
Masih Flash Back
Erica pergi menemui teman-temannya dicafe, sudah lama sejak bersembunyi dirumah Leo, dia jarang nongkrong. Dia takut bertemu dengan Devan dan anak buahnya. Ternyata Erica tidak tahu kalau Devan dan anak buahnya ada ditempat itu. Dia duduk bersama temennya sambil bercanda gurau dan memegangi handphone miliknya. Devan menghampirinya dan mengambil handphone milik Erica.
"Seharusnya kau membayar hutangmu, kalau tidak tanggung akibatnya sendiri"ucap Devan.
"Ampun Bos, saya belum punya uang untuk saat ini"ucap Erica.
Devan mengecek handphone Erica dan melihat foto Zara dihandphone Erica.
"Cantiknya bercahaya, aku suka"ucap Devan melihat foto Zara.
"Bos kembalikan handphoneku, aku janji segera membayar hutangku"ucap Erica.
"Kau tak perlu bayar hutangmu yang sudah banyak itu"ucap Devan.
"Benarkah?"tanya Erica.
"Ya, tapi antarkan gadis difoto ini untukku besok. Aku mau dia ada diranjangku besok malam"ucap Devan memperlihatkan foto Zara pada Erica.
"Tapi"ucap Erica.
"Tidak ada tapi, kau tanggung akibatnya jika menolak kemauanku"ucap Devan.
Devan dan anak buahnya keluar dari cafe itu. Erica seketika lemas tak berdaya. Dia takut sekali dengan Devan.
"Erica sudahlah tinggal turuti saja kemauan Bos Devan"ucap Dini.
"Dari pada nanti terjadi sesuatu padamu, kau tahu Bos Devan itu bisa saja menjualmu pada germo loh"ucap Gaby.
Erica hanya diam memikirkan ucapan teman-temannya. Dia sangat takut dengan ancaman Devan. Hutangnya sudah terlalu banyak tak mungkin dia bisa melunasinya. Ini karena gaya hidup Erica yang berlebihan. Erica juga masih memiliki hutang ke bank. Hutang itu bagian dari perbuatan Nico yang menguras habis harta kekayaan ayahnya. Saat menjual rumah orangtuanya, hutang itu belum sepenuhnya lunas, masih ada tunggakan. Erica tidak memberitahu Leo karena takut tidak akan diterima tinggal dirumah Leo. Dia membiarkan hutang itu sampai jatuh tempo.
************
Leo harus pergi ke luar negeri untuk datang ke perusahaan komik yang selama ini bekerjasama dengannya. Dia akan pergi ke luar negeri selama empat hari. Selama Leo pergi ke luar negeri, Erica semakin berani pada Zara, dia bahkan mengambil perhiasan milik Zara dilemarinya.
"Kak Erica lagi ngapain?"tanya Zara.
"..........."Erica hanya diam.
Zara melihat tangan Erica yang memegang kalung milik Zara.
"Itu....Kak Erica mau buat apa?"tanya Zara.
"Gak usah banyak omong, aku lagi butuh buat bayar hutang"ucap Erica.
"Hutang?......tapi Kak itu pemberian dari Leo, kalung itu memiliki kenangan berharga untuk Zara"ucap Zara.
"Cuma kalung aja, besok juga bisa beli, aku butuh. Lagian kalian ini pelit banget sama keluarga sendiri"ucap Erica.
"Jangan Kak, aku mohon kembalikan kalungnya. Kakak butuh uang berapa? tapi kembalikan kalungnya ya"ucap Zara.
"Uangnya dulu"ucap Erica.
Zara mengambil dompet ditas miliknya. Baru mau membuka dompet, Erica langsung mengambil dompet milik Zara secara paksa.
"Kak......."ucap Zara kaget saat dompet miliknya diambil Erica.
"Lama banget sih ngambil duit aja"ucap Erica lalu membuka dompet Zara.
"Duitnya banyak begini juga, pelit amet sama aku" ucap Erica.
Zara melihat Erica mengambil semua uang didompetnya.
"Kak jangan semuanya, itu ada uang modal juga" ucap Zara.
"Oo....kamu pilih kalung ini atau uangnya?"tanya Erica.
"Kembalikan kalungnya"ucap Zara.
"Nah gitu dong, mau kalung berarti ini uang milikku sekarang"ucap Erica.
Setelah mengambil uang milik Zara, dia melempar kalung Zara ke mukanya lalu pergi keluar dari kamar itu.
"Sabar, mungkin ini ujian dari Allah SWT"ucap Zara mengelus dadanya supaya tidak terbawa emosi.
Zara mengecek lemari yang diacak-acak Erica.
Dia menemukan celengan miliknya sudah dipecahkan oleh Erica.
"Kak Erica lama-lama apa saja diambil, apa aku harus memberi tahu pada Leo nanti saat dia sudah pulang"ucap Zara.
Zara mulai tidak nyaman dengan sikap Erica yang terus-terusan meminta uang, jika tidak diberi dia mengambil apa saja dirumah Zara yang bisa diuangkan.
**********
Erica bingung hari ini dia harus membawa Zara pada Devan, kalau tidak entah apa yang akan dilakukan Devan padanya. Dia melihat Zara yang sedang menyapu rumahnya. Erica memiliki ide agar bisa membawa Zara pada Devan mumpung Leo masih diluar negeri.
"Zara bisa tolongin aku gak?"tanya Erica.
__ADS_1
"Tolongin apa ya Kak?"tanya Zara.
"Aku mau pergi ke rumah temen yang sakit tapi gak ada temennya kesana, sendirian gak asyik. Kamu mau gak nemenin aku kesana?"tanya Erica.
"Menjenguk teman sakit ya? baiklah Zara akan menemani Kak Erica kesana"ucap Zara.
"Bodoh, kau tak tahu aku akan mengantarkanmu ke ranjang Devan, maaf ya Zara dari pada aku celaka, lebih kamu saja yang super baik yang menanggungnya"ucap Erica dalam hatinya.
Erica tersenyum manis rencananya akan berjalan mulus. Dia tidak usah bingung lagi cara melunasi hutang pada Devan. Zara akan jadi pelunas hutang untuknya.
Zara dan Erica berdiri ditepi jalan menunggu taksi. Sebenarnya Erica hanya membohongi Zara untuk menunggu taksi padahal mereka menunggu mobil jemputan dari anak buah Devan. Sebuah mobil berhenti didekat Zara dan Erica berdiri. Dua orang lelaki kekar keluar dari mobil itu dan menarik Zara.
"Kalian siapa, lepaskan tanganku"ucap Zara.
"Zara cantik, jangan melawan menurutlah pada mereka, maaf ya Kak Erica gak bisa ikut. Jadi Zara pergi kesana sendiri"ucap Erica.
"Kak Erica....apa-apaan ini"ucap Zara
Erica hanya tersenyum melihat Zara ditarik tangannya oleh kedua lelaki kekar itu.
"Kak tolongin Zara, Kak"ucap Zara.
"Tolong........"ucap Zara berteriak"
Mulut Zara langsung ditutup dengan tangan salah satu lelaki kekar itu.
"Em....emm....emmm......"ucap Zara.
Erica hanya acuh dan membiarkan Zara mau dibawa ke dalam mobil oleh dua lelaki kekar itu. Bagi Erica yang penting dia bisa terbebas dari Devan.
Saat Zara mau dibawa ke dalam mobil, King dan Niken yang sedang naik mobil melihat Zara dari dalam mobilnya.
"Anak mami itu bukannya Zara ya"ucap Niken.
"Mirip Zara sih"ucap King.
"Itu Zara, minggu lalu dia memakai baju itu, mataku gak mungkin salah itu Zara"ucap Niken.
"Dia dibawa masuk ke dalam mobil itu"ucap King.
"Aduh jangan-jangan diculik lagi, terlihat dari gerak-gerik kedua lelaki itu memaksa Zara masuk ke mobil dan menutup mulutnya"ucap Niken.
"Ayo kita ikutin mobil itu"ucap King.
"Aku telpon Gerald dan Nafiza deh"ucap Niken.
King dan Niken mengikuti mobil yang membawa Zara.
Zara didorong oleh anak buah Devan hingga terjatuh dan berlutut dipangkuan Devan. Zara hanya terdiam melihat lelaki didepan matanya. Devan langsung memegang dagu Zara.
"Benar-benar cantik, mataku tak salah melihatnya"ucap Deva.
Zara langsung menampik tangan Devan yang sedang memegang dagunya.
"Siapa kau? apa maumu?"tanya Zara.
"Mauku ya bermalam denganmu cantik"ucap Devan.
"Lepaskan aku, kau tidak seharusnya begini pada wanita yang sudah bersuami"ucap Zara.
"Sudah bersuami? semakin menarik. Mengambil barang milik orang lain itu menyenangkan apalagi penuh tantangan, semangat rasanya"ucap Devan.
"Tito bawa Si cantik ini ke kamarnya"ucap Devan.
"Baik Bos"ucap Tito.
Tito membawa Zara naik ke lantai atas. Lalu dia memasukkan Zara ke dalam kamar itu dan pintu kamar itu dikunci dari luar. Zara melihat ke sekeliling kamar itu. Dia ingin mencari cara untuk bisa keluar dari kamar itu. Dia mendekati jendela kamar itu tapi terpasang tralis dijendela itu.
"Ya Allah hanya Engkau yang bisa menolongku" ucap Zara.
Zara teringat pada Leo yang sedang berada diluar negeri. Dia tidak tahu gimana caranya menghubungi Leo. Zara hanya bisa berdoa agar Allah memberinya pertolongan.
*********
King dan Niken sampai disebuah rumah besar yang dipagari tembok yang tinggi. Tak lama Gerald dan Nafiza juga sampai ditempat itu. Mereka turun dari mobil dan berbincang mengenai masalah ini.
"Kau yakin Zara dibawa ke rumah ini?"tanya Gerald.
"Yakin, iyakan cewek galak bawel"ucap King.
"Anak mami kau mau dicium pakai sandal gak? belum nyobain rasanyakan"ucap Niken.
"Ampun sayang, gak lagi deh"ucap King.
"Kasihan Zara, apalagi Leo lagi diluar negeri. Apa kita telpon Leo?"tanya Nafiza.
"Gue udah telpon Leo tadi, dia kebetulan hari ini akan pulang, kerjaannya sudah selesai disana" ucap Gerald.
"Berarti sementara Leo belum sampai, kita harus segera menyelamatkan Zara. Gue takut Zara kenapa-napa"ucap King.
__ADS_1
"Betul, aku juga berpikir seperti itu"ucap Nafiza.
"King pagarnya tinggi banget, kalau manjat juga susah. Gimana caranya masuk ya?"ucap Gerald.
"Gue punya ide"ucap Niken.
Akhirnya mereka menyusun sebuah rencana agar bisa masuk ke dalam rumah besar itu.
************
Niken dan Nafiza berpakaian khas penjual jamu. Mereka menggendong jamu jualannya dipunggungnya. Mereka berdandan secantik mungkin agar bisa menarik para lelaki. Nafiza terlihat risih mengenakan pakaian kebaya untuk atasannya dan jarik pendek sebagai roknya.
"Niken haruskah kita jualan jamu pakai baju kaya gini"ucap Nafiza.
"Akting kita harus menggoda Nafiza, jadi penampilan seperti ini sudah cocok" ucap Niken.
"Demi Zara deh, yang penting kita bisa menyelamatkan dia"ucap Nafiza.
Selesai berdandan Niken dan Nafiza diantar King dan Gerald sampai depan rumah besar milik Devan. Niken dan Nafiza berjalan kaki sambil berteriak-teriak mempromosikan jamu jualannya.
"Jamu....jamu....jamu mas"ucap Niken.
"Jamu....jamu....jamu mba"ucap Nafiza.
Niken dan Nafiza mendekati pintu gerbang pagar itu. Dia mengetuk-ngetuk tralis pagar itu dan menawarkan jamu.
"Mas jamu....mas"ucap Niken.
"Iya mas dijamu dulu"ucap Nafiza.
Beberapa anak buah Devan yang berjaga di pos satpam mendengar Niken dan Nafiza yang menawarkan jamu.
"Bro tukang jamu tuh, pegel nih badan enak kali minum jamu"ucap Amat.
"Gue juga asam urat terus dari kemarin, sembuh kali ya minum jamu"ucap Juki.
Salah satu dari anak buah Devan membuka pagar itu dan mempersilahkan Niken dan Nafiza masuk. Mereka diajak ke depan teras pos satpam. Niken dan Nafiza melihat ada lima orang anak buah Devan. Mereka mulai melancarkan rencananya.
"Mas mau jamu yang mana, jamu yang ini atau jamu yang lain"ucap Niken.
"Cih....gue mesti ngomong manis gini padahal biasa juga nyembur kaya Mbah dukun"ucap Niken dalam hatinya.
"Jamu tolak pebinor, jamu anti pelakor, atau jamu goyang dikolong jembatan juga ada mas"ucap Nafiza.
"Apa coba ini, gak ada sejarahnya jamu beginiin" ucap Nafiza dalam hatinya.
"Aduh tukang jamu kok ayu-ayu begini, semangat 45 ini mah"ucap Dudung.
"Jamu apa aja mau mba, asal jangan jamu ditolak cinta janda kaya"ucap Lanang.
"Saya jamu anti diomelin emak deh mba cantik" ucap Cecep.
"Kalau saya jamu cepet kaya tapi gak kerja"ucap Amat.
"Hih..., mana ada cepet kaya gak kerja, nunggu lilin siang malam baru bisa"ucap Niken dalam hatinya.
"Saya mau jamu yang bisa bikin ganteng maksimal mba, gak perlu operasi plastik soalnya gak punya duit. Handphone saya jadul gak bisa buat ngedit"ucap Amat.
"Ini lagi, jelek mah jelek aja, mana bisa jadi ganteng maksimal coba"ucap Nafiza dalam hatinya.
Niken dan Nafiza mulai memberikan mereka jamu sambil mengajaknya mengobrol. Tanpa curiga mereka meminum jamu yang diberikan Niken dan Nafiza. Tak lama perut mereka mules.
Prooooot......prooooot........prooooot.......
Mereka berlima pada kentut mau BAB, mereka tak tahan lagi akhirnya berlari menuju ke toilet.
Setelah kelima anak buah itu pergi ke toilet. Niken dan Nafiza membuka gerbang agar King dan Gerald bisa masuk. Gerald dan King masuk dan membagi tugas mereka.
***********
Kelima anak buah Devan mengantri ditoilet. Mereka udah gak tahan dengan sakit perut yang mencapai ubun-ubun. Segala teknik dilakukan untuk menahan rasa sakit yang meminta peluncuran segera. Tapi sayangnya antrian masih menjamur diantara mereka berempat. Hanya Amat yang sudah diposisi aman didalam tapi sudah lima belas menit belum juga keluar, padahal teman-temannya sampai yoga segala untuk menahan keinginan yang sudah tak tertahan.
"Bro gue udah dudukin batu kecil segala tapi tetep aja gak tahan nih"ucap Juki.
"Gue malah sampai nari balet segala, rasanya masih terus mendorong pintu gerbang terakhir" ucap Cecep.
"Gue sampai nonton drama Korea masih aja gak bisa nahan nih"ucap Lanang.
"Lo masih enak nonton drama Korea, gue sampai nungging berkali-kali, tetep aja ngalir ke atas" ucap Cecep.
"Tenangkan pikiran, ayo kita saling menghipnotis kali aja lupa ingatan pengen BAB"ucap Dudung.
"Udah ah gue gak tahan, mendingan dibawah pohon nangka aja"ucap Juki.
"Kalau Lo dibawah pohon nangka, gue dibawah pohon semangka aja"ucap Cecep.
"Bro mana ada pohon semangka, pohon melon baru ada"ucap Dudung.
"Ngawur, mana ada pohon melon, pohon kesemek baru ada. Udah bro dibawah pohon pisang aja biar gampang nutupinnya pakai daun pisang"ucap Lanang.
__ADS_1
Mereka terus berdebat sambil menunggu antrian ke tempat ternyaman saat keinginan BAB belum dituntaskan. Ini adalah kegiatan yang tidak bisa ditahan apalagi diwakilkan. Mereka berdoa agar amat segera menuntaskan misi dan segera kembali keluar dengan selamat. Sehingga mereka bisa bergantian secara estafet ke dalam toilet itu. Penantian panjang pun akhirnya selesai sudah. Amat keluar dari toilet dengan wajah yang bersinar.
Sementara rekannya yang diluar sedang mengadakan pengocokan arisan untuk masuk ke toilet agar tak terjadi perebutan yang berujung pada perkelahian yang tak terelakkan.