
Pagi itu setelah mengantar Zara ke kampus Leo menuju ke kediaman orangtuanya. Leo menemui Pak Ibrahim, orang yang telah membeli rumah besar milik orangtuanya. Leo diizin untuk masuk dan melihat semua hal dirumah itu yang tak pernah berubah. Leo melihat setiap sudut, kenangan-kenangan masa kecilnya terbayang disetiap sudut rumahnya.
"Papa Mama, Leo datang ke rumah kalian setelah sekian lama tak menginjakkan kaki dirumah ini. Leo sangat merindukan kalian, seandainya kalian masih ada, Leo ingin kalian melihat Leo yang sekarang. Leo sudah sangat mampu berdiri dikaki Leo sendiri"ucap Leo sambil berlutut dilantai dan meneteskan air matanya.
"Leo janji akan segera membeli kembali rumah ini, dirumah ini kenangan yang tak ternilai yang tidak akan pernah Leo lupakan, cinta dan kasih sayang kalian selalu Leo ingat"ucap Leo.
Leo bangun lalu berjalan ke lantai atas, dia masuk ke kamar orangtuanya. Semua foto orangtuanya masih terpajang disana. Leo menyentuh foto orangtuanya yang terpajang didinding.
"Rasanya baru kemarin kalian mengantar Leo masuk sekolah, waktu terasa cepat berlalu. Saat kalian tak ada baru terasa kehilangan yang begitu mendalam yang Leo rasakan. Leo belum sempat berbakti dan merawat kalian disaat tua nanti, tapi kalian sudah meninggalkan Leo"ucap Leo.
Flash Back
Leo dan Zara mengantar Papa dan Mama Leo ke bandara. Mereka hendak mengunjungi Erica yang kuliah diluar negeri. Leo dan Zara berpelukan dengan kedua orangtuanya. Mereka bahkan berpelukan lama dan seakan tak ingin segera melepasnya. Setelah berpelukan Ibu Vivi terus menangis dan berat untuk meninggalkan Leo dan Zara.
"Mama kok nangis terus, padahalkan harusnya seneng mau bertemu Kak Erica"ucap Leo.
"Entahlah Leo, rasanya berat meninggalkan kalian"ucap Ibu Vivi.
"Papa juga merasa kepergian hari ini terasa berat, padahal Papa sering pergi keluar negeri"ucap Pak Anton.
"Mungkin karena Papa dan Mama masih rindu sama Leo dan Zara"ucap Leo.
"Mungkin kali ya nak"ucap Ibu Vivi.
"Nanti Leo telpon kalau Papa dan Mama sampai disana"ucap Leo.
"Papa dan Mama berangkat dulu ya Leo Zara" ucap Pak Anton.
"Hati-hati dijalan Pa Ma semoga selamat sampai tujuan"ucap Zara.
"Ya nak"ucap Pak Anton dan Ibu Vivi.
Kedua orang tua Leo tersenyum saat mau meninggalkan Leo dan Zara. Mereka berjalan ke depan sambil sesekali melihat ke belakang. Rasanya berat untuk melangkahkan kakinya.
************
Setelah makan siang Leo membantu Zara membereskan piring yang ada dimeja dan meletakkannya ditempat cuci piring, saat itu Zara sedang mencuci piring didapur. Lalu Leo mengambil handphonenya dimeja. Dia hendak menelpon kedua orangtuanya. Baru mencoba menghubungi telpon orangtuanya dan meletakkan handphone itu ditelinganya, suara berita ditelevisi didepannya terdengar menyayat hatinya.
"Selamat siang saudara, Anda menyaksikan berita Netral News TV. Kami akan menginformasikan terkait jatuhnya pesawat ZP270 di Laut Arabia dekat perbatasan Negara D.
Kondisi pesawat sudah tidak utuh, jatuh berkeping-keping. Para penumpang sampai saat ini belum ditemukan"ucap Pembawa Acara itu.
Handphone yang dipegang Leo jatuh seketika.
Crack................
Tubuhnya lemas seketika, jantungnya berdebar kencang dan air matanya menetes dari pelupuk matanya. Hanya terdiam tak mampu berkata-kata. Seolah waktu berhenti sesaat, berita itu seakan petir yang menyambar tiba-tiba hingga tak mampu menghindar. Leo mematung, pikirannya hanya terisi perpisahan tadi pagi dibandara. Zara yang melihat Leo seperti itu langsung menepuk lengannya.
"Leo.....kau kenapa?"tanya Zara.
".........."Leo hanya diam.
Berita ditelevisi itu terus diberitakan oleh berbagai stasiun televisi. Zara mendengarkan berita yang tayang di televisinya, dia langsung berlutut dan menangis.
"Papa Mama hik....hik......."ucap Zara menangis.
"Innalillahi wa inna ilaihi raaj'iun"ucap Leo.
"Innalillahi wa inna ilaihi raaj'iun"ucap Zara.
Leo langsung memeluk Zara, mereka menangis bersama. Pertemuan tadi pagi bersama orangtuanya menjadi pertemuan terakhir untuk Leo dan Zara. Mereka tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Bahkan datang tiba-tiba, belum sempat mereka menelpon orangtuanya tapi ternyata mereka takkan pernah kembali lagi.
************
Dua Minggu Kemudian
Jenazah Pak Anton dan Ibu Vivi tak pernah ditemukan begitupun jenazah para penumpang lainnya. Leo dan Zara sudah mengikhlaskan semuanya. Hari ini Leo dan Zara akan pergi ke rumah besar orangtua Leo untuk menemui Pengacara Gatot, Beliau pengacara yang ditunjuk Pak Anton untuk mengurus surat wasiat untuk anak-anaknya. Pengacara Gatot dan Erica sudah duduk diruang keluarga, Leo dan Zara menghampiri mereka dan duduk disofa itu.
"Begini saya akan menyampaikan isi surat wasiat dari Pak Anton untuk kalian berdua selaku anak kandungnya"ucap Pengacara Gatot.
Pak Gatot membacakan semua isi surat wasiat itu, Leo dan Erica mendengarkan semua yang disampaikan Pak Gatot. Dari isi surat wasiat itu semua harta kekayaan milik Pak Anton akan dikelola oleh Erica selama Leo belum berusia 23 tahun. Surat wasiat itu belum sempat dirubah Pak Anton, dulu saat membuat surat wasiat itu Leo masih mabuk-mabukan dan keluar malam. Maka dari itu Pak Anton lebih memilih Erica untuk mengelola semua harta kekayaannya sampai Leo berusia 23 tahun, Pak Anton berpikir Leo bisa mengelola semua harta kekayaannya setelah dewasa dari pola pikir dan usianya. Leo menerima semua isi surat wasiat itu. Dia percaya Kakaknya bisa mengelola semua harta kekayaan orangtuanya.
************
__ADS_1
Satu Bulan Kemudian
Leo ingin tahu perkembangan perusahaan Ayahnya. Dia iseng datang ke perusahaan milik Ayahnya itu. Leo berjalan memasuki ruangan kerja CEO. Saat masuk, Leo kaget bukan Erica yang duduk dikursi itu melainkan sesosok lelaki asing yang tak dikenalnya.
"Siapa Anda, kenapa ada dikursi itu?"tanya Leo.
"Heh, siapa kamu berani sekali masuk ruanganku tanpa izin"ucap Nico.
"Aku anak dari pemilik perusahaan ini dan kau siapa?"tanya Leo balik.
"Aku adalah Predir disini, keluar dari ruanganku!" ucap Nico.
"Maaf, setahu saya Kakak Ericalah Predir disini" ucap Leo.
"Kau ini berani sekali mengaku anak pemilik perusahaan dan sekarang mengaku adik Erica, sungguh bercandamu berlebihan, tak tau malu" ucap Nico.
"Anda yang tidak tahu malu, duduk dikursi yang bukan hak Anda"ucap Leo.
Erica masuk ke ruangan itu dan mendengar Leo dan Nico yang sedang berdebat.
"Leo, kau ngomong apa sih"ucap Erica yang baru datang.
"Kak Erica dia siapa? kenapa dia menduduki kursi Ayah?"tanya Leo.
"Leo, dia ini pacar kakak waktu diluar negeri" ucap Erica.
"Oo.....dia cuma pacar, lalu kenapa Kakak mempercayakan posisi penting ini pada orang luar. Kakak tahu bagaimana sulitnya Papa merintis perusahaan ini. Seharusnya kakak tidak segampang ini memberinya posisi tertinggi diperusahaan"ucap Leo.
"Jadi kamu iri, terus kamu lebih pantas memimpin perusahaan ini. Anak kemarin sore baru juga lulus SMA mau mimpin perusahaan besar ha....ha...."ucap Erica mengakhirinya dengan tertawa sinis.
"Anak bolon kok mau jadi CEO, heh lucu sekali"ucap Nico.
"............."Leo hanya diam dengan penghinaan itu.
"Leo, Nico ini lulusan S2 Management diluar negeri, jadi jangan dibandingkan denganmu yang cuma lulusan SMA. Nico lebih pintar dan berpendidikan dari kamu"ucap Erica.
"Sudah sayang, kasihan adik kecilmu tar nangis disini lagi"ucap Nico.
Leo mengepal tangannya dia bukan emosi karena hinaan itu tapi kecewa karena perusahaan Papanya dipimpin orang yang seperti Nico. Dia langsung menonjok pipi Nico.
Kepalan tangan Leo mendarat dipipi Nico.
"Aw............"ucap Nico.
"Leo............"ucap Erica berteriak dan langsung memegang pipi Nico yang membiru karena tonjokan itu.
"Kau boleh tertawa sepuasmu, tapi dimataku kau tak layak menjadi pemimpin diperusahaan ini. Pemimpin seharusnya memiliki moral dan etika yang baik, tapi kau seperti orang yang sekolah dijalanan yang tahu aturan"ucap Leo.
"Erica, lihat adikmu yang tak tau malu, urakan, preman dan seperti orang kesetanan. Apa pantas dia disebut adikmu"ucap Nico.
"Leo, mulai sekarang jangan pernah ikut campur urusan kakak dan perusahaan. Kau tahu sendiri akulah yang diberi amanah Papa untuk mengelola semuanya. Sikapmu ini membuatku muak, jangan berani kesini lagi ataupun pulang kerumah"ucap Erica.
"Aku ini adikmu Kak, tapi seolah orang lain. Dan laki-laki parasit ini malah jadi orang terdekatmu. Semoga kau baik-baik saja Kak"ucap Leo.
Selesai bicara Leo keluar dari ruangan itu. Dia kecewa dengan Erica yang memasukkan Nico dalam perusahaan ayahnya. Leo merasa Nico bukan orang yang baik.
**********
Tiga Bulan Kemudian
Erica datang ke rumah Leo dengan menangis tersedu-sedu. Dia membawa koper miliknya. Leo dan Zara membawanya masuk ke dalam rumah. Erica terus menangis, walaupun Leo sempat kesal pada Erica karena kejadian itu dan berita dikoran serta majalah bisnis bahwa perusahaan milik ayahnya bangkrut. Leo tetap saja tak tega melihat Erica yang bersedih.
"Hik..hik...Leo, Nico menipu Kakak, dia membawa kabur semua harta Papa, dia juga meninggalkan hutang dibank, kakak terpaksa menjual rumah kita untuk melunasinya hik...hik...., maafkan Kakak Leo"ucap Erica sambil menangis.
"Semua sudah terjadi Kak, waktu tidak bisa diulang, yang bisa kita lakukan hanya memperbaikinya"ucap Leo.
"Leo....., Kakak sudah tidak punya apa-apa lagi, Kakak tidak tahu harus tinggal dimana lagi"ucap Erica.
"Kakak tinggal disini saja bersama kita, iyakan Leo"ucap Zara.
Leo hanya mengangguk, dia tak mungkin tega membiarkan kakaknya menderita. Dia memperbolehkan kakaknya tinggal dirumahnya.
Setelah Erica tinggal bersama Leo dan Zara, dia hanya seperti parasit yang merugikan untuk mereka. Tiap hari mintanya dilayani Zara dari makan harus makanan enak, semua bajunya dicuci Zara, kerjaanya hanya tidur dan nongkrong bersama teman-temannya.
__ADS_1
Erica tidur dikamar Leo dan Zara. Dia tidak mau tidur disofa atau diruang tamu. Jadi Leo dan Zara mengalah, mereka yang tidur diruang tamu. Saat pagi hari, Zara tidak memasak karena sedang sakit. Leo juga sudah berangkat ke kantornya. Erica langsung marah-marah pada Zara yang sedang berbaring disofa.
"Hei Zara bangun, cepetan masak sarapanku" ucap Erica.
"Kak Erica, Zara sedang sakit"ucap Zara dengan suara pelan karena menahan sakit.
"Kamu itu jadi istri jangan malas, kaya gini kok Leo mau aja sih nikahin kamu, kalau aku mending nyari yang lain"ucap Erica.
"Maaf ya Kak, sebentar lagi Zara akan buatkan sarapannya"ucap Zara.
"Nah gitu dong, jangan malas. Masak yang enak awas kalau gak"ucap Erica mengancam.
Erica meninggalkan Zara kembali ke kamarnya.
Meskipun badannya masih lemas dan sempoyongan, Zara berusaha bangun dan menuju ke dapur untuk memasak sarapan untuk Erica.
"Kepalaku rasanya pusing, badanku juga panas" ucap Zara.
Zara memaksakan dirinya untuk memasak sarapan untuk Erica. Selesai memasak Zara menyajikan makanan itu dimeja ruang tamu.
Erica keluar kamarnya lalu menuju ke ruang tamu. Dia melihat Zara sedang menyajikan sarapannya.
"Nah gitu dong jadi istri harus rajin"ucap Erica.
Erica duduk sambil makan makanan yang ada dimeja itu.
"Kak Erica, Zara mau tidur lagi ya"ucap Zara.
"Bagi aku uang dulu"ucap Erica.
"Bukannya kemarin sudah dikasih Leo ya"ucap Zara.
"Cuma 5 juta sehari juga habis buat nongkrong dan belanja" ucap Erica.
"Kak Erica seharusnya bisa berhemat dan mengatur uangnya agar bisa cukup untuk keperluan Kakak"ucap Zara.
"Apa?....kau mulai mengajariku ya, heh tak ku sangka pelit sekali padahal aku ini kakak suamimu"ucap Erica.
"Bukan begitu Kak, sudah seharusnya Kakak menggunakan uang itu untuk kebutuhan yang penting saja"ucap Zara.
"Kau mulai belagu ya, kalau bukan istri Leo, sudah ku tampar kau"ucap Erica.
Erica langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Zara. Dia terlihat emosi dan marah pada Zara yang tidak memberinya uang. Erica langsung berganti pakaian dan berdandan, dia pergi untuk nongkrong bersama teman-temannya disebuah restoran. Erica berangkat dengan naik taksi. Teman-temannya sudah menunggunya dari tadi siang, melihat teman-temanya Erica menghampiri mereka dan duduk bersama mereka disatu meja.
"Erica kok telat"ucap Gebi.
"Sorry, terkendala teknis"ucap Erica.
"Mau beli berlian gak?"tanya Yosi.
"Berlian?.....aku pengen banget, tapi gak punya uang nih"ucap Erica.
"Masa sih seorang Erica gak punya duit"ucap Sesil.
"Beneran, Lo tahukan perusahaan dan rumah gue udah dijual. Gue udah gak punya apa-apa lagi selain adik gue"ucap Erica.
"Lo suruh adik Lo kerja aja, masa cowok gak punya duit, iyakan"ucap Dini.
"Adik gue udah kerja dikantor kecil miliknya sendiri"ucap Erica.
"Kalau begitu dia punya duit banyak dong"ucap Gebi.
"Iya, tapi dia pelit padaku, itung-itungan kalau mau ngasih duit, sebel deh"ucap Erica.
"Udah Lo kaya gue aja, hutang sama Devan, dia uangnya unlimited"ucap Dini.
"Tapi bunganya gede gak?"tanya Erica.
"Lumayan, tapi yang penting Lo happy, biarin Leo yang membayarnya, gak usah dipikirin"ucap Gebi.
"Bener juga ya, yang penting happy, ngapain harus mikirin adik gue yang pelit itu"ucap Erica.
Erica tersenyum memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk mendapatkan uang. Dia sepakat meminjam pada uang dari Devan.
__ADS_1
Setelah terus menerus berhutang untuk keperluannya sendiri, hutang Erica menumpuk karena bunga yang semakin tinggi. Erica tak berani keluar rumah, dia takut Devan dan anak buahnya akan muncul menemuinya.