Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 89


__ADS_3

Siang itu Albern makan siang bersama Keluarga Ariendra. Dia duduk di sampingku. Papa, Mama, Rangga dan Adelina ada di ruang makan. Ini pertama kalinya Albern makan bersama dengan keluargaku. Papa meminta Albern untuk memperkenalkan diri pada anggota keluarga kami.


"Assalamu'alaikum," sapa Albern.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


"Saya Albern Alison. Suaminya Aara Amelia, senang bertemu dengan kalian semua," ucap Albern.


"Apa?" Rangga dan Adelina terkejut. Mereka baru kali ini bertemu Albern. Ternyata apa yang kemarin ku katakan benar.


Setelah Albern mempwrkenalkan diri. Papa meminta yang lainnya memperkenalkan diri. Rangga dan Adelina juga memperkenalkan diri mereka. Kemudian makan siang bersama.


Aku dan Albern naik ke lantai atas usai makan. Tinggal Rangga dan Adelina yang masih duduk terdiam bersama Papa dan Mama. Mereka tampak ingin menyampaikan sesuatu namun ragu.


"Rangga, Adel, kenapa? Masih ingin makan?" tanya Papa.


Keduanya menggeleng. Membuat Papa dan Mama bingung. Apalagi wajah mereka tegang seperti orang yang sedang didakwa.


"Terus kenapa? Ada masalah?" tanya Mama.


Keduanya menggeleng kembali. Papa dan Mama jadi semakin bingung. Tak biasanya mereka seaneh itu. Apalagi Adelina yang terbiasa demokratis dan terbuka. Dia selalu menyampaikan uneg-unegnya dan meminta nasehat pada orantuanya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi di kampus?" tanya Papa.


Keduanya menggeleng. Ada yang ingin disampaikan tapi sulit diucapkan.


"Soal perjodohan Rangga dan Aara?" tanya Mama.


"Tenang rencana perjodohan itu sementara ini batal, karena Aara sudah punya suami," ucap Papa.


Mereka berdua tersenyum gembira. Membuat Papa dan Mama juga makin bingung. Tadi tegang sekarang senyum.


"Kalian kenapa sih?" tanya Mama.


Adelina melihat ke arah Rangga. Begitupun dengan Rangga yang melihat ke arah Adelina.


"Kak Rangga," ucap Adelina.


Rangga mengangguk. Seolah tahu apa yang diinginkan Adelina. Dia menarik nafas terlebih dahulu lalu mulai bicara.


"Begini Pa,Ma, sebenarnya aku dan Adelina ...," ucap Rangga sedikit ragu.


"Kamu dan Adelina kenapa?" tanya Papa.


"Kalian kenapa?" Papa dan Mama jadi mengkhawatirkan mereka berdua. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Aku dan Adelina saling mencintai," ujar Rangga.


"Apa?" Papa dan Mama terkejut. Baru tadi pagi terkejut karena berita pernikahan ku dan Albern yang terkesan dadakan. Sekarang harus senam jantung kembali dengan pengakuan Rangga dan Adelina. Sepertinya hari ini hari untuk menyiapkan mental.


"Iya Ma, aku dan Kak Rangga saling mencintai," ucap Adelina.


"Kalian serius?" tanya Papa.


"Serius Pa, hari ini dinikahin juga Rangga mau," jawab Rangga.


Adelina menepuk paha Rangga.


"Kak Rangga," ucap Adelina malu langsung membahas pernikahan. Hubungan mereka saja belum tentu direstui kedua orantua mereka apalagi pernikahan.


"Hari ini Papa dan Mama benar-benar seperti tersambar petir, berita yang sangat menghebohkan didengar secara bergantian," ujar Papa.


"Iya Mama juga merasa semua ini datang bersamaan," sahut Mama.


"Maaf Pa, Ma, tapi kami hanya ingin kalian tahu biar hubungan ini tidak terus menerus disembunyikan," ujar Rangga.


Papa dan Mama terdiam. Mereka memikirkan apa yang diungkapkan kedua anaknya. Membuat Rangga dan Adelina khawatir. Takut hubungan keduanya ditentang.


"Beri waktu Papa dan Mama untuk berpikir dulu, besok pagi Papa dan Mama akan memberikan jawabannya," ucap Papa.


Rangga dan Adelina mengangguk. Mereka tahu ini terlalu dadakan. Selama ini Rangga dan Adelina kakak adik, akan sedikit aneh jika mereka jadi pasangan. Itu sebabnya Papa dan Mama minta waktu untuk berpikir dahulu.


"Gimana kalau Papa dan Mama tidak setuju Kak Rangga?" tanya Adelina.


"Berarti kita harus perjuangkan, jangan menyerah kaya Aara dan Kak Albern," jawab Rangga.


"Iya, aku dengar dari Kak Aara, Papa memberi tantangan pada Kak Albern agar bisa membuktikan cintanya pada Kak Aara," sahut Adelina.


"Kita juga harus bisa seperti mereka, berjuang dan jangan menyerah," ujar Rangga.


"Iya, Adel maunya jadi istri Kak Rangga," ucap Adelina.


"Kak Rangga cuma cintanya sama Adel, jadi kita harus bisa menikah," ungkap Rangga.


"Iya, kita harus menikah," jawab Adelina.


Keduanya yakin apapun keputusan besok. Mereka akan tetap berusaha bagaimanapun caranya.


Malam itu Papa dan Mama duduk di ranjang. Menyandarkan punggungnya di headboard. Mereka mengobrol santai soal masalah anak-anaknya.


"Pa besok Albern akan dikirim ke panti sosial?" tanya Mama.

__ADS_1


"Iya, semua itu demi membuktikan kesungguhan Albern pada Aara," jawab Papa.


"Di sana banyak wanita malam, apa Albern bisa melewati banyak godaan?" tanya Mama.


"Dia itukan buaya sebelumnya, dengan ditempatkan dihabitatnya akan menguji seberapa mampu dia bertahan dan setia," ucap Papa.


"Papa cerdas, ternyata itu tujuan Papa mengirim Albern ke sana," sahut Mama.


"Iya, Papa gak mau nantinya anak kita menderita, kita harus memastikan apakah Albern serius atau main-main," ujar Papa.


Mama mulai mengerti kenapa Papa harus mengirim Albern ke panti sosial. Semua itu untuk membuktikan keseriusan Albern padaku.


"Terus Pa, gimana dengan Rangga dan Adelina?" tanya Mama.


"Itu juga yang sedang Papa pikirkan," jawab Papa.


"Papa ragu?" tanya Mama.


"Iya, sebelumnya mereka kakak adik, apakah ini memang perasaan cinta atau hanya karena mereka ingin bersama terus," ujar Papa.


"Terus apa yang akan Papa lakukan pada mereka?" tanya Mama.


Papa terdiam. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Papa untuk Rangga dan Adelina.


Pagi itu kami sarapan seperti biasa. Hari ini Albern akan pergi ke panti sosial. Aku berharap Albern bisa melewati semuanya. Agar kami bisa berkumpul lagi. Di ruang makan semua makan dengan lahap seperti biasa. Tak ada pembicaraan di saat kami makan begitupun setelah makan. Papa memintaku mengantar Albern sampai teras. Aku mengangguk. Dan mengantar suamiku sampai teras. Kami berpelukan sesaat.


"Jaga dirimu baik-baik di sana suamiku," ucapku.


"Iya sayang, akhir pekan aku pasti datang," ujar Albern.


"Iya, aku akan masak enak untukmu," sahutku.


"Doakan, semoga semua berjalan lancar," ucap Albern.


"Iya, amin," sahutku.


Albern mencium keningku sebagai tanda perpisahan. Kemudian perlahan berjalan meninggalkanku. Aku melambaikan tangan saat dia masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati," pekikku sebelum mobil melaju.


Albern mengangguk. Mobil pun pergi. Meninggalkan rumahku.


Di ruang makan Rangga dan Adelina terlihat tegang. Mereka menunggu jawaban Papa dan Mama.


"Rangga, Adel, kalian siap dengan apa yang akan Papa katakan?" tanya Papa.

__ADS_1


Mereka semakin tegang. Tak tahu apa yang akan dikatakan Papa. Setuju atau justru sebaliknya.


__ADS_2