Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 4


__ADS_3

Aku menitipkan Bobo pada Ami dan Dodo. Mereka akan sibuk selama aku pergi ke ruang BK. Kakiku melangkah perlahan, takut juga. Mungkin ini masalah Bobo, pasti teman-teman netizan sudah menyampaikan lambe turah mereka ke segala penjuru arah. Maklum gosip lebih dibutuhkan dari pada ceramah.


"Pagi Pak," sapaku saat masuk ruang BK.


"Pagi Aara," sahut Pak Hendri, guru BK di SMA Kejora. Beliau terlihat pendiam dan dingin tapi jangan salah paling disegani. Kata teman-teman di sekolahku, dia pembunuh berdarah dingin, menyeramkan, psikopat dan superhero sejati, itu hanya cuitan netizen. Aslinya tidak seratus persen benar. Beliau hanya melakukan tugasnya sebagai guru BK.


Braag ...


Sebuah penggaris panjang dipukulkan ke meja. Sepertinya Pak Hendri marah besar, siap-siap pasang muka melow buat pertahanan terakhir.


"Pak penggaris baru ya? masih pakem suaranya," ucapku sok akrab.


"Iya, bapak sedang menguji tingkat seberapa keras pukulannnya," ujar Pak Hendri.


"Lumayan ya Pak kalau buat mukul kasur yang dijemur, mumpung panas," ujarku yang sebenarnya takut juga, desas desus Pak Hendri menyeramkan sepertinya benar. Kakiku mulai gemetar, tenang bukan karena efek takut, pengen kencing belum sempet tadi.


"Biasanya kalau ada yang melanggar peraturan boleh untuk percobaan duluan," kata Pak Hendri.


Bisa jadi perkedel gue kalau kena penggaris sakti Pak Hendri, udah otak kosong makin tambah konslet gak nyambung lagi.


"Sabar Pak, Allah Maha Pemaaf apalagi kita manusia seharusnya lebih bisa memaafkan," bujukku pada Pak Hendri. Ngilu juga kalau satu libasan penggaris kena bokong mana lagi bisulan.


"Maaf ada batasnya, kalau terus melanggar harus dapat hukuman yang setimpal," ujar Pak Hendri dengan mata tajamnya setajam mata burung elang memburu mangsanya.


"Pak maaf, saya salah, bawa keripik lagi ke sekolah, maafkan saya," ucapku.


"Bukan itu masalah yang lagi trending, lihat di komunitas sekolah dan status fb teman-temanmu, sudah kau lihat?" tanya Pak Hendri.


"Yah Pak gimana mau lihat, handphone aja gak punya," jawabku dengan percaya diri.


"Bagus, ke sekolah memang tidak boleh membawa handphone, lebih baik belum punya dari pada sudah punya tapi meresahkan," puji Pak Hendri.


"Jadi saya dipanggil untuk apa Pak? dari tadi saya nahan kencing nih Pak, mohon dipersingkat dan diperjelas," ucapku.


"Kata lambe dower kamu bawa bayi ke sekolah, betul tidak?" tanya Pak Hendri.


Lambe dower sebutan komunitas gosip di sekolahku. Anggotanya cewek-cewek bigos yang terakreditasi, anggotanya hanya mereka yang bisa memiliki mata setajam elang, telinga sepeka singa dan penciuman sekuat anjing. Mereka memang sangat fames dibidang gosip menggosip, bahkan untuk masuk jadi anggota itu tak mudah. Seleksi sangat ketak, pernah mau ikut malah kena damprat, aku hanya sekedar ikut untuk dapat nasi bungkus gratis, lumayan para anggota lambe dower sibuk menggosip sehingga nasi bungkus mereka lupa dimakan. Lumayankan buat makan berhari-hari tinggal dihangatkan.


"Betul Pak, saya memang bawa bayi, apa bapak mau tau nama bayi saya?" tanyaku.


"Bukan, itu gak penting, tapi bagaimana cara kamu punya bayi tanpa hamil? soalnya istri saya pengen punya anak malas hamil," ujar Pak Hendri.


"Kirain saya mau diintrogasi gara-gara saya bawa bayi Pak?" tanyaku.


"Jawab itu dulu, baru next saya omelin kamu," ujar Pak Hendri.


UUOJ (ujung-ujungnya diomelin juga) kirain cuma tanya tips dan tutorial punya bayi tanpa hamil.

__ADS_1


"Ini adik saya Pak, anak yatim piatu juga seperti saya, senasib jadi saya ingin mengurusnya," jelasku.


"Adik ketemu gede, lalu kapan proses dari dibuat sampai blendung dan brojolnya?" tanya Pak Hendri.


"Maaf Pak proses kelahiran bayi itu masuk ovipar, vivipar atau ovovivipar ya? waktu pelajar biologi saya kebanyakan nyengirnya jadi gak ada yang konek," ujarku.


"Nah itu dia, saat pelajaran biologi sama ngecengin cewek jadi gak hafal juga, searching google dulu," ucap Pak Hendri.


"Searching google harus pakai handphone, tapi saya dak punya Pak," ujarku.


"Punya kuota gak?" tanya Pak Hendri.


"Handphone aja dak punya gimana kuota Pak?" tanyaku bingung. Katanya guru psikopat tapi kok pelawak gini, beneran disegani atau ini hanya kamuflase dari wujud menakutkannya.


"Oya, maklum gajian bapak dipegang istri, jatah bulanan dipas, cukup buat beli bensin dan jajan roti doang, sedih deh, " curhat Pak Hendri.


"Maaf Pak, kok rasanya jadi acara curhat, tadi bukannya saya mau diomelin," ujarku.


"Untung kamu mengingatkan saya, hampir saya mau bagi kamu roti gratis," ucap Pak Hendri.


"Boleh Pak, kebetulan belum sarapan," jawabku.


Sudah deh bukannya diomelin malah dapet roti, bubur kacang ijo plus teh anget sambil dengerin Pak Hendri bacain peraturan sekolah yang panjang bener.


"Gimana kamu paham?" tanya Pak Hendri.


"Saat jam pelajaran sekolah tidak boleh bawa bayi atau bayi itu ada di dalam kelas, apapun alasannya," jelas Pak Hendri.


"Lalu Bobo siapa yang jagain Pak? diakan adik saya, gak punya siapa-siapa selain saya," ujarku.


"Pokoknya peraturan tetap peraturan, patuhi atau kamu diskors," tegas Pak Hendri.


"Baik Pak," jawabku.


Dengan wajah yang sedih aku keluar dari ruang BK. Beberapa teman menyurakiku, mereka masih menganggapku hamidun, untung telingaku udah pakai benteng dari Cina jadi aman takkan dibobol maling.


"Aduh gimana ini? Bobo ditaruh di mana selama aku belajar di kelas?" Aku berpikir. Sebentar lagi masuk, aku harus segera menemukan tempat yang tepat untuk Bobo.


Aku terus berjalan menuju kelas, Ami dan Dodo sedang menjaga Bobo, mereka terlihat senang mendapatkan mainan baru.


"Kok muka kusut? setrika dong!" canda Ami. Dia memang paling juara membuat hatiku membaik lagi tak kusut.


"Token belum diisi ya listriknya?" imbuh Dodo. Tahu aja suars tokenku sering bunyi tiap abis bulan. Kadang sampai aku kasih lilin kali aja dia ngisi sendiri.


"Tahu aja kalian kalau aku boke, kalau gitu open donasi dong, ceban juga boleh," balasku.


"Boro-boro ceban, gue tadi pagi aja sarapan kepala ikan asin sama nasi kemarin," sahut Ami. Sahabatku yang satu ini menang tiap hari sarapan dengan kepala ikan asin. Yang penting bisa merasakan bangku sekolah.

__ADS_1


"Masih untung, gue makan rumput bareng kambing bapak gue, dikira gue item gini sama kaya kambing doyan juga rumput," ujar Dodo.


Kami tertawa terbahak-bahak. Meskipun banyak masalah, slow dicuci pakai candaan biar gak nyesek berujung rumah sakit jiwa. Hidup memang sulit bukan berarti kita harus menangis dan menyerah. Tak ada yang tahu hari esok akan indah.


"Aara tadi dipanggil Pak Hendri kenapa?" tanya Ami. Dia paling kepo. Sebagai sahabat tentunya dia ingin tahu dan syukur-syukur bisa membantu.


"Iya, kepo nih," tambah Dodo.


"Aku gak boleh bawa Si Bobo ke kelas selama jam pelajaran sekolah," ucapku.


"Heeem ..." Ami dan Dodo berpikir. Mereka ingin membantuku menyelesaikan permasalahan yang ku hadapi. Jika aku sudah mereka juga susah. Kita ini sahabat sejati.


Aku sadar tidak baik membawa bayi ke dalam kelas apalagi saat jam pelajaran sekolah pasti sangat mengganggu, tapi aku harus menitipkan Bobo pada siapa?


"Gini aja kita titipin di penitipan anak," usul Ami.


"Bener tuh, di sana lebih aman dan nyaman," imbuh Dodo.


"Ide bagus, lalu kalian yang bayar ya biaya penitipannya," jawabku.


"Eeeeh ... aku bokek say," timbal Ami.


"Apalagi aku, kasihan nih dompet dhuafa terus," ujar Dodo.


"Nah tuh tahu, apalagi aku, makan aja masih ditangguhkan, pakai gaya-gayaan nitipin Bobo, bayar pake apa coba?" tanyaku pada kedua sahabat senasib sepenanggungan. Jangankan untuk menitipkan Bobo, untuk makan aja kembang kempis.


"Udah kalau gitu titipin Bi Siti aja, kalau jam pelajarankan gak ada yang jajan di kantin," usul Ami.


"Yoi," sahut Dodo. Benar juga usul sahabatku ini. Hanya Bi Siti yang bisa membantuku di saat terjepit.


"Iya sih, tapi apa Bi Siti mau?" tanyaku.


"Coba dulu, ceritakan hal-hal yang mengharukan, dramatisir dan mengandung bawangnya banyak," saran Ami.


"Sekalian bawa-bawa pahala dan sosial pasti Bi Siti terbawa suasana," tambah Dodo.


"Temenin kalau gitu friend," ucapku.


"Kalau ditemenin penjiwaan kurang dapet," ucap Ami.


"Udah gitu kurang terlihat sebatang kara dan tak berdaya," kata Dodo.


Benar juga, nasehat dan saran duo sahabatku ini ada benarnya, mereka memang smart di bidang ngenes, penderitaan dan kesengsaraan seperti ini. Segera ku gendong Bobo keluar kelas, berjalan menuju kantin, tak sengaja aku menubruk anggota geng Fakboy.


Dug ....


"Otak lemot, lo jalan pakai mata gak sih?" Ketua geng Fakboy memarahiku. Sekilas siapa saja yang melihatnya akan terhipnotis ketampanannya.

__ADS_1


__ADS_2