Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 72


__ADS_3

"Kau boleh menghinaku Bos, tapi jangan menyalahkan perusahaanku. Karena kado dan bunga ini masih utuh dan bagus saat tadi diberikan padaku. Akulah yang menyebabkan jatuh," ujarku.


"Sekretaris Yeni bawa dia ke luar!" perintahnya.


"Baik Bos." Yeni menghampiriku. Mengajakku ke luar tapi aku meminta waktu sebentar.


"Meskipun wajahmu mirip seseorang yang ku rindukan tapi kau bukan dia, kau bahkan sangat menyebalkan. Aku lebih baik dimesumin olehnya dari pada bicara denganmu," ujarku padanya.


Lelaki itu hanya diam. Seolah tak peduli dengan ucapanku tadi. Biar saja, lebih baik aku ke luar dari pada darah tinggi menghadapinya. Aku duduk di kursi yang berada di lorong. Mengistirahatkan kakiku dan menurunkan emosiku menghadapi manusia menyebalkan tadi.


"Kenapa wajahnya mirip Albern? Tidak. Suamiku lebih tampan darinya, dia itu hanya mirip," ujarku. Menepis semua celah bahwa lelaki tadi suamiku. Amit-amit sikapnya yang arogant itu sangat membuat aliran darahku naik. Rasanya aku ingin muntah dan meninju pipinya. Namun tubuhku lemas yang berdaya melihat wajahnya. Mengingatkanku pada suamiku.


Ku tarik nafasku dan menghembuskannya kasar. Benar-benar membuatku jengkel. Aku menendam kekesalanku. Sudahlah percuma aku marah. Ku langkahkan kaki menuju toilet wanita di lantai 20. Aku masuk ke dalam. Mengunci pintu toilet. Duduk di WC duduk. Masih memikirkan apa yang tadi terjadi. Ku coba lupakan tapi saat aku melupakan hal itu, terdengar percakapan karyawan di luar toilet tempatku berada.


"Bos katanya baru saja dari luar negeri."


"Wajahnya jadi tampan."


"Apa benar itu Bos kita?"


"Mungkin oplas kali, jadi setampan itu."


Aku mendengar perbincangan mereka. Benar saja mungkin dia bukan Albern. Namun kenapa bisa semirip itu. Aku penasaran tapi rasa kesal masih ada dibenakku.


"Sudahlah, untuk apa aku memikirkannya," ujarku.


Aku membuka pintu. Ke luar dari toilet. Ku langkahkah kaki menuju lift. Ke luar dari perusahaan. Ternyata di depan ada Rangga dengan hoidie dan celana levis berwarna pink beserta mobil pink miliknya. Paling tidak aku melupakan kekesalanku tadi. Tersenyum melihat Rangga.


"Aara buruan," ujar Rangga.


"Memang kenapa?" tanyaku.


Aku menghampiri Rangga secepatnya. Kami berdiri berhadapan. Rangga terlihat panik.


"Rangga kenapa kau ada di sini?" tanyaku.


"Aku ke sini menjemputmu untuk makan siang bersama. Tapi ...," ujar Rangga.


"Tapi apa?" Aku penasaran dengan sahabat pinky boyku satu ini.


"Aku meninggalkan Sweety di kedai soto. Bahaya kalau kelamaan, dia bisa nambah terus," ujar Rangga.


"Kenapa kau tak bilang? Sweety susah jalan nanti, tahu sendiri pemadam kebakaran sibuk akhir-akhir ini," ujarku.


"Ayo buruan," ucapku.


Rangga mengangguk. Segera kami masuk mobil. Secepatnya pergi ke kedai soto. Di mobil aku berdesakan dengan snack yang dibawa Sweety.


"Rangga nyesel aku di belakang, nafas aja susah," ucapku.


"Snacknya Sweety, nyebelinkan. Harusnya sejak awal jangan jadi anggota geng kita. Nyusahin terus," ujar Rangga.


"Tadi Sweety duduk di sini?" tanyaku.

__ADS_1


"Mana mungkin," jawab Rangga.


"Terus di mana?" tanyaku.


"Kau tak melihat di belakang mobilku disambung sama gerobak," ujar Rangga.


"Benarkah?"


Aku penasaran. Melihat ke belakang. Benar saja. Mobil mewah disambung gerobak yang biasa ngangkut rumput untuk sapi.


"Ha ha ha." Aku tertawa. Benar-benar kedua temanku ini kocak. Mengingatkanku dengan Ami dan Dodo. Aku jadi rindu mereka. Seandainya mereka masih ada. Pasti kita super komplit absrud-nya. Lima vokalis dengan tingkat kegilaan tertinggi. Pasti dunia akan memohon ampun jika kami konser di panggung internasional.


"Aara jangan bengong," ujar Rangga.


"Oke, aku masih konek," jawabku.


Tak lama kami sampai kedai soto. Keadaan sudah ricuh. Kerumunan menjamur. Sudah jelas pasti paus terdampar di daratan. Aku dan Rangga segera turun. Tapi aku terkejut melihat Rangga melapisi tubuhnya dengan plastik transparan tipis.


"Rangga kau kaya chiki aja," ucapku.


"Lihat kerumunan segitu banyak, ribuan milyar virus, kuman, dan bakteri pasti berpesta pora," ujar Rangga.


Aku tertawa. Cuma Axel dan Raina temanku yang normal. Sisanya abnormal. Aku juga masih setengah di antara alam normal saat bersama Axel dan Raina, setengah lagi abnormal saat bersama Rangga dan Sweety.


"Saatnya tumpas kejahatan," ujar Rangga.


"Emangnya kita satria bajahitam?" ujarku.


"Kita pahlawan kesehatan," ucap Rangga.


Aku dan Rangga masuk. Benar saja Sweet berbaring di lantai tak bisa bangun. Eh orang-orang malah tik-tokan, vlog-an dan live FB. Sweet juga malah pose bagai ikan duyung yang cantik padahal dia gak bisa bangun.


"Sweety kau masih hidup?" tanya Rangga.


"Gak bisa bangun Rangga, gak ada yang kuat narik aku, jadi artis dadakan deh," jawab Sweety.


"Huh! Kirain dia menderita malah eksis," ucapku.


Akhirnya semua aku, Rangga dan semua pengunjung membantu Sweety bangun. Meskipun melalui proses tarik-menarik yang alot.


***


Axel dan Raina sedang membungkus snack, susu kotak, permen, roti, dan camilan lainnya. Begitupun dengan souvenir. Mereka juga meniup balon dengan alat peniup balon otomatis. Semua dipersiapkan untuk ulang tahun Bobo. Mereka sudah menyiapkannya di hari spesial itu.


"Gak berasa Bobo mau ulang tahun," ujar Axel.


"Iya, Bobo udah gede," jawab Raina.


"Sayang kenapa kau terlihat murung?" tanya Axel.


"Di hari ulang tahunnya. Ayah kandungnya tidak ada," ujar Raina.


Axel merangkul Raina. Dia tahu kehadiran Albern penting untuk tumbuh kembang Bobo. Apalagi sekarang Bobi sudah pandai bicara dan mengenali siapapun yang ditemuinya.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, meskipun Abang tidak ada, aku ada di sini. Akan jadi ayah terbaik untuk Bobo," ujar Axel.


"Iya ya, kenapa aku bersedih, Aara jauh lebih sedih dariku, dia pasti sangat kehilangannya," ujar Raina.


"Jika di dunia kita tak bisa bersama, semoga diakhirat nanti kita bisa bersama," jawab Axel.


Raina mengangguk. Melupakan rasa sedihnya.


"Aara harus kita kasih tahu, minggu ini Bobo ulang tahun," ucap Axel.


"Tentu, dia yang sudah merawat Bobo selama ini," sahut Raina.


Axel mengangguk. Mereka kembali membungkus semuanya sambil menjaga Bobo yang mulai berjalan ke sana ke mari sambil mengacak apa saja dan memakan apapun yang dipegangnya.


"Bobo gak boleh, gak enak sayang," ujar Raina.


Bobo hanya tersenyum. Sambil bilang Bunda-Bunda dengan senyuman lucunya. Membuat Raina gemas lalu menggendongnya.


"Gimana Bunda mau marah, Bobo pinter merayu Bunda ya," ucap Raina.


Keluarga kecil Axel dan Raina memang sangat bahagia. Meskipun hidup dalam kesederhanaan. Karena kebahagiaan tidak melulu soal harta kekayaan. Namun rasa bersyukur membuat kita bisa menjalani semuanya dengan senyuman.


***


Malam itu aku dibawa ke lantai bawah oleh Tante Alina. Aku tak tahu kenapa, soalnya Tante Alina tidak bicara apapun. Dia hanya memintaku ikut.


Sampai di bawah. Semua gelap. Aku pikir mungkin mati lampu. Tapi Tante Alina terlihat tenang. Dia juga terus merangkulku menuju ruang keluarga. Aku bingung kenapa? Ku langkahkan kaki mengikuti arahan Tante Alina. Saat sampai ruang keluarga, tiba-tiba lampu nyala, potongan-potongan kertas berwarna-warni bertaburan dari atas. Semua anggota Keluarga Ariendra ada di ruangan itu. Ada apa ini? Mereka tersenyum padaku.


"Tante Alina ada apa? Kenapa semuanya ...?" tanyaku.


"Selamat datang di Keluarga Ariendra, Aara!" teriak semua orang.


Aku terkejut. Kenapa mereka mengucapkan selamat. Bahkan satu persatu anggota keluarga menyalamiku, memelukku dan mengatakan kalau aku ini anak Tante Alina dan Om Farel.


Aku tidak mengerti. Semua seperti mendadak. Baru saja aku masuk di keluarga ini. Dan tiba-tiba mereka bilang aku adalah bagian keluarga ini. Aku tak paham.


"Tidak, pasti ini salah," ujarku.


"Tidak Nak, kau putri Mama, Areska Alzahra," ujar Alina.


Aku menggeleng. Semua ini seperti mimpi. Tapi kenapa aku belum juga terbangun.


"Tidak, aku ini anak bapak dan ibuku, kalian pasti salah," ujarku.


"Kau putriku Nak," ujar Tante Alina sambil memegang tanganku.


Aku menggeleng. Melepas tangannya. Aku berlari meninggalkan mereka semua. Berlari naik ke tangga. Sampai ke lantai tiga. Masuk ke kamarku. Aku mengunci pintu. Duduk di bawah pintu sambil menangis.


Di lantai bawah Tante Alina terlihat sedih melihatku yang belum bisa menerimanya sebagai ibuku. Om Farel memeluknya. Menenangkannya begitupun anggota keluarga lainnya.


"Alina biar Mama yang bicara dengan Aara," ucap Cinta.


Alina mengangguk. Segera Rehan mengantar Cinta naik ke lantai tiga naik lift. Mereka mengetuk pintu kamarku.

__ADS_1


"Aara, nenek mau bicara," ucap Cinta.


__ADS_2