
Pagi itu Rafael pergi pagi-pagi sekali mengantar pelanggan taksi online miliknya. Dia tidak bisa mengantar Alina ke sekolah, jadi Alina berangkat ke sekolah sendiri. Alina berjalan ditepi jalan dengan riang. Dia memilih jalan kaki untuk menghemat biaya supaya tidak membebankan kakaknya. Selama ini Rafael selalu berusaha memberi yang terbaik untuk Alina meskipun sesuai kemampuannya. Bagi Alina, Rafael segalanya bagi hidupnya. Tidak ada hari tanpa Rafael disisinya. Tapi kini Alina akan berusaha mandiri agar kakaknya tidak menanggung bebannya sendirian.
Sebuah motor gede berhenti disamping Alina. Pengendaranya mengenakan baju SMA dengan jaket hitam. Alina tahu siapa yang menaiki motor itu.
"Alina naiklah!". Alvan memerintah sambil membuka kaca helm yang dikenakannya. Seperti biasa dia tak pernah lembut pada Alina. Inilah ciri khas Alvan yang Alina ingat.
"Gak mau". Alina menolak dengan tegas. Dia tidak mau naik motor bersama Alvan.
"Kau mau ku tabrak atau naik?". Alvan memberi pilihan yang memaksa. Motornya mulai dinyalakan, Alvan mencengkram lengan Alina.
"Naiklah atau kau ingin tanganmu patah". Alvan mulai mengancam hingga membuat Alina mengalah dan naik ke motor membonceng Alvan dibelakangnya.
Ngoooong.........ngoooong........ngooooong..........
Alina diam saja, dia malas berbicara pada lelaki diktaktor itu. Mukanya cemberut sepanjang perjalanan. Melihat Alina seperti itu Alvan menaikkan kecepatan motornya hingga melaju kencang.
"Alvan hentikan, pelanlah". Alina ketakutan hingga berpegangan dipinggang Alvan. Bukannya semakin pelan, Alvan justru menambah kecepatannya. Hingga motor itu melesat dengan cepat.
"Alvaaaaan, aku takut". Alina berteriak. Alvan hanya tersenyum, dia sepertinya puas mendengar teriakkan Alina. Tak lama Alina ketakutan dan menangis.
"Hik hik hik".
Kecepatan motor itu menjadi pelan, Alvan memasukkan tangan Alina ke dalam saku di jaketnya.
"Kau lapar?". Alvan bertanya. Alina hanya diam tidak menjawab.
"Berarti kau lapar". Alvan menghentikan motornya ditepi jalan. Ada tukang jualan bubur ayam. Alvan menoleh ke belakang melihat wajah Alina yang cemberut.
"Turunlah atau kau masih ingin yang tadi?". Alvan kembali mengancam Alina.
Tanpa bicara Alina turun dari motor, Alvan juga turun dari motor lalu menarik lengan Alina menghampiri tukang bubur ayam itu. Dia mendudukkan Alina di kursi, kemudian memesan bubur ayam dua porsi untuknya dan Alina. Alvan duduk di samping Alina yang masih cemberut. Dia mengambil beberapa sedotan plastik lalu dirangkai jadi sebuah gelang dan dipakaikan dilengan Alina.
"Alina jangan pernah dibuang, pakai terus". Alvan ingin Alina terus mengenakan gelang buatannya meskipun dari sedotan yang dirangkai.
"Memaksa". Alina menatap Alvan dengan tatapan dingin.
"Bagus, aku suka melihatmu terpaksa". Alvan malah tersenyum melihat keterpaksaan Alina memakai gelang sedotan itu.
Tukang bubur ayam itu menyajikan bubur ayam itu dimeja. Alvan dan Alina mulai memakan bubur ayam itu bersama.
"Enak, enak banget". Alina menyukai bubur ayam itu. Dia begitu lahap memakan bubur ayam itu sampai habis.
"Bubur ayam itu tidak gratis, kau harus mengerjakan PR ku". Alvan mulai lagi menyuruh Alina mengerjakan PR miliknya.
"Ternyata kau ada maunya". Alina tak menyangka semangkuk bubur ayam itu berbayar dengan jasa. Alvan memang licik dan menyebalkan menurut Alina.
Mereka berdua kembali naik motor ke sekolah. Kali ini Alvan mengendarainya pelan-pelan. Sampai di sekolah, Alina masuk ke kelasnya. Beberapa teman dikelasnya mengolok-ngolok Alina.
__ADS_1
"Hamil kok disembunyiin sih, malu ya". Maya menuduh Alina dengan entengnya.
"Sok alim, tau-tau dung". Zoya menambahi tuduhan itu.
"Kalau gue mana berani ke sekolah". Keyla juga ikut meledek Alina.
Alina berjalan menuju bangkunya tanpa menghiraukan ucapan mereka. Baru mau duduk dan menaruh tasnya, sebuah test pack ada di kolong mejanya. Alina terkejut kenapa ada test pack di kolong bangkunya.
"Ini punya siapa?". Alina bertanya.
"Maling kok teriak maling, ya punyamulah". Zoya berkata.
"Masa punya orang, jelas-jelas ada dibangkumu". Maya menegaskan.
"Makanya jadi orang jangan sok alim jadi kebablasan". Keyla juga ikut komentar.
"Iya huh". Teman sekelasnya ikut mengolok-ngolok Alina.
"Keluar sana, keluar.....keluar......keluar". Teman-teman Alina memintanya keluar dari SMA.
Maya, Zoya dan Keyla menyeret Alina keluar kelas.
"Lepas, aku mau sekolah". Alina berusaha melepas tangannya dari pegangannya ketiganya.
Alina didorong hingga jatuh di lantai luar kelas.
Bluuuuug.........
Mereka bertiga memarahi Alina dan menghinanya.
"Pezina kotor, bukan disini tempatmu". Maya berkata.
"Urus anak harammu gak usah sekolah". Zoya berkata
"Bikin malu kelas kita aja" Keyla juga berkata.
Alvan yang sedang melewati lorong kelas melihat Alina. Dia langsung menghampiri Alina. Kali ini Alvan membantu Alina bangun untuk berdiri.
"Aku paling tidak suka ada yang bermain dengan mainanku". Alvan berkata dengan lantang.
Mereka bertiga sedikit takut kalau harus berhadapan dengan Alvan.
"Begini Alvan, si Alina ini hamil, kami hanya tak suka saja". Maya menjelaskan.
"Hamil?". Alvan terkejut. Bagai tersambar petir saat mendengar Alina hamil. Selama ini dia mengenal Alina anak yang baik tapi kini dia menerima kenyataan yang berbeda.
"Iya, dia hamil. Memalukan sekali" Timbal Keyla.
__ADS_1
Alvan langsung menarik lengan Alina, dia membawa Alina masuk ke gudang sekolah.
Alvan langsung mendorong Alina hingga jatuh ke lantai. Dia terlihat marah dan kecewa.
"Kau hamil?". Alvan berdiri didepan Alina. Dia ingin meluapkan semua amarahnya. Alina hanya diam, dia tidak mau bicara dan menjelaskan.
Alvan berjongkok memegang kedua lengan Alina.
"Kau hamil dengan siapa biar ku bunuh dia". Alvan menatap Alina dengan penuh amarah.
Alina tetap diam tanpa memberi jawaban. Dia membiarkan Alvan marah padanya.
"Alina bilang padaku siapa yang menghamilimu?"
Alvan terus bertanya. Dia seolah ingin tahu siapa lelaki yang sudah menyentuh Alina. Dia akan benar-benar membunuh lelaki itu.
"Kau". Alina berkata dengan tatapan dingin. Alvan terkejut mendengar jawaban Alina. Dia meraih pipi Alina dan mencengkramnya dengan kedua lengannya.
"Alina jangan bermain-main denganku". Alvan mengancam. Dia benar-benar marah pada Alina.
"Lalu apa kau percaya jika aku bilang tidak hamil"
Alina mengatakan dengan tatapan dingin pada Alvan. Dia merasa jujur atau tidak, sama saja akan mendapat perlakuan seperti ini dari Alvan.
Alvan melepas tangannya dari pipi Alina. Dia memeluk Alina. Mencium bahunya berkali-kali.
Alina langsung mendorong Alvan.
"Alina aku akan membuatmu hamil". Alvan mengatakan hal yang membuat Alina terkejut.
Dia meraih tubuh Alena menjatuhkannya dilantai. Dan merobet pakaiannya. Alvan mencengkram Alina, dia memeluk Alina dan mencium bibirnya.
Alina melawan mengigit bibir Alvan dan menendang bagian terpenting dari Alvan.
Dug..........
Alvan beranjak dari tubuh Alina, dia kesakitan.
"Kau sama saja dengan mereka hanya bisa merendahkanku, menghinaku dan menyakitiku". Alina benar-benar marah pada Alvan kali ini.
"Aku bukan mainanmu yang kau permainkan sesukamu". Alina dengan lantang menegaskan posisinya. Dia merasa hanya jadi mainan Alvan selama ini. Dia tidak ingin jadi mainannya.
"Aku pikir mungkin kau akan berubah tapi kau sama saja". Alina sudah marah, air matanya mengalir dipipinya. Dia merapikan bajunya yang sedikit sobek lalu berdiri meninggalkan Alvan.
"Jangan pernah muncul di depanku lagi". Alina berjalan keluar dari gudang sekolah. Dia sangat kecewa pada Alvan. Dia pikir Alvan akan mengerti dan menolongnya tapi tidak dia justru malah mau merendahkan Alina. Air mata Alina menetes dipipinya. Dia merasa benar-benar terluka. Bukan karena hinaan teman-temannya. Tapi Alvan sudah merendahkannya.
Di gudang sekolah Alvan menyesali perbuatannya pada Alina tadi. Dia menonjok tembok di depannya berkali-kali hingga jari ditangannya berdarah.
__ADS_1
"Kenapa aku melakukan itu padanya?". Alvan benar-benar menyesal. Sekasar-kasarnya dia, itu perbuatan merendahkan yang tidak bisa dimaafkan. Dia sudah menyakiti Alina secara tidak langsung. Apa bedanya dia dengan teman sekelas Alina. Alvan keluar dari gudang sekolah mencari Alina. Dia melihat Alina menangis di belakang sekolah. Alvan melepas jaketnya dan mengenakannya pada tubuh Alina.
"Alina maafkan sikapku yang tadi, aku sudah keterlaluan". Alvan berjongkok didepan Alina dan menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu Alina akan memaafkannya atau tidak.