
Albern ke luar dari kosannya. Berjalan menuju jalan raya. Dia menunggu bus di halte. Berdiri melihat mobi-mobil yang lulu lalang di jalanan. Pagi itu hari minggu jalanan lumayan ramai. Semua orang pergi untuk berbelanja, jalan-jalan dan berkunjung ke rumah sanak saudara. Albern termenung. Teringat kedua orang tuanya yang telah tiada. Tsunami sudah meluluhlantahkan semuanya. Harta, tempat tinggal dan keluarganya. Teringat masa-masa dahulu saat masih tinggal bersama keluarga. Biasanya di hari libur menghabiskan waktu bersama. Namun sekarang sendiri, hanya aku keluarga yang dia punya.
Albern ringan Axel adiknya. Dia belum sempat berkunjung menemui Axel dan keluarganya. Termasuk anak yang Bobo. Satu per satu masalah harus diselesaikan terlebih dahulu agar semuanya berjalan dengan baik.
Ketika Bus berhenti di depannya, Albern masuk ke dalam bus. Mencari kursi yang kosong. Matanya menyapu seluruh ruangan di dalam bus itu. Di sela-sela keramaian di dalam bus, Albern menemukan satu kursi yang kosong di dekat pintu depan. Dia berjalan di lorong bus menuju kursi kosong itu. Seorang lelaki menggunakan masker duduk di kursi sampingnya. Albern ingin duduk bersamanya. Namun lelaki itu terlihat sedang tidur. Kepalanya bersandar ke kursi kosong itu. Terpaksa Albern membangunkan lelaki menggunakan masker itu. Dia menepuk lengannya.
"Mas ... Mas ...," ucap Albern.
Lelaki itu terbangun. Berusaha mengumpulkan kesadarannya. Kemudian menengok ke arah Albern. Dia terkejut saat melihat wajah Albern dan langsung membuka masker yang dikenakan olehnya. Kedua lelaki itu sama-sama terkejut baik dia dan Albern.
Wajah familiar itu sudah dirindukan sekian lama.
"Abang, beneran ini Abang?" Axel terkejut. Dia masih tidak menyangka kakaknya masih hidup. Berusaha mempertanyakan kembali kalau apa yang dilihatnya itu nyata.
"Axel," sahut Albern.
"Ini Abang kan?" Axel kembali bertanya. Seolah dia sedang bermimpi atau tidak. Mungkinkah matanya salah melihat. Atau lelaki di depannya itu hanya mirip dengan kakaknya.
"Iya ini Abang," sahut Albern meyakinkan Axel, kalau dia memang kakaknya.
"Alhamdulillah, ternyata kau selamat Bang," ucap Axel. Dia sangat senang melihat kakaknya ternyata masih hidup dan semua ini bukan mimpi.
Axel langsung memeluk Albern. Dia benar-benar merindukan kakaknya. Meskipun mereka pernah berselisih tapi rasa sayang sebagai saudara tak pernah hilang. Baikkah Axel dan Albern saling memeluk erat. Sudah lama mereka tidak bertemu. Tsunami telah memisahkan mereka. Bahkan Axel mengira Albern sudah meninggal bersama ribuan orang yang dikuburkan tanpa identitas. Axel bersyukur kakaknya ternyata selamat. Begitupun dengan Albern, dia senang melihat adiknya juga baik-baik saja. Meskipun aku sudah menceritakan tentang Axel, Raina dan Bobo yang selamat. Namun ini pertemuan pertama mereka setelah kejadian tsunami itu.
Setelah puas melepas rindu mereka duduk di kursi.
"Syukurlah Bang kau selamat, aku pikir aku sudah tidak memiliki anggota keluarga lagi," ucap Axel.
"Tadinya aku juga berfikir hanya aku orang satu-satunya yang selamat dari keluarga kita," sahut Albern.
"Tsunami sudah mengantarkan seluruh keluarga kita kembali padaNya," ucap Axel.
"Semoga mereka tentang di sana dan diampuni segala dosa-dosanya," sahut Albern.
"Amin," ucap Axel.
Baik asal dan Albern berbincang tentang keadaan yang sekarang mereka alami satu sama lain. Selama beberapa bulan ini sudah banyak yang terjadi begitu pun dengan pindahnya Axel ke kota A.
"Aku senang kau tinggal di kota A bersama istrimu, jadi Aara ada temennya," ujar Albern.
"Iya, Untung saja aku dimutasi ke kota ini," sahut Axel.
"Kau hebat di usiamu yang masih muda sudah punya kemampuan dan mencukupi kebutuhan hidup keluargamu," puji Albern. Dia kagum dengan adiknya yang sudah mampu bekerja keras dan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya nya. Padahal usia Axel masih sangat muda.
"Aku belajar dari kakak," sahut Axel.
"Ini baru yang dinamakan lelaki, kau memang harus mandiri dan bertanggung jawab," sahut Albern.
__ADS_1
"Iya pasti," sahut Axel.
Mereka terus berbincang-bincang. Banyak cerita yang ingin diceritakan selama berbulan-bulan ini tak bertemu.
"Aara pasti senang melihatmu masih hidup Bang," ucap Axel.
"Iya, dia sudah tahu kalau aku masih hidup," sahut Albern.
"Jadi Aara sudah tahu Bang? Tapi kenapa dia tidak cerita pada aku dan Raina?" tanya Axel. Selama bertemu dengan ku, tidak sedikitpun aku membahas tentang Albern yang masih hidup.
"Aku memang meminta Aara untuk sementara waktu menyembunyikan identitas ku, karena aku aku memiliki pekerjaan yang harus kukerjakan terlebih dahulu," jawab Albern.
Akhirnya Albern menceritakan tentang Martin pada Axel dan tugasnya untuk mengungkap kecelakaan yang terjadi padanya. Menemukan pelakunya nya Robberto yang sudah membantunya melunasi hutang dan membawanya ke kota A.
"Oh begitu, pantas saja Aara tidak cerita padaku," sahut Axel.
"Lalu bagaimana keadaanmu, Raina dan anakku?" tanya Albern.
"Alhamdulillah semuanya baik Bang," jawab Axel.
"Bobo bagaimana?" tanya Albern.
"Udah pinter jalan, ngomongnya udah lancar dan tambah gede," ucap Axel.
"Alhamdulillah kalau begitu, nanti setelah urusanku dengan Aara selesai aku akan menemui kalian," ucap Albern.
"Iya, aku dengar arah sudah berkumpul dengan keluarga kandungnya. Dan ternyata dia berasal dari Keluarga Ariendra, konglomerat di kota A," sahut Axel.
"Jadi sekarang Abang mau ke mana?" tanya Axel. Dia ingin tahu kemana kakaknya mau pergi. Terlihat rapi dan keren. Namun tidak formal.
"Aku mau menemui Keluarga Ariendra, untuk memberitahukan tentang pernikahan kami," jawab Albern.
"Alhamdulillah, semoga sukses bang," ucap Acer memberi semangat kepada kakaknya. Dia tahu tidak mudah bertahan saat mereka sempat terpisah. Bahkan dinyatakan meninggal. Namun cinta sejati terus abadi dan tetap bersama pada akhirnya.
"Iya, terimakasih support-nya," sahut Albern.
Bus berhenti di halte berikutnya. Axel berpamitan untuk turun pada kakaknya. Dia turun dari bus, meninggalkan tempat itu, sedangkan Albern kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah besar Keluarga Ariendra.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya sampai juga di rumah besar Keluarga Ariendra. Albern menelponku terlebih dahulu agar security membukakan pintu untuknya. Segera aku turun ke bawah keluar dari rumah meminta security membukakan pintu untuknya. Akhirnya aku bisa bertemu dengan suamiku. Ku peluk tubuhnya. Rasanya rindu sudah tak bertemu beberapa minggu ini. Baik aku dan dia sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Aku dengan kuliahku dan dia dengan masalah Martin yang harus diselesaikan.
"Aku kangen," ucapku.
"Aku juga kangen sayang," sahut Albern.
Kami berpelukan meluapkan rasa rindu. Sebagai suami istri kami sempat terpisah cukup lama. Untung saja takdir masih bisa mempertemukan kami kembali.
"Sayang cantik banget, apa karena udah gede?" puji Albern.
__ADS_1
"Suamiku, sekarang aku belajar make up dari Adelina," sahutku.
Ya memang sekarang aku lebih sering menggunakan make up. Adelina mengajariku caranya menjadi wanita yang cantik. Dan semua fasilitas yang diberikan orang tuaku sudah ku gunakan dengan baik. Kini aku menjadi putri di rumah besar itu. Tanganku yang dulu biasanya kasar kini lembut dan halus. Aku dan mama sesekali memanjakan tubuh dengan spa dan luluran di rumah. Ada fasilitas salon di dalam rumah kami.
"Pantas kok tambah cantik," sahut Albern.
"Ayo ke masuk, kita harus bertemu dengan orang tuaku sebelum semuanya terlambat," ujarku.
"Iya sayang," sahut Albern.
Aku mengajak Albern masuk kedalam rumah. Menemui keluargaku. Kebetulan Papa dan Mama sedang bersantai di ruang tengah. Aku berharap mereka tidak terkejut dengan kedatangan suamiku. Kami masuk ke ruang tengah.
"Assalamu'alaikum," sapaku dan Albern.
"Wa'alaikumsallam," sahut Papa dan Mama. Mereka menetap lelaki yang ada di sampingku. Khususnya Papa, beliau menatap tajam Albern. Seperti bertemu dengan orang yang tidak disukai olehnya.
"Pa Ma," ucapku.
"Duduklah ke mari," sahut Mama.
Aku mengangguk.
Segera aku dan Albern duduk di sofa bersama Papa dan Mama.
"Aara duduk di dekat Mamamu!" perintah Papa.
"Tapi Pa?" ucapku.
"Sudah nak menurut lah dulu," saran Mama.
Aku mengangguk. Berdiri, berjalan menghampiri mama dan duduk di sampingnya. Kulihat papa tetap menatap suamiku. Entah apa yang dipikirkannya pada Albern.
"Apa maksud kedatangan ke sini?" tanya Papa.
"Pertama terimakasih Om dan Tante bersedia menerima ku sebagai tamu," ucap Albern.
"Langsung ke intinya," ucap Papa.
"Namaku Albern Alison, aku dan Aara sudah menikah Om, Tante," ucap Albern.
"Apa?" Papa dan Mama terkejut. Bagai disambar petir di siang bolong. Apa yang dikatakan seperti sesuatu yang membuat mereka terkejut bukan main. Baru saja bertemu dengan Putri sulungnya, malah mendapati putrinya ternyata sudah menjadi istri orang. Dan mereka tidak tahu itu.
"Iya Pa, Ma, aku dan Albern sudah menikah, saat aku duduk di bangku kelas 3 SMA," ujarku.
"Apa?" Papa dan Mama semakin terkejut.
"Maafkan aku Om, Tante, waktu itu kami digrebek warga, terpaksa nikah dadakan," ucap Albern.
__ADS_1
"Digerebek warga? Nikah dadakan?" Papa dan Mama makin terkejut.
Entah apa yang akan terjadi. Aku takut Papa dan Mama marah. Atau tak menerima pernikahan kami. Secara usiaku dan Albern jauh berbeda. Apalagi tatapan mata Papa terhadap Albern seperti menyimpan sesuatu yang tidak ku ketahui.