
"Sebenarnya aku ..., aku sudah ...," ucap Raina. Dia sedikit ragu mengatakan yang sebenarnya. Ada hal yang mengganjal dalam benaknya. Sesuatu yang menyangkut hal penting dalam hidupnya.
"Raina," panggil Axel yang baru datang menghampiri Raina dan aku.
"Axel," ujar Raina dan aku terkejut. Tak disangka Axel datang disaat kami sedang berbicara serius.
"Ayo kita pulang," ajak Axel. Dia terlihat dingin menatap Raina.
"Iya," sahut Raina.
Raina berdiri, pamit padaku dan Bobo. Mencium kening dan pipi Bobo lalu pergi bersama Axel. Kali ini Axel tidak bicara apapun padaku, hanya diam dan pergi bersama Raina. Mereka berjalan di tepi jalan. Axel mendorong sepeda yang membawa es krim itu sedangkan Raina berdiri di sampingnya.
"Raina kenapa kau jualan es krim begini?" tanya Axel.
"Aku hanya ingin punya kesibukan," jawab Raina.
"Iya, tapi seharusnya kau bilang padaku dulu," ujar Axel.
"Maafkan aku Axel," ucap Raina.
"Iya, aku memaafkanmu, jangan seperti ini lagi," ujar Axel.
Raina mengangguk. Dia tahu apa yang diminta Axel untuk kebaikannya. Selama ini semua hal sudah diberikan Axel padanya, hanya cintanya yang belum diberikan padanya.
"Raina soal pernikahan kita, aku harap kau bisa jaga rahasia ini, aku tidak ingin ada yang tahu, apalagi Aara," ujar Axel. Dia tidak ingin pernikahannya dengan Raina diketahui orang lain. karena pernikahan itu hanya sebatas status untuk Raina dan anaknya.
"Iya aku tahu," jawab Raina. Dia tak berharap banyak pada Axel. Sudah menjadi istri Axel baginya sudah cukup.
Raina langsung terdiam. Padahal dia ingin Aara tahu kalau Axel suaminya tapi Axel justru melarangnya. Meskipun begitu Raina bisa memahami perasaan Axel.
"Apa kau mau makan?" tanya Axel.
"Mau," jawab Raina.
Axel mengajak Raina makan di kafe di tepi jalan.
Mereka duduk satu meja. Memesan makanan kesukaan keduanya. Tak lama pelayan mengantarkan pesanan mereka. Axel dan Raina makan bersama, tak lupa Axel memberikan makanan yang disuka Raina padanya, mengambilkan sendok dan garpu, serta sambal dan dan kecap kesukaannya. Raina senang Axel perhatian padanya
"Axel, Aara itu baik ya orangnya?" tanya Raina.
"Iya dia memang baik, dan unik," jawab Axel. Dia sudah mengenalku sejak kelas 1 SMA. Dimata Axel aku orang yang ceria, pekerja keras, dan baik.
"Dia harus sekolah sambil membawa Bobo," ucap Raina. Dia kagum padaku yang bersekolah sambil membawa bayi.
"Itu dia bedanya Aara dengan orang lainnya," kata Axel.
Raina mulai menyadari cara Axel membicarakan Aara seperti memiliki kekaguman padanya. Sebagai seorang istri dia bisa merasakan sikap Axel agak berbeda, lebih dingin padanya meski perhatiannya tetap. Dan juga tertutup.
"Apa kau suka Aara?" tanya Raina. Dia ingin mengetahui isi hati Axel sebenarnya. Raina tak ingin menjadi batu sandungan di antara hubungan keduanya.
Axel langsung terdiam. Apa yang ditanyakan Raina akan menyakiti hatinya jika Axel mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak," jawab Axel terpaksa mengatakan hal itu. Meskipun itu berlawanan dengan isi hatinya sebenarnya.
__ADS_1
"Aku berharap kau bisa mencintaiku Axel, meskipun aku ini tak pantas untukmu," ujar Raina. Dia mengungkapkan isi hatinya pada Axel. Walaupun Raina tahu Axel tidak mencintainya.
"Raina," ucap Axel.
"Selama ini pernikahan kita hanya status yang kau berikan untukku, aku ingin benar-benar jadi istrimu," kata Raina. dari pertama kali bertemu Raina sudah jatuh hati pada Axel. Bukan karena kebaikannya saja tetapi karena dia memang tertarik pada Axel yang pintar dan keren.
Axel kembali terdiam. Sulit untuk mengatakan semuanya. Di hatinya kini ada aku yang membuatnya bahagia. Dia berada di situasi yang sulit antara perasaannya dengan status yang kini dimiliki.
"Apa aku tak bisa mengisi hatimu Axel?" tanya Raina. Berharap Axel akan memberikan kesempatan untuknya.
"Aku ... aku sayang padamu Raina," kata Axel. Sebenarnya Axel tidak mencintai Raina tapi dia menyayangi Raina dan anaknya.
"Aku tak hanya butuh rasa sayang tapi cinta Axel," ujar Raina. Dia tidak ingin selamanya hanya menjadi istri statusnya Axel. Raina ingin menjadi istri sesungguhnya dan hidup bahagia bersamanya.
"Beri aku waktu, aku ...," ucap Axel. Dia ragu untuk memberikan kesempatan pada Raina. Di hatinya sudah terukir namaku.
"Kau mencintai Aara?" tanya Raina sekali lagi. Dia ingin Axel benar-benar mengatakan yang sebenarnya.
Axel terkejut, melihat ke arah Raina. Apa yang dikatakannya benar, sesuai yang dipikarannya. Tapi Axel tak mungkin memberitahu Raina bahwa dia mencintaiku dan ingin hidup bersamaku. Hubungan ini begitu rumit dan sulit untuknya.
"Raina aku dan Aara hanya sebatas teman sekelas," ujar Axel. Harus membohongi perasaannya sendiri. Dan seolah semua yang dirasakan itu tidak ada.
"Ku harap begitu, Axel jika kau sudah tak ingin bersamaku ku mohon katakan padaku, jangan memberi harapan palsu dan menjadikanku patung bagimu," ucap Raina. Lebih baik mengakhiri dari awal meskipun itu pahit daripada menjalani hubungan yang akan terus menyakiti selamanya.
"Iya," jawab Axel.
Axel tak bisa jujur pada Raina kalau dia mencintaku. Dia tak ingin hati Raina terluka, meskipun Axel tak mencintainya.
***
Mereka berdua membicarakan kerjasama bisnis.
"Bagaimana apa kau tertarik jadi ambassador dari prodak perusahaanku?" tanya Albern.
"Aku tidak tertarik, tapi ...," ucap Selia. Dia berdiri, berjalan menghampiri Albern, lalu duduk di pangkuannya. Dia meraba pipi Albern menatap wajah tampannya.
"Asal kau mau menjadikan aku kekasihmu, aku mau," ujar Selia.
Albern mendekati wajah Selia mendekatkan kepalanya di samping kepala Selia.
"Aku ini brengsek, jangan bermain api denganku," ucap Albern.
Selia menarik Albern, dia mencium bibirnya, dan meraba dadanya. Sontak Albern langsung membalas ciuman itu dengan ganas, memegang sesuatu yang membuat Selia tak tahan kemudian melepaskannya.
"Albern lakukan lagi, aku mau," ujar Selia keenakan. Dia tak tahan dengan perlakuan sang casanova yang mahir.
"Kau murahan, seperti banyak wanita yang sering ku jumpai, kau pikir aku mau denganmu?" ungkap Albern.
"Kenapa kau naif, bukankah kau sudah biasa tidur dengan banyak wanita?" tanya Selia.
Albern menurunkan Selia dari pangkuannya. Dia berdiri di depan Selia.
"Aku hanya menjadikan mereka sampah, termasuk kau. Wanita-wanita seperti kalian tak ada harganya, setelah apa yang ku inginkan terpenuhi, aku takkan pernah melirik kalian lagi," ujar Albern.
__ADS_1
"Albern," ucap Selia menegang tangan Albern.
"Selia aku ke sini untuk bisnis, bukan untuk melihatmu jadi pelac-cur," ucap Albern.
"Albern ku mohon, aku ingin menghabiskan malam denganmu," pinta Selia.
Albern menghempaskan tangan Selia.
"Aku tak perlu memintamu lagi jadi ambassador prodakku, sudah jelas kau tak layak," ujar Albern.
Usai bicara Albern meninggalkan Selia. Dia ke luar apartemennya meskipun Selia terus memanggilnya. Albern tetap melangkah tanpa menoleh ke belakang. Ini pertama kalinya dia menolak seorang wanita untuk menghabiskan malam dengannya.
Albern pulang ke rumah yang di tempatiku. Dia masuk ke dalam. Melihatku tertidur di sajadahku. Selesai mengaji aku tertidur di sajadah karena lelah, untung Bobo sudah tidur duluan. Albern menghampiriku, mencium pipiku. Membopongku ke ranjang. Aku terbangun saat tubuhku di turunkan dari tangannya.
"Tuan kau ...," ucapku.
"Panggil aku suamiku Aara," ujar Albern. Tatapan matanya penuh harap.
"Iya suamiku," sahutku.
Albern mendekat, menciumku. Ciuman sesaat yang romantis, dia menatap wajahku.
"Aku ingin hamil, gimana caranya?" tanyaku.
Albern tertawa mendengar ucapanku.
"Kenapa tertawa?" tanyaku.
"Kau yakin ingin hamil?" tanya Albern.
Aku mengangguk. Padahal aku tidak tahu resiko dari semua perkataanku. Buaya Albern tentunya menginginkan itu. Dia tak mungkin menolaknya kalau kancil dengan suka rela duduk di piringnya.
"Kalau sakit jangan nangis ya? karena kau tidak bisa menarik kembali kata-katamu," ujar Albern.
"Memang sakit kenapa? apa harus deman atau pusing gitu? kan ada Dokter, minta diresepin obat penurun panaskan?" ujarku.
Albern berbaring di sampingku memelukku.
"Sakitnya bukan semacam itu sayang, tapi sakit yang membuatmu ketagihan," ujar Albern.
"Apa rasanya seperti makan sambal, soalnya bikin nagih," ucapku.
Albern tersenyum.
"Kau yakin mau? aku sih mau banget," ujar Albern.
"Memang seperti apa?" tanyaku. Lebih baik aku tanya gambarannya dari pada rugi belakangan. Inilah penjual yang smart, menghitung kerugiaan sebelum pembeli berhutang, apalagi bayarnya nunggu gajian suami pulang dari perantauan, gulung tikar kalau begitu.
Albern menjelaskan prosesnya dari hulu ke hilir. Dari atas ke bawah, panjang kali lebar. Dari normal sampai abnormal. Sampai ranjang dijamin patah, atau retak. Sudah ku pikirkan berapa kerugian uang recehan yang akan keluar.
Setelah mendengar penjelasannya, aku langsung melepas pelukannya, membelakanginya, menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Merinding mendengar penjelasannya, ternyata begitu cara manusia berkembang biak. Kenapa tak dijelaskan dalam pelajaran biologi sejelas Albern menjelaskan. Mungkin semua murid bisa tak tidur semalaman dan mengalami ganguan setan, jin, dan mendadak gila semalaman.
Albern memelukku dari belakang. Dia tertawa.
__ADS_1
"Sayang kau takut? mau gak?" tanya Albern.