Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Menyerang Part 75


__ADS_3

"Kak Farel" Alina memanggil Farel yang ada disampingnya.


"Alina" Farel memegang pipi Alina.


"Kak Farel selama ini berakting jadi Axel juga?" tanya Alina.


"Sayang dengarkan aku, aku ini Rafael kakakmu" ucap Farel.


Air mata Alina menetes dipipinya. Dia tak menyangka selama ini selalu bersama Rafael tapi dia tak menyadarinya. Tanpa pikir panjang Alina memeluk Farel.


"Kak Rafa, Alina kangen. Jangan tinggalkan Alina lagi" ucap Alina.


Farel membalas pelukan Alina. Dia memeluk Alina. Menciumi bahunya berkali-kali.


"Sayang kok cuma dipeluk, kitakan suami istri" ucap Farel.


Alina melepas pelukannya. Dia mencium Farel, ciuman itu dibalas Farel dengan penuh kelembutan. Farel membaringkan Alina diranjang. Mereka melanjutkan ciuman itu ke tahap lain. Ranjang kecil dikosan itu jadi tempat merajut cinta disiang hari untuk sepasang pengantin baru itu. Alina yang sudah tahu kalau itu Rafael, malu-malu dari sebelumnya.


"Kenapa sayang?" tanya Farel yang menyadari Alina sedang malu.


"Kak Rafa aku malu" ucap Alina.


Farel mendekati wajah Alina, dia meraba pipinya.


"Malu kenapa sayang?" tanya Farel.


"Sebelumnya kita kakak adik dan sekarang..." U


ucap Alina.


"Adik kecil justru ini yang ku inginkan sejak lama, menjadikanmu milikku" ucap Farel.


Alina menyentuh bibir Farel dengan tangannya.


"Kak Rafa aku mencintaimu" ucap Alina.


"Aku juga mencintaimu Alina" ucap Farel.


Alina dan Farel kembali melanjutkan jalinan cinta yang memabukkan. Apalagi mereka pengantin baru dan mencintai satu sama lain. Kali ini mereks sahut menyahut dan begitu menikmati indahnya cinta. Setelah lelah Farel memeluk Alina dalam dekapannya.


"Sayang, jadi inget dulu saat kita masih jadi kakak adik" ucap Farel.


"Kak Rafa, aku tak menyangka kita akan jadi suami istri" ucap Alina.


Cup


Cup


Farel terus mencium pipi Alina, dia tak rela mengakhiri kemesraan mereka secepat itu. Kini dis bebas menyentuh Alina yang sudah jadi miliknya.


"Kak Rafa jawab dulu" ucap Alina menghentikan bibir Farel.

__ADS_1


"Iya sayang, tapi aku punya keyakinan kalau kita akan bersama pada akhirnya, saat kita bertemu pertama kali, kau terus memegang jari telunjuk kakak" ucap Farel.


"Kakak, aku tidak tahu bagaimana rasanya bila tanpamu" ucap Alina.


"Adik kecil, aku menahan rindu untuk waktu yang lama. Tapi wajahmu tak pernah terhapus dari ingatanku meskipun kita terpisah cukup lama" ucap Farel.


"Kak bagaimana ceritanya wajahmu jadi berubah?" tanya Alina penasaran.


Farel menceritakan semuanya pada Alina. Mendengar semua cerita dari suaminya, Alina menangis. Dia tak menyangka kakaknya melewati banyak hal bahkan sangat berbahaya. Mungkin saja dia bisa kehilangan Farel kalau Allah tidak memberi kesempatan lagi untuknya bertemu kakaknya.


"Sayang jangan menangis, sekarang aku baik-baik saja dan ada didepanmu, bahkan sekarang menjadi suamimu" ucap Farel sambil menyeka air mata Alina.


"Kakak" ucap Alina.


Farel mencium Alina. Dia tidak menyia-nyiakan waktu bersama dengan Alina.


"Alina lama tak bertemu, kau semakin cantik, aku sampai pangling saat bertemu dibandara. Rasanya ingin menciummu dan memelukmu saat itu" ucap Farel.


"Mungkin kalau saat itu kakak melakukannya, aku akan menamparmu karena aku tidak mengenalmu dengan wajah barumu kak" ucap Alina.


"Tapi aku masih tampankan sayang?" tanya Farel.


"Dari dulu kakak memang tampan, sekarangpun tetap tampan" ucap Alina.


"Kau lelah?" tanya Farel.


Alina mengangguk. Mereka berdua berbaring diranjang itu. Farel bisa tidur dengan tenang karena Alina sudah mengetahui semuanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Seorang wanita beraksi malam-malam, berani juga"


Deena menengok ke samping melihat orang yang bertopeng itu.


"Aku belum tahu pasti kau lawan atau kawan, tapi baunya seperti lawan" ucap Deena.


"Pintar"


Orang itu menyerang Deena. Mereka berdua babu hantam. Orang itu cukup kuat, Deena kesulitan mengalahkannya. Dia mengeluarkan pedang, begitupun Deena. Mereka bertarung dengan menggunakan pedang. Meskipun diawal-awal Deena hampir kalah, tapi diakhir Deena mampu membuat pedang lawannya terjatuh.


Praaang.....


Deena mengacungkan pedangnya ke arah orang itu. Dia ingin mengintrograsinya tapi orang itu melempar sesuatu hingga muncul asap.


"Ugh...ugh...ugh..." Deena terbatuk dengan asap itu.


Setelah asap menghilang, orang itu sudah tak ada.


"Dia kabur" ucap Deena.


Deena kembali ke rumah. Dia masuk ke dalam kamar kemudian berganti pakaian tidur. Tahu-tahu Barra memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Sayang jagoanku, kangen" ucap Barra.


Deena berbalik dan memeluk suaminya.


"Om masih sakit?" tanya Deena.


"Masih sayang, gak tahu mual banget rasanya" ucap Barra.


"Kalau gitu Om istirahat ya, apa mau dibikinin sesuatu?" tanya Deena.


Barra menjatuhkam Deena diranjang.


"Om maunya ini" ucap Barra.


Barra dan Deena merajut cinta malam itu. Barra memang selalu haus akan cinta Deena. Dia tak pernah absen seharipun. Deena juga menyambutnya, itu membuatnya tak ingin menyudahinya begitu saja. Selesai merajut cinta Barra memeluk tubuh mungil berisi itu.


"Sayang kau agak berisi, jangan-jangan hamil" ucap Barra.


"Aku belum tahu Om, tapi aku belum datang bulan" ucap Deena.


"Akhir-akhir ini aku mual dan lemas, jangan-jangan kau hamil sayang" ucap Barra.


"Besok aku test pack deh" ucap Deena.


"Semoga kau hamil, biar ada sikecil dirumah kita" ucap Barra.


"Sayang tadi aku diserang orang bertopeng" ucap Deena menceritakan kejadian yang tadi.


"Apa? berani sekali dia mengganggumu" ucap Barra.


"Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menyerangku" ucap Deena.


Barra memeluk istrinya dengan erat. Dia bersyukur masih bisa bersama istrinya. Bisa saja terjadi sesuatu pada Deena tadi. Tapi untung saja istrinya itu bisa menyelamatkan dirinya.


"Biar anak buahku mencari tahu orang itu, sekarang kau harus hati-hati" ucap Barra.


Deena mengangguk. Dia tidur dalam pelukan suaminya. Paling tidak dia bisa selamat dari orang yang menyerangnya tadi. Hanya saja Deena belum tahu siapa yang menyerangnya dan untuk tujuan apa menyerangnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Aku gagal menyerangnya"


"Aku tidak suka kata gagal, tapi aku memberimu kesempatan lainnya, dekati yang lainnya. Ambil hatinya dan taklukkan dia"


"Baik"


"Jangan terlibat cinta dengan musuhmu"


"Oke"


"Aku undur diri"

__ADS_1


Orang bertopeng itu pergi setelah melapor. Kini dia memiliki tugas lainnya. Tinggal seseorang yang berdiri didepan jendela. Wajahnya cacat. Dia terlihat menyimpan dendam pada seseorang.


"Aku akan membalasmu atas semua luka yang kau berikan"


__ADS_2