Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Haura Masuk Kandang Part 16


__ADS_3

"Untuk apa pengacara itu kesini Bu?." Tanya Rafael.


"Beliau menitipkan sebuah surat untuk Alina. Katanya itu surat dari orangtuanya". Jawab Ibu Sofiah.


"Surat?".


"Tunggu sebentar." Ibu Sofiah berdiri. Dia berjalan ke meja kerjanya mengambil sebuah surat untuk Alina. Surat itu diberikan pada Rafael agar disampaikan pada Alina.


Rafael menerima surat itu ditangannya. Dia belum tahu pasti isi surat itu. Dia hanya berharap itu sesuatu yang baik untuk Alina.


"Rafael, gimana kabar Alina?." Tanya Ibu Sofiah.


"Baik Bu, sekarang Alina sudah kelas 3 SMA." Ujar Rafael.


"Ibu dengar orangtua angkat kalian belum lama ini meninggal ya?." Tanya Ibu Sofiah.


"Iya Bu, sekarang aku dan Alina tinggal berdua, berbagi suka dan duka bersama". Rafael menceritakan semuanya pada Ibu Sofiah.


"Semoga kelak kalian jadi anak yang sukses. Rafael apa kau sudah mengunjungi makam orangtuamu?." Tanya Ibu Sofiah.


"Sudah satu bulan yang lalu, tapi bulan ini aku belum mengunjungi makam orangtuaku, mungkin akhir minggu ini." Ucap Rafael.


Rafael berjalan keluar dari panti asuhan setelah bertemu Ibu Sofiah. Dia memikirkan surat untuk Alina itu. Banyak pertanyaan di pikirannya. Satu hal yang membuat Rafael takut adalah berpisah dengan Alina.


************


Haura menggunakan penyedot debu untuk mengangkat semua debu di seluruh ruangan. Dia masuk ke semua ruangan di rumah besar itu. Tak sengaja dia memasuki ruangan gelap. Dia menyalakan ruangan itu. Banyak foto seorang wanita cantik terpajang di dinding tapi sepertinya foto itu sudah lama. Haura membersihkan semua foto itu. Dia menjumpai salah satu foto lelaki tampan itu bersama wanita cantik tersenyum bersama.


"Om singa itu ternyata bisa tersenyum sumringah begini. Tapi kenapa dia galak dan menakutkan sekarang?." Penuh tanya dan tanya dipikiran Haura.


"Ruangan ini gelap dan tidak indah lebih baik ku rubah deh biar cantik dan indah." Haura memiliki ide, dia membersihkan kamar itu bahkan foto-foto di dinding itu di turunkan.


Haura mengecat ulang ruangan itu hingga terlihat indah. Setelah selesai Haura lupa memasang kembali fotonya. Dia keluar dari kamar itu. Selain menyedot debu Haura mengepel, cuci piring, mencuci baju. Haura mengambil semua baju kotor yang ada dikeranjang.


"Ini baju kotor Si Om itu, walaupun baju kotor tapi bersih dan wangi. Kira-kira usia dia berapa ya?." Haura merasa lelaki tampan itu resik, dia jadi penasaran dengan usianya. Mungkin saja masih muda. Wajahnya tampan dan keren pikir Haura.


Haura menemukan uang kertas di celana lelaki tampan itu. Dia memegang uang 200 ribu di tangannya. Hatinya dilema, apa dia ambil saja uangnya atau dikembalikan.


Setan Red mengatakan "udah Haura ambil aja, ini namanya rejeki dadakan. Dia juga tidak ingat. Anggap aja ini sodaqoh dari Om itu untukmu he he he."


Setan Bul mengatakan " Haura itu hanya uang sedikit jadi tidak masalah untuk kau ambil toh dia kaya ini. Kau tidak mencuri loh ini namanya kau nemu. Kalau nemu dijalan aja gak papa kita pakai he he he."


"Aku masukin kotak amal aja biar Si Om banyak dosa itu sedekah." Haura berinisiatif untuk mensodaqohkan uang yang ditemukannya.


Setan Red mengatakan "Dia semakin baik akhir-akhir ini, kita bisa saja digantikan dengan setan yang lebih senior."

__ADS_1


Setan Bul mengatakan "memalukan dunia persetanan kalau kita gagal menggoda dia. Turun level, gak dapat bonus bulanan kita dong."


Haura kelelahan padahal belum semua pekerjaan dikerjakannya. Dia tepar di lantai teras belakang.


"Papa, Mama, Haura capek pengen pulang. Kaya pembantu disini gak enak hik hik hik". Haura menangis dia rindu kedua orangtuanya. Kenyamanan yang dulu seakan hilang. Kini dia harus memeras keringatnya setiap hari untuk tinggal dirumah besar itu. Dia tak bisa seenaknya seperti dulu lagi. Kebahagiannya yang dulu sirna ditelan bumi.


"Aku belum mengurus binatang peliharaannya." Haura bangun menuju kandang binatang peliharaan lelaki tampan itu di belakang rumah.


Ketika Haura sampai belakang rumah dia kaget. Binatang peliharaannya bukan binatang lucu dan imut tapi binatang liar.


"Salah ngurus bisa dicaplok nih gue, ini mah berasa di kebun binatang." Haura menelan ludahnya berkali-kali. Dia tak menyangka binatang peliharaan lelaki itu binatang buas seperti gajah, singa, jerapah, buaya dan ular piton.


"Nasib jadi pawang dadakan semoga gue gak jadi pencuci mulut dadakan." Bulu kuduk Haura berdiri melihat binatang buas itu.


Haura masuk ke kandang gajah. Dia harus memandikannya. Haura mengambil sabun, sampo, dan luluran untuk gajah. Tak lupa masker kecantikan dan hand body.


"Tenang gajah aku akan menjadikanmu hewan berkelas yang bersih dan cantik."


Pertama Haura memandikan gajah kecil yang dianggapnya lucu itu. Dia menggosok tubuh gajah itu memberinya sabun dan sampoo.


"Loh kutunya banyak amat, berapa RT nih, udah pada divaksin belum ya. Aku tahu mungkin mereka sedang hajatan kok ngumpul gini"


Haura malah asyik memainkan kutu ditubuh gajah itu, tak lupa dia menghitung jumlah kutu itu dan memasukkannya ke dalam botol kecil.


"Lucu juga kutu gajah, nanti kalau gabut bisa buat mainan."


Haura memakaikan gajah itu masker wajah yang oles. Dia juga memberi tubuh gajah itu handbody.


Dia juga melakukan itu pada gajah dewasa.


"Selesai, urusan pergajahan udah selesai, capek."


Haura pergi ke kandang buaya. Dia bingung cara merawat buaya.


"Kalau aku masuk kandangnya, kira-kira masih idup atau tinggal nama. Apa aku nulis surat pemberitahuan dulu biar ada yang tahu jikalau aku aku dicaplop buaya". Haura ngeri mau masuk kandang buaya. Dia ngilu melihat mulut buaya yang terbuka, mungkin saja tangan atau kakinya dicaplok.


Walaupun takut Haura berusaha berani. Dia masuk kandang dengan membawa seember ayam segar.


"Lah kok ada anak bebek di deket buaya. Apa dia mengasuh anak bebek atau itu anaknya hasil perselingkuhan dengan bebek. Wah dia tidak setia, dan bebek jadi pelakor, sungguh terlalu"


Haura mengambil anak bebek itu. Buaya langsung mengejarnya.


"Ampun deh ini bebek spesial buat si buaya, mati gue kena omel buaya". Haura berlari dikejar buaya sewot gara-gara bebeknya diambil.


"Udah ah, dari pada mati sia-sia balikin lagi deh bebeknya."

__ADS_1


Haura memberikan bebek kecil itu pada buaya. Bebek langsung naik ke atas kepala buaya dan buayanya kembali tenang.


"Oh benar nih, anak bebek ini anak adopsinya buaya. Hampir saja aku jadi menu pembuka."


Haura memandikan buaya, selama si bebek tidak diganggu, buaya itu anteng saat Haura memandikannya dan memberinya makan.


"Masih singa, jerapah dan ular piton huh."


Haura masuk ke kandang singa. Para singa terlihat memperhatikan Haura.


"Tunggu, kalau ngurus singa sama gak ya kaya ngurus gajah dan buaya. Kok aku masuk ke dalam kandang gini, aman atau justru aku ini santapannya?."


Bener perkiraannya singa-singa itu mendekati Haura. Mereka menyudutkan Haura ditepi kandang.


"Mati gue, nikah belum jadi santapan singa mana belum nulis kata-kata perpisahan."


"Eh kok kaya kucing nih singa minta dielus, kurang belaian ku rasa nih." Haura merasa aneh tiga singa itu bermanja-manja dikakinya. Ternyata singa itu jinak walaupun ukurannya besar. Haura langsung mengelus tubuh singa sambil memberi mereka makan daging sapi segar.


"Kalian jinak toh, kirain kejam dan sadis. Sereman tuanmu ternyata."


Selesai dari kandang singa Haura pergi ke kandang jerapah. Dia takjub dengan leher jerapah yang panjang.


"Lah kok gue dicium gini ma jerapah. Jangan-jangan dia termasuk kategori jerapah cabul nih."


Jerapah itu mencium pipi Haura. Dia menjilati pipi Haura.


"Gimana ini, gue bukan bininya. Jangan-jangan nih jerapah jantan siap kawin."


Haura merinding membayangkannya. Ternyata jerapah itu tertarik dengan permen di saku Haura.


"Oh....dia gaul juga doyan permen. Pasti nih korban iklan."


Haura membagi permen jellinya pada jerapah. Dia jadi dekat dengan jerapah itu. Bahkan Haura naik ke punggung jerapah.


Terakhir kandang ular piton. Haura sudah ketakutan, bisa saja dia jadi santapan ketika masuk.


"Loh kok sepi, kemana ular pitonnya. Jangan-jangan dia mengintai lalu gue bakal dicaplok."


Haura melihat ular piton sedang meringkuk di semak-semak buatan bersama pasangannya.


"Lagi kawin toh, sebaiknya aku tidak mengganggu mereka, gak lucukan jadi pihak ketiga. Atau justru jadi mas kawin buat betinanya, mati aku nanti."


Haura hanya meletakkan ayam dan daging segar dikandangnya. Dia keluar dari kandang ular piton.


Haura kembali masuk ke rumah besar itu. Baru mau berjalan ke kamarnya. Haura ditangkap kedua anak buah lelaki tampan itu. Dia dibawa ke ruang keluarga kemudian didorong hingga bersimpuh dikaki lelaki tampan yang sedang duduk disofa.

__ADS_1


"Berani sekali kau merubah kamar milik istriku"


__ADS_2