
"Iya Pa, Ma," sahutku.
Mau tak mau aku menceritakan bagaimana awal mula aku digrebek warga hingga nikah dadakan dengan Albern. Dari pada Papa dan Mama bingung. Biar semuanya jelas.
"Begitu ceritanya Pa, Ma," ucapku.
Papa dan Mama terdiam sesaat. Wajah mereka terlihat serius. Mungkin mereka sedang memikirkan masalah yang terjadi saat ini. Kedatangan Albern memang mendadak. Sebelumnya mereka tidak mengenal nya. Apalagi sudah pernah bertemu dengannya. Tentunya Papa dan Mama menghawatirkan diriku. Mereka ingin yang terbaik untukku.
"Kita bisa bicara berdua Albern?" tanya Papa.
"Bisa Om," sahut Albern.
Kenapa pakai yang bicara berdua dengan Albern. Apa Papa yang dicari hal yang penting padanya. Mungkin sesuatu yang hanya Papa dan Albern yang tahu. Aku jadi menghadirkan hubungan kami.
Papa dan Albern pergi ke ruang kerja Papa di lantai dua. Papa mengajak Albern duduk di sofa.
Albern belum tahu apa yang akan dibicarakan Papa dengannya. Dia hanya berusaha memenuhi permintaan Papaku.
"Albern, Aara adalah anak pertama kami yang hilang selama 20 tahun dalam tsunami yang terjadi di Kota A 20 tahun lalu," ujar Papa.
Albern mengangguk. Mendengarkan Papa bicara.
"Kami baru saja bertemu dengannya," ucap Papa.
"Iya Om," sahut Albern.
Papa menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Bersiap berbicara yang mungkin berat untuknya.
"Aku tidak mengenalmu, tapi aku pernah memergoki sedang ...," ucap Papa.
Albern terdiam tahu apa yang dimaksud Papa. Memang masa lalunya tak bisa dilupakannya begitu saja. Albern tak menyangka Papaku pernah memergokinya dengan seorang wanita.
"Saat itu aku ada bisnis di luar kota, aku tak sengaja melihatmu sedang berbuat sesuatu dengan seorang wanita di mobil, aku pikir pergaulan anak sekarang sudah bebas," ucap Papa.
Albern masih diam. Masa lalunya memang kelam dan menjijikkan. Dia tahu apapun akan dipanen olehnya di masa depan. Tak ada satu manusiapun yang luput dari kesalahan yang diperbuatnya, hari ini, esok atau lusa semua akan mencium kebusukannya. Meskipun disembunyikan serapat mungkin.
"Iya Om, aku dulu memang brengsek, aku memang bukan lelaki yang baik," ucap Albern.
"Tapi semenjak aku bertemu putri Om dan Tante, semuanya berubah, aku sudah tobat dan hanya mencintai putri kalian," ujar Albern.
"Apa kau bisa membuktikan? Karena aku tidak bisa menyetujuinya dengan semudah itu," ucap Papa.
"Iya, aku akan membuktikan, apapun, Om boleh mengujiku dengan apapun," ucap Albern.
__ADS_1
"Baik, aku akan memberimu tugas, ini bukan tugas yang mudah, kalau kau bisa lolos dari tugas itu kau bisa bersama putriku," ucap Papa.
"Apa tugasnya Om?" tanya Albern.
"Bekerja di sebuah panti sosial, di sana banyak mantan wanita malam yang sedang dilatih untuk kembali ke jalan yang benar," ucap Papa.
"Tugasku seperti apa Om?" tanya Albern.
"Pergilah ke sana nanti tugasmu akan dijelaskan," ucap Papa.
"Oke Om," sahut Albern.
"Karena kau suami istri dengan anakku, jadi kau bisa bersama dengannya satu minggu sekali sampai tugasmu selesai," ujar Papa.
"Baik Om," sahut Albern. Dia akan melakukan apapun untukku, meskipun harus melakukan hal yang sulit sekalipun. Bahkan terpisah jarak dan waktu saja tak membuat cinta kami goyah. Apalagi ini hanya sebuat tantangan yang menurut Albern dia akan mampu melakukannya.
"Kalau kau bisa menjalankan tugasmu sampai selesai, kau bisa bersama putriku dan aku akan menikahkan kalian secara besar-besaran," ujar Papa.
"Baik Om," sahut Albern.
"Tapi ingat, jika kau gagal, ceraikan putriku!" ancam Papa.
"Oke," sahut Albern. Dia tak gentar dengan ancaman Papa. Dia yakin akan menyelesaikan tugas dari Papa dengan baik. Dan menikah secara resmi di depan umum denganku.
"Terimakasih Om," ucap Albern.
Papa mengangguk. Semua ini dilakukan Papa demi kebaikanku. Papa tidak ingin kelak aku disakiti Albern karena sifat buayanya kembali. Itulah sebabnya Papa harus memastikan Albern sudah benar-benar tobat dari kebiasaan buruknya.
Papa dan Albern turun ke lantai satu. Masuk ke ruang keluarga. Aku yang sedang duduk dengan Mama, langsung berdiri dan menghampiri Albern.
Dia tersenyum padaku dan mengajakku duduk.
"Aara ajak Albern beristirahat, mungkin dia lelah," ucap Papa.
"Iya Pa," sahutku.
Segera Aku membawa Albren naik ke lantai atas. Masuk ke kamarku. Di dalam Albern langsung memeluk dan menciumku sesuka hatinya. Benar-benar seperti orang yang tak pernah bertemu tahunan.
"Aku kangen sayang," ucap Albern.
"Aku juga kangen suamiku," sahutku.
Kami bermesraan. Kemudian memadu cinta. Sudah lama sejak malam pertama saat itu kami tak melakukannya lagi. Pagi itu begitu indah. Di balik semua ujian ternyata nikmatnya begitu terasa. Cinta memang semakin kuat jika melewati banyak ujian. Keringat dan nafas yang menggebu menjadi saksi cinta kita disatukan dalam indahnya keintiman.
__ADS_1
Aku dan Albern sama-sama menikmati kebersamaan penuh keromantisan itu. Hingga waktu berlugir terasa cepat padahal dari tadi entah berapa kali mengulangnya.
Aku dan Albern beristirahat. Duduk di karpet samping ranjang. Aku bersandar di bahu Albern.
Sambil mengistirahatkan tubuh yang lelah.
"Sayang, aku ingin bicara sesuatu," ucap Albern.
"Pasti tentang pembicaraanmu dengan Papa, iyakan?" tanyaku.
"Iya, kau betul," sahut Albern.
"Memangnya Papa bicara apa?" tanyaku. Pasti pembicaraan mereka sangat penting hingga aku dan Mama tidak boleh ikut campur.
"Besok aku akan pergi ke sebuah panti sosial," ujar Albern.
"Apa?" Aku terkejut. Albern akan pergi ke panti sosial, untuk apa? Apa Papa mengancam Albern atau ingin memisahkan kami? Pikiranku liar ke sana-ke mari.
"Iya, Papa memberiku misi, kalau aku berhasil, kita akan menikah secara resmi disaksikan semua orang," ujar Albern.
"Kenapa harus melakukan misi? Apa Papa tidak setuju dengan pernikahan kita?" tanyaku. Aku cemas. Aku tidak ingin berpisah kembali dengan Albern. Baru saja kami bersama.
"Jangan berpikir buruk dulu, Papamu melakukan itu untuk menguji seberapa besar cintaku padamu," ujar Albern menjelaskan tujuan Papa melakukan itu.
"Tapi kenapa harus diuji?" tanyaku.
Albern meraih tubuhku. Menggenggam kedua lenganku. Menatap mataku.
"Karena dulu aku mantan buaya, kalau tidak diuji dulu bagaimana Papamu percaya, kalau aku serius padamu," ujar Albern.
Mataku berkaca-kaca. Rasanya jarak dan waktu akan memisah kembali.
"Jangan menangis, kita masih bisa bertemu satu minggu sekali, Papamu memberi izin, sampai semua misiku selesai," ujar Albern.
Aku mengangguk.
"Doakan aku bisa menyelesaikan misinya dengan baik," ujar Albern.
"Iya aku akan mendoakanmu, semoga misimu berhasil, kita bisa berkumpul lagi," ucapku.
"Terimakasih sayang, I Love You," ucap Albern.
"I Love You Too," sahutku.
__ADS_1
Kami berpelukan. Saling melepas rindu dan kasih sayang. Aku yakin Albern bisa menyelesaikan misi dari Papaku. Aku berharap kami bisa bersama lagi. Tak terpisahkan lagi.