
"Kalau seandainya Alina memang putri Om, apakah Om akan membawa Alina?" tanya Rafael.
Rehan memikirkan ucapan Rafael. Dia tahu Rafael sudah dari kecil bersama Alina. Tentu akan sulit baginya jika berpisah dengan Alina.
"Jika Alina memang putriku, Om akan membawanya pulang berkumpul kembali keluarganya. Apa nak Rafael keberatan?" tanya Rehan balik.
"Tidak, bagiku kebahagiaan Alina lebih utama dari apapun. Bersama keluarganya tentu akan membuat Alina lebih bahagia" ucap Rafael.
"Alina beruntung bertemu denganmu sebagai kakaknya" ucap Rehan.
"Akulah yang beruntung bisa bertemu Alina. Jika seandainya waktu bisa diulang kembalipun aku tetap ingin bertemu Alina" ucap Rafael.
Rehan menepuk bahu Rafael. Dia bisa merasakan rasa sayang Rafael pada Alina begitu besar. Selama bertahun-tahun tentunya sudah banyak kenangan bersama dan itu tidak mungkin dilupakan.
"Om tidak akan memisahkan kalian berdua. Kalau nanti Alina pulang ke rumah Om, kau bisa ikut tinggal bersama kami" ucap Rehan.
"Tidak Om, aku akan tetap tinggal disini. Ada sesuatu yang masih belum ku ketahui. Aku titip Alina, sesekali aku akan mengunjunginya" ucap Rafael.
"Baiklah, Om pasti akan menjaga Alina" ucap Rehan.
Rafael masih memiliki sebuah alasan untuk tetap tinggal dikota B. Dia tidak bisa ikut Alina jika seandainya Alina ikut Rehan kembali ke kota A.
"Om mari kita lanjutkan perjalanan, agar cepat sampai" ucap Rafael.
"Oke" ucap Rehan
Rafael kembali menggendong Rehan keluar dari hutan belantara itu. Rafael menemukan jalan keluar hingga ke tepi hutan. Di tepi hutan itu terdapat sebuah jalan raya berukuran sedang. Rafael dan Rehan menunggu mobil melintas. Untung ada mobil patroli polisi hutan. Mobil polisi itu berpatroli untuk mengawasi hutan lindung dari penebangan liar dan pemburuan binatang yang dilindungi. Rafael dan Rehan naik ke mobil polisi keluar dari kawasan hutan itu sampai sebuah jalan raya utama.
"Terimakasih ya Pak" ucap Rafael.
"Sama-sama" ucap polisi hutan itu.
"Kami pamit pulang dulu Pak" ucap Rehan.
"Iya, hati-hati dijalan" ucap polisi hutan itu.
"Baik Pak" ucap Rafael dan Rehan
__ADS_1
Rafael dan Rehan naik sebuah bus. Mereka melanjutkan perjalanan ke kota B. Rehan sudah tidak sabar ingin bertemu Alina begitupun Rafael juga ingin segera bertemu Alina.
***********
Alina membuka sebuah kotak yang tadi terbungkus kado. Kotak itu dibuka Alina. Terdapat berbagai macam barang. Ada gantungan tas berupa boneka beruang kecil, bando berwarna pink, jepitan rambut, kotak musik, sebuah gelang rajut buatan tangan Alvan sendiri dan sebuah surat dari Alvan.
Dear Alina Clemira
Saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah pergi jauh. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu lagi. Alina, aku sudah melihatmu dari pertama masa orientasi siswa tapi aku tak pernah berani mendekatimu. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Dan saat kita duduk dikelas tiga aku memberanikan diri untuk menghampirimu walaupun aku tidak bisa mendekati sebagai seorang teman. Alina hidupku bahagia saat berada disisimu. Kesepian, sendirian dan kegelapan seakan sirna. Kau membuat hari-hariku penuh warna dan bercahaya. Sikap kasarku padamu itu karena aku takut menyukaimu. Aku takut kau akan berteman denganku, aku tidak ingin kau jadi bagian hidupku. Karena hidupku akan diakhiri jadi aku memilih kau benci dari pada kau sukai. Alina maafkan semua kesalahanku padamu.
Alvan Melviano
Alina meneteskan air matanya saat membaca surat dari Alvan. Dia tidak tahu kenapa Alvan harus pergi dan dia pergi kemana. Alina keluar dari kamarnya kontrakkannya. Dia naik bus menuju ke rumah besar yang saat itu Alvan mengajaknya.
"Mungkin saja Alvan masih ada dirumah itu, iya, dia pasti ada disana" ucap Alina.
Alina berharap cemas. Mungkin saja dia masih bisa menemui Alvan dirumah besar itu. Sampai disebuah halte yang dituju Alina, dia langsung turun dari bus. Alina berjalan menuju ke rumah besar itu. Dia berdiri didepan gerbang rumah besar itu. Baru mau membuka gerbang rumah besar itu, seorang bapak menegur Alina.
"Nak kau mau kemana?" tanya Pak Hilman, warga yang tinggal didaerah sekitar rumah besar itu. Kebetulan rumah besar itu berjarak beberapa meter dari rumah penduduk. Kanan kiri rumah besar itu kebun kosong yang terbengkalai.
"Aku mau masuk ke rumah ini" ucap Alina.
"Tapi teman saya tinggal disini Pak" ucap Alina.
"Setahu bapak selama puluhan tahun tinggal disini, rumah ini kosong. Bahkan beberapa warga bilang rumah ini angker. Suka ada penampakan sang pemilik rumah. Ada yang bilang penampakannya berupa seorang lelaki tampan" ucap Pak Hilman.
"Penampakan?" batin Alina.
"Pak memangnya pemilik rumah ini kemana? kenapa rumah ini dikosongkan?" tanya Alina.
"Pemilik rumah ini tiba-tiba menghilang dalam satu malam. Kami tidak tahu mereka kemana. Hanya ada darah dan barang-barang dirumah ini berantakan" ucap Pak Hilman.
"Apa mereka dirampok lalu dibunuh?" tanya Alina.
"Tidak, barang-barang berharga dirumah ini masih utuh kalau memang kasus perampokan seharusnya raib" ucap Pak Hilman.
Alina mendengarkan Pak Hilman bercerita. Dia semakin penasaran dengan Alvan dan rumah itu.
__ADS_1
"Apa warga sudah melapor polisi dengan hilangnya penghuni rumah ini?" tanya Alina.
"Sudah, tapi polisi tidak punya bukti yang cukup untuk membongkar kemana hilangnya penghuni rumah itu" ucap Pak Hilman.
"Penghuni rumah ini ada berapa orang Pak?" tanya Alina.
"Hanya dua orang, seorang bapak dan anaknya yang berusia 8 tahun" ucap Pak Hilman.
"Jadi kejadian hilangnya penghuni rumah ini, sekitar 9 tahun yang lalu?" tanya Alina.
"Iya benar. Sejak saat itu rumah ini menjadi tak berpenghuni dan dibiarkan terbengkalai seperti ini. Tak ada warga yang berani masuk ke dalam rumah ini. Mereka semua takut bertemu hantu penghuni rumah ini" ucap Pak Hilman.
"Hantu? kenapa jadi gosip yang menyebar tidak benar seperti ini?" batin Alina.
"Terimakasih atas informasi ya Pak" ucap Alina.
"Sama-sama nak" ucap Pak Hilman.
Pak Hilman meninggalkan Alina selesai bicara. Sedangkan Alina tetap ingin masuk ke dalam rumah besar itu. Dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Alvan. Alina berjalan memasuki rumah besar itu. Dia melihat lukisan didinding yang ditutupi kain hitam. Tangannya berusaha membuka kain hitamnya. Sebuah foto seorang lelaki dewasa dan satu anak kecil.
"Apa ini foto Alvan dan Ayahnya?" ucap Alina.
Alina berjalan ke ruangan lain. Dia naik ke lantai atas. Alina memasuki sebuah kamar yang sudah tidak ditempati lagi. Kamar itu kotor dan bau. Alina melihat-lihat barang di kamar itu. sebuah foto lelaki dewasa dan anak kecil ada dikamar itu juga. Alina membuka laci dilemari kecil di kamar itu. Ada sebuah lambang harimau.
"Ini lambang apa?" ucap Alina.
Terdengar suara lelaki dewasa diluar kamar itu. Alina langsung bersembunyi dikolong ranjang. Lelaki dewasa itu masuk ke kamar itu.
"Pastikan tidak ada bukti apapun yang tertinggal di rumah ini"
"Jangan sampai kita terlibat dengan polisi"
"Sudah 9 tahun, masihkah kita harus membersihkan bukti?"
"Anak Matteo masih hidup berarti masih ada bukti"
"Oke"
__ADS_1
Mereka menggeledah kamar itu. Alina ketakutan. Dia tidak tahu siapa mereka semua dan berkepentingan untuk apa. Hanya satu hal yang Alina yakini lelaki dewasa itu bukan orang yang baik.