
"Dulu Naira memiliki seorang calon suami, dia seorang tentara. Dua bulan lagi sebelum menikah, calon suaminya harus pergi bertugas. Dia pergi ke perbatasan negara yang sedang bersengketa. Tapi dalam tugasnya dia gugur. Dia tak pernah kembali lagi. Naira terus menunggu dan menunggu. Sampai teman sejawat calon suaminya memberitahukan berita duka. Naira sangat terpukul, dia tidak percaya." Ibunya Naira menceritakan semuanya pada Aksa tentang masalalu Naira dan calon suaminya.
"Jadi Naira masih menganggap calon suaminya masih hidup?" tanya Aksa.
"Iya, bahkan Naira masih pergi ke tempat mereka sering pergi bersama, seakan calon suaminya itu masih hidup." Ibu itu meneteskan air mata. Dia sedih melihat keadaan Naira. Sudah lama Naira bersikap seperti itu. Sudah beberapa kali ibunya berusaha meyakinkan Naira kalau calon suaminya sudah meninggal tapi Naira masih saja mengira calon suaminya masih hidup.
"Kasihan juga Naira, dia belum bisa mengikhlaskan kepergian calon suaminya," ucap Aksa.
"Oya ibu sampai lupa memperkenalkan diri. Nama ibu, Sopiah, siapa namamu nak?"
"Aksa Randi Ariendra," jawab Aksa.
"Aksa cucunya Leo Ariendra?" tanya Ibu Sopiah.
"Iya Bu," ucap Aksa.
"Masya Allah, saya bisa bertemu cucu Leo Ariendra. Beliau seorang dermawan yang baik hati. Dulu saya dan suami tidak memiliki uang untuk membayar biaya persalinan. Beliaulah yang membayarkan biaya persalinannya bahkan beliau tidak memberi tahu siapa namanya saat memberi kami bantuan. Barulah saat saya melihat televisi tahu kalau orang yang membantu kami itu Leo Ariendra." Ibu Sopiah menceritakan kebaikan Leo dimasa lalu padanya dan keluarganya.
Aksa bangga pada kakeknya. Dia tahu persis kakeknya selalu membantu siapun tanpa pandang bulu. Leo jadi panutan didalam keluarga besarnya. Tak jarang Aksa selalu minta nasehat kakeknya dalam segala urusan. Leo sosok dermawan yang rendah hati dimata semua orang. Dia kakek, ayah, sahabat, atasan dan suami terbaik. Siapa saja yang mengenalnya pasti mengetahui kebaikannya dan mengenang semua kebaikan yang sudah dilakukan Leo tanpa pamrih. Namanya harum setiap kali disebut dan dibicarakan orang yang mengenalnya.
"Kakek memang orang yang baik," tambah Aksa.
"Sudah malam, nak Aksa nau menginap disini atau pulang?" tanya Ibu Sopiah.
"Saya mau pulang Bu," ucap Aksa.
Tak lama setelah mengobrol, Aksa memutuskan pulang. Saat memasuki mobil. Dia melihat rantang makanan milik Naira masih dimobil. Dia mengambil rantang itu untuk mengembalikannya pada Ibu Sopiah. Aksa kembali ke rumah Ibu Sopiah. Dia memberikan rantang makanan itu tapi Ibu Sopiah memberihannya padanya.
"Kau harus coba, itu masakan Naira sendiri. Anggap saja ucapakan terimakasih dari kami," ujar Ibu Sopiah.
"Baik Bu, terimakasih," ucap Aksa.
Aksa membawa kembali rantang makanan itu. Dimobil Aksa memakan makanan didalam rantang. Semua makanan dilahapnya sampai habis.
"Enak juga masakan Naira, padahal sudah dingin. Apalagi kalau masih hangat." Aksa memuji masakan Naira. Dia tak menyangka gadis itu pandai memasak.
Seusai makan Aksa kembali ke apartemennya. Dia berjalan dilorong menuju pintu apartemen miliknya. Dari kejauhan terlihat Farhan sedang berdiri didepan pintu apartemennya. Aksa segera menghampiri Farhan.
__ADS_1
"Far..." Belum sepenuhnya mengucapkan nama Farhan, Aksa mendapatkan satu pukulan darinya.
Dug...
Aksa memegang pipinya yang lebam dan bibirnya sedikit berdarah.
"Brengsek... kau brengsek Aksa." Farhan emosional. Matanya melotot. Nafasnya tak beraturan. Kepalan masih ada ditangannya bersiap untuk memukul kembali.
"Ada apa? kenapa kau memukulku?" tanya Aksa.
"Kau bilang ada apa?" pekik Farhan.
"Sabar Farhan, kita bisa bicara baik-baik," ujar Aksa.
Farhan kembali memukul Aksa hingga berkali-kali. Bahkan Aksa terjatuh dilantai, dia berbaring. Farhan menduduki pahanya dan terus memukul pipi Aksa berkali-kali. Untung ada beberapa orang lewat dan sekuriti yang memisahkan mereka.
Aksa diangkat sekuriti, dia berdiri tepat didepan Fathan yang coba didinginkan emosinya oleh beberapa orang sambil memegangi tangannya.
"Sudah Mas, jangan bertengkar."
"Aksa aku tidak peduli kau saudaraku atau bukan. Kau sudah melecehkan Kiara. Aku tidak bisa memaafkanmu," ujar Farhan dengan kemarahan diwajahnya terlihat jelas.
"Kau berkilah Aksa, sudah jelas kau melecehkan Kiara. Kau brengsek!" seru Farhan.
Farhan berusaha maju untuk memukul Aksa kembali tapi beberapa orang berusaha memegangnya dan menenangkannya.
"Sabar Mas, kita selesaikan secara kekeluargaan."
"Bawa ke pos saya saja." Sekuriti memberi usul pada beberapa orang yang nemegangi Farhan.
"Farhan kita bisa bicarakan ini baik-baik, semuanya salahfaham," ucap Aksa.
"Maksudmu Kiara bohong? mengarang cerita? dasar brengsek, kau tidak mau tanggungjawab," pekik Farhan.
"Aku benar-benar tidak melecehkan Kiara," tegas Aksa.
"Brengsek, tidak mau ngaku." Farhan semakin dibuat emosi dengan pernyataan Aksa. Dia tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Dengan sekuat tenaga dia membebaskan diri dari pegangan beberapa orang itu.
__ADS_1
Dug... dug.... dug...
Farhan kembali menghajar Aksa. Untung Aksa tidak terbawa emosi. Dia tidak membalas pukulan dari Farhan. Semua orang yang ada disitu kembali melerai mereka berdua. Akhirnya Farhan pergi begitu saja meninggalkan Aksa dengan kemarahan yang belum mereda. Sedangkan Aksa masuk ke dalam apartemennya.
Aksa mandi dan mengobati luka dipipinya. Dia tak membayangkan akan dihajar Farhan sampai seperti ini.
"Kenapa Farhan menyebutku melecehkan Kiara? padahal...?" Aksa terus memikirkan ucapan Farhan. Dia merasa ada yang janggal dan tidak sesuai dengan kenyataannya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Farhan kembali ke rumah Kiara. Dia menundukkan kepala didepan Kiara yang sedang menangis diranjangnya. Air mata terus menetes dipipi Kiara. Farhan tak tega melihatnya. Dia sangat marah dan kecewa pada Aksa yang sudah melecehkan Kiara.
"Kiara maafkan aku, Aksa harus membayar semua yang sudah dilakukannya padamu," ucap Farhan.
"Aku malu hik hik hik, aku ini sudah tak suci lagi untuk apa kau masih disini, aku tak pantas untukmu hik hik hik." Kiara terus bersandiwara agar Farhan simpati padanya. Hanya Farhan harapan satu-satunya. Dia harus bisa mendapatkan Farhan.
Farhan berlutut didepan ranjang Kiara. Dia menangis. Hatinya begitu terluka, kekasihnya disakiti orang terdekatnya.
"Aku... aku akan bertanggunjawab kalau Aksa tidak mau bertanggunjawab, aku tidak peduli apapun. Bagiku kau tetap Kiara yang sama," ucap Farhan.
Kiara beranjak dari ranjang. Mengangkat Farhan untuk berdiri. Dia menghapus air matanya.
"Farhan dari dulu kau memang yang terbaik, maafkan aku hik hik hik," ucap Kiara.
"Aku mencintaimu Kiara," ucap Farhan.
Kiara mendekati wajah Farhan dan menciumnya.
"Aku mencintaimu Farhan," ucap Kiara.
Kiara mengajak Farhan ke atas ranjang. Dia melepas semua benang ditubuhnya.
"Kiara." Farhan terkejut.
"Farhan aku kotor, apa kau masih mau denganku?" tanya Kiara.
"Iya," jawab Farhan.
__ADS_1
Kiara menarik tubuh Farhan mengajaknya merajut cinta. Baru mau memulai suara handphone Farhan berdering.
Kriiiing... kriiing... kriiing...