
Aku menidurkan Bobo di ranjang setelah kenyang. Kakiku melangkah menuju pintu kosan, membuka pintu perlahan-lahan.
"Setan ngapain kesini? aku miskin, darahku pahit gak enak, mending ke toko sebelah deh."
Aku melihat sesosok berambut panjang acak-acakan, mukanya putih semua dan memakai daster warna putih panjang. Pasti tak salah lagi ini kuntilanak, minta aku ngamen di pemakaman. Suaraku masuk kategori merdu untuk kalangan hantu, jin dan setan lainnya.
"Setan?" Kuntikanak di depanku bicara. Dia sepertinya tak terima saat aku memanggilnya setan. Mungkin dia jin atau hantu abal-abal yang belum mahir.
"Eh kok setan suaranya kaya ibu kos ya?" ujarku. Suara familiar itu sering menceramahiku untuk bayar kosan. Mungkinkah ini arwah ibu kosan yang mati penasaran gara-gara aku nunggak bayar kosan.
"Aku memang ibu kos," jawabnya.
"Bukan kuntanaknya ibu kos ya?" tanyaku.
"Bukanlah, Aara kapan kamu bayar uang sewa kos? kamu udah nunggak dua kali," ucapnya. Ternyata sudah jadi hantu masih ingat berapa kali aku nunggak.
"Bukan hantu ya, berarti ibu kos nagih uang kos ya," batinku.
"Sama dong Bu, saya juga nunggak kelas dua kali. Impas aja ya Bu," jawabku.
"Enak aja, bayar atau kamu out?" ujarnya.
"Sabar Bu, ngomong-ngomong kenapa nagihnya malem gini? ibu gak lagi nemenin Mba kunti di tiang listrikkan?"
"Sembarangan, aku menagihmu sekarang karena kau selalu gak kelihatan batang hidungmu akhir-akhir ini." Benar juga aku memang lewat jalan rahasia agar ibu kos tak berjumpa denganku selama aku belum punya uang dan Bobo bersamaku. Repot ditanya ini itu. Bisa-bisa aku disuruh out.
"Batang hidung saya kelihatan nih Bu, mungkin ibu salah lihat."
"Maksud saya kamu gak nongol-nongol."
"Maklum Bu, belum punya uang. Tapi tenang sekarang Aara punya uang. Tunggu sebentar ya."
Aku mengambil uang yang tersisa di dalam amplop itu dan memberikannya pada ibu kos.
Tidak baik untukku menunda hutang jika aku sudah memiliki uang.
"Nah gitu dong, hampir saja saya mau nakut-nakutin kamu biar out dengan sendirinya eh kamu gak takut."
"Soal ujian fisika dan kimia lebih menakutkan dari setan Bu," ucapku. Hantu paling nakutin doang terus ilang. Sedangkan ujian fisika dan kimia gak ilang-ilang malah disuruh ngulang kalau nilaiku masih minus.
"Begitu ya, kenapa hantu gak sekalian suruh ujian fisika dan kimia, pasti jadi gak serem lagi."
"Nah itu ibu tahu, silahkan ibu kembali ke peristirahatan terakhir."
"Mati dong?"
"Bukan tapi tidur selamanya enakkan Bu."
"Heeh ...."
__ADS_1
Setelah aku membayar, ibu kosan pergi juga. Aku bisa tidur dengan tenang malam ini. Uang sewa kos sudah dibayar, susu dan popok Bobo ada. Tinggal besok gimana caranya aku ke sekolah membawa Bobo. Semoga saja aku bisa tetap sekolah meskipun harus membawa Bobo. Tak mungkin aku meninggalkannya di kosan, Bobo masih bayi. Nanti kalau haus, pup, dan takut sendirian gimana. Aku harus bisa membawa Bobo dengan aman dan terkendali.
***
Pagi itu aku memakai seragam putih abu-abu milikku. Seragam yang dari aku kelas satu sampai sekarang masih ku pakai, warnanya sudah sedikit pucat, bahannya pun mulai tipis. Aku tak punya cukup uang untuk membeli seragam baru apalagi ada Bobo. Susunya lebih penting dari seragamku. Biarlah semoga Allah memberiku rejeki lebih esok hari.
Ku siapkan semua keperluan Bobo. Dari susu, botol bayi, popok, baju bayinya dan susu yang sudah diteduh. Repot sih, tapi kini aku seorang momy kecil. Bobo sudah menjadi anakku, tanggungjawabku menjaga dan merawatnya.
Sedikit cerita, aku mendapatkan baju bayi dari tetangga kosanku yang pindah, dia memberiku baju bayi untuk Bobo, syukurlah. Kalau tidak, aku belum tentu bisa membelinya.
Tak lupa ku siapkan juga buku-buku sekolahku ke ransel. Pensil, pulpen, penghapus, pengaris, dan tidak ketinggalan plastik untuk memasukkan alat tulisku. Untuk saat ini hanya plastik sebagai tempat alat tulisku berada. Tempat pensil milikku rusak. Saat itu ada orang yang memberiku kotak pensil hanya saja ku berikan pada anak SD yang berjualan kerupuk di tepi jalan. Dia lebih membutuhkan kontak pensil itu dari pada aku.
Aku menggendong Bobo di ranselku di belakang. Dan satu ransel lagi di depan untuk buku-bukuku.
Kakiku mulai melangkah keluar dari kosan. Pagi hari seperti ini tetangga kosanku juga mulai beraktifitas. Kak Nirwana salah satu tetangga kosanku yang paling smart. Biasanya aku minta tolong padanya untuk diajari saat mengerjakan PR. Orangnya baik dan ramah. Dia seorang mahasiswi, kuliah di kota ini. Tempat tinggalnya di luar kota. Dia juga sering membagi masakannya padaku. Rasanya seperti punya kakak.
"Pagi Kak Nirwana" sapaku saat melihatnya mengunci pintu kosannya.
"Pagi Aara, berangkat sekolah ya" ucapnya.
"Iya kak, assalamu'alaikum" pamitku.
"Wa'alaikumsalam" balasnya.
Aku pergi ke rumah Ibu Haji Teti, beliau pemilik keripik-keripik yang ku jual. Orangnya baik walaupun sedikit bawel, maklum emak-emak jaman now.
"Dak tega Bu, Aara udah terlanjur sayang juga. Lagian Bobo anteng kok," sahutku. Selama beberapa hari ini memang aku tak kerepotan mengurus Bobo paling soal keuanganku masalahnya. Aku tak punya cukup uang untuk membeli susu formulanya yang mahal dan cepat habis. Tapi aku tidak akan menyerah.
"Yo wis, tuh keripik ada 50 biji. Keripik singkong, talas, ubi, kentang, sukun sama belut varian baru," ucap Ibu Teti menjelaskan. Sekarang sudah banyak varian keripik disesuaikan pasar dan para peminat. Aku tak rugi apapun jualan keripik ini. Aku hanya membantu menjualkan dan mengambil untung dari harga jual dari Ibu Teti.
"Beres Bu, doain ya laku semua, amin!" ujarku.
"Amin, biar rejekimu lancar, sekolah sing bener, itu otak diisi jangan dikosongin," kata Ibu Teti.
"Ha ha ha." aku hanya tersenyum. Bu Teti tahu aku sudah nunggak kelas dua kali, menjadi murid terbodoh di sekolah. Langganan dipanggil guru. Tapi biar bagaimanapun Bu Teti selalu baik padaku. Meskipun terkadang keripiknya tak laku, dia tetap memberiku uang meskipun sedikit. Dia bilang itu sedekah. Memuliakan anak yatim adalah keutamaan masuk surga.
Aku melangkah di antara bisingnya kendaraan yang lulu lalang. Di tepi jalan raya sambil menawarkan keripik-keripik yang ku bawa.
"Keripik ... keripik ... ada keripik talas, ubi, singkong, sukun, kentang, belut ... endos ... endos ... beli sekali langganan tiap hari, dijamin renyah dan enak!" teriakku disepanjang tepi jalan yang ku lewati.
"Neng keripik dong," panggil nenek-nenek.
"Eh ... nenek. Sehat nek? jangan mati dulu ya nek sebelum Aara sukses, nenekkan pelanggan setia," ujarku pada nenek itu.
"Mati sih eeengaaak tapi gigi nenek pada ompooong," ucapnya mulai terbata.
"Wah alamat pensiun beli keripikku dong, unfollow satu deh," ujarku pada nenek.
"Tenaang nenek masih bisa makan keripik, pakai gigi palsu boleh pinjem tetangga," katanya.
__ADS_1
"Iiiiw ... bekas orang dong nek?" ucapku.
"Ada manis-manisnya giiituu tiap make gigi palsunya," ujar nenek.
Aku tertawa terbahak-bahak. Perkataan nenek membuatku sakit perut. Tapi inilah yang membuatku semangat menjalani hari, salah satunya bertemu nenek. Beliau berusia 75 tahun. Tapi jangan salah, beliau sehat dan bugar. Masih bisa joging pagi setiap hari. Hanya giginya ompong beberapa bulan ini.
Seperti biasa nenek selalu memborong, dia membeli 20 pisis keripikku. Alhamdulillah penglaris di pagi hari. Nenek biasa membeli keripik untuk dijual lagi anaknya ke kantor tempatnya bekerja. Kata nenek itung-itung membantuku. Dia bangga padaku yang tetap sekolah dan bersemangat menjalani hari meskipun hidupku tak mudah.
Aku terus melangkah dari satu jalan ke jalan lain. Dari satu gang ke gang lain. Sembari menjual keripik-keripikku.
Tempat terakhir adalah sekolahku, SMA Kejora. Dulu saat hendak mendaftar aku mati-matian belajar untuk lolos seleksi masuk SMA itu. Kepalaku sampai pusing semalaman. Saat ibu masih ada, katanya SMA Kejora, SMA yang baik untukku. Itulah sebabnya aku berusaha supaya bisa diterima di SMA Kejora. Tapi sebenarnya aku tidak bisa mengerjakan soal psikotesnya, sampai aku gagal lolos seleksi, karena ini salah satu permintaan ibuku, aku mendatangi ruang kepala sekolah. Aku sampai memohon untuk diterima walau otakku pas-pasan. Beliau menantangku untuk membuat sesuatu yang bisa berguna untuk sekolah. Kalau bisa membuat sesuatu itu, Beliau akan menerimaku sekolah di situ. Aku berpikir keras, sesuatu yang berguna untuk sekolah. Siang sampai pukul 7 malam aku bolak balik ke sekolah. Itu ku lakukan selama beberapa hari bahkan berlangsung selama satu bulan. Sampai pada akhirnya kepala sekolah bertepuk tangan untukku. Sesuatu itu adalah sebuah tanaman. Aku menanam pohon mangga, jambu, belimbing, rambutan, jeruk, pepaya dan pisang. Selain buahnya enak dimakan, sekolah yang terlihat gersang di mataku jadi indah dan teduh saat ada tanaman. Kata Kak Nirwana pohon bukan hanya indah dan teduh. Tapi fungsinya dalam hidup kita sangat penting. Mencegah erosi, menyimpan air hujan, menghasilkan oksigen, dll. Akhirnya aku diterima juga di sekolah itu, alhamdulillah.
Aku berjalan menuju kelasku. Semua siswa menyurakiku karena menggendong bayi ke sekolah. Seakan-akan aku yang bodoh ini semakin hina. Mereka bilang "udah bodoh, otak mesum, kasihan deh punya anak haram". Aku tidak sakit hati, menganggap itu angin lalu.
Aku masuk ke kelas dengan pedenya. Sahabatku Ami dan Dodo sudah ada di mejaku. Ami dan Dodo sahabatku dari SD. Kami trio yang turun-temurun dibulli dari SD sampai SMA. Aku dibulli karena bodoh, Ami dibulli karena gendut dan berambut keriting. Sedangkan Dodo dibulli karena tubuhnya kurus ceking dan kulitnya hitam kekal. Teman-teman selalu memanggil kami trio absurd.
Aku duduk di bangku. Sambil meletakkan ransel yang berisi buku di kursi sedangkan ransel yang berisi bayi di meja.
"Lucu banget, anak siapa?" tanya Ami. Dia gemas melihat Bobo yang montok, putih dan tampan. Rambutnya juga lebat. Bibirnya merah. Tidak mirip denganku. Tentunya Ami pasti berpikir itu bukan anakku.
"Anakku," jawabku pelan.
Ami langsung memegang dahiku dengan tangannya. Dia mengira aku sedang sakit jiwa.
"Otakmu masih kosong berarti masih waras," kata Ami.
"Coba cek dengkulnya panas gak?" tanya Dodo pada Ami.
Ami segera memegang dengkulku dengan tangannya.
"Suhunya -100°C, wajar gak atau kena sawan?" ujar Ami sok tahu.
"Perlu ku sembur gak? mumpung habis makan jengkol" kata Dodo. Saran yang satu ini biasa jadi andalannya.
"Tunggu-tunggu, aku ini masih waras, lihat otakku kosong, coba suruh ngerjain soal matematika dijamin pusing," pekikku. Jelas. Soal matematika terlalu rumit untukku. Kena semprot gurunya mulu. Aneh deh, padahal aku rajin menghitung keuntungan jualan keripik tapi menghitung soal ujian matematika nol besar.
"Bener juga ya, berarti kamu masih dalam kenormalanmu," sahut Ami. Bodoh berarti normal itu parameter untukku.
"Kalau gitu kapan kamu hamilnya? kok dah nongol nih bayi. Jangan-jangan kamu nikah sama alien atau gendruwo ya?" tanya Dodo. Bisa jadi pernikahan sesama manusia memerlukan kehamilan yang berkisar selama 9 bulan lamanya. Mungkin kalau sama alien atau gendruwo lebih cepet.
"Mungkin kamu copy paste doang hamilnya ya?" tambah Ami. Ini lebih modern dari cara berpikirnya. Kenapa tidak, mungkin aku ini bepe-bepean kali ya.
Aku tertawa dengan ucapan lucu kedua sahabatku. Mereka sama-sama konyol sepertiku. Maklum trio absurd. Baru mau menjelaskan pada kedua sahabatku, tiba-tiba guru BK datang.
"Aara ke ruang BK!"
"Baik Pak," sahutku.
Aduh. Ada apa nih. Jangan-jangan aku mau diomelin. Bulu kudukku jadi berdiri.
__ADS_1