Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Rafael Masuk Sumur Part 12


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen ya


Biar author semangat nulisnya


Lelaki bernama Alvan itu duduk disamping Ibu Lesti memberi senyuman manis pada Alina.


Sejenak Alina merasa bertemu Alvan yang berbeda.


"Alvan ini Alina, dia memapah Ibu sampai rumah karena kaki Ibu terkilir". Ibu Lesti mengenalkan Alina pada anak lelakinya.


"Hai Alina senang bertemu denganmu". Alvan memperkenalkan diri dengan ramah pada Alina.


"Aku juga senang bertemu denganmu, Alvan"


Alina basa basi meskipun dia sudah mengenal Alvan. Tapi Alvan kali ini lebih ramah dan periang. Mungkin karena di dekat ibunya itu dipikirkan Alina.


"Alvan antar Alina pulang". Ibu Lesti memerintah.


"Iya Bu". Alvan setuju dengan perintah ibunya.


"Bu Lesti, saya bisa pulang sendiri". Alina menolak dengan halus. Dia tidak ingin merepotkan orang lain apalagi orang itu Alvan. Bisa saja lelaki itu semena-mena padanya.


"Tidak, pokoknya Alina harus pulang diantar Alvan ya". Ibu Lesti kekeh. Dia ingin memastikan Alina selamat sampai rumahnya. Biar bagaimanapun mulai saat ini Alina adalah orang yang akan bekerja untuknya.


Melihat tekad Bu Lesti yang menggebu, Alina akhirnya mau diantar pulang Alvan. Dia berjalan di tepi jalan dengan Alvan menuju halte bus.


"Alina kau lapar?". Alvan bertanya.


"Eee". Alina ragu untuk mengeluarkan kata-kata. Mungkin saja Alvan akan kasar seperti biasanya.


Dia lebih baik menunggu Alvan sendiri melakukan sesuatu padanya.


"Somay itu enak". Alvan menarik lengan Alina menuju tukang jualan somay. Dia memesankan dua porsi somay. Mereka duduk di kursi sambil menunggu somay itu disajikan. Alvan mengambil handphone disaku celananya kemudian dia selfi bersama Alina.


Cekrek


Tanpa persiapan dengan gaya seadanya bahkan tampak terkejut Alina diajak Alvan selfi bersamanya.


"Alina apa kau punya saudara?". Alvan bertanya.


"Punya, kakakku". Alina menjawab. Hanya Rafael lah keluarga satu-satunya bagi Alina. Bahkan dari kecil hidupnya selalu bergantung pada Rafael. Dia sesosok kakak yang bisa jadi segalanya untuk Alina.


"Pasti menyenangkan ya punya kakak". Alvan berangan.


"Kau sendiri, apa kau punya saudara?". Alina bertanya. Selama ini dia tidak tahu siapa Alvan dan seperti apa keluarganya. Dia hanya mengenal Alvan sesosok lelaki yang suka mengerjainya, memerintah dan susah ditebak.

__ADS_1


"Aku hanya anak tunggal dari ibuku". Alvan menjawab. Dia tidak banyak bicara hal yang lainnya.


"Alvan jangan lupa kerjakan PR mu". Alina mengingatkan. Dia tidak ingin Alvan seperti sebelumnya tidak mengerjakan PR padahal dia mampu mengerjakannya.


"Oke Alina, terimakasih kau sudah mengingatkanku".


Alina terkejut, seingatnya selama ini Alvan tak pernah sekalipun berterimakasih padanya. Dia merasa ada yang aneh dengan Alvan.


"Benarkah ini Alvan?". Batin Alina bertanya-tanya. Lelaki yang duduk bersamanya ramah dan periang. Cara bicaranya juga berbeda lebih santun. Alvan biasanya asal-asalan dan kasar bahkan tak jarang menyakitkan.


Tak lama pedagan somay menyajikan dua piring somay ke meja tempat Alvan dan Alina duduk. Mereka berdua memakan somay dipiring hingga habis tak bersisa.


"Alhamdulillah". Alvan dan Alina bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah pada mereka terutama saat makan.


Setelah makan Alvan mengantar Alina naik bus. Mereka masuk ke dalam bus mencari tempat duduk. Kebetulan ada dua kursi kosong. Alvan dan Alina duduk di kursi itu. Karena kelelahan Alina tertidur, tak sengaja kepalanya bersandar dibahu Alvan. Melihat itu Alvan sengaja menyandarkan kepala Alina dibahunya dengan benar. Bus melaju ke tempat tujuan. Alvan membangunkan Alina saat sampai.


"Alina Alina bangun". Alvan memanggil. Alina terbangun, dia mengangkat kepalanya dari bahu Alvan. Dia melihat bus sudah berhenti di tempat tujuan.


"Ayo turun sudah sampai". Alvan mengajak Alina turun dari bus. Dia memegang lengan Alina membawanya turun dari bus.


Alvan mengantar Alina hingga ke jalan menuju kontrakkannya.


"Alvan sampai sini saja".


"Baiklah, beristirahatlah. Sampai jumpa besok disekolah". Alvan mengucapkan kata perpisahan sebelum pergi.


Alvan mengangguk, dia berjalan meninggalkan tempat itu. Sementara Alina berjalan menuju kontrakkannya. Sore itu dia begitu bahagia, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan.


Alina masuk ke kontrakkannya. Dia tidak melihat Rafael ada di dalam kontrakkan. Alina pergi ke toilet wudhu lalu sholat. Dia masih menunggu Rafael. Sampai jam lima sore, Alina akhirnya memutuskan keluar mencari Rafael. Dia berjalan menuju ke perumahan dekat kontrakkannya. Saat sedang berjalan Alina melihat banyak warga berkerumun di samping rumah seorang warga. Alina penasaran kenapa warga berkerumun. Dia menghampiri seorang Ibu.


"Bu maaf, ada apa ya kok pada ngumpul?". Alina bertanya.


"Itu nak, ada anak kecil masik ke dalam sumur tua, warga sedang membantu mengeluarkannya".


Ibu itu menjawab. Alina jadi semakin penasaran, dia mendekati sumur yang dikerumuni warga. Saat dia melihat ke dasar sumur itu. Air mata Alina mengalir membasahi pipinya. Dia melihat Rafael menggendong anak kecil di pundaknya. Posisinya berdiri ditepi sumur, tubuh Rafael terendam air hingga ke mulutnya. Dia berusaha mempertahankan anak kecil itu agar tidak terendam air. Meskipun dia sendiri sudah terendam air hingga ke mulutnya.


"Kak Raka hik hik hik". Alina menangis sejadi-jadinya. Dia tak tega melihat Rafael seperti itu. Alina hendak menyusul Rafael loncat tapi ditahan para warga.


"Jangan Neng bahaya". Seorang warga menahan Alina. Dia memegang lengan Alina sekuat mungkin.


"Kak Rafa hik hik hik. Biarkan aku menolong Kak Rafa hik hik hik". Alina tak hentinya menangis dan berusaha untuk masuk ke sumur itu. Pikirannya kalut, dia takut terjadi sesuatu pada Rafael. Dia begitu menyayangi kakaknya itu. Hidupnya akan terasa hampa dan sunyi jika tak ada Rafael disisinya. Dialah yang menjadi semangat dan tumpuan hidupnya selama ini.


"Neng kami sedang berusaha membantu mengeluarkan kakakmu dan anak kecil itu". Salah satu warga menjelaskan. Beberapa warga sedang berusaha mengeluarkan Rafael dan anak kecil itu. Alina yang tadi histeris berusaha tenang.


"Ya Allah, selamatkan kakakku, Engkau Yang Maha Kuasa Ya Allah, tolonglah hambamu". Alina berdoa untuk Rafael. Alina terus berdoa, dia hanya punya Allah yang bisa menolong kakaknya.

__ADS_1


"Pak bolehkah saya bicara sebentar dengan kakak saya?". Alina bertanya pada seorang warga.


"Silahkan tapi hanya sebentar, kami sedang melakukan penyelamatan". Warga itu menjawab.


Alina mengangguk, dia berdiri di tepi sumur melihat ke bawah.


"Kak Rafa Kak Rafa Kak Rafa". Alina memanggil Rafael hingga tiga kali. Rafael mendongak. Dia melihat Alina berada di atas sumur. Meskipun matanya mulai rabun karena mulai tak seimbang. Dia kedinginan dan kelelahan.


"Alina". Rafael memanggil dengan suara pelan.


"Kak Rafa harus kuat, bertahanlah. Alina disini menunggumu kak. Alina sayang kakak". Alina berusaha menyemangati Rafael.


"Nona mundurlah pemadam kebakaran datang". Salah seorang warga memberitahu. Alina mundur dari sumut itu. Dia melihat tim penyelamat dari pemadam kebakaran datang dan mulai melakukan penyelamatan dengan alat yang mereka miliki. Seorang tim penyelamat turun ke sumur mengambil anak kecil itu kemudian dia menggendong anak kecil itu naik ke atas. Setelah anak kecil itu diselamatkan. Mereka menyelamatkan Rafael. Tak lama Rafael sudah ada diatas sumur itu. Alina langsung berlari ke arah Rafael. Dia memeluk tubuh Rafael yang sudah lemas.


"Kak Rafa hik hik hik". Isak tangis Alina pecah. Dia memeluk erat tubuh Rafael yang kedinginan. Rafael membalas pelukan Alina. Dia hanya membutuhkan Alina dari pada selimut hangat yang akan menghangatkan tubuhnya. Tidak ada yang membuatnya bahagia selain bersama Alina.


"Aku pikir tidak akan bertemu denganmu lagi adik kecil". Rafael mendekap erat tubuh Alina. Sesekali dia mencium kepala Alina.


"Tidak, jangan bicara seperti itu. Alina ingin selalu bersama Kak Rafa". Alina menangis dia takut sekali dengan ucapan Rafael. Dia tidak berani membayangkan jika tidak ada Rafael dalam hidupnya.


"Adik kecil ayo pulang".


Alina mengangguk. Mereka melepas pelukannya. Seorang warga keluarga dari anak kecil itu menghampiri Rafael.


"Nak, terimakasih atas pertolonganmu". Ibu anak kecil yang digendong Rafael itu berterima ksih.


Dia tidak tahu kalau seandainya Rafael tidak memberanikan diri masuk ke dalam sumur untuk menggendong anak itu, mungkin anaknya sudah mati.


"Sama-sama Bu". Rafael membalas ucapan terimakasih itu. Dia mengusap kepala anak kecil yang tadi digendong olehnya.


"Lain kali berhati-hatilah saat kau main ya, jangan bermain di tempat yang berbahaya". Rafael memberi nasihat pada anak kecil yang digendongnya tadi.


Anak kecil itu hanya mengangguk. Rafael dan Alina pergi dari tempat itu. Alina memapah Rafael yang masih lemas dan kedinginan. Dia senang sekali kakaknya selamat.


Sampai di kontrakkan Rafael mandi dan berganti pakaian. Dia masih kedinginan dan lemas. Dia berbaring di karpet. Alina menghampiri Rafael dan berbaring disampingnya. Dia memeluk Rafael yang kedinginan.


"Kak dingin ya?". Alina bertanya.


Rafael hanya mengangguk. Alina semakin erat memeluk kakaknya. Dia juga menyelimuti tubuhnya bersama Rafael didalamnya. Rafael merasakan kehangatan dari tubuh Alina. Dia merasa nyaman, bagi Rafael berada dipelukan Alina tempat ternyaman untuknya.


"Alina seandainya aku diberi sebuah hadiah, aku hanya ingin bersamamu selamanya". Batin Rafael bergumam.


Rafael mencium kening Alina yang sudah tertidur memeluknya.


Cup

__ADS_1


"Tidurlah adik kecil". Rafael memeluk Alina dalam dekapannya. Dia merasa memdapatkan bonus setelah kesulitan yang tadi dilewatinya. Pelukan hangat Alina bonus terbesar untuknya. Hatinya merasa hangat dan bayangan hidup bersama Alina muncul.


"Mungkinkah, aku dan Alina bisa bersama diatas hubungan persaudaraan dan perbedaan keyakinan". Rafael memikirkan hal itu dalam batinnya. Apa hubungan itu akan menuju bermuara atau justru akan terjadi perpisahan yang menyakitkan.


__ADS_2