Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Pergi Ke Rumah Rehan Part 44


__ADS_3

"Hei...hei..." Haura memanggil lelaki yang dirantai tangan dan kakinya.


"Masa sih dia gak denger, perasaan aku sudah kencang memanggilnya" batin Haura.


"Hei...hei...hei..."Haura kembali memanggil lelaki itu.


Lelaki itu tidak menjawab panggilan Haura. Dia tetap diam dan menundukkan kepalanya.


"Kau sombong sekali, padahal aku hanya ingin ngobrol denganmu, eh bukan tapi kepo" ucap Haura.


Laki-laki iti hanya menoleh sekilas ke arah Haura.


Dia seperti melihat Alina saat melihat Haura. Semangat hidupnya seakan kembali lagi.


"Alina" ucap Alvan.


"Alina? Alina itu keembaranku, kau mengenalnya?" tanya Haura.


Alvan yang tadi hanya diam mendengar ucapan Deena jadi tertarik bicara dengannya.


"Alina temanku disekolah" ucap Alvan.


"Oh, kau temannya Alina. Tapi kenapa kau bisa ditempat ini?" tanya Haura.


Alvan hanya diam tidak menjawab pertanyaan Haura. Melihat responnya Alvan, Haura memutuskan bicara hal yang lain.


"Kau tahu tempat ini menakutkan? aku saja tidak tahu bisa keluar dari tempat ini atau tidak. Tapi aku sayang keluargaku, jadi aku harus optimis untuk selamat" ucap Haura.


Alvan yang tadinya putus asa mendengar Haura semangat meski berada ditempat itu, membuat Alvan semangat juga.


"Siapa namamu?" tanya Alvan.


"Haura. Jangan panggil aku Hau atau Ura. Tapi panggil Haura ya" ucap Haura memperkenalkan dirinya.


"Alvan" ucap Alvan singkat.


"Alvan lukamu banyak sekali, pasti sakit ya" ucap Haura.


Alvan hanya diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Haura.


"Baiklah, aku tidak memaksaka mu menjawab. Aku lelah mau istirahat dulu" ucap Haura.


Haura duduk disamping sel lalu tidur. Dia cukup kelelahan. Dia termasuk satu diantara banyak gadis yang tidak takut, menangis ataupun terdiam.


**************


Barra duduk disofa sambil membaca koran di ruang keluarga . Dia ingin tahu perkembangan bisnis sekarang. Dhafi masuk ke dalam ruang keluarga. Dia menghampiri Barra dan duduk disampingnya.


"Om Haura tidak ada" ucap Dhafi.


"Mungkin dia sedang tidur dikamarnya" ucap Barra.


"Aku sudah ke kamarnya tapi tidak ada juga" ucap Dhafi.

__ADS_1


"Dia sedang jalan-jalan diluar" ucap Barra.


"Sudah dua hari ini Haura tidak ada dirumah" ucap Dhafi.


Barra langsung terdiam memikirkan ucapan Dhafi, ada benarnya yang dikatakan ponakannya. Haura memang sudah tidak kelihatan beberapa hari ini.


"Om lakukan sesuatu, carilah Haura!" ucap Dhafi.


"Kau saja dulu cari dia, nanti kalau hasilnya nihil baru aku mencarinya" ucap Barra.


"Om benar-benar deh" ucap Dhafi.


Dhafi marah lalu meninggalkan ruang keluarga. Dia berpikir untuk mencari Haura sendirian. Setelah Dhafi pergi barulah Barra juga merasa aneh, Haura tidak pernah kelihatan batang hidungnya.


"Kemana Haura? apa dia kembali ke keluarganya?" ucap Barra bertanya-tanya.


Barra meletakkan korannya dimeja. Dia beranjak dari sofa berjalan keluar rumah. Barra mengendarai mobilnya keluar dari rumah besarnya. Dia pergi ke kota A dengan naik pesawat. Sampai dikota A, Barra pergi dengan mobil pribadi.


Baru kali ini Barra pergi tanpa pengawalan. Dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah besar Rehan. Dia ingin tahu apakah Haura memang sudah pulang atau diculik orang. Ditengah jalan ban mobilnya pecah. Barra terpaksa keluar dari mobilnya. Dia mengecek ban mobilnya yang pecah.


"Sial, ada-ada saja" ucap Barra.


Barra memutuskan mencari kendaraan lain. Dia berjalan menuju halte. Dia berdiri disamping seorang gadis berkaca mata dan terlihat cupu.


"Aduh kenapa aku bertemu Om cabul disini, semoga dia tak mengenalimu" batin Deena.


Bus datang dari ujung jalan dan berhenti didekat halte. Barra dan Deena naik bersamaan ke dalam bus. Mereka berjalan dilorong kursi mencari kursi yang kosong. Hanya ada dua kursi kosong. Barra duduk berdua bersama Deena dikursi itu.


"Kenapa Om cabul ikut-ikutan duduk disampingku?" batin Deena.


Dia khawatir Barra mengenalinya, walaupun penampilannya cupu. Bus melaju, Deena tak sengaja tertidur lalu kepalanya bersandar dibahu Barra.


"Gadis cupu itu ngapan tidur dibahuku?" batin Barra.


Barra memperhatikan wajah Deena dengan seksama.


"Dia sedikit mirip Raynor" batin Barra.


Barra melepas kaca mata Deena, dia mulai mengenali gadis cupu disampingnya.


"Kita memang berjodoh" ucap Barra.


Barra mencium kening Deena yang sedang tidur.


Cup


"Ternyata kau manis juga saat tidur" ucap Barra.


Tak lama Deena terbangun. Dia terkejut berada dibahu Barra. Dengan segera dia mengangkat kepalanya menjauhi tubuh Barra.


"Kaca mataku mana?" batin Deena.


"Maaf Om, me..lihat kaca ma...taku?" tanya Deena.

__ADS_1


"Sayangku, tidak perlu berakting saat bersamaku, aku tahu kau Raynor kekasihku" ucap Barra.


"Apa? dia tahu aku, ini semua karena aku ketiduran" batin Deena.


"Baiklah, kembalikan kaca mataku" ucap Deena.


"Kasih aku hadiah kerinduan" ucap Barra.


Deena tahu maksud perkataan Barra. Dia hanya diam saja mengacuhkan lelaki itu.


"Sayang kau marah? nih kaca matamu" ucap Barra.


Deena langsung mengambil kaca matanya.


"Kau mau apa ke kota A?" tanya Deena.


"Aku mau mencari Haura" ucap Barra .


"Aku tidak boleh keceplosan soal identitas pribadiku" batin Deena.


"Oh gitu" ucap Deena.


Barra menarik tubuh Deena lalu memelukknya.


"Lepas" ucap Deena.


"Bukannya kau suka seperti ini ya" ucap Barra.


"Lepas, malu dilihat orang" ucap Deena.


Bus berhenti, Deena mrndekati wajah Barra untuk menciumnya, Barra menutup matanya mau menerima ciuman dari Deena. Saat Barra menutup mata, Deena langsung melepas tangan Barra dari tubuhnya. Dia langsung kabur keluar bus.


"Kau mulai nakal ya sayang, lihat saja aku akan membuatmu menciumku setiap hari" ucap Barra.


Deena secepatnya kembali ke rumah besarnya. Dia tidak mau identitasnya diketahui Barra. Kemudian Barra juga turun dari bus. Dia berjalan menuju rumah Rehan. Sampai dirumah besar Rehan, Barra bertamu ke rumah itu. Dia duduk diruang tamu bersama Rehan.


"Apa maksud kedatangan Anda ke rumahku?" tanya Rehan.


Rehan memandang lelaki asing yang duduk bersamanya disofa. Dia merasa tidak mengenali lelaki itu.


"Aku ingin memastikan apakah Haura sudah pulang ke rumah ini" ucap Barra.


"Haura? dari mana kau mengenal putriku?" tanya Rehan.


Rehan terkejut lelaki asing itu mengenal Haura putrinya. Dia terlihat tampan dan muda. Rehan berpikir mungkin lelaki itu teman Haura selama main diluaran.


"Sebelumnya dia tinggal bersamaku" ucap Barra.


"Apa? putriku tinggal bersamamu?" ucap Rehan semakin terkejut.


Rehan tidak ingin berpikir yang tidak-tidak. Dia tahu senakal-nakalnya Haura tak mungkin dia tidur bersama lelaki asing. Anaknya itu masih polos walaupun nakal dan usil.


"Iya, kita tinggal satu rumah, apa kau tidak ingin tahu apa yang dilakukannya dirumahku?" tanya Barra.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Rehan.


Perkataan Barra membuat Rehan khawatir. Lelaki asing itu bisa saja menyakiti putrinya yang masih polos itu. Tapi Rehan tak ingin berburuk sangka.


__ADS_2