Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 52


__ADS_3

Mereka terdiam. Seolah mereka semua mengetahui kejadian itu.


"Aku murid yang paling gemuk di sekolah, berjalan saja sulit, kalian selalu membulliku. Tapi bullian kalian yang terakhir itu sangat tidak lucu. Kalian ingat?" tanyanya.


"Kau Deril Andika, teman sekelas kami saat SMP?" Salah seorang siswa tahu siapa lelaki yang mengenakan hoodie itu.


"Deril."


"Betul, ternyata kalian ingat. Saat itu aku pulang sekolah, tak ku sangka kalian sudah bekerja sama untuk membulliku di jalan yang sudah kalian sepakati bersama. Aku seperti sampah yang kalian olok-olok, kalian pukul, dan perlakukan seenaknya. Namun yang membuat hatiku sakit, ketika Anita datang menolongku, kalian justru mendorongnya hingga Anita tertabrak mobil, dia harus menderita seumur hidupnya karena muka dan kakinya cacat. Karena semua penderitaan itu, dia mengakhiri hidupnya. Kalian membuatku kehilangannya," ungkapnya.


"Maafkan kami Deril." Mereka meminta maaf bersamaan.


Lelaki mengenakan hoodie itu tertawa.


"Maaf, setelah semuanya? Mudah sekali, apa Anita akan kembali?" tanyanya.


Mereka terdiam. Apa yang dulu sudah dilakukan mereka memang sudah keterlaluan.


"Nikmati pembalasan ini, kalian harus merasakan apa yang kurasakan," ujarnya.


"Ampun Deril." Mereka meminta pengampunan.


Deril tak menggubris kemudian ke luar dari aula. Dia mencari siswa yang tersisa. Deril menuju ruang kelistrikan. Dia menemukan tiga siswa berada di ruangan itu. Deril hanya mengunci ruangan itu.


"Yah kita terkunci Bro."


"Gimana dong, mana gelap."


"Sepertinya sambungan kabelnya sengaja diputus."


Mereka terperangkap di dalam. Deril berjalan di lorong sambil membawa bensin. Dari belakang Axel mengikutinya.


"Mau apa? Aku tak punya urusan denganmu." Deril berhenti, berbalik ke belakang, menatap Axel.


"Aku yang punya urusan denganmu, kenapa kau lakukan semua ini?" tanya Axel.


"Bukan urusanmu," ujar Deril.


"Bukan urusanku? Kau sudah mengacaukan kemah kita, membuat keributan, dan mencelakai teman-temanku, itu bukan urusanku?" tanya Axel.


"Aku tidak akan melukai orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya denganku, itu sebabnya aku tak melakukan apapun padamu, tapi ternyata kau pintar, ku pikir kau sudah terlelap," ungkap Deril.


"Bebaskan mereka! kita bisa bicara baik-baik," pinta Axel.


"Mereka akan mati bersamaku menyusul Anita," ujar Deril.


"Kau sudah keterlaluan," ucap Axel. Dia maju ke depan menonjok Deril namun ditahan tangannya. Mereka baku hantam. Hingga Axel terjatuh ke lantai.


Bruuug ...


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan ikut campur urusanku!" ancam Deril.


Axel tak menggubris, dia bangun dan melawan Deril kembali. Mereka baku hantam kembali, tapi Axel tetap kalah, kali ini Deril tak bisa menahan amarahnya, dia mengeluarkan silet hendak menusuk Axel, namun terdengar suara yang memanggilnya.


"Patrick hentikan!" teriak Raina berlari ke arah mereka berdua. Tangan Raina menarik silet, Deril tak mau melepas siletnya hingga menusuk lengan Raina.


"Aw ...," ucap Raina sambil memegang tangannya yang terluka.


"Raina!" teriak Axel. Dia mendekati Raina. Mengambil tangan Raina yang berdarah.


"Raina, kau terluka," ujar Axel.


"Tidak apa-apa, asalkan kau selamat," ucap Raina.


Mata Axel berbinar. Dia melihat ketulusan Raina nencintainya. Raina tak peduli terluka asal Axel selamat.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Axel.


Raina mengangguk. Mereka tersenyum bersama.


Proook ... proook ... proook ...


"Sebenarnya aku paling tidak suka harus menghabisi orang yang tak bersalah, aku sengaja menculik Raina agar dia aman dari pesta pembalasanku, aku mengunci Aara, Ami, Dodo, Mimin, dan teman-teman lainnya yang tak ada sangkut pautnya dengan pembalasanku agar mereka tak terluka, namun penghalang tetap harus disingkirkan, sekalipun itu romeo dan juliet," ujar Deril.


"Patrick, atau Deril, ku mohon hentikan ini semua, kau hanya akan membuat dirimu bersalah nantinya, pembalasan bukan cara yang tepat untuk menghentikan semua ini," ucap Raina.


"Kau hanya akan menyakiti orang yang tak berdosa, kamu semua akan tetap menghentikanmu!" ujar Axel.


Di sisi lain, Albern yang tadi datang bersama Raina, berjalan beda arah, dia mencariku. Dia menemukanku di dalam ruangan guru karena melihat kepalaku yang nongol di lubang udara toilet guru.


"Sayang," panggil Albern.


"Suamiku," ujarku.


"Kau bisa jatuh, turunlah! Aku akan menangkapmu," kata Albern.


Aku mengangguk. Segera ke luar dari lubang sempit itu dan melompat ke bawah.


Bruuug ...


Aku berada di tangan Albern. Memeluknya, hatiku kini merasa aman, ada Albern.


"Suamiku, terjadi kerusuhan di sini, tadi ...," ucapku.


"Aku sudah tahu, Raina menceritakan semuanya padaku," kata Albern.


"Raina? Dia sudah ketemu?" tanyaku.


"Iya, nanti aku ceritakan lengkapnya, sekarang kita harus menghentikan Deril," ucap Albern.


"Deril siapa?" tanyaku.


"Patrick? kenapa dia?" tanyaku.


"Nanti kau akan tahu," jawab Albern.


Aku mengangguk. Albern menurunkanku. Dia memberiku kunci sekolah untuk membebaskan semua siswa yang terperangkap, sedangkan dia akan pergi mencari Deril.


"Hati-hati suamiku, kau harus selamat!" ujarku sendu.


Albern membelai pipiku, menciumku sesaat.


"Aku pasti kembali sayang, percayalah, kau masih punya hutang malam pertama padaku," ucap Albern menggoda di saat genting.


"Suamiku kau masih ingat aja," sahutku malu.


"I Love You," bisik Albern.


"I Love You Too," sahutku.


Albern berjalan meninggalkanku, sedangkan aku mengerjakan tugasku untuk membebaskan semua siswa yang terkurung. Pertama ku buka ruang guru, kemudian aku, Ami dan Mimin berpencar ke perpustakaan, aula dan ruang kelistrikan.


Ami ke aula, Mimin ke ruang kelistrikan dan aku ke perpus. Mimin membuka pintu ruang kelistrikan.


"Astagfirullah kuntilanak."


"Ampun, mohon kunci kembali, lebih baik terkunci dari pada bertemu kuntilanak."


"Maaf aku gak nyembunyiin anakmu."


"Jangan suruh aku nyisir rambutmu, gak sanggup."

__ADS_1


Mereka bukannya senang ditolong malah ketakutan melihat Mimin.


"Aku Mimin, bukan kuntilanak," ujar Mimin.


"Masa? Mimin lebih jelek darimu, kalau ini mah lebih cantik."


"Lebih putih lagi."


"Rambutnya bagusan ini dari Mimin."


"Udah ya, Mimin memang jelek tapi hati Mimin hello kitty, lihat saja, Mimin mau membebaskan kalian meskipun Mimin takut kegelapan," ungkap Mimin.


"Ini beneran Mimin?"


"Iya," jawab Mimin.


"Kalau gitu, selamanya aja begini Min, lebih cantik."


"Ha ha ha." Mereka tertawa.


"Udah bercandanya, nyawa kita terancam, sekolah akan dibakar," ujar Mimin.


"Apa?"


"Ayo ke luar dan amankan diri," ujar Mimin.


Mereka mengangguk. Segera ke luar dari ruangan itu. Di lain tempat, aku membuka pintu. Teman-teman yang di dalam, berdiri di atas lemari perpus ketakutan.


"Teman-teman," panggilku.


"Siapa?"


"Aku Aara," jawabku.


"Aara hati-hati ada ular berbisa."


"Ular berbisa?"


Salah satu dari mereka menceritakan apa yang terjadi. Aku berjalan sambil mendengarkan apa yang dia katakan.


"Ayo ke luar, pintu sudah ku buka," ujarku.


"Iya."


Mereka turun dari lemari, berhati-hati. Satu persatu ke luar, tinggal aku yang belakangan. Tiba-tiba kakiku terpatuk ular.


"Aw ...," ucapku kesakitan.


"Aara." Salah satu teman menghampiriku.


"Kakiku," sahutku.


"Ayo ke luar, ularnya ada di situ."


Aku mengangguk, segera ke luar. Teman-teman menolongku. Mereka mencarikanku tempat duduk.


"Gimana ini, Aara dipatuk ular?"


"Bisanya bisa menjalar."


"Ikat betisnya."


"Hanya itu cara satu-satunya untuk saat ini."


Mereka mengangguk. Salah satu dari mereka mengikat kakiku.

__ADS_1


"Kita harus segera membawa Aara ke rumah sakit."


Aku menahan rasa sakit saat mereka mencari berbicara. Di pikiranku hanya ada Albern dan Bobo, aku takut pergi meninggalkan mereka


__ADS_2