
Rehan dan Cinta sedang duduk diruang tamu menunggu Haura pulang. Dari semua anak mereka, hanya Haura yang paling nakal. Dia sering pulang larut malam. Berbeda dengan Deena yang pendiam dan lugu, dia hanya belajar dan belajar. Sedangkan Aksa sedang kuliah diluar negeri. Hanya saja putri kembar pertama mereka, Alea telah meninggal. Eden kakak tiri Rehan membuang Alea ke laut saat dia menculik Cinta dan ketiga bayi kembarnya. Untung saja Haura dan Deena selamat dari peristiwa itu. Mereka berdua harus mengikhlaskan kepergian Alea. Kini mereka fokus merawat dan menjaga Aksa, Haura dan Deena.
Haura membuka pintu rumah pelan-pelan, dia menduplikatkan kunci rumah biar bisa keluar masuk rumah sesuka hati. Malam itu dia baru pulang. Ruang tamu terlihat gelap, dia mengendap-endap berjalan di ruang tamu itu. Tiba-tiba lampu menyala terang, terdengar suara memanggilnya.
"Haura, kau dari mana? malam begini baru pulang?" tanya Rehan.
Haura menengok ke samping, dia melihat Papa dan Mamanya duduk di sofa melihat ke arahnya.
"Eh....Papa, Mama, assalamu'alaikum"ucap Haura.
"Wa'alaikumsallam"ucap Rehan dan Cinta.
"Dari mana kau semalam ini baru pulang?"tanya Rehan kembali.
"Ikut kajian Pa, pentingnya menjadi anak sholeh dan sholehah"ucap Haura.
"Kajian? mana ada kajian semalam ini"ucap Rehan.
"Pa ini kajian khusus pengajarnya saja dari alam lain"ucap Haura.
"Jangan bohong, memangnya Papa tidak tahu ulahmu diluar sana"ucap Rehan.
"Sabar Pa, istigfar"ucap Cinta sambil menepuk lengan Rehan.
"Astagfirullah"ucap Rehan.
"Pa, Haura sedang berpetualang mempraktekkan pentingnya bergaul dan bersosialisasi dengan teman beda alam"ucap Haura.
"Haura, dengarkan Papa. Kamu mengunci guru di toilet, menaruh kecoak di tas semua teman sekelasmu, menggunduli semua teman laki-laki dikelas mu, dan masih banyak lagi ulahmu"ucap Rehan marah pada Haura.
"Ampun Pa, hanya hiburan kecil-kecilan maklum Pa boring"ucap Haura.
"Boring katamu? kau sudah jadi member tetap guru BK, bahkan Papa sudah tak terhitung berapa kali dipanggil ke sekolah, itu yang dinamakan boring atau hobimu?"tanya Rehan dengan nada berapi-api.
"Hobi yang unik Pa, Haurakan spesial pakai telor bebek dua, damai Pa"ucap Haura.
"Haura.....mulai besok kau sekolah di pesantren saja"ucap Rehan semakin marah.
__ADS_1
"Ampun Pa jangan, Haura panas dingin kalau di pesantren, kebanyakan dosa"ucap Haura.
"Pa, sabar. Kita bicarakan baik-baik"ucap Cinta.
"Gimana kalau Haura tinggal sama Eyang kakung dan Eyang putri saja"ucap Haura.
"Tidak bisa, mereka terlalu lembut. Kamu harus didisiplinkan, pokoknya kamu sekolah di pesantren, titik"ucap Rehan sudah tidak kuat menghadapi kenakalan Haura.
Haura langsung menundukkan kepalanya. Ultimatum dari Papanya tidak bisa diganggu gugat. Dia tidak bisa lagi merengek atau minta damai pada Papanya. Semua kenakalannya sudah tidak bisa dianulir lagi. Dia hanya bisa mengikuti perintah Papanya.
Haura berjalan ke kamar Deena lalu masuk ke kamar itu. Kamar itu dipenuhi pajangan ilmu pengetahuan. Sangat berbeda dengan kamar Haura yang di penuhi mainan dan berantakan. Dia curhat pada Deena kembarannya kebetulan Deena masih belajar. Walaupun Haura dan Deena kembar tapi wajah mereka tidak mirip. Haura duduk di ranjang sambil memeluk boneka beruang milik Deena sementara Deena sedang belajar di meja belajarnya.
"Deena, aku mau curhat"ucap Haura.
"Curhat a....pa kak?"tanya Deena.
Deena anak terakhir yang dilahirkan Cinta. Jadi dia menjadi bungsu dari tiga bayi kembar yang dilahirkan Cinta. Alea anak kembar pertama, Haura anak kembar kedua, dan Deena anak kembar ketiga.
"Deena, aku mau dimasukkin ke pesantren"ucap Haura.
Deena bicaranya sedikit terjeda-jeda sebagian. Dia normal, hanya saja gaya bicaranya seperti itu sejak dia memasuki bangku SMP, itu disebabkan karena trauma melihat orang dipukuli di depannya.
"Seneng gimana? gak mungkinkan aku bikin onar disana, dosa tahu. Itu tempat yang suci. Aku ini penuh dosa, dan hobi membuat ulah"ucap Haura.
"Nah i...tu tahu"ucap Deena.
"Pokoknya aku gak mau ke pesantren, belum siap tobat"ucap Haura.
Setan Red: iya bener Haura, gak asyik di pesantren, siapa yang mau dikerjain, yang ada diceramahin dan didoain mulu.
Setan Bul: udah Haura mending kita kabur aja, aku selalu ada disisimu, setia nih jadi follower.
"Benar juga kabur solusi terbaik"batin Haura.
"Aku ke kamar dulu ya Deena"ucap Haura.
"Ba...ik Haura"ucap Deena.
__ADS_1
Haura keluar dari kamar Deena, dia berjalan menuju ke kamarnya. Haura membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam kamar itu.
"Apa aku harus kabur? terus gimana dengan tempat tinggal dan makanku?"ucap Haura berpikir.
Setan Red: tenang Haura aku punya solusi, di ruang kerja Papamu ada brangkas, banyak lo duitnya, lumayanlah buat hidup tahunan.
Setan Bul: udah ambil aja, happy-happy diluar sana, bebas gak ada yang ngatur, ada aku yang selalu menjagamu.
"Bener juga, aku ingat berapa sandinya, uang Papakan banyak"ucap Haura.
Haura mengambil ransel miliknya, lalu keluar dari kamarnya. Haura masuk ke ruang kerja Papanya.
Kebetulan Papa dan Mamanya sudah tidur, jadi aman terkendali. Haura langsung mendekati brangkas di ruangan itu. Dia membuka brangkas itu, ternyata begitu banyak uang seratus ribuan.
"Ambil semua gak ya?"ucap Haura berpikir terlebih dahulu.
Setan Red: udah Haura ambil aja setengahnya, udah banyak buat bekal satu tahun he...he...., sisanya pulang lagi deh ngambil.
Setan Bul: udah Haura ambil sepertiganya, jangan semuanya nanti Papamu tahu, serakah itu tidak baik loh, kamukan anak sholehah.
"Ambil semua aja deh, biar puas gak pulang-pulang lagi"ucap Haura.
Setan Red: Bul....Haura kok lebih setan dari kita ya.
Setan Bul: sepertinya kita harus belajar padanya.
Haura mengambil semua uang Rehan dimasukkan ke dalam ransel miliknya. Kemudian dia keluar dari ruang kerja Papanya itu. Haura masuk ke kamarnya kemudian tidur sampai jam 3 pagi. Setelah jam 3 pagi Haura bangun, dia menulis surat untuk Papa dan Mamanya. Kemudian Haura menggendong ranselnya keluar dari kamarnya lewat balkon kamarnya, dia turun dengan kain yang disambung hingga ke bawah halaman rumahnya. Haura naik ke pagar rumahnya dengan tangga yang ada di halaman rumah lalu dia melompat keluar dari rumah orangtuanya.
"Saatnya aku berpetualang, go....."ucap Haura.
Setan Red: kita ada disisinya sebagai penasehat kenakalanmu.
Setan Bul: tenang kalau dosa kita tanggung bersama.
Haura benar-benar meninggalkan rumah orangtuanya. Dia berpikir mungkin hidupnya akan bahagia jika tidak bersama orangtuanya. Haura menganggap orangtuanya cerewet dan terlalu mengaturnya. Dia ingin hidup bebas tanpa ada yang mengatur dan memerintahnya.
"Untuk apa bawa baju, udah bawa uang satu ransel ini"ucap Haura.
__ADS_1