
"Adel tolong," ucap Rangga. Meminta tolong pada adiknya.
"Biarin aja cowokkan paling suka disemutin ulet bulu," ucapku.
"Masalahnya Kak Rangga beda, dia bisa sesak nafas kalau tersentuh mereka karena rasa takutnya pada hal kotor," ujar Adelina.
Whats?
Ada orang modelan Rangga di zaman seperti ini. Seharusnya dia tinggal di dalam kotak kaca yang tak tersentuh terus di museumkan.
Aku tak tega. Kasihan juga Rangga yang sudah mulai sesak nafas. Aku berlari menghampiri Rangga menarik tangannya ke luar dari kerumunan ulet-ulet bulu.
"Hei kenapa kau menarikku?"
"Aara salah," ucap Adelina memberi tahuku yang ditarik olehku bukan Rangga melainkan seorang cewek gendut memakai kaca mata. Dia terlihat ngos-ngosan.
"Eh salah orang," ucapku.
"Air-air, gak ada air?" ucapnya.
"Maaf salah orang," ucapku.
"Ada kubangan air gak? Aku bisa pingsan nih kalau kehausan," ujarnya.
Apa?
Makhluk yang ini aneh juga. Apa di kampus ini penuh makhluk aneh. Pinky Boy dan yang ini Pretty kuda nil.
"Aara biar aku yang tangani Sweety," ujar Adelina.
"Hah! Namanya sweety?" Aku terkejut dengan nama yang begitu manis.
"Iya, aku tolong Rangga," ujarku.
Adelina mengangguk. Dia membawa Sweety mencari kubangan air. Sedangkan aku membantu Rangga ke luar dari kerumunan cewek-cewek cantik.
"Ayo buruan kabur!" ujarku menarik lengan Rangga sambil berlari.
"Aara nafasku sesak," ujar Rangga yang berlari di belakangku.
Benar saja wajahnya pucat. Dia terlihat kesulitan bernafas. Ku hentikan langkah kakiku.
"Kau sesak karena mereka ya?" tanyaku.
"Bukan itu, tapi tanganmu sudah sterill belum?" tanya Rangga.
"Ya ampun kirain apa?" ucapku lalu melepas tanganku dari lengan Rangga.
"Aku butuh tempat bersih, nafasku sesak," ujar Rangga.
Kasihan juga makhluk sterill. Dia kesulitan bernafas. Segitunya takut dengan hal kotor. Meskipun aku sebel dengan kesterilannya tapi melihatnya kesulitan bernafas kasihan juga.
"Ikut aku," ujarku.
Ku aja Rangga ke taman di belakang kampus. Ku suruh dia menghirup udara segar sepuasnya. Biar sesaknya hilang. Aku memperhatikan makhluk langka ini. Dia benar-benar tidak bisa terkena kotor.
Rangga berdiri membuka kedua tangannya menghirup udara sepuasnya. Nafasnya mulai normal.
"Hei Rangga, belajarlah hidup normal, memangnya kau tak ingin bisa bermain dengan teman seusiamu atau memiliki seseorang yang kau cintai?" tanyaku.
"Aku ingin tapi aku tak bisa menghilangkan sindrom terhadap sesuatu yang kotor. Aku sudah terbiasa sterill dari kecil," ucap Rangga.
"Apa kau punya teman?" tanyaku.
Rangga menggeleng. Dia tak memiliki teman selama ini. Menyendiri. Menganggap semua orang kotor dan membuatnya sesak nafas nantinya.
"Kalau gitu aku akan mengajarimu hidup kotor," ujarku.
"Tidak, aku tidak bisa kotor," ujar Rangga.
Aku mendekatinya menepuk bahunya. Berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kau tak ingin kesepiankan? Kau ingin hidup normal punya seseorang yang kau cintaikan?" tanyaku.
Rangga terdiam. Dia memikirkan ucapanku.
"Kalau kau begini terus, tak ada orang yang mau dekat denganmu kecuali keluargamu yang sudah memahamimu sejak kecil," ujarku.
Rangga masih diam. Apa yang ku katakan itu benar. Namun dia sulit melawan ketakutan terbesar dihidupnya.
"Musuhmu adalah rasa takutmu sendiri, kalau kau bisa melawan rasa takutmu, ku yakin kau bisa seperti kami semua," ujarku.
"Kau tak mengerti apa yang aku derita, kau hanya menganggapku aneh," ujar Rangga marah.
"Aku tak bermaksud seperti itu, kau tak bisa selamanya begini," ucapku.
Rangga melepas tanganku dari bahunya. Dia meninggalkanku. Ku lihat Rangga kecewa padaku. Ku kejar Rangga meskipun dia tak mendengar yang ku katakan. Dia terus berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil, meninggalkanku.
Aku berdiri. Ku rasa makhluk sterill itu marah padaku.
"Aara," panggil Adelina. Dia menghampiriku.
"Jangan dipikirkan, Kak Rangga memang begitu, butuh waktu untuk membuatnya berubah," ucap Adelina.
"Aku hanya kasihan padanya," ucapku.
"Aku yakin usahamu tidak akan sia-sia," ujar Adelina.
Aku mengangguk.
Aku dan Adelina kembali mengelilingi kampus.
***
Malam itu aku membuat mie instant cup di balkon lantai tiga. Perut miskinku terkadang rindu makanan yang dulu sering ku makan dikala tak punya uang. Aku menunggu mie instan itu mengembang sambil membaca buku yang baru ku dapat dari kampus. Tiba-tiba Rangga datang menghampiriku.
"Nona virus kau ngapain?" tanya Rangga.
"Bukan kita marahan ya, ngapain kau ke sini," jawabku.
"Aku gak bisa tidur," ujar Rangga.
"Kau tak pernah memakai pakaian selain pink?" tanyaku.
"Memangnya kenapa? Pink itu cute," jawab Rangga.
"Kau tak melihat cowok di luar sana pakai baju berwarna biru, hijau, hitam dan warna yang lebih maco, pink lebih identik dengan wanita," ujarku.
"Maksudmu aku seperti wanita?" tanya Rangga.
"Aku gak bilang, tapi kau yang menyimpulkan," jawabku.
"Aku normal, aku ...," ujar Rangga.
"Kau suka pada wanita tidak?" tanyaku.
"Aku belum pernah suka pada wanita," ujar Rangga.
Aku tertawa terbahak-bahak. Sudah ku tebak manusia sterill ini sibuk dengan perkasa kebersihan yang menyulitkannya sendiri.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak suka pada wanita?" tanya Rangga.
"Kok penyimpang ya?" tanyaku.
"Gak, aku normal. Cuma belum aja ada yang ku suka," jawab Rangga.
"Gimana kau mau punya yang kau suka kalau sikapmu begini," ujarku.
Rangga terdiam. Dia memikirkan ucapanku.
"Semua wanita ingin diperhatikan bukan dijauhi apalagi dianggap pembawa penyakit," ujarku.
"Aara ajari aku untuk berani dengan hal yang kotor," ujar Rangga.
__ADS_1
"Oke," jawabku.
"Itu apa?" tanya Rangga.
"Ini mie instant cup, kau mau?" tanyaku.
"Gak ah, pasti wadahnya tadi tak kau cuci dulu dengan sabun dan air," ucap Rangga.
"Katanya tadi mau belajar," ujarku.
Tiba-tiba Rangga mengambil mie instant cup lalu memakannya dengan meneguknya.
"Rangga bukan seperti itu cara makannya," ujarku.
"Rasanya hambar," ujar Rangga.
Aku tertawa melihat Rangga meringis memakan mie yang belum dibumbui.
"Aku belum menaruh bumbunya," ucapku.
"Pantas rasanya hambar," jawab Rangga.
"Sini, ku bumbui," pintaku.
Rangga memberikan mie instant cup itu padaku. Kemudian aku memberi bumbunya. Kami memakan mie instant itu bersama dan mengobrol. Ternyata dari belakang Tante Alina dan Adelina memperhatikan kami.
"Rangga tak pernah sedekat itu dengan wanita," ujar Alina.
"Iya Ma, Kak Ranggakan gak bisa kalau kotor, tapi malam ini cukup lama dia bertahan memegang hal kotor di tangannya," ucap Adelina.
"Semoga Rangga dan Aara berjodoh," ucap Alina.
"Amin, Adel juga setuju kalau Kak Aara jadi orang yang menemani Kak Rangga," ucap Adelina.
Mereka belum tahu statusku. Aku tak memiliki selembar surat identitas setelah tsunsmi. Aku masuk kampus saja karena aku dimasukkan ke dalam anggota Keluarga Ariendra.
***
Axel pulang kerja. Dia terlihat ceria dan bersemangat. Tangannya membawa martabat di plastik putih masuk ke dalam rumah. Di dalam Raina menggendong Bobo menanti ke pulangannya. Axel langsung berjalan menghampiri Raina, mencium dahinya. Dan mencium pipi Bobo.
"Wah Papa bawa apa?" tanya Raina.
"Bawa martabak kesukaanmu Ma," jawab Axel.
"Papa terlihat senang, ada apa nih?" tanya Raina.
"Ma, aku punya kabar baik," ujar Axel.
"Kabar baik apa?" tanya Raina antisias. Melihat ekspresi suaminya, terlihat kabar itu pasti membawa kebahagiaan untuk keluarga kecilnya.
"Papa naik pangkat," ujar Axel.
"Beneran Pa?" tanya Raina kembali.
"Iya, tapi ...," jawab Axel ragu. Dia tak yakin menyampaikan hal yang mengganjal di hatinya.
"Tapi apa?" tanya Raina penasaran. Dia merasa ada hal yang membuat suaminya tiba-tiba murung.
"Kita harus pindah ke kota A, karena Papa dipindahkan ke pabrik pusat," ucap Axel.
"Pindah?" Raina terkejut.
"Iya, itulah yang membuatku berat. Di sini begitu banyak kenangan. Keluargaku dan semua kenangan yang sudah ku habiskan di tempat ini," ungkap Axel.
"Kau benar Pa, apapun keputusannya aku mendukungmu," ucap Raina.
"Makasih sayang," sahut Axel. Dia merangkul Raina dan memegang tangan Bobo digendongan Raina.
"Bang Albern belum ditemukan, apa masih hidup atau sudah mati?" ujar Axel.
"Iya, mana hanya kita keluarga yang tersisa, rasanya berat juga kita meninggalkan tempat ini, gimana kalau dia mencari kita suatu hari nanti?" ujar Raina.
__ADS_1
"Kita serahkan pada Allah SWT, apapun keputusan kita semoga Allah memudahkannya," ujar Axel.
Raina mengangguk.