
Kepala Sekolah hanya diam mendengarkan Nunu bercerita. Ayah Bayu dan Ibu Mita juga sama hanya diam mendengarkan Nunu.
"Ayah sekarang selalu menyalahkanku tanpa memberiku kesempatan menjelaskannya, aku selalu dibilang nakal padahal aku berusaha menjadi anak baik. Ayah lebih sayang pada Ibu Asri dari aku anak ayah," keluh Nunu. Selama ini ucapannya tak pernah dianggap oleh ayahnya. Nunu merasa ayahnya lebih sayang pada keluarga barunya.
Pak Bayu hanya terdiam. Seharusnya sebagai ayah dia mampu bertanggung jawab dan adil dalam membagi kasih sayangnya.
"Ibu sibuk mengurus anak-anak dari suami baru Ibu, setiap aku pergi ke rumah Ibu, kau malah marah padaku, padahal aku rindu Bu, aku ingin dipeluk Ibu, disayang Ibu seperti waktu kecil. Aku ini anak kaliankan hik .. hik ...," ucap Nunu sambil menangis.
Nunu menangis. Ingin rasanya disayang seperti anak-anak lain. Semua itu hanya sebuah mimpi untuknya.
"Semua teman-teman menjauhi Nunu, mereka bilang Nunu aneh, mereka tidak mau berteman dengan Nunu. Tak jarang Nunu sering dibully teman sekelas ataupun kakak kelas. Nunu tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian ayah, ibu," ujar Nunu.
Bukan hanya ayah dan ibunya yang tidak ada untuk Nunu. Begitupun dengan teman-temannya yang menganggap ngunu adalah mainannya.
"Jika kalian juga tidak peduli pada Nunu, lalu Nunu harus mengadu dan berbagi kesedihan Nunu pada siapa lagi. Saat kalian berpisah Nunu sangat sedih, Nunu takut tidak bisa bersama kalian lagi," ucap Nunu. Air matanya membasahi pipinya. Matanya bengkak karena menangis terus menerus.
"Nunu merasa kalian semakin jauh dan seperti orang lain bagi Nunu. Nunu sayang ayah dan ibu. Nunu selalu rindu pada kasih sayang kalian hik ... hik ... hik ...," ucap Nunu sambil menangis.
"Nunu maafkan ayah ya nak, selama ini ayah egois selalu mementingkan kepentingan ayah tanpa tahu kalau hatimu terluka nak, ke depannya ayah akan berusaha lebih baik pada Nunu," ucap Pak Bayu menyesali yang sudah terjadi.
"Ibu juga minta maaf ya Nunu. Selama ini sering melupakanmu, hanya sibuk mengurusi anak-anak dari suami baru Ibu tanpa memikirkan perasaanmu, mulai besok kau bisa main ke rumah ibu nak. Ibu akan menyambutmu dengan senang hati," ucap Ibu Mita. Dia ingin menebus semua kesalahannya pada Nunu.
Pak Yunus selaku kepala sekolah terharu melihat anak dan kedua orang tuanya yang terpisah. Harusnya kepentingan anak tetap diutamakan meskipun mereka sudah berpisah. Jangan sampai anak jadi korban hanya karena keegoisan kedua orang tuanya.
"Benar Bapak dan Ibu, anak adalah amanah harus dijaga dengan baik. Tidak istilahnya bekas anak meskipun kalian sudah bercerai, Nunu tetaplah darah daging kalian yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang," ucap Pak Yunus.
Pak Bayu dan Ibu Mita diam mendengarkan. Begitupun dengan Nunu.
"Seberapapun masalah kalian jangan sampai anak jadi korban. Karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tumbuh kembangnya anak kita. Saya harap kejadian ini bisa kita ambil hikmahnya. Dan belajar lebih baik ke depannya," ujar
Pak Yunus.
Mereka bertiga mengangguk.
"Baik Bapak, Ibu dan Nunu harus saling memanfaatkan dan kembali membina hubungan orangtua dan anak," ucap Pak Yunus.
"Nunu maafkan Bapak ya nak," ucap Pak Bayu.
"Maafkan Ibu juga ya nak," ucap Ibu Mita.
"Nunu sudah memaafkan kalian dari dulu karena Nunu sayang ayah dan ibu," ucap Nunu.
Mereka bertiga berpelukan, Nunu senang sekali bisa memeluk ayah dan ibunya. Kepala Sekolah juga turut berbahagia melihat mereka bisa menyelesaikan masalah secara mufakat.
***
Leo dan Zara pulang sekolah naik sepeda berboncengan. Mereka sangat bahagia dengan kesederhaan yang mereka miliki. Meskipun begitu mereka memiliki orang-orang yang mereka sayangi dan menyayangi mereka. Leo juga sangat senang bisa selalu bersama Zara melewati semuanya. meskipun hidup sulit tapi di lewati bersama orang yang kita sayangi terasa ringan seperti kapas.
Zara bertemu Nunu di dekat taman untuk pergi mencari pekerjaan paruh waktu. Mereka berangkat bersama untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Sambil menelusuri jalan Nunu berbicara pada Zara.
__ADS_1
"Zara, kau selalu terlihat optimis dan bersemangat apa rahasianya?" tanya Nunu. Dia ingin tahu Apa yang membuat Zara selalu terlihat tegar dan bersemangat.
"Aku hanya berusaha mengikhlaskan semuanya Nunu, selalu bersyukur dengan yang kita miliki dan kita dapatkan," ucap Zara.
"Kau benar belajar ikhlas dan bersyukur itulah kuncinya ya," ucap Nunu.
"Dan jangan pernah putus asa dan terus berusaha pasti akan ada hasil dari kerja keras kita selama ini dan yang paling penting jangan lupa selalu berdoa," ucap Zara.
"Aku kagum padamu Zara, aku bersyukur bisa memiliki teman seperti Zara," ucap Nunu.
Zara tersenyum. Wajah ramahnya itu memancarkan cahaya keteduhan. Membuat siapapun yang ada di dekatnya merasa nyaman.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya sampai di sebuah kedai makan. Kedai itu sangat ramai karena siang hari banyak orang yang beristirahat untuk makan siang. Zara dan Nunu masuk ke dalam kedai makan itu menemui pemilik kedai makan itu.
"Maaf Bu, apa disini membutuhkan tenaga paruh waktu untuk membantu pekerjaan ibu?" tanya Zara.
"Memang kalian bisa kerja? pekerjaannya berat loh. Masak, cuci piring, mencuci lauk pauk dan sayuran dan memotong sayuran," jawab Ibu pemilik kedai menjelaskan pekerjaan yang akan mereka kerjakan.
Zara dan Nunu mendengarkan apa yang dijelaskan Ibu pemilik kedai.
"Selain itu juga membantu melayani pembeli dan membersihkan kedai makan setelah selesai bekerja. Bagaimana? apa kamu sanggup?" tanya Ibu Murti pemilik kedai itu.
"Saya sanggup Bu," ucap Nunu. Dia yakin bisa mengerjakan apa yang diterangkan Ibu Murti tadi.
"Ya sudah jangan banyak bicara, buktikan. Mulai bekerja sekarang biar saya bisa memutuskan kamu diterima atau tidak," ucap Ibu Murti. Dia memberikan tantangan pada Nunu sebelum memutuskan untuk menerimanya. Menilai apakah Nunu pantas bekerja di kedainya atau tidak
Zara dan Nunu masuk ke kedai makan itu.
Banyak sekali tumpukan piring kotor yang berada di tempat cuci piring. Tanpa berpikir panjang Zara dan Nunu mulai mencuci piring. Mereka mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh.
"Zara, aku jadi merepotkanmu, padahal kau bisa pulang. Biar aku mengerjakannya sendiri," ucap Nunu.
"Tidak apa-apa, hari ini aku cuti bekerja untuk menemani Nunu. Lagi pula menyenangkan bisa bekerja badan jadi sehat," ucap Zara. Dia senang bisa membantu Nunu mendapatkan pekerjaan agar Nunu bisa mandiri.
"Cucian piringnya banyak sekali, apa Zara nanti tidak kelelahan?" tanya Nunu.
"Aku pernah bekerja jadi asisten rumah tangga, dulu cucian piringnya juga banyak, jadi aku sudah terbiasa melakukannya," ucap Zara. Jangankan hanya mencuci piring Zara sudah mencoba berbagai pekerjaan sebelumnya.
"Usiamu masih muda tapi kau rajin bekerja Zara, aku kagum dan ingin sepertimu tidak pantang menyerah dan terus berusaha," ucap Nunu. Dia kagum dengan Zara di usianya yang masih muda sudah menjadi orang yang mandiri dan pekerja keras.
"Ya, kau harus semangat dan tetap berusaha. Sebagai teman, Zara akan berusaha membantu Nunu semampu Zara," ucap Zara.
"Terimakasih Zara," ucap Nunu.
"Iya," sahut Zara.
Mereka terus bekerja hingga cucian piring itu selesai dicuci.
Setelah selesai membantu Nunu, Zara pulang ke kosannya. Saat Zara membuka pintu Leo sudah membuka dua lengannya untuk memberi pelukan padanya. Zara langsung lompat ke pelukan Leo. Mereka saling memeluk erat.
__ADS_1
"Leo, Zara kangen sama Leo," ucap Zara.
"Kayanya baru beberapa jam kita tidak bertemu kau sudah kangen padaku Zara," ucap Leo menggoda.
"Apa Leo tidak kangen sama Zara?" tanya Zara.
"Leo selalu kangen sama Zara, dipikiran dan hati Leo selalu ada Zara," ucap Leo.
Zara tersenyum. Namun matanya memperhatikan ekspresi di wajah Leo yang terlihat berbeda, lebih ceria.
"Kau terlihat senang Leo memang ada apa?" tanya Zara.
"Tadi aku dari rumah Kak Dika, aku dapat projek membuat gambar komik dari perusahaan asing, bayarannya lumayan pergambarnya," ucap Leo.
"Terus Leo terima atau tidak?" tanya Zara.
"Tentu Leo terima, agar Leo bisa memberi kehidupan yang layak untuk Zara," ucap Leo.
"Leo, apapun keadaan kita sekarang, yang terpenting bagi Zara adalah bisa selalu bersama Leo," ucap Zara sambil meneteskan air matanya.
"Aku juga Zara, apapun keadaannya yang terpenting bisa bersama Zara," ucap Leo.
"Jadi sekarang Leo pegang sendiri projeknya?" tanya Zara.
"Iya, tapi Leo harus punya laptop untuk menunjang pekerjaan Leo," ucap Leo.
Leo dan Zara terdiam sesaat memikirkan itu. Mereka menghitung uang yang dimiliki. Mungkin saja bisa untuk membeli laptop.
"Apa uang sisa dari lomba waktu itu cukup untuk beli laptopnya?" tanya Zara.
"Masih kurang sedikit lagi," ucap Leo.
"Kalau begitu Zara akan bantu mencari kekurangannya," ucap Zara.
"Tidak perlu Zara ini tanggungjawab Leo, Zara doakan Leo saja," ucap Leo.
"Aku selalu mendoakan Leo tapi kali ini izinkan aku ikut membantu mencari kekurangannya," ucap Zara.
"Oke, Zara memang istri terbaik Leo," ucap Leo.
Setelah itu mereka mandi dan berganti pakaian. Leo dan Zara makan nasi bungkus bersama. Begitu menikmati makanan sederhana itu. Sekali saling menyuapi satu sama lain.
Selesai makan mereka belajar, Zara belajar di samping Leo. Beberapa pelajaran besok sudah dipelajari lebih dulu agar besok mereka lebih mudah menyerap materinya. Mereka lebih bersemangat karena belajar dengan bersama-sama. Meskipun tidak semua pelajarannya sama. Lama-kelamaan Zara mengantuk. Dia sampai ketiduran dibahu Leo. Melihat itu Leo merangkul Zara.
"Zara aku akan berusaha sekuat tenaga agar kita hidup lebih layak dari sekarang. Aku senang bisa terus bersamamu," ucap Leo. Dia mencium kepala Zara.
"Terimakasih Zara atas semua kebaikanmu untukku," ucap Leo sambil memperhatikan Zara yang tidur di bahunya. Dia senang sesulit apapun hidupnya Zahra tidak pernah meninggalkannya selalu ada di sisinya dan tak pernah mengeluh.
Leo menutup bukunya dan membopong Zara menuju ke ranjang. Dia membaringkan Zara, tak lupa Leo mencium kening Zara, menyelimutinya dan tidur di samping Zara, sambil memeluknya. Berharap hari esok akan jauh lebih baik dan dia bisa membahagiakan Zara
__ADS_1