobain cuma denger namanya doang"ucap Pak Aman.


"Eh, iya dari tadi gak berasa ngomel udah berapa episode ya, udah dicatet belum hal-hal pentingnya. Inget adegan terpenting diepisode ini harus dicatat, biar besok nonton masih bisa ngomel lagi biar rame"ucap Bi Surti.


"Ogah ah, tiap nonton sinetron kita-kita jadi korbannya Bi Surti"ucap Pak Doyok.


"Iya, setiap kesel ma pelakor kita yang kena cakar"ucap Pak Aman.


"Aku sedih setiap Bi Surti nonton sinetron, perasaan Bi Surti lebih cocok jadi Ibu Tirinya dari pada jadi penontonnya. Kita kena hajar terus tiap nonton sinetron yang ada ibu mertua galak dan pelakor ganas"ucap Pak Kodir.


"Udah gak usah disesali, kalian inikan gak paham serunya nonton sinetron zaman sekarang, pelakor dan ibu mertua itu udah jadi ikon setiap sinetron, adegan tampar, cakar dan jambak itu sudah jadi ritual yang harus ada"ucap Bi Surti.


"Iya tapi jangan kita-kita juga yang dianggap pelakor dan ibu mertua"ucap Pak Doyok.

__ADS_1


"Babak belur deh kalau Bi Surti nonton sinetron" ucap Pak Aman.


Bi Surti hanya tertawa mendengar keluhan Pak Doyok, Pak Kodir dan pak Aman. Dia paham setiap nonton sinetron, dia selalu jadi emosi dan marah-marah pada mereka cuma gara-gara pelakor dan ibu mertua yang ada disinetronnya.


__ADS_2