Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 102


__ADS_3

Sore itu aku dan Albern pergi menjemput Axel, Raina dan Bobo. Aku senang sekali setelah sekian lama akhirnya bisa menemui mereka. Terakhir bertemu kemarin sih di acara pernikahanku dan Albern. Bobo terlihat senang saat melihatku mengenakan baju pengantin. Dia hampir saja tak mengenaliku, tapi bilang kalau aku cantik. Meskipun kami tidak tinggal bersama tapi aku sesekali datang menemui mereka di rumah sederhana yang belum lama ini dibeli mereka. Rumah itu memiliki tiga kamar, satu ruang tamu, satu ruang tengah, ruang makan menyatu dengan dapur dan satu toilet di dekat dapur. Meskipun rumah itu tak sebesar rumah besar Keluarga Ariendra tapi rumah itu hasil jirih payah Axel selama ini.


Mobil kami melaju di jalan raya. Menuju rumah Axel dan Raina. Di jalan aku tak sabar ingin segera bertemu mereka. Khususnya Bobo. Dari masih bayi aku merawatnya. Dia spesial untukku. Sekarang Bobo sudah dua tahun. Menggemaskan dan pintar bicara ini itu.


"Sayang kau terlihat senang?" tanya Albern.


"Iya dong suamiku, aku kangen sama Bobo, Axel dan Raina," jawabku.


"Aku juga rindu mereka," sahut Albern.


"Kemarin pas kita nikah Bobo awalnya gak ngenalin aku," ucapku.


"Iya, karena kau cantik banget sayang, aku aja pangling," sahut Albern.


"Beneran?" tanyaku.


"Iya sayang, berasa pengantin baru lagi," jawab Albern.


Aku tersenyum. Namun Albern justru menciumku.


"I Love You," bisik Albern di telingaku.


"I Love You Too," sahutku.


Kami tersenyum bersama. Saling menatap. Ada cinta yang tumbuh semakin erat. Hingga kami merasa saling memiliki. Tak ingin terpisah lagi.


Tak lama mobil yang kami naiki sampai di rumah mereka. Aku dan Albern turun dari mobil. Berjalan menuju teras. Ternyata Axel, Raina dan Bobo sudah ada di teras.


"Assalamu'alaikum," sapaku dan Albern.


"Wa'alaikumsallam," sahut Axel, Raina dan Bobo yang sudah pandai berbicara.


"Bobo Momy kangen," ucapku. Kemudian menggendong Bobo digendonganku.


"Bobo kangen Momy, ada permen gak Momy?" tanya Bobo.


"Ada dong, Mommy bawa permen coklat buat Bobo," jawabku.


Untung saja aku sempat membeli permen dahulu sebelum ke rumah Axel. Bobo memang mulai suka permen. Rasanya manis dan beraneka rasa. Membuat anak kecil seusianya begitu menggilai permen.


"Nih Ayah bawa permennya," ucap Albern memberikan permen itu pada Bobo.


"Makasih Ayah," ucap Bobo.


"Pinter," sahut Albern sambil mengusap ubun-ubun Bobo.


"Pantes dari tadi Bobo seneng banget mau ketemu kamu Aara, ternyata dia pengen permen toh," ucap Raina.


"Memangnya di rumah Bobo gak makan permen?" tanyaku pada Raina.

__ADS_1


"Jarang, aku melarangnya. Habis gigis tuh gusinya makan permen mulu," sahut Raina.


"Tuh Bobo denger kata Bunda, jangan makan permen terus," ucap Albern.


"Iya Ayah," sahut Bobo.


"Jadi berangkat sekarang?" tanya Axel.


"Jadi dong, Rangga sama Adelina dah nunggu," jawabku.


"Oke, gak enak juga sama mereka, kemarin belum sempat salaman. Kami datang terlambat, sampai tempat acara sudah bubar, untung masih bisa salaman sama kau Bang dan Aara," ujar Axel.


"Gak papa, Bobokan sakit, wajar kalau kalian datang terlambat," sahut Albern.


"Iya, pagi-pagi eh demam, mau gak mau ke rumah sakit dulu, jadi kesorean datang ke acaranya," ujar Raina.


"Gak papa, kaliankan sudah berusaha untuk datang, nanti bisa ngucapin selamat sama mereka, kitakan mau ketemu," ucapku.


"Iya," sahut Axel dan Raina.


Setelah itu kami berangkat bersama baik mobil menuju taman tempat kami semua janjian. Sore itu taman bunga terlihat ramai. Banyak orang menghabiskan waktu berkumpul dengan keluarga. Taman bunga itu buka sampai jam 10 malam. Ada lampu warna warni saat malam hari. Itu sebabnya pengunjungnya ramai.


Sampai di taman, kami turun dari mobil. Menuju ke dalam taman bunga. Rangga dan Adelina sudah menggelar tikar di bawah pohon rindang. Sore itu cuacanya cerah. Angin sepoi-sepoi terasa menyegarkan. Pemandangan yang indah terbentang luas di depan mata. Bermacam-macam bunga dan berwarna-warni.


Aku dan yang lainnya menghampiri Rangga dan Adelina. Duduk bersama di tikar. Axel dan Raina memperkenalkan diri mereka. Mereka langsung terlihat akrab. Axel dan Raina juga mengucapkan selamat untuk pernikahan keduanya. Senangnya bisa berkumpul dengan sahabat dan sekaligus saudara.


"Adel kenapa?" tanyaku.


"Gak ada apa-apa kak," jawab Adelina.


Akhirnya aku menceritankan kisah hidupku dan Albern pada Adelina dan Rangga. Aku tidak ingin ada rahasia lagi. Biar bagaimanapun mereka harus tahu siapa Bobo yang sebenarnya. Dan apa hubungannya denganku dan Albern.


"Jadi Bobo anak Bang Albern dan Raina?" Adelina terkejut.


"Iya," sahutku dan Albern.


"Hubungan ini rumit Kak, kenapa Bang Albern gak tanggungjawab? Malah nikahin kakak, kasihan Raina saat hamil justru ditinggal Bang Albern, dan Axel harus bertanggungjawab atas kesalahan Bang Albern, aku gak ngerti," ucap Adelina kecewa.


"Iya, aku juga berpikir sama dengan Adel, hubungan ini rumit," ujar Rangga.


"Maaf Kak, aku merasa semua ini aneh," ujar Adelina.


Tiba-tiba Adelina berdiri. Menarik lengan Rangga meninggalkan kami. Aku menyusul mereka bersama Albern.


"Del tunggu, semua ini mungkin rumit, tapi semua sudah menjadi takdir," ujarku.


Adelina dan Rangga berhenti. Menengok ke arahku.


"Kak, masa iya, bekas kakaknya dinikahi adiknya, dan sekarang dia menikahi kakak. Abang bisa icip sana icip sini, terus Axel dapet bekasan, jujur gak masuk ke akalku," ujar Adelina.

__ADS_1


"Tapi Del ...," ucapku.


"Seharusnya kakak bilang dari awal sama Papa dan Mama, bukannya seperti ini,menutupi kesalahan suami kakak yang egois ini," ucap Adelina.


"Del, aku yang salah dan egois, kakakmu tidak bersalah, percayalah," ujar Albern.


"Iya kau memang egois Bang, mau enaknya sendiri, gak kasihan sama Raina dan Bobo," ujar Adelina.


"Aku kecewa sama kamu Bang, aku pikir kau panutan tapi ternyata...," ujar Rangga.


Mereka berdua kembali berjalan meninggalkan kami.


"Adel, Rangga," panggilku.


Mereka tak menggubris terus melangkah meninggalkan kami.


Aku dan Albern terdiam. Kami lupa menceritakan Bobo, Axel, dan Raina pada mereka. Seharusnya saat itu. Saat Albern menghadap Papa dan Mama.


Axel dan Raina yang menggendong Bobo menghampiri kami.


"Gimana Rangga dan Adel?" tanya Axel dan Raina.


"Mereka kecewa," jawabku.


"Sepertinya butuh waktu untuk mereka menerima hubungan ini," ujar Albern.


"Maafkan kami ya, membuat hubungan di antara kalian jadi begini," ucap Axel.


"Ini bukan salah kalian, ini salahku," jawab Albern.


"Salahku juga tidak cerita soal ini pada keluarga," tambahku.


Akhirnya kami hanya jalan-jalan berlima. Setelah itu aku dan Albern memutuskan pulang ke rumah besar Keluarga Ariendra.


***


Rangga dan Adelina menceritakan apa yang terjadi di taman bunga itu pada Papa dan Mama. Mereka terkejut saat mengetahui kebenaran itu. Khususnya Papa orang yang paling kecewa. Dia tak menyangka Albern tidak gentle. Melarikan diri dari tanggungjawab nya.


"Keterlaluan Albern, Papa pikir hanya buaya tapi dia meninggalkan wanita yang mengandung anaknya, bahkan adiknya yang harus tanggungjawab," ujar Papa.


"Aku juga kecewa, selama ini Kak Albern panutan, tapi ternyata lelaki brengsek yang pengecut," ujar Rangga.


"Kasihan Kak Aara harus punya suami seperti itu," ucap Adelina.


"Bukan hanya Aara, tapi Raina, sudah diperkosa, hamil, Albern tidak mau tanggungjawab, Axel yang terpaksa menanggung kesalahan yang sudah dia perbuat," ujar Mama.


"Papa harus bicara dengan mereka," ujar Papa.


Kini keluargaku sudah mengetahui kebenaran soal Albern, Raina dan Bobo. Entah apa yang akan terjadi nantinya.

__ADS_1


__ADS_2