Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 51


__ADS_3

"Gak mungkin," sahutku.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Kami semakin takut. Ami sampai mengompol karena ketakutan. Dia juga memelukku.


"Ami ini bukan acara perpisahan anak TK, lepas!" ujarku.


"Takut Aara," ucap Ami.


"Takut sih takut, jangan ngompol juga Ami," kataku.


"Iya, kelepasan, bau ya?" tanya Ami.


"Banget, kamu makan apa sih?" tanyaku.


"Jengkol dari Dodo," jawab Ami.


"Udah ngobrolnya? hantu mau gantian nakutin kalian nih." Seseorang berdiri di dekat kami.


"Han ... han ... sip," ujar Ami.


"Hantu kali Mi, iyakan Mba hantu?" tanyaku.


"Iya, hi hi hi," balasnya.


Ami pingsan. Dia tak sangggup mendengar suara nyaring yang membuat bulu kuduk merinding.


"Ugh ... ugh ... ugh ...." Perempuan mirip hantu itu terbatuk.


"Loh kok hantu bantuk," ujar Ami terduduk kembali.


"Mi pingsan-pingsan aja, jangan sadar dulu, kurang aktingnya nih," ujarku.


"Kasihan hantunya, kasih obat batuk dulu," ucap Ami.


"Ha ha ha." Perempuan hantu tertawa puas mendengar celotehan Ami.


"Kalian lucu, tadinya aku cuma mau iseng eh kalian malah bikin aku ketawa beneran," ucapnya.


Aku dan Ami terkejut, kenapa hantu bisa berkomunikasi seperti kami. Apa sekarang hantu udah ikut tik-tokan jadi gaul abis.


"Kamu hantukan?" tanyaku.


"Mba hantu kalau minta dibukain tali pocongnya maaf, aku kaum dhuafa," ujar Ami.


"Aku ini hantu kuntilanak kenapa minta dibukain tali pocong, suka nonton bioskop gak sih? pocong yang biasa minta dibukain tali pocong," katanya.


"Kali aja kuntilanak minta dibukain tali BH," ucapku.


"Iya, BH-ku lepas, tolong dong sangkutin lagi, maklum BH sepuluh ribu tiga," pintanya.


"Hantu bukannya multitalenta, bisa ngilang dan terbang, masa masang tali BH minta tolong," ujar Ami.


"Hantu juga manusia, tidak semua hal bisa, contohnya gigi item terus, gak bisa gosok gigi," ungkapnya.


"Oh pantes hantu giginya item, karena gak gosok gigi," ucap Ami.


Kami akhirnya mengobrol dan duduk bersama di dekat meja guru.


"Mimin kirain hantu beneran, kamu ngapain sih dandan begini?" tanya Ami.


"Aku cuma mau ngerjain orang-orang yang suka membuliku, mereka keterlaluan, buku paketku di buang ke got, padahal Emakku susah payah mengumpulkan uang untuk membelinya," ujar Mimin.


Aku sedih mendengar Mimin bercerita. Kami juga pernah merasakan dibuli teman-teman tapi tak separah Mimin. Kasihan juga dia, hidupnya tak jauh beda dari kami. Kalau mau sekolah harus kerja keras dan hidup seadanya. Namun tidak semua teman paham itu. Mimin kerap dibuli karena culun dan kutu buku, gayanya norak, padahal dia tak pernah mengusik hidup orang lain atau menyakiti mereka. Kenapa hidup tak damai saja, stop bullying! Jadi anak remaja yang bahagia dan penuh cerita SMA yang berwarna.


"Sabar ya Min, aku punya buku paket dua, besok ku berikan untukmu," sahutku.


"Beneran Ra?" tanya Mimin.


Aku mengangguk. Untung saja di rumah Albern ada buku-buku paket sample untuk sekolah, jadi bisa ku berikan untuk Mimin. Lagi pula aku bisa minta Albern membeli buku paket baru. Tak tega rasanya melihat Mimin seperti itu.


"Aktingmu totalitas Min, belajar di mana?" tanya Ami.

__ADS_1


"Liat di tv," jawab Mimin.


"Make up buatan siapa?" tanya Ami.


"Home made," jawab Mimin.


"Gimana caranya?" tanya Ami.


"Dari tepung sama bekas arang di bokong wajan," jawab Mimin.


"Ha ha ha." Aku dan Ami tertawa.


"Terus kamu juga yang matiin lampu sekolah?" tanyaku.


"Bukan, aku cuma mau nakut-nakutin aja, eh ada seseorang yang beraksi," ujar Mimin.


"Beraksi? maksudnya?" tanyaku.


"Sepertinya bukan hanya aku yang ingin membalas perbuatan bulliying tapi seseorang juga," ucap Mimin.


Aku terdiam sesaat. Benar juga, bulliying memang menorehkan luka dihati korban. Bagi yang berpikir jernih mungkin saja mereka memaafkan tapi bagi yang terjerumus dalam rasa sakit hati mendalam, mereka akan menuntut balas esok atau lusa.


"Siapa?" tanya Ami.


"Aku tidak tahu, tapi ku dengar dari perkataannya, dia orang dari masa lalu, mungkin korban bulliying beberapa tahun sebelumnya," ucap Mimin.


"Siapa ya? banyak korban bulliying, kadang pelaku pandai menutup kasus, dan si korban tutup mulut, jadi pihak sekolah tak mengetahui," ujarku.


"Dia akan membalas siapa saja yang telah membulli-nya di masa lalu," ujar Mimin.


"Jadi semua ini sudah rencananya?" tanyaku.


Mimin mengangguk.


"Dari mana kau tahu?" tanya Ami.


"Tadi tak sengaja saat aku sedang memakai kostum di gudang, aku melihat sesosok mengenakan hoodie hitam berbicara sendiri," ungkap Mimin.


Kami terus mengobrol. Di luar suara jerit mulai terdengar. Apalagi dari perpustakaan. Di dalam siswa berlari ke sana ke mari karena pintu di kunci dan di dalam seseorang melepas ular berbisa di lantai.


"Berlarilah selagi kalian bisa, merengeklah, aku suka," ucapnya.


"Papa, Mama, aku mau pulang."


"Aku takut."


"Awas ada ular di situ!"


Suara putus asa, ketakutan, dan harapan untuk tetap bertahan terus terdengar. Hanya suara satu orang yang tertawa kencang. Dia mengenakan hoodie hitam dan masker. Berdiri di atas meja.


"Dulu kalian tertawa untukku, sekarang akulah yang tertawa untuk kalian," ujarnya.


"Apa salah kami? kenapa kau melakukan ini?"


"Pikir sendiri, apa yang kalian lakukan pada seseorang hingga kehilangan teman terbaiknya, kalian juga membulliku habis-habisan, ingat tidak?"


"Siapa?"


"Katakan! Siapa kau?"


"Ha ha ha. Harusnya kalian tahu siapa aku."


Orang itu ke luar dari ruang perpustakaan. Mencari korban lainnya. Di dalam suara mulai ricuh, ular berbisa yang dilepas banyak. Mereka takut bergerak dan berlari.


"Dobrak pintu."


"Gimana, di luar ada pintu tralis, misal pintu kayunya lepas masih ada pintu tralis."


"Terus kita mati saja."


"Aku masih ingin hidup."

__ADS_1


"Siapa orang itu, kenapa dia ingin melukai kita?"


"Dia bila kita pernah membullinya dan menyebabkan dia kehilangan teman terbaiknya?"


"Siapa?"


Mereka semua berpikir bersama. Mengingat kejadian yang sudah berlalu.


"Di SMA ini kita memang sering membulli tapi tak parah, tahu sendiri di sekolah ini ketat, paling di jalan kita membullinya."


"Kalau toh membulli paling hanya perkataan saja, gak pernah fisik."


"Apalagi menyebabkan nyawa seseorang melayang."


Mereka kembali berpikir keras. Mungkin ada suatu kejadian di masa lalu yang terlewatkan.


Di dalam aula sekolah, beberapa siswa berkumpul. Mereka duduk di lantai karena pintu terkunci. Orang yang tadi masuk ke dalam. Dia menyebar seplastik besar kecoak dan seplastik besar tikus. Hingga kecoak dan tikus itu merayap di tubuh para siswa.


"Ih ih ih."


"Geli."


"Aku takut, kecoaknya masuk ke dalam bajuku.


"Aku takut tikus."


"Ha ha ha, senangnya berpesta malam ini."


"Siapa kau? Cemen, beraninya matiin lampu, sini kalau berani!"


Orang itu menghampiri siswa lelaki yang menantangnya.


"Apa? Kau ingin bertarung?" tanyanya.


Dug ...


Siswa lelaki yang tadi menonjoknya. Mereka saling bertarung hingga siswa itu terjatuh ke lantai.


Siswa perempuan menangis melihat pertarungan itu. Dua orang siswa lelaki lainnya membantu, melawan orang misterius itu, namun mereka juga kalah.


"Dengar! Aku masih berbaik hati, tidak seperti Mayang yang akhirnya tewas karena ketakutan," ucapnya.


"Kau! jadi Mayang mati karenamu?"


"Secara proses iya, tapi dia mengakhiri hidupnya sendiri karena kebodohannya."


"Kau! Apa salah kami?"


"Anita Feriska? Kalian ingat?" tanyanya.


Mereka terkejut saat nama Anita Feriska disebut. Nama itu pernah ada dihidup mereka semua.


"Anita? teman SMP kitakan?"


"Iya, aku inget."


"Dia yang bunuh diri itukan?"


"Kalian lupa kenapa dia bunuh diri?"


Mereka terdiam. Mengingat semuanya. Apa yang terjadi pada Anita dan mereka semua.


"Hidupnya hancur karena kalian, dia teman terbaikku, tapi kalian mengambilnya," ungkapnya.


"Kami tak pernah membunuh Anita, dia bunuh diri sendiri."


"Yakin? Kalianlah penyebabnya," sahutnya.


Mereka semua terdiam.


"Ingat kejadian 3 tahun lalu?"

__ADS_1


"Kenapa Anita bunuh diri?"


__ADS_2