Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 50


__ADS_3

Malam itu aku membereskan keperluanku berkemah sambil bermain dengan Bobo yang sudah pandai tengkurep bolak balik. Dia juga sudah pandai mengoceh dan merespon apapun baik suka atau tidak. Tak lama Albern datang. Dia baru saja pulang namun sudah mandi di kantor. Penampilannya juga sudah santai. Hanya mengenakan celana sport dan T-shirt. Suamiku terlihat tampan, dia memang pantas jadi buaya. Aku tersenyum padanya.


"Sayang kenapa senyum-senyum? wasih waraskan?" tanya Albern.


"Suamiku kau tampan sekali, jangan buat aku malas berpisah besok," jawabku.


Albern duduk di sampingku membantuku membereskan keperluanku.


"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, nanti kalau kerjaanku sudah selesai, aku menyusul ke sana oke," sahut Albern.


"Tidak perlu, nanti aku malu kalau suamiku ada di sana," ucapku.


Albern langsung menarikku dipelukannya.


"Untuk apa malu, justru aku ingin bersamamu," bisik Albern.


"Oke, tapi jangan dekat-dekat," ujarku.


"Yang bener? kau tak rindu," tanya Albern.


Aku memegang kedua pipinya dengan kedua lenganku.


"Aku rindu, aku ingin bersamamu," ucapku.


Kami hendak berciuman namun Bobo justru berteriak kencang. Membuat kami terkejut.


"Bobo cemburu tuh," ujar Albern.


"Iya, Bobo mau diperhatiin Mommy dan Papinya," ucapku.


Segera ku angkat Bobo duduk di pangkuanku. Dia mengoceh dan tersenyum membuat kami gemas. Ku ciumi pipinya dan Albern mengelus kepalanya. Mengajaknya bicara. Hidupku terasa lengkap ada Bobo dan Albern.


***


Pagi itu aku berangkat sekolah membawa ransel berkemahku. Dodo dan Ami yang baru datang menghampiriku. Mereka lebih heboh dariku. Dodo seperti tukang perabot sedangkan Ami seperti tukang jualan sayur.


"Kalian ini mau berkemah atau jualan sih?" tanyaku.


"Kemahlah, perabot-perabot ini berguna mengusir ganguan setan dan berfungsi untuk masak, mandi, wadah makanan, dan dijual juga, untung," ujar Dodo.


"Lebih untung aku, bawa sayuran, pasti semua yang ikut kemah membutuhkan asupan yang seimbang, sayuran ini bisa meningkatkan stamina dan gizi mereka," ucap Ami.


"Nyusahin diri sendiri, tugas aja banyak, ini malah mau jualan," kataku.


"Biarin, ini namanya prinsip cepat kaya di kala terjepit," ujar Dodo.


"Nah betul," jawab Ami.


Kami terus berjalan menuju belakang sekolah. Di sana semua siswa kelas 3 IPA 1 sudah berkumpul. Kebetulan kelas kami mendapatkan jadwal minggu ini berkemah, bergantian dengan kelas lainnya. Kami mulai memasang tenda. Beberapa orang merapikan lingkungan di sekitar tenda.


"Kalian denger tidak, katanya hantu Mayang penasaran."


"Ah masa, denger dari siapa?"


"Itu Pak Amin, semalam pas mau keliling di sekolah, eh ada ..."


"Udah, gak usah ngomongin hantu, kasihan Mayang udah tenang di sana, mungkin Pak Amin salah lihat," ujarku.


Mereka mengangguk. Semenjak kematian Mayang memang santer gosip yang aneh-aneh. Termasuk hantu Mayang.


Seharian kami mendapatkan tugas ini itu untuk meningkatkan belajar kami. Malam harinya usai makan kami beristirahat ke tenda masing-masing. Aku satu tenda dengan Ami dan empat orang teman kami.

__ADS_1


Baru pukul 12 malam, lampu mati. Semuanya gelap. Kami ke luar dari tenda. Menuju api unggun.


"Loh kok api unggunnya mati?" ujar Ami.


"Iya, yang jaga di luar juga pada tidur."


"Bangunin!"


Salah satu dari kami membangunkan guru dan siswa yang jaga di luar tenda. Namun mereka seperti orang pingsan, tak sadarkan diri.


"Gak merespon."


"Coba ke tenda lainnya," usulku.


Kami menuju tenda terdekat dari posisi kami berpijak.


"Sari, Indah, Nuri, ...." Kami memanggil teman yang ada di dalam tenda. Tak ada jawaban. Saat kami masuk. Ternyata mereka tertidur layaknya orang pingsan.


"Sialan semuanya pingsan."


"Apa mereka tidur kaya orang mati?"


Salah satu dari teman kami datang menghampiri kami berempat.


"Guru dan beberapa teman pingsan, aneh deh."


"Yang bener?" tanyaku.


"Iya, beberapa siswa tadi dapet tugas dari guru dan belum kembali, sebagian siswa ada di perpus."


"Bukannya malam ini kita seharusnya tidur ya, tugas sudah selesaikan?" ucap Ami.


"Terus temen kelompokmu mana?" tanyaku.


"Tadi aku di suruh mencari teman lainnya, kami sedang mencari bantuan untuk menyalakan listrik kembali."


"Aara jangan-jangan hantu Mayang?" ujar Ami.


"Mi jangan aneh-aneh," ucapku.


Kami semua jadi sedikit takut. Area di sekitar tenda sepi dan sunyi. Sebagian siswa dan guru tertidur seperti orang pingsan, sebagian lain entah ke mana.


"Coba telpon guru lainnya atau bantuan," ujarku.


"Handphone kita semuakan sudah disita guru pagi tadi."


"Oiya aku lupa," jawabku.


"Apa kita berpencar, sebagian ke perpus, sebagian cari siswa lainnya, dan sebagian mencari guru," usulku.


"Takut."


"Jangan takut, kalau kita berdiam diri, siapa yang akan ..."


"Hi hi hi." Suara perempuan seperti hantu dan sosok putih melayang.


"Aaaaaa ...." Kami ketakutan. Sebagian teman-teman berlari ke sana ke mari terlencar. Aku ditarik Ami berlari juga.


"Aara buruan kabur, ada hantu Mayang."


"Mi masa ada hantu sih, aku gak percaya," elakku.

__ADS_1


"Dari kemarin aku juga udah ngerasa kemah kita bakal tragis, pertama Raina hilang, Mayang mati, sekarang kita ..."


"Udah Mi, Insya Allah kita semua selamat," ucapku.


Kami terus berlari. Sampai ke depan gerbang sekolah. Anehnya gerbang terkunci. Tak bisa dibuka. Mana gelap gulita.


"Aara, gerbang dikunci dari luar," ujar Ami.


"Apa kita ke ruang guru, mungkin saja ada guru di sana," usulku.


Ami mengangguk. Kami berlari ke ruang guru. Suara teriakkan siswa lainnya terdengar di telinga kami.


"Ruang perpus Aara, apa kita ke sana?" tanya Ami.


"Kita ke ruang guru, baru ke ruang perpus," jawabku.


Tak sengaja kami bertubrukan dengan Patrick.


"Patrick," ucapku dan Ami.


"Aara, Ami, mau ke mana?" tanya Patrick.


"Kami mau ke ruang guru," jawabku.


"Sama," sahut Patrick.


"Untung ada Patrick, bisa barengan," ujarAmi.


"Ya udah, ayo!" ajakku.


Patrick mengangguk. Kami berjalan ke ruang guru.


Baru aku dan Ami masuk ke dalam, tiba-tiba kami terkunci di dalam ruang guru, Patrick masih tertinggal di luar, berusaha memanggil kami dari jendela kaca.


"Aara, Ami,"panggil Patrick.


"Patrick, Patrick," panggilku dan Ami sambil menepuk jendela kaca.


Patrick coba mendobrak pintu tapi tak bisa. Dia kembali ke jendela kaca.


"Aku cari bantuan dulu," ujar Patrick.


Kami mengangguk.


Patrick meninggalkan kami. Kini kami hanya berdua di dalam ruangan guru. Aku dan Ami duduk di bawah jendela kaca.


"Aara kenapa kita terjebak seperti ini?" tanya Ami.


"Gak tahu Mi," jawabku.


"Mana Pak guru, Bu guru, teman-teman," ujar Ami.


"Iya," jawabku.


"Di luar suara teman-teman tadi ...," ujar Ami.


Sreek ... sreeek ...


Suara langkah kaki mendekat. Ami langsung memelukku.


"Aara hantu Mayang," ujar Ami.

__ADS_1


__ADS_2