
"Tuan kau?" Aku terkejut melihat Albern mengenakan baju koko dan peci. Dia terlihat tampan dan keren. aku sampai bengong melihatnya berpenampilan seperti itu.
"Sayang kau terkejut ya, dengan penampilanku?" tanya Albern. Memperlihatkan penampilannya yang baru.
Aku mengangguk. Buaya sepertinya mengenakan koko dan peci. Terlihat berbeda dari sebelumnya. Aura positif terlihat dari wajahnya.
"Kenapa penampilan Tuan seperti ini?" tanyaku. Tak biasanya dia berpenampilan seperti itu. Aku merasa Albern berubah. Memang sih lebih baik dari sebelumnya dari cara bicara dan sikapnya padaku.
"Tadi aku pergi ke masjid untuk sholat ashar dulu, jadi pakai seperti ini," jawab Albern.
Aku senang. Albern sudah mau menjadi imam akhiratku yang baik. Tanpa aku memintanya. Semoga Albern istikomah.
"Oh ...," jawabku.
"Kau suka?" tanya Albern.
Aku mengangguk. Tentunya aku suka. Albern jauh lebih baik dari segala sudut.
Tiba-tiba Albern langsung membopongku.
"Tuan ...," panggilku padanya.
"Kau cantik sekali, jangan menggodaku seperti ini," ujar Albern.
Aku malu. Tak berani menatap Albern. Dia membopongku ke dalam. Dia menurunkanku di ranjang. Jantungku berdebar. Matanya terus menatapku.
"Aara kalau begini tiap hari aku pengen pulang cepet," ujar Albern.
Aku tersenyum. Meraba pipinya dengan tanganku. Apa ini perasaan cinta, rasanya selalu berdebar saat bersamanya. Tapi cinta ini halal, kami sudah menikah. Tak ada dosa, karena menikah sudah membuat kami sah untuk melakukan hubungan suami istri.
Albern menciumku dengan penuh kelembutan. Aku mulai tak nyaman saat ciuman itu menuju ke segala tempat. Aku langsung bangun dan menghindar.
"Aku belum siap Tuan," ucapku. Di usiaku 20 tahun ini, aku belum pernah jatuh cinta dan menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Aku masih canggung jika harus berdekatan dengan Albern.
"Maaf ya sayang aku berlebihan, habis kau sangat cantik, jujur aku sangat tergoda," ujar Albern.
Aku mendekat dan memeluknya. Biar bagaimanapun dia suamiku. Wajar jika dia bersikap seperti itu. Aku bisa nemahaminya. Mungkin lain waktu aku harus menyiapkan mentalku agar tak mengecewakannya.
"Tidak apa-apa, aku tahu," ucapku.
Albern melepas pelukanku, membelai pipiku.
"Aku belum pernah mencintai seseorang sampai ingin memilikinya seperti ini, kau membuatku ingin selalu bersamamu," ujar Albern.
Kenapa ya kalau bersama buaya pasti seperti ini ya? Perkataannya tulus tak padaku. Namun matanya menunjukkan rasa cinta padaku, jangan sok tahu, aku bukan pakar soal cinta. Mesti tanya sama Dodo yang sudah sering pacaran ma kambing, kira-kira tatapannya sama gak ya?
"Aara jangan panggil Tuan lagi, aku suamimu bukan majikanmu," ujar Albern.
"Iya suamiku," jawabku. Buaya akan marah jika aku tak menurutinya. Bahaya dicaplok buaya idup-idup. Tak ada salahnya aku menyenangkannya.
Cup
Sebuah ciuman mendarat di keningku. Membuat hatiku berbunga-bunga.
"Ayo makan! aku masak loh," ujarku.
"Sayangku masak?" tanya Albern memastikan.
Aku mengangguk.
"Bisa gak betah di kantor kalau istri manis begini," kata Albern. Dia memujiku. Membuatku semakin malu dibuatnya.
Aku tersenyum.
Kami berdua berjalan bersama ke ruang makan. Duduk dan makan bersama. Albern lahap sekali memakan masakanku sambil terus melihat wajahku. Aku tersenyum malu-malu. Wajah tampannya itu, pantas saja banyak wanita jatuh kepelukannya.
Usai makan Albern mengajariku belajar seperti hari biasanya. Dia mengajariku cara yang mudah untuk menghafal dan mengerjakan dengan cepat.
__ADS_1
Tak diragukan lagi dia memang smart. Pantas saja dia seorang pimpinan di perusahaannya. Selesai belajar, kami sholat magrib berjamaah. Tak ku sangka Albern begitu merdu saat melantunkan ayat suci. Aku sampai tercengang dan kagum padanya.
"Makin cinta ya?" tanya Albern usai baca Al Qur'an.
Aku memalingkan wajahku. Buaya itu selalu pede, tapi benar juga apa aku makin cinta?
"Kemarilah sayang!" perintah Albern.
Aku mendekat, tidur di pangkuannya. Seperti anak kecil pada ibunya.
"Kau pasti lelah ya?" tanya Albern. Dia tahu aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Albern memang sangat perhatian dan pengertian. Bukan hanya sebagai suami tapi mirip ibu dan ayahku. Beruntungnya aku jadi istrinya.
"Aku ingin bisa mengerjakan soal UTS dan lulus," ujarku.
Albern memegang tanganku.
"Kau pasti kau bisa mengerjakan soal UTS dan lulus. Setiap hari aku akan mengajarimu," ujar Albern.
"Makasih suamiku," sahutku.
Albern mengangguk. Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
"Aku lihat dulu ya?" ujar Albern.
"Aku saja," ucapku.
Albern mengangguk. Segera ku lepas mukenaku. Mengenakan hijabku, kemudian ke luar kamar menuju pintu depan. Ku buka pintu, ternyata Axel.
"Assalamu'alaikum," sapa Axel.
"Wa'alaikumsallam," sahutku.
Muka Axel penuh luka lebam. Dia terlihat lusuh. Tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya di bahuku.
"Aara aku lelah," ujar Axel.
"Axel kau kenapa?" tanyaku.
Aku melepas tubuh Axel yang bersandar di bahuku.
"Axel apa itu sakit?" tanyaku.
Axel mengangguk. Kasihan sekali. Tak tega melihatnya seperti itu. Axel selalu baik padaku.
"Mau ku obati lukanya?" tanyaku.
"Iya," jawabnya singkat.
Aku mengajaknya ke ruang tamu. Dia duduk di sofa. Aku membawa kotak P3K, ku obati luka lebamnya dan luka baret di tangan dan wajahnya.
"Makasih Aara," ujar Axel.
"Iya," jawabku.
"Kau cantik," puji Axel.
Aku mengangguk.
Tiba-tiba wajah Axel mendekati wajahku.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Albern yang berdiri tak jauh dari kami.
Axel langsung menengok ke samping.
"Kakak?" Axel terkejut melihat Albern.
Aku terdiam. Kedua kakak beradik ini saling menatap dingin.
__ADS_1
"Aku ke sini untuk bertemu Aara, kau sendiri untuk apa ada di sini?" tanya Axel.
Albern menghampiriku, menarik lenganku hingga aku berdiri dan masuk ke pelukannya.
"Aku tak perlu menjelaskan, kau lihat sendiri untuk apa aku ke sini," ujar Albern.
"Lepaskan Aara! kau hanya akan mempermainkannya seperti wanita lainnya," pinta Axel.
"Aara milikku, jadi kau tak perlu mengaturku. Aku tak perlu menjelaskan padamu seberapa pentingnya dia untukku," ujar Albern.
Axel berdiri. Menghampiriku, menarik lenganku hingga lepas dari pelukan Albern.
"Aara kau tak mengenalnya, dia lelaki buaya," ucap Axel.
"Axel dia ...," ujarku ragu.
"Lelaki itu tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya pada Raina, dan sekarang kau ingin bersamanya?" ujar Axel.
"Raina?" Aku terkejut.
"Lelaki itu sudah memperkosa Raina, kau ingin bersama pemerkosa sepertinya? bahkan dia tak gentle untuk mengakui perbuatannya," kata Axel.
Aku terdiam. Masih bingung tapi mulai mencerna ucapan Axel.
"Axel!" pekik Albern.
"Kenapa? kau malu dengan perbuatanmu pada Raina? dia datang ke apartemenmu minta tanggung jawab tapi apa? kau hanya mentertawakannya dan menghinanya, dia bukan wanita murahan yang biasa kau tiduri, dia hanya minta kau bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya, tapi mana? kau hanya pecundang," ujar Axel.
Air mataku menetes. Tak ku sangka Albern setega itu. Apalagi memperkosa Raina tanpa mau bertanggung jawab. Semua ini menjelaskan kenapa Raina bisa menyusui Bobo. Apa karena dia pernah hamil sebelumnya dan itu anak Albern.
Albern terdiam.
"Aara ayo ikut aku, jangan biarkan lelaki brengsek itu menghancurkan masa depanmu juga," ujar Axel.
"Aku ... aku ...," ucapku bingung. Mataku melihat ke arah Albern. Aku terlanjur jatuh hati padanya tapi aku kecewa juga padanya.
"Aara maafkan aku ...," ucap Albern.
"Apa yang Tuan lakukan pada Raina keterlaluan, jika itu aku, entah seperti apa nasibku harus mengandung anakmu sendirian karena Tuan tak ingin bertanggung jawab atas perbuatanmu," ujarku marah.
Albern menghampiriku meraih tanganku tapi aku mengibaskan tangannya.
"Sayang maafkan aku," ujar Albern.
"Tuan tidak perlu minta maaf padaku, tapi pada Raina, dialah korban yang sebenarnya di sini," ucapku sambil menangis.
"Aara benar, seharusnya kakakku yang terhormat minta maaf pada Raina, kau sudah menghancurkan masa depannya," ujar Axel.
Aku berjalan menuju kamarku. Mengambil semua pakaianku, ku masukkan ke dalam tas besar milikku. Aku merapikan pakaian Bobo dan semua perlengkapan Bobo. Setelah selesai ku gendong Bobo di belakang, ku bawa semua tasku. Ke luar kamar berjalan masuk ke ruang tamu.
"Aara kau mau ke mana?" tanya Axel.
"Makasih atas kebaikanmu Axel, tapi tempatku bukan di sini," ujarku.
Aku menengok ke samping.
"Tuan terimakasih atas kenangan singkat yang kau berikan, jangan pernah muncul di hidupku lagi," ucapku.
Albern langsung menghampiriku.
"Aara sayang, aku sudah berubah, aku benar-benar mencintaimu," ujar Albern.
Aku tak menggubris ucapan lelaki buaya itu. Ku langkahkan kaki ke luar dari rumah itu.
"Aara ...," panggil Axel dan Albern.
Aku tak peduli. Mungkin memang seharusnya aku tak mengenal mereka. Aku hanya Aara yang hidupku hanya seputar keripik dan sekolah. Itu saja. Hatiku sakit, saat aku mulai mencintai kenapa aku harus terluka secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka menyusulku, memanggilku. Aku terus berjalan, menyetop taksi, kemudian masuk ke dalam. Meminta supir segera meninggalkan tempat itu. Taksi pun pergi dari tempat itu. Albern dan Axel tak bisa menyusulku lagi.
"Kenapa rasanya sakit? apa karena aku sudah jatuh cinta?" Air mataku terus menetes. Sambil memangku Bobo, aku menangis tapi ku lihat Bobo tersenyum padaku, membuatku harus kuat. Hidupku gak boleh berhenti di sini, ada Bobo yang harus ku rawat dan jaga. Aku harus semangat!