
"Ampun Om. Menurut cerita dongeng putri raja. Kamar putri raja biasanya indah dan cerah. Gini-gini kakekku seorang arsitek jadi paham urusan keindahan kamar dan rumah he he he"
Haura seolah tak bersalah karena maksudnya baik. Dia hanya ingin kamar itu indah untuk ditempati.
"Kamar indah?." Lelaki tampan itu tercengang.
"Iya wanita menyukai sesuatu yang indah dan berwarna. Tadi aku lihat kamar itu gelap dan tidak enak dipandang. Jadi aku rasa lebih baik aku perindah biar wanita difoto itu nyaman tinggal disitu." Haura bicara gamlang, dia sudah tak takut dengan lelaki tampan itu.
"Istriku sudah meninggal." Lelaki tampan itu bicara sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat sedih.
Haura yang tadi tersenyum jadi terdiam. Dia melihat muka lelaki dingin itu bersedih. Dia seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga dihidupnya.
"Aku tidak tahu rasanya kehilangan. Dihidupku aku selalu senang karena merasa ada semua orang yang menyayangiku. Tapi saat aku jauh dari mereka aku bisa merasakan arti sebuah kehilangan. Berada diantara orang yang kita sayangi begitu menyenangkan. Tapi aku menyia-nyiakannya." Ucap Haura. Dia juga bersedih teringat kebersamaan dengan keluarganya.
Air mata keluar dari pipi lelaki tampan itu. Dia teringat pada almarhum istrinya yang sudah tiada. Ada penyesalan yang selalu membuatnya merasa bersalah.
Haura bangun dan mengusap air mata dipipi lelaki tampan itu.
"Om jangan menangis, wajah tampanmu memerah." Ucap Haura jujur dari hatinya.
Lelaki tampan itu memandang wajah Haura yang terlihat cantik.
"Siapa namamu?." Tanya Lelaki tampan itu.
"Haura. Ingat Om jangan panggil Hau atau Ura. Panggil lengkap Haura." Ucap Haura.
Lelaki tampan itu tersenyum. Tingkah Haura yang konyol terlihat lucu untuknya. Gadis muda itu berhasil membuatnya sedikit senang.
"Nama Om siapa?." Tanya Haura.
"Barra Mahendra. Kau bisa panggil aku Om saja. Usiaku 35 tahun." Barra memperkenalkan dirinya pada gadis konyol didepannya.
"35 tahun." Haura kaget mendengar usia lelaki tampan yang menurutnya masih muda dan keren.
Dia sampai pingsan di tempat. Harapannya pupus untuk mengidolakannya.
Barra langsung menangkap tubuh Haura. Dia membopong Haura masuk ke kamarnya. Haura berbaring diranjang. Lelaki tampan itu terus memandangi wajah Haura yang sedang tertidur.
"Gadis muda yang lucu, konyol dan cantik." Barra tersenyum. Haura membuatnya tertarik untuk berdekatan dengannya.
Haura membuka matanya, dia melihat kamar yang lebih bagus dari kamarnya sebelumnya dan lelaki tampan disampingnya.
"Eh....apa aku mimpi atau disurga." Batin Haura.
Haura bangun dan menepuk pipinya. Dia yakin ini bukan mimpi. Dia berada dikamar Barra lelaki tampan itu.
__ADS_1
"Kau ngapain Haura?." Tanya Barra.
"Om aku dimana ya?." Haura bertanya balik.
"Kau ada dikamarku." Ucap Barra.
"Oh...pantes kamar Haurakan kecil dan sempit. Kalau bisa Haura minta kebijakan yang lebih baik he he he." Haura tersenyum saat menyampaikan keinginannya.
"Kalau begitu tidurlah disini denganku, jadi wanitaku." Ucap Barra.
"Wanita? Om tolong diperjelas aku kurang paham maklum sekolah aja masih nyontek, jarang belajar sering bikin ulah." Haura benar-benar tidak paham maksud Barra.
"Jadi milikku, semacam istriku." Ucap Barra.
Haura memikirkan untung dan rugi terlebih dahulu.
Setan Red mengatakan "udah Haura terima aja, enak loh jadi cemceman Om-om. Yang dewasa lebih memuaskan lahir dan batin he he he."
Setan Bul mengatakan "Haura pikirkan nasibmu bisa bergelimang harta gak perlu balik lagi ke rumah orangtuamu toh Om ini kaya dan mapan. Tampan lagi inget itu he he he."
"Eee, gak mau Om. Haura masih ingin sekolah. Tungguin Haura lulus sekolah dulu ya." Ucap Haura dengan polos.
Barra tertawa terbahak-bahak. Ini kali pertamanya dia benar-benar senang. Dia sampai mengelus kepala Haura.
"Kau harus jadi milikku." Ucap Barra.
"Haura ini pacarku, Om gak bisa seenaknya. Dia masih kecil kaya aku. Carilah tante-tante sana." Dhafi marah dia tidak mau Haura jadi milik Barra.
"Bocah kecil ayo kita bersaing, kau atau aku yang akan memilikinya." Barra menantang Dhafi keponakannya sendiri.
"Siapa takut secara aku masih muda, paling beberapa tahun lagi Om mati." Ucap Dhafi.
"Kau" Barra kesal Dhafi seenaknya menyebutnya akan mati.
"Ayo Haura kita keluar dari kandang singa ini, tidak baik berlama-lama disini." Dhafi menarik lengan kanan Haura sementara Barra juga menarik lengan kiri Haura.
Haura bingung ikut siapa. Dia seperti bermimpi bertemu dua lelaki tampan yang memperebutkannya.
"Om ngalah dong sama ponakan." Ucap Dhafi.
"Untuk yang ini aku tidak akan mengalah." Ucap Barra.
"Tunggu, ada makanan gak ya aku laper." Ucap Haura yang malah mikirin perutnya yang lapar.
"Hah." Kedua lelaki tampan itu terkejut ternyata Haura lapar.
__ADS_1
*************
Alina pergi ke rumah Ibu Lesti untuk bekerja. Di jalan bertemu Alvan. Dia berada disebuah gang buntu yang kanan dan kirinya pagar tinggi. Dia sedang dikeroyok beberapa orang tak dikenal. Alina menghampiri Alvan yang terjatuh dibawah.
"Alvan" Alina berteriak.
"Bodoh untuk apa kau kesini?". Tanya Alvan.
"Dia pasti orang spesialmu bukan."
Seorang lelaki berpakaian hitam, bertato dan kekar. Tidak hanya satu lelaki tapi ada tiga orang lelaki kekar.
"Jangan berani menyentuhnya, kalau tidak aku akan menghabisi kalian semua." Alvan menantang tiga lelaki kekar itu. Dia takkan membiarkan mereka menyakiti Alina.
"Kau kenapa? mereka siapa?." Alina bertanya berturut-turut. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Alvan.
"Pergilah bodoh, kau akan mati." Alvan menyuruh Alina pergi meninggalkannya. Dia tak ingin Alina dekat dengannya.
"Tidak" Alina menolak. Dia tidak ingin meninggalkan Alvan. Dia mengkhawatirkan keselamatan Alvan.
"Banyak omong, hajar dia."
Ketiga lelaki kekar itu menghajar Alvan. Tapi Alvan lebih jago dari mereka. Hingga mereka babak belur. Alvan menarik tangan Alina meninggalkan tempat itu. Dia berlari bersama Alina.
"Alvan apa yang terjadi?." Alina bertanya.
Alvan menghentikan langkahnya. Dia berdiri bertatapan dengan Alina.
"Bukan urusanmu, urus saja dirimu sendiri." Alvan begitu dingin, Alina merasa Alvan jadi seperti sebelumnya.
Alvan menyetop sebuah taksi. Dia memasukkan Alina ke dalam taksi itu. Lalu membayar supir taksi itu, dia menyuruh supir taksi membawa Alina pergi alamat yang diberikannya.
"Alvan." Alina berteriak dari dalam taksi.
Alvan hanya berdiri ditepi jalan. Wajahnya terlihat lebam dan terdapat beberapa luka tonjokkan. Alina tidak tahu Alvan kenapa. Taksi itu melaju meninggalkan tempat itu.
Sampai di rumah Ibu Lesti, Alina sudah disambut Alvan yang membukakan pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum Alina." Ucap Alvan.
"Wa'alaikumsalam." Ucap Alina.
"Kau sudah dirumah?." Tanya Alina. Dia heran Alvan cepat sekali sudah dirumahnya. Wajahnya juga bersih tanpa lebam dan luka.
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel ku yang ini. Kocak dan bikin ngakak. Udah direvisi jadi aman untuk dibaca.
Jangan mencari adegan 21+ dinovel ini. Tapi ambil pelajaran yang bisa dipetik dan cerita ngakaknya untuk menghibur hati yang galau ya.