Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Pengorbanan dan Kerinduan


__ADS_3

Leo memeluk Zara sambil berbaring diranjang. Sesekali mencium kening Zara karena gemas, Leo masih ingin berduaan dengan Zara. Beberapa hari ini dia merasa belum ada waktu untuk berduaan dengan Zara. Untuk meminimalisir salahfaham kembali, dia berpikir harus menceritakan semuanya pada Zara.


"Zara sayang, ada yang ingin aku ceritakan padamu"ucap Leo.


"Apa Leo, Zara jadi penasaran"ucap Zara.


"Tania dititipkan dirumah orangtuaku saat dia berusia 6 tahun. Ayah Tania, Om Dirgan adalah adik kandung Ibuku. Om Dirgan bercerai dari istrinya dan pergi bekerja ke luar negeri, saat itulah Tania tinggal bersama kami. Aku dan Tania tumbuh bersama bertahun-tahun. Karena aku kasihan melihatnya selalu menangis merindukan ayah dan ibunya, aku berusaha menghiburnya dan mengajaknya bermain. Sejak saat itu kita selalu melakukan segala hal bersama. Zara kau tahu, Ibu Tania sudah meninggal saat Tania berusia 7 tahun karena sakit kanker paru-paru. Dia begitu merindukan ibunya, Leo tak tega melihatnya menangisi kepergian ibunya saat itu. Leo berusaha mengisi kesepiannya dengan mengajaknya bermain bersama dan Leo selalu berusaha menemaninya"ucap Leo.


"Kasihan juga Tania ya Leo, masih kecil sudah kehilangan ibunya dan jauh dari ayahnya, pasti dia sangat kesepian"ucap Zara.


"Itu sebabnya Leo berusaha membahagiakan Tania waktu itu. Leo ingin Tania tersenyum dan tidak menangis lagi. Walaupun dia sepupu Leo tapi Leo sudah menganggapnya seperti adik kandung Leo. Tapi....."ucap Leo.


"Tapi apa Leo?"tanya Zara.


"Tania memiliki perasaan yang lebih dari seorang saudara pada Leo. Semua perhatian dan kasih sayang Leo padanya membuatnya jatuh cinta pada Leo. Zara sayang mungkin ini terdengar aneh dan tak mengenakkan hatimu tapi inilah yang terjadi. Dari kemarin Leo memikirkan masalah ini, itu sebabnya Leo belum bisa cerita pada Zara. Leo bingung harus gimana menceritakan hal ini pada Zara"ucap Leo.


"............"Zara terdiam mencerna perkataan Leo.


"Apa kau kecewa Zara?"tanya Leo.


"Tidak"ucap Zara singkat.


"Zara dapat memahami keadaan yang dirasakan Tania. Saat dia kesepian dan sendirian kehadiran Leo saat itu mungkin membuatnya merasa bahagia dan nyaman sehingga muncul perasaan lebih pada Leo" ucap Zara


"Leo baru tahu kalau Tania mencintai Leo setelah membaca buku diary miliknya yang diberikan Om Dirgan. Tapi saat ini bukan itu yang terpenting. Menemani dan membuatnya bahagia disisa waktunya itulah yang terpenting sekarang"ucap Leo.


"Aku juga berpikir seperti itu Leo, yang dibutuhkan Tania adalah kehadiran kita dan membuatnya bahagia disisa umurnya"ucap Zara.


"Besok kita menjenguk Tania bersama ya, kemarin Papa dan Mama juga sudah menjenguk Tania. Leo mau mengenalkan Zara pada Tania. Dia pasti senang bertemu Zara nanti"ucap Leo.


Zara mengangguk dengan ucapan Leo sambil tersenyum. Leo langsung memeluknya semakin erat seakan tak ingin berjauhan dari Zara sedikitpun.


************


King janjian bertemu Niken dirumahnya untuk mengenal keluarga Niken. Semua ini dilakukan agar keluarga Niken tahu kalau King orang spesial untuk Niken, biar Niken gak dijodohin sama orang lain saat King tak ada nantinya. Baru berjalan dihalaman rumah Niken, King langsung ditarik Niken ke bawah pohon dihalaman itu.


"Anak mami dengerin gue biar Lo aman. Diantara bokap, nyokap, nenek, kakak dan adik gue cuma nyokap gue yang aman didekati. Jangan sekali-kali mengiyakan permintaan ataupun tawaran bokap, nenek, kakak dan adik gue kalau gak Lo akan menyesal, inget itu"ucap Niken.


"Belum apa-apa udah ada tanda peringatan terlarang gini, perasaan gue jadi gak enak"ucap King.


"Makanya inget pesen gue tadi, apa perlu gue pasang kertas peringatan dijidat Lo biar inget terus"ucap Niken.


"Iya iya gue inget"ucap King.


Niken membawa King bertemu keluarganya. Mereka berkumpul diteras belakang rumah sedang bersantai.


"Pagi Om"ucap King.


"Pagi"ucap Pak Seno tegas.


"Siapa Niken, ganteng banget, apa mau ngapelin nenek, belum dandan nih nenek masih dasteran"ucap Nenek Kokom.


"Apa?...."ucap King kaget dengan ucapan nenek Niken.


"Udah jangan didengerin nenek pikun plus gajebo" ucap Niken.


"Siapa namamu bocah?"tanya Pak Seno sambil melotot ke arah King.


"Aduh belum apa-apa gue udah disinar laser gitu, tatapan matanya bokap Niken kaya gue tersangka aja"ucap King dalam hatinya.


"King Om"ucap King.


"Bisa bantu Om menggembala kambing?"tanya Pak Seno.


"Aduh anak mami bisa babak belur kalau ikut bokap gue yang killer, gue kodein aja biar dia gak masuk perangkap bokap gue"ucap Niken dalam hatinya.


Niken langsung menginjak kaki kiri king.


"Aw.............cewek bawel....."ucap King tidak melanjutkan lagi ucapannya saat menatap ayah Niken.


"Kau bilang apa tadi bocah?"tanya Pak Seno dengan nada keras.


"Itu Om ikan bawal lagi murah sekilo cuma 20ribu, murahkan ya Om bergizi lagi. Enak ya makan ikan bawal saus tiram"ucap King mengarang.


"Tante jadi pengen beli ikan bawal dipasar kalau memang lagi murah"ucap Ibu Tia.


"Kak King aku Dodo adik kecil Kak Niken, salaman dong, kan baru ketemu"ucap Dodo dengan senyuman manisnya.


Niken langsung menggelengkan kepala ke arah King supaya gak salaman. Tapi King gak enak melihat adik Niken begitu manis melihat ke arah King. Merekapun salaman sebagai tanda keakraban.


"Apaain ini?"ucap King mendapati tangannya kotor setelah salaman dengan Dodo.


"Tadi tanganku habis kena tai ayam belum cuci tangan, maaf ya"ucap Dodo.


King hanya meringis mendengar ucapan Dodo.


"King, mau nenek cantik masakin? pasti kamu suka masakan nenek"ucap Nenek Kokom.


"Gak usah Nek, King udah sarapan tadi dirumah, iyakan King ha...ha..."ucap Niken sambil tertawa ke arah King.


"Boleh Nek"ucap King.


"Capek deh, percuma memperingatkan dari tadi"ucap Niken dalam hatinya.


"Sekarang ikut bapak ke ladang rumput didekat sawah"ucap Pak Seno.


"Pak Niken boleh ikut?"tanya Niken.


"Ini kerjaan laki-laki, kamu dirumah aja bantuin ibumu memasak tuh"ucap Pak Seno.


King ikut Pak Seno ke ladang rumput dekat sawah.Pak Seno dan King membawa kambing-kambing itu ke ladang rumput yang luas.


"Bocah jadi laki-laki harus punya otot dan tenaga bukan hanya otak saja. Kau jaga kambing-kambing itu dulu, bapak mau ngambil air minum dulu?"tanya Pak Seno.


"Siap Om"ucap King.

__ADS_1


Pak Seno meninggalkan King untuk mengambil air minum. King mengawasi kambing-kambing yang berjumlah 25 ekor itu. Ada dua kambing yang sedang beradu satu sama lain, King menghampirinya untuk melerai.


Dug...dug...dug....


Suara tanduk dikepala kambing yang saling beradu.


"Wo....wo...jangan beradu gini, pasti merebutin cewek ya, tenang bisa diselesaikan secara damai dengan musyawarah. Gak usah sewot, tar gantian aja kawinnya, toh kambing bisa poliandri"ucap King memisahkan dua kambing itu.


Salah satu kambingnya menyeruduk pantat King yang berusaha memisah mereka.


Dug................


"Aw........nih kambing gak ada terimakasihnya, air susu dibalas air tuba nih"ucap King.


King mengambil tali dan mengikat mereka dipohon yang berbeda. Beberapa kambing lain berlarian kesana kemari berpencar.


"Selesai ini yang lain pada ngabur, jarang piknik apa ya"ucap King.


King mengejar kambing-kambing itu berlari kesana kemari sampai terjatuh berkali-kali. Bajunya kotor, robek, dan keringat bercucuran.


Sekian lama perjuangan yang melelahkan akhirnya kambing-kambing itu berhasil dikumpulkan. King langsung tepar dibawah pohon.


"Capek banget, perasaan seumur-umur baru kali ini gua kerja beneran. Demi cinta apapun dilakukan, tai kucing rasa coklat. Ini mah tai kambing dimana-mana kena baju gue juga gara-gara jatuh tadi berkali-kali"ucap King.


Pak Seno kembali ke ladang rumput dan tersenyum melihat King yang tepar dibawah pohon.


"Ini baru laki-laki, tenaganya dikeluarin beneran dan menjaga amanah dengan benar"ucap Pak Seno.


King hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Seno. Setelah berjam-jam menggembala kambing mereka kembali ke rumah, makanan sudah disiapkan dimeja makan. Niken kaget melihat King acak-acakkan, compang camping kotor, dan bau. Dia menghampiri King lalu bertanya padanya.


"Anak mami kenapa penampilanmu mendadak gembel begini, apa yang dilakukan bokapku padamu?"tanya Niken dengan suara pelan.


"Ini baru laki-laki, kerja keras beneran"ucap King.


Niken hanya tersenyum melihat King. Mereka semua mulai berkumpul dan makan.


"Ganteng makan nih masakan nenek, khusus untukmu"ucap Nenek Kokom.


"Gak usah Nek, nanti Niken makan aja"ucap Niken berusaha menyelamatkan King.


"Gak papa Niken, nenekmu sudah susah payah memasak untukku"ucap King sambil mengambil masakan yang dimasak nenek Kokom.


King mulai memakan masakan itu. Baru satu suap udah menahan mulutnya karena merasa makanan itu sangat aneh rasanya.


"Enakkan masakan nenek?"tanya Nenek Kokom.


"Iya en...nak nek"ucap King terpaksa bilang enak.


"King karena kau sudah menerimanya dari nenek maka habiskan kalau gak nenekku bisa nangis seharian"ucap Niken.


"Ini masakan apaan rasanya nano nano gini, mual perutku jadinya. Dimakan tersiksa bener ngabisinnya, gak dimakan nenek Niken bisa nangis seharian"ucap King dalam hatinya.


Selesai makan King berkenalan dengan kakak Niken yang bernama Danu, dia seorang pecinta group band. Penampilannya pun mirip vokalis band. King diajak ke kamarnya untuk mendengarkannya bernyanyi. Danu mulai bernyanyi dan King mendengarkan.


"Aduh telingaku sakit dengernya, rasanya kaya dengerin suara petir, suara bebek aja masih lebih merdu, demi Niken segala rintangan ku lakukan"ucap King dalam hatinya.


"Gimana suaraku merdu? mau dinyanyiin lagi?" tanya Danu.


"Gak usah Kak, udah bagus kok, keren dan merdu"ucap King.


"Baru kamu loh padahal yang muji gue, yang lain bilang merduan suara bebek"ucap Danu.


King hanya tersenyum dengan ucapan Danu.


Setelah seharian bersama keluarga Niken akhirnya King pulang ke rumahnya. Dia senang bisa berkumpul dengan keluarga Niken meski aneh tapi menyenangkan.


Leo dan Zara pergi ke rumah sakit bersama. Mereka menjenguk Tania diruangan perawatannya. Saat masuk Tania sedang kesakitan dengan dadanya dan sesak nafas. Leo dan Zara langsung memanggil Dokter. Mereka melihat betapa tersiksanya Tania dengan penyakitnya. Bahkan dia sangat kesakitan. Zara sampai menangis melihat Tania. Dia tahu pasti Tania susah payah menahan sakitnya selama ini. Leo dan Zara cemas menunggu diluar ruangan perawatan sampai Dokter selesai menangani Tania. Setelah Tania ditangani Dokter, dia mulai stabil. Dokter meninggalkan ruangan itu. Leo dan Zara kembali masuk ke ruangan itu. Tania terlihat lemas dan lemah. Mukanya terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca. Leo dan Zara menghampirinya.


"Tania, ini Zara istriku"ucap Leo.


"Senang bertemu Tania"ucap Zara sambil tersenyum.


Tania diam sebentar memandang Zara lalu berbicara padanya.


"Senang bertemu Zara juga"ucap Tania.


"Leo mau bicara dengan Dokter dulu ya"ucap Leo.


Tania dan Zara hanya tersenyum saat Leo meninggalkan mereka keluar ruangan itu. Keadaan diruangan itu hening baik Zara dan Tania terlihat kaku untuk memulai pembicaraan.


Zara menatap Tania yang juga melihat kepadanya. Dia coba untuk mencairkan suasana dengan memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Tania apa kau sudah makan?"tanya Zara.


"Sudah"jawab Tania.


"Tania mau minum biar aku ambilkan?"tanya Zara.


"Iya"jawab Tania.


Tania hanya menjawab singkat pertanyaan Zara.


Dia belum akrab dengan Zara karena ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung.


"Ugh....ugh...ugh....ugh....ugh....ugh...ugh...."Tania batuk terus menerus hingga mengeluarkan darah.


Tania menutupi batuknya menggunakan tangannya. Tania melihat ditangannya terdapat darah dari batuk terus menerus yang tak berhenti.


"Tania kau tak apa?"tanya Zara sambil membawakannya tisu.


Zara mengambil tangan Tania dan mengelap darah ditangan Tania. Dia juga mengambilkan Tania minum.


"Zara apa kau tak jijik?"tanya Tania.


"Kenapa harus jijik? Tania adik Leo, jadi adikku juga. Mana mungkin jijik dengan darah adik sendiri"ucap Zara.

__ADS_1


"Zara terimakasih"ucap Tania.


"Sama-sama"ucap Zara.


"Zara boleh aku meminta satu permintaan padamu, mungkin hik...hik...ini permintaan terakhir dariku padamu hik...hik...."ucap Tania sambil menangis.


"Apa Tania?"tanya Zara.


"Bolehkah aku menghabiskan sisa waktuku bersama Kak Leo hik....hik...."ucap Tania.


".........."Zara terdiam sesaat.


"Aku tahu hik....hik....ini mungkin berat untukmu hik....hik.....tapi aku tak punya banyak waktu lagi hik....hik....aku ingin bisa mengulang kenangan hik....hik....masa kecil dulu bersama Kak Leo hik...hik....."ucap Tania.


"Ugh.....ugh....ugh....ugh....ugh....ugh...."Tania kembali batuk dan mengeluarkan darah lebih banyak dari sebelumnya.


Zara langsung menghampirinya dan mengelap bibir dan tangan Tania yang ada darahnya.


"Tania, Kak Leo akan menemanimu mengulang kenangan masa kecil dulu denganmu"ucap Zara menguatkan hatinya saat berbicara pada Tania.


"Terimakasih Zara,hik....hik.....dulu aku berpikir Zara beruntung mendapatkan Kak Leo, tapi kini aku tahu, Kak Leolah yang beruntung mendapatkanmu hik...hik...kalian pasangan yang baik dan serasi hik....hik....semoga kalian bahagia dan terus bersama"ucap Tania.


Zara langsung memeluk Tania yang berbicara sambil menangis. Dia tak tega melihat kondisi Tania yang semakin memburuk. Dia bisa merasakan Tania kesulitan berbicara karena nafasnya sesak. Zara meneteskan air matanya. Dia coba lapang dada dan berbesar hati merelakan Leo menemani Tania disisa waktunya.


Leo dan Zara pulang ke rumah mereka setelah menjenguk Tania. Zara hanya diam, Leo menarik tangan Zara lalu mendekap tubuhnya dalam pelukannya kemudian mencium bibir Zara.


"Zara sayang kenapa? cerita sama Leo"ucap Leo.


"Leo....., bisakah kau temani Tania disisa waktunya?"tanya Zara.


"Kau yakin? kau tahu Tania memiliki perasaan padaku, apa itu takkan melukai hatimu Zara?" tanya Leo.


"Jujur jika aku boleh egois, aku mungkin akan menjauhkanmu dari Tania karena aku memiliki rasa cemburu. Tapi cinta takkan disebut cinta tanpa ujian, pengorbanan dan perjuangan.


Aku berpikir kenapa aku harus egois sementara Tania tak memiliki banyak waktu lagi untuk bersamamu. Pergilah ke puncak ke rumah almarhum nenekmu bersama Tania, itu permintaan terakhir Tania"ucap Zara.


"Lalu kau ikut Zara?"tanya Leo.


"Aku akan menyusul, Tania ingin mengulang kenangan masa kecilnya bersamamu"ucap Zara.


Leo langsung memeluk Zara erat-erat. Leo menangis begitupun Zara. Mereka berpelukan sambil menangis bersama. Mencintai seseorang itu mungkin mudah tapi merelakan seseorang yang kita cintai bersama orang lain itu yang sulit. Hal itu yang dirasakan Zara sekarang.


**********


Leo dan Tania pergi ke Puncak bersama. Mereka pergi ke taman bunga bersama sambil menikmati udara pagi yang begitu segar. Sejauh mata memandang dipenuhi tanaman dan pemandangan perbukitan dan pepohonan begitu indah. Leo mendorong kursi roda yang dinaiki Tania.


"Tania Kak Leo akan menangkapkanmu kupu-kupu itu ya, kau tunggu disini"ucap Leo.


Tania mengangguk dengan ucapan Leo. Beberapa kupu-kupu ditangkap Leo, dengan jaring lalu dimasukkan ke dalam toples. Setelah itu Leo memberikannya pada Tania.


"Kau suka Tania?"tanya Leo yang melihat Tania memegangi toples berisi beberapa kupu-kupu itu.


"Aku senang Kak Leo"ucap Tania.


"Tania tutup matamu, Kak Leo punya hadiah untukmu"ucap Leo.


Tania menutup matanya, Leo mengeluarkan permen lolipop dari saku celananya.


"Tania buka matamu"ucap Leo sambil meletakkan permen lolipop itu dipangkuannya.


"Permen lolipop"ucap Tania kegirangan.


"Itu permen kesukaanmu saat kau menangis Kak Leo pasti memberimu permen itu, kau ingat?" ucap Leo.


"Aku ingat, Kak Leo punya banyak cara untuk membuatku diam dan tidak menangis lagi, terimakasih Kak Leo"ucap Tania.


"Sama-sama Tania"ucap Leo.


"Ugh.....ugh....ugh.....ugh.....ugh....ugh...."Tania terus batuk dan mengeluarkan darah.


Leo langsung membawa Tania kembali ke rumah nenek Leo. Keadaan Tania semakin lemah, Leo khawatir Tania tak akan bertahan, apalagi dia memutuskan menghentikan pengobatannya.


**********


Zara berbaring diranjang kamarnya. Dia bolak balik ke kanan dan kiri. Dia tak bisa tidur memikirkan Leo. Zara meraba bantal milik Leo yang biasa ditidurinya. Seakan ada yang kurang malam itu. Biasanya Leo selalu memeluk Zara saat tidur tapi malam itu Zara tidur sendiri. Zara langsung berdiri dan membuka jendela kamarnya. Dia melihat ke langit, menatap bulan dan bintang yang berkelip. Lalu terpikir olehnya untuk menelpon Leo. Zara langsung menyalakan handphonenya dan menelpon Leo.


"Hallo Zara sayang"ucap Leo.


"Hallo Leo, aku kangen"ucap Zara jujur tentang yang dirasakan.


"Leo juga kangen sama Zara, kangen nyium Zara, meluk Zara saat tidur dan kangen melakukan yang itu"ucap Leo menggoda diakhir kalimat.


"Zara juga kangen melakukan semua itu bersama Leo"ucap Zara.


"Aku sedang didepan jendela kamar memandang langit yang dipenuhi bintang dan bulan. Berharap sang bintang dan bulan mengirimkan pesan rinduku untuk sang kekasih yang jauh dimata"ucap Leo.


"Aku juga sedang didepan jendela kamar memandang bulan dan bintang. Mengirim pesan pada angin malam agar menyampaikan salamku untuk kekasihku yang jauh disana"ucap Zara.


"Tadi bulan dan bintang bilang, kekasihku belum tidur karena merindukanku ada disisinya"ucap Leo.


"Angin malam juga bilang kekasihku kesepian disana"ucap Zara.


"Zara sayang, I Love You. Biar bulan dan bintang menghibur kesendirian kita saat ini"ucap Leo.


"Iya Leo, I Love You Too"ucap Zara.


Setelah berbicara puas dan melepas rindu pada Leo. Zara menutup telponnya, dia melihat bulan dan bintang karena Leo juga sedang melihat bulan dan bintang.


JANGAN LUPA KOMEN, LIKE, VOTE


YANG SELALU DITUNGGU AUTHOR SALAH SATUNYA KOMEN.


Jujur terkadang Author baca komen untuk mengembangkan jalan cerita novel ini. Sebagai penulis Author banyak kekurangan dan keterbatasan ilmu. Author juga bukan penulis profesional yang berpendidikan dibidangnya, mungkin terkadang masih banyak kesalahan penulisan dan bahasanya. Author masih belajar dan berusaha memperbaiki.


Bagi yang memiliki waktu ditunggu komennya ya.

__ADS_1


__ADS_2