
Aku berjalan di tepi jalan mencari telpon umum. Untung saja ada satu telpon umum yang masih berfungsi. Ku lihat kartu nama lelaki tampan itu. Segera ku tekan tombol-tombal angka yang berjejer. Tak lupa membaca doa, semoga saja dia mengangkat telponku, tapi ternyata tidak diangkat sama sekali malah di reject beberapa kali lalu tak aktif.
"Sombong sekali lelaki tampan ini, memangnya dia sepenting itu, lihat saja kalau ketemu nanti, ku ulek kaya cabe biar penyet," keluhku kesal padanya.
Aku mengambil nafas dalam-dalam, coba menurunkan emosiku, jangan sampai kena darah tinggi atau serangan jantung dadakan apalagi stroke, masih muda, belum juga jadi bos pabrik keripik.
"Sepertinya aku harus mendatangi rumahnya, mana jauh lagi," keluhku lagi. Aku tak punya banyak waktu. Sebelum maklumat itu diputuskan aku harus menemui monster itu.
Tak ada pilihan selain mendatangi rumah lelaki tampan itu, tapi lumayan jauh, naik bus harus berapa kali. Kalau naik taksi terlalu mahal.
"Ahaaa ..., aku nebeng mobil bak saja, siapa tahu ada yang satu server denganku," ujarku. Cara itu lebih hemat dari pada naik bus atau taksi. Gratis lagi.
Aku berdiri di tepi jalan sambil melambai, berharap ada mobil bak yang mau menebengiku.
"Dari tadi belum ada yang mau nebengin, apa kurang ...?" Aku coba berpikir smart, kali ini otakku yang kosong ini harus mau kerja jangan santai mulu.
Aku menulis kata-kata menyedihkan di karton sisa praktek kimia tadi pagi, kali aja dengan begitu ada yang mau berhenti.
"Beres, tinggal berdiri layaknya orang demo," ujarku.
Benar saja tak lama mobil bak berhenti di depanku. Mungkin kasihan karena membaca tulisan baper yang ku tulis.
"Neng ayo naik! kasihan banget tiga hari jalan kaki bawa bayi, tega banget tuh bapak bayi gak mau tanggungjawab, sini abang anter kalau perlu somasi tuh orang biar tanggungjawab."
"Hik ... hik ..., sedih deh Bang," ucapku menangis bombay.
"Ya udah Neng kita anter, enak banget dah bikin kok main kabur, biar Abang hajar nanti."
Aduh, salah tujuan. Kok sangar-sangar, jangan sampai bikin keributan, gak lucu juga. Padahalkan cuma mau ikut numpang.
Aku naik ke mobil ditemani abang-abang sangar berjiwa hello kitty. Lumayan tumpangan gratis, dapet snack lagi. Risol, onde, donat dan agar-agar cukup mengganjal perutku. Ini mah untung dua kali. Dapet tumpangan dan makan gratis.
Satu jam berlalu. Sampai juga di alamat yang dituju. Aku turun dari mobil, berterimakasih pada kedua abang yang mengantarku, mereka pun pergi meninggalkanku.
"Wah gede banget rumahnya, bener-bener orang kaya, tapi gimana masuknya? gerbangnya tinggi dan tertutup," ujarku memandangi rumah besar itu.
__ADS_1
Aku berjalan mendekati gerbang dan coba mengetuknya. Tak ada jawaban. Aku berdiri kepanasan sampai kaki pegal, kasihan Bobo, aku tidak bisa terus berdiri seperti ini, Bobo bisa demam kalau kepanasan.
Aku duduk di bawah pohon sambil menunggu, kali aja ada mobil keluar atau masuk, jadi aku bisa ikut masuk.
"Ya Allah, Aara cuma pengen sekolah, kalau Aara dikeluarkan, dari mana biaya untuk pindahan sekolah, apalagi sekarang ada Bobo," batinku dalam hati. Berharap doaku dikabulkan.
Aku masih menunggu hingga sore hari, lelah pasti tapi tujuanku bukan untuk lelah saja. Aku harus bertemu monster kejam itu. Aku mulai bosan dan mengantuk. Tak ada satupun mobil yang datang atau keluar. Bobo juga mulai haus, aku harus menyeduh susu untuknya, mana air hangatnya sudah habis. Aku tak punya air hangat lagi. Bobo pasti lapar.
"Air panasnya habis, kasihan Bobo haus," ujarku sambil memegang termos air hangat yang ku bawa setiap hari. Jujur saja berat Bobo dan tas yang ku bawa beserta keripik yang ku pegang itu beratnya ada 15 kg. Berat tapi aku sudah mulai terbiasa.
Aku mencari warkop terdekat sambil menanyakan warga sekitar tentang keberadaan penghuni rumah besar itu, untungnya tak jauh dari rumah besar itu ada warkop.
"Bu beli air hangatnya saja boleh tidak?" tanyaku.
"Boleh, buat minum susu bayimu ya?"
"Iya Bu, air hangat yang saya bawa habis," jawabku.
Ibu pemilik warkop memberiku air hangat secara gratis karena dia iba melihatku yang masih kecil menggendong bayi.
"Bu maaf mau tanya, pemilik rumah besar itu siapa ya?" tanyaku. Mungkin saja pemilik warkop mengenalnya bisa memberiku sedikit informasi.
"Di ujung jalan deket belokan jalan raya," jawabku menunjukkan rumahnya.
"Oh rumah besar itu, yang punya namanya Albern Viktor, biasanya berangkat pagi pulang malam, jarang di rumah." Pantas aku berdiri seharian tak ada yang ke luar masuk.
Ibu pemilik warkop tahu persis Albern karena beliau pernah bekerja jadi pembantu di rumah itu hanya tidak betah karena Albern sering bawa banyak wanita dan mengadakan pesta minuman keras di rumahnya.
"Pantas, lelaki jahanam, kejam dan menjijikkan," batinku berkecamuk. Jadi malas bertemu dengannya. Ku ralat deh kalau dia itu lelaki tampan, dia lebih bagus disebut lelaki buaya darat, playboy kelas kakap, dan casanova berbulu serigala.
"Emangnya Eneng mau apa ke sana?" Ibu pemilik warkop memandangi dengan penasaran sambil memperhatikan bayi dipangkuanku.
"Eee ..., aku ..." Bingung harus menjawab apa.
"Ibu paham, blendung duluan terus ditinggalin, dan sekarang minta tanggungjawab, udah ibu bantuin, nanti ibu kerahin se RT biar dia mau tanggungjawab." Ibu pemilik warkop salah paham. Dia mengira aku minta tanggungjawab.
__ADS_1
Dari pada semakin panjang urusannya, lebih baik cabut, repot kalau aku disebut hamidun sama lelaki bejat itu, kabur, gak sanggup diintrogasi sama netizen warkop yang jam terbangnya sudah tinggi.
Aku segera angkat kaki, berjalan menuju rumah besar itu lagi.
"Hampir saja dikira hamidun sama buaya darat itu, kebayang jadi istrinya, makan hati setiap hari, ganteng juga kalau buaya lebih baik dibuang ke laut aja," ujarku.
Aku berdiri di depan pagar lagi. Waktu silih berganti hingga malam tiba, beberapa orang yang lewat melihatku miris, mereka mengosipkanku yang tidak-tidak. Aku cuek aja, habis mau gimana lagi, aku harus bertemu buaya darat itu, kalau tidak sekolahku terancam.
Tak lama sebuah mobil mewah melaju ke arahku, segera aku berdiri di depan mobil, dengan begitu mobil tak akan bisa masuk dan orang yang di dalamnya keluar.
Lelaki tampan itu keluar dari mobil, dia melepas kaca mata hitamnya lalu menghampiriku.
"Jangan mengemis di depan rumahku!" ujarnya.
"Tuan aku tidak mengemis, aku ingin bertemu denganmu," sanggahku.
"Pengemis memang banyak modusnya, bawa bayi segala, trik murahan," ucapnya.
"Tadi sudah ku jelaskan aku bukan pengemis, lihat seragamku, aku masih sekolah," ujarku.
Lelaki itu tertawa, lalu mengambil uang di dompetnya, melempar ke arahku hingga berjatuhan.
"Ambil! pergi dari sini!" perintahnya.
Lumayan uangnya banyak juga, tapi tujuanku ke sini untuk minta belas kasihnya agar aku tidak dikeluarkan dari sekolah.
"Aku ke sini bukan untuk uang, tapi ...," ucapku.
Tiba-tiba sekelompok warga dan abang supir mobil bak tadi datang menghampiri kami. Mereka mengepung kami, bersorak agar lelaki tampan itu mau tanggungjawab.
"Udah tanggungjawab, jangan ngelak, kasihan."
"Mau enaknya doang, sini bapak sunatin biar gak bisa lagi."
"Udah Pak RT yang gini nikahin aja langsung, biar gak jatuh korban lagi."
__ADS_1
"Iya Pak RT, tiap hari berpesta bawa cewek-cewek, berzina, kita ikut kena dosanya."
Warga mulai ricuh. Aku bingung padahal niatan cuma minta supaya aku gak dikeluarkan dari sekolah kok malah mau dinikahkan sama buaya darat ini.