Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Pergi Part 105


__ADS_3

Seorang pria gendut dan hitam duduk di depan Kiara.


"Sorry Neng tadi ada kecoak merayap di baju Eneng, jadi abang usirin, gak sengaja pegang sana-sini."


"Apa?" Kiara pingsan lagi. Dia berpikir tadi yang merabanya Raka ternyata Mas gendut yang lagi nyari kecoak.


"Eh kecoaknya ada lagi, ini kesempatan atau keuntungan ya?"


Lelaki gendut itu hendak mengambil kecoak yang ada di dada Kiara. Baru mau pegang, Kiara langsung terbangun.


"Aaaaah ...," teriak Kiara.


"Kenapa Neng? abang siap bertanggungjawab."


"Gak mau," ucap Kiara yang terbangun.


Tiba-tiba seorang perawat masuk ke dalam. Dia mendengar Kiara berteriak ketakutan.


"Jono kamu apakan Nona ini?" tanya perawat.


"Si gendut ini tadi mau memperkosa saya," ucap Kiara.


"Gak kok, cuma meraba dan memegang doang," sahut Jono.


"Apa?" perawat terkejut.


Kiara masih ketakutan. Dia mengira Jono mau berniat jahat.


"Tanggungjawab Jono, kamu lelaki sejatikan?" ucap perawat.


"Mau, Jono mau tanggungjawab," jawab Jono.


Mendengar itu Kiara pingsan lagi. Dia tak sanggup harus hidup bersama Jono. Targetnya Raka bukan Jono. Dunia akan terasa terbalik jika bersama Jono.


"Tuhkan Jono jadi pingsan lagi, ini pasti ulahmu, udah langsung panggil penghulu aja biar langsung dinikahin," ucap perawat.


"Boleh, Jono dah siap," ucap Jono.


Mendengar itu, Kiara langsung bangun. Dia berteriak dan berlari keluar dari ruangan itu. Hampir saja dia nikah sama Jono.


"Amit-amit, masa nikah ma Jono, aku maunya Om Raka," ucap Kiara.


Kiara merapikan pakaiannya. Dia berjalan menuju


ke ruang interview. Kiara senang, dia belum terlambat untuk interview. Beberapa menit menunggu, tiba gilirannya interview. Selama setengah jam, Kiara diinterview, akhirnya dia bisa keluar dengan senang.

__ADS_1


"Tinggal menunggu hasil interview, semoga saja keterima dan bisa bertemu Om Raka tiap hari," ucap Kiara yang berangan-angan.


***


Farel sedang duduk di kursi kerjanya. Dia mengerjakan beberapa pekerjaannya di laptop. Semenjak libur banyak pekerjaan yang menumpuk. Hari ini menjadi hari yang cukup berat untuknya, selain pekerjaan yang menumpuk, peristiwa tadi yang membuatnya kesal. Tak lama Sekretaris Beni masuk ke dalam.


"Pagi Presdir," sapa Beni.


"Pagi," jawab Farel.


"Ada berita yang harus anda tahu," ucap Beni.


"Berita? berita apa?" tanya Farel.


Beni membuka handphone miliknya lalu memperlihatkannya pada Farel.


"Ini ...," ucap Farel.


"Video ini sudah viral, saya yakin orang di dalam video ini anda," ucap Beni.


"Iya, itu memang saya," jawab Farel.


"Presdir berita ini bisa merusak repotasi perusahaan kita," ucap Beni.


"Bisa dihapus Presdir, hanya saja pemberitaannya sudah menyebar luas, saya yakin semua orang tetap akan membicarakannya," ujar Beni.


"Ya sudah, minta orang yang ahli untuk menghapus video itu, soal pemberitaan kita urus nanti ya," ucap Farel.


"Baik Presdir," jawab Beni.


Beni keluar dari ruangan Farel. Tinggal Farel yang masih terdiam memikirkan pemberitaan itu. Dia tak menyangka pertemuaannya kali ini dengan klien berujung masalah panjang.


"Gimana aku menyelesaikan masalah ini?" ucap Farel.


Farel mengecek media sosial. Semua trending topik mengarah pada video yang viral. Farel merasa ini akan berdampak pada bisnisnya.


Hari mulai sore, Farel mengemas semua barang miliknya ke dalam tas. Dia keluar dari dalam ruangan kerjanya. Beberapa karyawan melihatnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Farel tahu pasti ini dampak dari video viral itu. Meskipun begitu tak ada yang berani membicarakannya karena Farel atasannya. Farel keluar dari perusahaan mengendarai mobil pribadinya. Dia segera pulang ke rumah. Farel mencari keberadaan istrinya, dia melihat Alina sedang menangis di sudut ruangan kamar. Dia tahu ini pasti karena gosip itu, perlahan Farel menghampiri Alina. Dia duduk di samping Alina.


"Maafkan aku ya sayang, sudah bikin kamu sedih," ucap Farel.


Alina masih diam, Farel jadi merasa tambah bersalah. Gosip itu pasti membuat Alina sedih.


"Siapa wanita itu Kak Rafa?" tanya Alina.


Farel memeluk Alina. Dia tahu akhir-akhir ini Alina mudah baper. Dia tidak tahu kenapa Alina jadi begitu, tapi gosip itu bisa membuat Alina semakin baper.

__ADS_1


"Apa aku udah gak cantik lagi?" tanya Alina.


"Sayang, di mataku kamu paling cantik," jawab Farel.


"Kak Rafa apa dia temanmu?" tanya Alina.


"Bukan sayang, dia itu klienku," jawab Farel.


Alina menangis. Dia merasa cemburu dan tak rela suaminya dianggap pebinor.


"Sudah sayang, jangan dipikirin. Yang jelas aku cintanya sama kamu," ucap Farel.


"Aku mau nginep di rumah Mama," ucap Alina.


"Aku ikut ya sayang," ucap Farel.


"Gak usah, Kak Rafa di sini aja," ucap Alina.


Farel tahu ini akan terjadi. Emosi Alina yang berbeda, membuatnya mudah baper. Pemberitaan ini pasti mempengaruhi suasana hatinya.


Alina melepas pelukan Farel. Dia mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Alina sudah mantap untuk menginap di rumah orangtuanya. Dia berjalan keluar dari kamarnya, Fatel membuntutinya.


"Sayang, kau marah?" tanya Farel.


"Aku hanya ingin menginap di rumah Mama," jawab Alina.


"Aku ikut ya?" tanya Farel.


"Gak mau," jawab Farel.


Alina berjalan menuruni tangga lalu keluar rumah. Dia masuk ke dalam mobil. Farel masih menahan pintu mobil dan berusaha membujuk Alina.


"Sayang, aku minta maaf, semua ini tidak benar," ujar Farel.


Alina hanya diam dan meneteskan air mata.


"Sayang ku mohon jangan pergi," pinta Farel.


"Kak Rafa, maaf." Alina menutup pintu mobil. Dia sudah yakin untuk sementara waktu tinggal di rumah orangtuanya.


"Jalan Pak," ucap Alina pada sopir mobilnya.


"Baik Non."


Mobil itu melaju meninggalkan rumah besar itu. Farel hanya bisa melihat kepergiaan Alina. Dia tidak bisa membujuknya untuk tetap tinggal.

__ADS_1


__ADS_2