
Tsunami melanda Negara A. Semua porak poranda. Keluarga Leo dan Zara harus menyelamatkan diri dari gelombang tsunami. Semua harta benda lenyap disapu gelombang air tsunami. Kehidupan lama menghilang, beralih kehidupan baru di Negara A. Banyak orang kehilangan anggota keluarganya. Termasuk Keluarga besar Leo dan Zara.
Dua puluh tahun kemudian. Namaku Aara Amelia. Aku seorang gadis yatim piatu. Hidup sendirian, tinggal dikosan dan berjualan macam-macam keripik setiap hari. Aku murid terbodoh disekolah. Dua kali nunggak kelas. Naik kelas itupun atas dasar rasa kasihan para guru dan kepala sekolah. Entahlah padahal sudah belajar tapi semuanya hanya angin yang mondar mandir tanpa tujuan dikepalaku.
Aku sudah biasa dapat nilai nol. Bahkan murid yang selalu kena remedial hampir disemua pelajaran. Tapi aku tidak malu dan pede saja toh aku sudah berusaha. Wajahku cantik tapi otakku kosong. Aku sering berjualan keripik dengan segala cara bahkan trik ini itu ku lakukan. Maklum tak ada pekerjaan yang sesuai denganku. Setiap pekerjaan yang ku lakukan selalu gagal total dan merugikan orang.
Beberapa hari lalu aku menemukan bayi. Aku tak tahu bayi siapa. Awalnya aku tak mau mengurusnya. Aku taruh dia didepan pintu rumah orang tapi aku ambil lagi. Aku taruh dikursi taman tapi aku ambil lagi. Sampai aku taruh ditoilet umum ujung-ujungnya aku ambil lagi. Semua itu karena aku tak tega. Meskipun hidup sendiri saja sudah susah ditambah merawat bayi, hidupku semakin sengsara. Penghasilan dari jualan keripik tak seberapa.
Aku menamai bayi itu dengan nama Bobo. Karena dia lebih sering bobo dari pada bangun. Bobo termasuk bayi yang anteng. Aku ajak kesana sini jualan keripik dia tak pernah rewel. Tapi masakahnya aku jadi belum bisa sekolah karena bingung menitipkan Bobo pada siapa.
Malam itu susu formula Bobo habis. Aku tak punya uang. Aku harus membeli susu untuknya kalau tidak dia bisa kelaparan dan rewel. Aku berjalan bolak-balik dikamar kosanku.
"Aduh gimana caranya dapat uang cepat? jualan keripik malem-malem gini nanti dikira setan. Tapi kalau melambai ditepi jalan dikira jablay. Aku harus gimana?" Aku berusaha berpikir. Aku yakin ada jalan ke luar untuk masalahku. Allah takkan menguji hambaNya di luar batas kemampuannya. Aku tidak boleh menyerah. Masih banyak jalan menuju Roma.
"Aku punya ide..." pekikku. Meskipun otakku sering kosong tapi soal ide bisalah diproduksi. Masa nih otak gak guna. Terus ngapain tiap hari nongkrong di kepalaku
Aku menggendong Bobo diranselku yang ku desain sendiri dengan tambahan kain jarit. Maklum aku tak punya uang membeli gendongan masa kini. Sambil menggendong Bobo dibelakang, aku berjalan ditepi jalan. Untuk naik bus saja aku tak punya uang.
"Tidak, aku harus semangat, nilai nol saja aku tak patah arang. Selama masih ada hari esok masih ada harapan, maju terus siapa tahu besok nilaiku +1" ucapku pede. Tak peduli nilaiku yang sering nol. Yang penting kuncinya usaha dan kepercayaan diri. Hidup sebatang kara dan yatim piatu memang harus kuat iman dan muka tembok. Apapun di depan baik itu senang atau susah aku harus mampu melewatinya.
Aku tak pernah berharap nilaiku sepuluh maklum sudah mengukur kemampuan diri. Malam itu aku pergi ke sebuah klub malam yang cukup ramai. Baru mau masuk penjaga keamanan klub menghadangku, bisa dibilang mereka sekuritinya tapi tubuhnya tinggi besar dan kekar.
"Hei kau mau ngapain ke sini bocah kecil?" tanya mereka. Melihat bocah kecil sepertiku yang meragukan kondisi dompetnya bisa membayar semua fasilitas di dalam.
"Ngamen Om" ujarku tanpa rasa bersalah, polos deh. Semoga mereka tersentuh dan memberiku jalan.
"Ngamen? ini bukan tempat ngamen. Di bus saja," usul salah satu dari mereka.
"Nah itu dia masalahnya Om, bus sepi, malah kaya nyanyiin para setan yang pada naik bus," ucapku jujur pada lelaki tubuh kekar itu. Mereka harus tahu dong keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ngamen depan ruko sana," usul yang satu lagi.
"Itu masalah keduanya Om, ruko tutup," jawabku jujur. Mana ada ruko buka di tengah malam. Yang buka di tengah malam, cuma dua tempat di dunia ini, antara klub malam atau pemakaman. Masalahnya kalau ngamen di pemakaman agak gimana gitu. Gimana hantu mau nyawer. Duitnya bisa dipakai di alam manusia tidak. Presidenkan belum meresmikan kalau duit dari hantu bisa dipakai di alam manusia.
"Lalu ngapain kamu ngamen disini?" tanya salah satu dari mereka kembali.
"Hanya di klub malam yang ramai Om," ucapku dengan senyuman manis berharap dikasihani. Maklum aku ini hanya bisa ngamen di klub malam. Biasanya orkay mangkal di sinikan. Siapa tahu mau sedekah ngurangin dosa mereka yang udah beratin timbangan neraka.
"Disini bukan ajang ngamen, pergi sana!" perintah salah satu dari mereka.
Aku segera memohon pada lelaki kekar itu. Hanya klub malam ini harapanku satu-satunya ditengah malam yang masih ramai orang. Dari pada ngamen di pemakaman. Takut mengganggu siksa kubur dan bikin onar, pocong-pocong nanti pada minta di bukain tali pocong lagi padahalkan aku takut.
"Om anakku harus minum susu, aku tak punya uang hik hik hik....suamiku kabur nikah lagi sama janda gatel. Aku yatim piatu hidup sebatang kara, gelandangan dan kelaparan. Ngantri beras jatah gak kebagian hik hik hik...terkadang aku harus mengais makanan sisa ditempat sampah hanya demi bertahan hidup tapi bayiku tak bisa makan-makanan sampahkan? dia butuh susu hik hik hik...." Aku membual, hanya trik ini supaya mereka kasihan. Tenang soal akting emang aku jagonya. Pernah menang casting tapi jadi figuran yang cuma kena tampar dan masuk jurang, belum lagi gantiin aktris tenggelam dan loncat dari lantai dua. Rasanya ironi di atas ironi padahal bayarannya gak seberapa tapi jantungku berpacu terus.
"Hik hik hik baper banget, bawangnya banyak sih." Kedua lelaki kekar itu bersedih dengan nasibku yang penuh ironi. Mereka kasihan padaku.
Kena juga prankku, selagi mereka berdua baper, masuk ah. Maafkan aku Om kekar, hanya di sini rejekiku berada. Dolar I Coming.
Crik...crik...crik...
"Mas-mas, Mba-mba, harap dengarkan saya menyanyi. Permisi atuh saya mau ngamen dulu, mohon buka telinganya jangan buka bajunya saya masih belum cukup umur," ucapku memberi sepatah dua kata pembukaan. Segala sesuatu memang harus di dahului dengan sambutan dulu. Mana tahu mereka baper dan memberiku sedekah yang banyak.
"Siapa dia?" Semua orang melihat ke arahku. Mereka merasa aneh melihatku yang mengamen di klub malam.
"Orang gila apa?"
Sebagian orang mengira aku gila. Tapi tenang aku tak mudah sakit hati. Mentalku baja, meskipun aku wanita. Aku sudah biasa dihina, dimaki dan dicaci.
Hidup itu sulit, kalau kita tak memiliki hati sekeras baja, susah bertahan hidup. Aku harus kuat dan tegar. Ayah dan ibu pasti bangga dan tenang di sana karena aku tak pernah menangisi nasibku.
__ADS_1
"Pada suatu hari kodok bertemu ular. Mereka berdua gak pacaran loh. Ingat hukum alam. Kodok adalah makanan ular, betul tidak Mas-mas dan Mba-mba" ucapku bernyanyi sambil memainkan icrik milikku. Tak ada lagu gaul yang ku ingat. Hanya nyanyian karanganku yang asal dan suara falesku yang memenuhi ruangan itu. Membuat yang mendengarnya berasa kena gempa bumi dan angin tornado dadakan.
"Huh ..., nyanyi apa dongeng sih."
"Lumayanlah hiburan dikala gabut." Ternyata masih ada yang memandang positif laguku. Meskipun sebenarnya nyamuk saja kabur saat mendengarnya. Apalagi cicak. Pada jatuh ke lantai.
"Tenang, Mas, Mba, saya gak narifin tapi sumbang seikhlasnya biar berkah. Tapi tolong uangnya harus hasil bekerja halal. Tidak boleh hasil curian, merampok, menipu, menjual diri ataupun uang nilep. Saya butuh recehan yang halal ya," Aku dengan pedenya menentukan uang yang harus mereka berikan padaku.
"Huh ..." Mereka bersorak. Seakan aku ini berani sekali minta bayaran padahal suaraku bikin telinga mereka sakit dan minta diservis ke Dokter.
Beberapa orang melempariku dengan uang ribuan. Lumayanlah bisa untuk membeli susu Bobo. Aku mengambil selembar demi selembar. Tak tahu malu memang tapi hanya ini cara urgent ku mendapat uang. Yang penting tuh uang halal meskipun recehan. Aku tak ingin jadi sugar baby, simpanan atau pelakor. Meskipun uangnya banyak tapi gak berkah dan halal, buat apa? Nambahin berat timbangan neraka aja. Di saat aku berjongkok sambil memungiti recehan itu. Mereka melihat Bobo yang tidur di punggungku.
"Eh ..., dia bawa bayi." Mereka terharu. Tak menyangka gadis kecil sepertiku membawa bayi, mengamen di klub malam.
"Kasihan ya." Sebagian dari mereka kasihan. Mungkin nasibku tak seberuntung mereka yang punya banyak uang. Namun mereka justru menggunakannya untuk foya-foya. Merusak tubuh mereka dengan minuman keras.
Beberapa orang mengasihaniku. Tapi aku bukan orang yang ingin dibelas kasihani. Aku hanya mengambil hasilku ngamen tadi. Tiba-tiba dua sekuriti itu datang. Aku harus? kabuuur ..., mereka udah gak baper, alamat nih harus out. Mereka mengejar-ngejarku ke sana sini. Aku berlari supaya tak tertangkap. Masuklah aku kedalam ruang VIP diklub malam itu. Mereka semua sedang berjudi dan minum alkohol.
"Punten nyak, saya teh mau ngamen tapi malah masuk sini. Oya Om-Om sekalian jangan berjudi dan minum minuman keras itu dosa. Ingat hidup didunia hanya sementara. Mana tahu beberapa menit kemudian kalian is dead. Eh tunggu is dead itu apa ya? kata-kata yang sering diucapkan difilm, saya nyontek doang," ucapku dengan lugu. Tak disangka ada tempat beginian di dalam klub malam. Astagfirullah, banyak cewek berbaju seksi dan bermesraan dengan lelaki tua gendut lagi. Apa selera orang sekarang berubah. Uang di atas segalanya. Untung saja aku tak mengambil jalan seperti mereka. Biar sulit asalkan halal, Insya Allah berkah.
"Siapa bocah kecil itu?" Mereka semua terkejut melihatku dan mendengar ucapanku.
"Itu dia, tangkap!" Sekuriti itu masuk ke ruangan tempatku berada. Mereka tak lagi memberiku ke longgaran. Menangkapku adalah harga mati.
"Kabuur." Aku berlari lari keluar dari ruangan itu dikejar kedua sekuriti kekar itu.
Di dalam seorang lelaki tampan memakai setelan jas lengkap duduk di belakang para penjudi di ruangan VIP itu, dia bertanya pada sekretarisnya yang berdiri di samping sofa yang di dudukinya.
"Berikan dia uang!" perintah lelaki tampan itu pada sekretarisnya. Dia sepertinya kasihan padaku yang menggendong bayi di dalam klub malam itu.
__ADS_1
"Baik Bos," sahutnya.
Sekretaris dari lelaki tampan itu keluar dari ruangan itu. Dia mencari keberadaanku.