Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 98


__ADS_3

Pagi itu Albern, Rangga, Riffai, Sella dan Tina naik mobil elf milik panti sosial. Mereka berangkat ke kota G. Albern dan Rangga duduk di depan untuk menyetir bergantian. Sedangkan Riffai, Sella dan Tina duduk di kursi belakang. Perjalanan yang akan ditempuh mereka cukup jauh. Mereka berharap bisa bertemu suami Tina.


"Tina semangat, nanti sore kita akan sampai di desamu," ucap Sella.


Tina mengangguk.


"Aku rindu Mas Tedi," ucap Tina.


"Kau pasti akan segera bertemu dengannya," sahut Sella.


Tina mengangguk.


Perjalanan ke kota G cukup jauh. Mereka harus melewati jalur pegunungan yang curam. Mobil sempat panas dan terpaksa berhenti di tengah jalan. Jalannya juga cukup semput hanya bisa untuk simpangan dua mobil.


"Pemandangannya bagus, kebun teh," ucap Albern berdiri di depan mobil.


"Eh iya, sejuk," sahut Rangga.


"Berasa bulan madu ya sayang," ucap Riffai.


"Iya Mas," ucap Sella.


"Kalian enak bulan madu, aku dan Kak Al kesepian jauh dari orang tersayang," ucap Rangga.


Albern menepuj bahu Rangga. Memberinya semangat.


"Sabar Rangga, semua akan indah pada waktunya," ujar Albern.


"Iya Kak Al," sahut Rangga.


Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Melalui perkampungan demi perkampungan. Perkebunan dan area persawahan. Hingga sampai di sebuah desa kecil jauh dari jalan raya. Desa itu dipenuhi ladang sayuran. Mobil memasuki desa itu. Berhenti di jalan untuk menanyakan penduduk sekitar. Karena sudah lama Tina meninggalkan desanya, sudah lama yang berubah.


Rangga dan Riffai turun dari mobil menemui bapak-bapak yang sedang nongkrong di pos ronda.


"Assalamu'alaikum," sapa Rangga dan Riffai.


"Wa'alaikumsallam," sahut warga.


"Begini Pak mau tanya rumah Mas Tedi Suwardi di mana ya?" tanya Rangga.


"Tedi Suwardi?"


"Tedi Suwardi?"


"Iya Tedi Suwardi yang istrinya bernama Tina Septiani," jawab Riffai.


Beberapa orang itu seperti sedang berbisik. Membicarakan Tedi. Mereka terlihat sungkan membericarakannya.


"Mas sebaiknya gak usah nyari Tedi Suwardi."


"Memangnya kenapa Mas?" tanya Riffai.


"Dia itu gila, penyendiri, siapapun yang nanya pasti malah dipukul berujung celaka."


"Iya, serem."


"Gak waras sejak ditinggal istrinya entah ke mana gak balik lagi."


"Begini saja Pak, Mas Tedi Suwardinya tinggal di mana?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Di tepi sungai, ada rumah tua, nah di sana tinggalnya."


Rangga dan Riffai berterimakasih atas informasi yang di dapatnya. Kemudian kembali ke dalam mobil. Mereka memberitahu Albern tentang informasi yang di dapatnya dari warga sekitar.


Mobil itu melaju kembali sampai ke jembatan di atas sungai. Albern dan yang lainnya turun dari mobil. Mereka melihat sungai yang mengalir di bawah jembatan. Mencari rumah yang ada di tepi sungai.


"Itu ada rumah," ucap Rangga.


"Iya, pasti itu rumah yang dimaksud warga," sahut Albern.


"Ayo ke sana, Mas Tedi pasti rindu padaku," ujar Tina.


"Tenang Tina, kita harus pastikan dulu itu benar rumah Tedi," ujar Rangga.


"Iya, kau, Sella, dan Riffai di sini saja, kami akan memastikan dulu ke sana," ujar Albern.


Tina mengangguk.


Albern dan Rangga berjalan turun ke tepi sungai. Menelusuri jalan setapak. Bawah tepi sungai, sampingnya persawahan. Mereka terus berjalan menuju sebuah rumah yang berada di tepi sungai. Rumah terbuat dari kayu jati itu berdiri tak jauh dari tepi sungai. Mereka berjalan sampai ke teras rumah itu. Rumahnya kecil. Terlihat tak terurus.


"Kak Al," ujar Rangga.


"Kau takut?" tanya Albern.


Rangga menggeleng.


Mereka berdua mengetuk pintu. Namun tak ada balasan. Pintu rumah itu justru terbuka.


"Kak Al masuk?" tanya Rangga.


Albern terdiam menatap ruangan yang ada di dalam.


Albern mengangguk.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu. Melihat semua barang acak-acakan dan bau.


"Ini rumah apa tempat sampah?" ujar Rangga.


"Sepertinya yang punya ru-," ucap Albern. Namun tiba-tiba dipukul dari belakang oleh seseorang dengan kayu.


Dug ....


Albern langsung tersungkur ke arah Rangga. Untung saja Rangga sigap menangkapnya.


"Siapa kalian? Beraninya masuk ke rumahku!" ujar Tedi sambil membawa kayu balok di tangannya.


Albern masih memegang pundaknya karena pukulan tadi.


"Kami ke sini untuk bertemu dengan Tedi Suwardi," sahut Rangga.


"Untuk apa kalian mencariku?" tanya Tedi.


"Tina ingin bertemu," jawab Albern.


"Jangan panggil nama istriku!" Tedi marah. Menyerang mereka berdua. Terjadi baku hantam di antara ketiganya. Tedi beringas. Dia tak peduli lawan siapa. Berusaha menyakiti keduanya. Hingga Albern dan Rangga berhasil menyudutkannya. Namun Tedi curang mengambil pisau dan melukai tangan Rangga.


"Aw ...," keluh Rangga kesakitan memegang tangannya.


Tedi masih menyerang Albern hingga dia terjatuh di lantai karena luka di pundaknya yang menghalangi geraknya.

__ADS_1


Bruuug ...


Albern terduduk di lantai. Tedi terus mendekatinya membawa pisau. Hendak menusuk Albern. Namun Tina dan yang lainnya ke buru masuk. Tina langsung memeluk Tedi dari belakang.


"Mas jangan, mereka temanku," ujar Tina sambil menangis.


Pisau di tangan Tedi terjatuh ke lantai.


Praang ...


Tedi berbalik memeluk Tina. Dia begitu merindukannya. Selama ini dia yakin Tina akan kembali meskipun warga desa mengolok-ngoloknya kalau Tina meninggalkannya.


"Aku rindu Mas," ucap Tina.


"Aku juga rindu Dek," sahut Tedi.


Keduanya berpelukan melepas rindu. Sedangkan Sella dan Riffai menolong Albern dan Rangga. Akhirnya emosi Tedi mereda. Dia juga minta maaf pada Albern dan Rangga atas kesalahannya.


"Maafkan saya, telah melukai kalian. Padahal kalian sudah membawa istriku kembali," ucap Tedi.


"Iya gak papa, kami ngerti kok," ucap Rangga.


"Iya," sahut yang lainnya.


Akhirnya Tina bisa bersama Tedi kembali. Albern, Rangga, Riffai, dan Sella membantu merapikan rumah Tina dan Tedi. Kemudian mereka memasak bersama dan makan di depan teras sambil menikmati aliran sungai yang jernih.


"Anginnya adem, bikin ngantuk," ujar Rangga.


"Memang tinggal di desa enak hawanya beda sama di kota," sahut Albern.


"Iya," sahut semuanya.


Setelah makan bersama, mereka pamit pulang ke kota A pada Tina dan Tedi.


"Tina, Tedi, kami harus kembali ke kota lagi," ucap Albern.


Tina dan Tedi mengangguk.


"Semoga kalian bahagia, dan dikaruniai momongan," ucap Rangga.


"Terimakasih atas kebaikan kalian semua," ucap Tedi.


"Iya, semoga Allah membalas kebaikan kalian," ucap Tina.


"Iya, sama-sama," sahut mereka berempat.


Sella memeluk Tina. Berpamitan padanya. Sebagai sahabat, dia senang melihat Tina bahagia bersama suaminya.


"Semoga kau hamil segera Tina, kabarin aku kalau sudah isi ya," ujar Sella.


"Iya, kau juga, jangan lupa kabarin aku," sahut Tina.


Sella mengangguk. Kemudian melepas pelukannya.


"Kami pulang dulu, assalamu'alaikum," ucap mereka berempat.


"Wa'alaikumsallam," sahut keduanya.


Albern, Rangga, Riffai dan Sella meninggalkan keduanya. Mereka kembali berjalan ke mobil. Sambil menghirup udara sejuk di tepi sungai itu. Dari kejauhan Tina dan Tedi melambaikan tangan tanda perpisahan.

__ADS_1


Mereka berempat masuk ke mobil. Albern menyetir mobil itu kembali ke Kota A.


__ADS_2