Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 2


__ADS_3

Aku berlari sana sini bawa Bobo, ketangkep juga sama sekuriti. Sudah tak bisa kabur apalagi mengelak, pasrah saja dari pada dibawa ke kantor polisi. Bisa repot berurusan dengan polisi. Siapa yang akan menjaminku atau membesukku. Aku sebatang kara. Nasib, beginilah.


"Maafin saya Om kekar, saya kan cuma ngamen. Gak ada maksud lainnya." Aku menjelaskan duduk perkaranya. Siapa tahu kedua Om bertubuh kekar inj kasihan lagi.


"Kamu tahu tidak boleh ngamen di sini!" bentaknya. Dia terlihat menyeramkan. Membuat bulu kudukku merinding. Padahal cuma mau memungut sedikit uang buat susu Bobo malah berujung di tangan kedua Om kekar ini. Kira-kira aku mau diapain ya?


"Tahu, makanya saya maksa masuk, tapi lumayan banyak loh yang nimpukkin saya pakai duit."


"Kalian minggir" Sekretaris lelaki tampan itu menghampiri kami.


"Baik Tuan." Kedua lelaki kekar itu akhirnya pergi juga. Untung ada malaikat yang satu ini. Selamat. Tapi ngapain dia mendatangiku. Jangan-jangan minta aku jadi selingkuhannya atau simpanannya.


Aku terus memikirkan apa maksud dan tujuan lelaki ini. Apa mungkin aku mau dilaporkan ke rumah sakit jiwa. Aku merasa masih waras sih cuma bodoh aja. Apa bedanya bodoh dan gila? Bedakan.


"Kamu!" pekiknya.


"Iya saya," jawabku polos.


"Siapa namamu?" tanyanya. Dia menatapku yang berpenampilan serabutan di tambah menggendong bayi dipunggungku.


"Aara Camelia," jawabku. Jangan berprasangka buruk. Mungkin saja dia tanya alamat. Maklum Om-Om zaman now suka lupa rumahnya sendiri, nyasar mulu ke rumah selingkuhan, simpanan atau pelakor.


"Masih sekolah?" tanyanya. Dia tahu dari postur tubuhku yang kecil dan muka polosku. Udah jelas masih bersih, pasti anak sekolahan.


Tunggu aku terdiam sebentar. Kenapa rasa-rasanya seperti diintrogerasi ya. Mungkinkah aku akan didaftarkan naik haji bukanlah, mungkin daftar jadi penyanyi di sebuah ajang berbakat. Tapi suaraku cempreng bahkan kambing pun kabur saat mendengarnya.


"Masih Om, tapi nunggak dua kelas seharusnya sih udah lulus. Yah beginilah nasib saya, nilai setiap hari nol, kalau pelajaran olahraga jualan keripik, pelajaran kesenian alat apa saja yang saya pakai rusak, murid yang tak dirindukan Om." Aku malah curhat sana-sini. Udah kaya curhat ke psikolog aja.


"Saya tidak tanya itu," ujarnya. Aku aja yang kepedean. Siapa juga yang mau mendengar curhatanku.


"Oh gitu, padahal saya udah panjang lebar ya bicara kirain Om mau mendengar cerita lainnya, saya sudah merangkumnya biar gak terlalu baper."


Aku memang humoris dan tidak pernah menganggap apapun serius. Susah membuatku sakit hati. Kalau kata orang, jembar atine.

__ADS_1


"Ambil uang ini, pulanglah!" Sekretaris itu memberiku amplop padaku. Tunggu ini bukan untuk menyuapku gara-gara melihatnya di dalam klub malam. Berjudi, minum alkohol dan bersama cewek-cewek seksi? Berarti aku kecipratan dosa dong.


"Ini bukan uang tutup mulut Om?" tanyaku.


"Bukan, sedekah dari seseorang," jawabnya.


"Alhamdulillah, tapi ini halal gak ya Om? Saya gak mau dituduh menggelapkan dana, orang ini uangnya warna merah kok gak gelap."


Sekretaris itu hanya geleng-geleng dengan perkataanku. Pikirnya masih ada makhluk aneh sepertiku dijaman modern.


"Itu halal, jadi ambilah!" jawabnya.


"Makasih Om, semoga Allah membalas kebaikan Om, dimurahkan rejekinya, panjang umurnya, senantiasa sehat selalu. Apalagi ya lupa teks yang dibiasa diucapkan para pengemis. Aku ingat-ingat dulu Om, takut ada yang keliwat tar gak afdol," ujarku.


"Sudah-sudah tidak perlu," ucapnya.


"Oya jangan nambah istri, karena kasus perceraian semakin marak, pelakor jadi penyebab utama perceraian. Anak jadi korban, pekerjaan berantakan, mantan istri jadi janda herang, Om nyesel deh selingkuh," kataku panjang kali lebar. Maklum sekarang pelakor lebih banyak dari para pelamar kerja. Jadi pelakor sudah jadi profesi utama.


"Ha ha ha, kamu ini lucu, limited sekali," ucapnya senang mendengar aku berbicara.


"Wa'alaikumsallam."


Aku bergegas meninggalkan Om itu. Khawatir berubah pikiran karena mulutku susah kompromi kalau udah bicara panjang lebar. Maklum aku ini polos atau losdol.


"Bos harus mengenal gadis kecil itu, harinya pasti menarik," ucapnya.


***


Aku membeli susu formula, popok dan botol bayi. Aku harus punya stok yang cukup biar gak ngamen gak jelas seperti tadi. Untung cuma ditimpukin uang, coba kalau ditimpukin telorkan sayang, mending buat bikin telor dadar dan telor mata sapi.


Aku hendak membayar barang-barang yang ku beli, ada dua anak kecil tidur di emperan mini market. Terkadang aku merasa hidupku susah tapi melihat mereka, aku sadar hidupku jauh lebih baik.


Aku berjalan kembali di lorong-lorong rak makanan. Tanganku mengambil dua roti dan dua air mineral. Kemudian aku membayar semuanya.

__ADS_1


Setelah selesai, aku berjalan keluar mini market dan membangunkan mereka.


"Dek ... dek ... dek bangun!" panggilku pada kedua bocah itu.


Mereka bangun. Salah satu dari mereka anak lelaki yang ku perkirakan usianya 10 tahun dan satu lagi anak kecil mungkin usianya sekitar 8 tahun. Bajunya kumel, kotor dan robek. Terlihat lemas dan kurus. Aku kasihan melihat mereka. Sungguh aku harus rajin-rajin bersyukur. Selama ini kadang mengeluh ternyata mereka jauh lebih menderita dariku.


"Ambil ini!" Aku memberikan roti dan air mineral untuk mereka berdua.


"Makasih kak." Mereka menerima roti dan air mineral dengan suka hati. Wajahnya yang tadi murung terlihat bersemangat. Seolah roti dan air mineral itu bagaikan oase di padang pasir.


"Orangtua kalian kemana?" tanyaku. Kasihan anak sekecil mereka sendirian. Tidur di emperan.


"Kami diusir ibu tiri setelah ayah meninggal."


Hatiku teriris sakit. Aku ditinggalkan ibu saat aku sudah lulus SMP, masih beruntung dari mereka berdua.


"Apa kalian punya tempat tinggal?" tanyaku.


"Tidak." Berarti selama ini mereka gelandangan. Pantas terlihat tak terurus dan badannya kurus. Kasihan, tega sekali ibu tirinya.


"Mari ku antar ke yayasan dekat sini, kalian bisa tinggal di sana," ajakku.


"Makasih kak."


Aku mengantar kedua anak itu ke yayasan tempatku dulu pernah tinggal. Setelah jualan keripik aku keluar dari yayasan dan memilih ngekos agar aku mandiri. Walaupun tak mudah tapi aku sudah menjalaninya selama tiga tahun ini. Sekarang aku bisa membayar kos dan biaya sekolahku, ya kadang-kadang nunggak, kena omel staff TU sudah biasa, apalagi kalau mau ujian auto ngumpet di bawah kolong meja biar gak dicari sama staff TU gara-gara SPP nunggak, ya ujung-ujungnya diberi kemudahan dengan dicicil semampunya. Seandainya otakku top cer kaya lampu, mungkin aku jadi juara kelas dapet bea siswa masuk ke perguruaan tinggi lalu mendirikan pabrik keripik, lah ujung-ujungnya keripik lagi.


Pulang ke kosan aku membuatkan susu untuk Bobo. Untung Bobo dari tadi tidur terus, di memang bayi yang anteng. Tahu saja kalau Momy-nya sibuk mencari uang untuk beli susunya.


"Bobo, Momy udah bisa beli susu nih. Alhamdulillah ada orang baik yang memberi kita uang. Memang ya, rejeki anak ada aja," ucapku. Bobo hanya diam menatapku. Maklum Bobo masih bayi mana tahu aku bicara ini itu. Yang penting dia anteng aja aku sudah bersyukur.


Baru aku memberi susu Bobo terdengar suara ketukan pintu.


Tuk ... tuk ... tuk ...

__ADS_1


"Siapa tengah malam gini mengetuk pintu? masa pocong mau minta bukain tali? atau tukang pos tanya alamat palsu? aku rasa bukan, mungkinkah polisi gara-gara aku dilaporin ngamen di klub malam?" Aku berspekulasi ini itu. Gara-gara dikejar dua lelaki kekar tadi dan mendapatkan uang dadakan dari orang asing. Aku jadi takut. Padahal niatkukan cuma mau beli susu Bobo.


__ADS_2