Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 97


__ADS_3

Pagi itu Raina sedang menyapu halaman depan sambil menggendong Bobo yang minta gendong di punggungnya. Hari itu Axel masuk sip pagi. Dia belum pulang. Raina sambil menyapu sambil mengajak Bobo bercanda.


"Bunda, permennya enak," ucap Bobo.


"Iya sayang, besok kita beli lagi ya," sahut Raina.


Bobo tersenyum kegirangan.


Tak lama datang seorang wanita cantik mengenakan seragam mirip Axel menghampirinya. Dia terlihat genit dan menor.


"Raina ya istri Mas Axel?" tanya Sella.


"Iya," jawab Raina.


"Kenalin Sella pacarnya Mas Axel di PT," ucap Sella mengulurkan tangannya dengan pede agar Raina kesal.


"Oh, aku Raina, istri sah Axel," jawab Raina santai sambil mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Sella.


"Pantes ya Mas Axel gak betah di rumah, istrinya aja cuma ibu rumah tangga, beda sama aku, seksi dan kerja," ucap Sella.


"Perasaan Axel gak pernah ngeluh kok Nona yang komplen ya," sahut Raina.


"Kamu tuh ngaca dong gak pantes buat Axel, hamidun duluan tapi minta tanggungjawab Axel," ucap Sella.


"Memang kenapa? Aku yang mau kenapa kamu yang repot," ucap Axel menghampiri mereka berdua.


"Kak Axel," ucap Sella.


"Axel," sapa Raina.


Axel menatap Sella dengan wajah kesal.


"Mau Raina ibu rumah tangga atau gak itu urusan kami, kamu kurang kerjaan sampai datang ke rumahku?" ujar Axel.


"Gak kok Kak, tadi kebetulan lewat aja," sahut Sella.


"Ku peringatkan jangan pernah muncul di depan Raina lagi, oya besok kau habis kontrak, minta maaflah pada istriku dari sekarang karena besok kau pulang kampung," ujar Axel.


"Apa? Aku habis kontrak?" batin Sella.


"Kak Axel kok tahu aku bakal abis kontrak besok?" tanya Sella.


"Aku salah satu penentu kau habis kontrak atau tidak, dan karena pekerjaanmu lebih banyak ngobrol dari pada bekerja, lebih baik kau pulang kampung," ucap Axel.


"Kak maafkan aku, aku masih ingin kerja," ucap Sella.


"Seharusnya kau pikirnya 6 bulan dari kemarin, kau hanya menggosip dan menggoda suami orang, tidakkah ada yang lebih pantas yang bisa kau lakukan?" sindir Axel.


"Jadi selama ini Kak Axel memperhatikan kerjaanku?" tanya Sella.


"Aku atasanmu, tentu tahu semua kebiasaan dan kegiatan bawahanku selama bekerja," jawab Axel.


Sella terdiam. Dia tak menyangka tadinya ingin mempermalukan Raina justru dipermalukan Axel karena pekerjaannya yang tukang gosip dan menggoda suami orang.

__ADS_1


"Lain kali kalau kerja yang bener, perusahaan menggajimu tiap bulan, di luar sana banyak pelamar kerja yang ingin bekerja, tapi kau malah menyia-nyiakannya," ujar Axel.


"Jadilah wanita yang menjaga kehormatanmu, jangan sekali-kali mengambil yang bukan milikmu," ujar Raina.


Sella sangat malu. Dia berjalan meninggalkan Axel dan Raina begitu saja. Dia malu sekali ditambah besok akan habis kontrak. Membuatnya tak punya kekuatan untuk bertahan.


"Sayang kau tak apa-apa?" tanya Axel.


"Gak papa, suamikukan ganteng, wajar kalau banyak yang suka," ucap Raina.


Axel langsung merangkul Raina. Dia senang istrinya tak termakan api cemburu yang sengaja dikobarkan Sella.


"Aku bawa pempek kesukaanmu," ujar Axel.


"Makasih sayang," sahut Raina.


"Papa Bobo apa?" tanya Bobo.


"Nih es krim buat Bobo," jawab Axel sambil menunjukkan es krim yang dibelinya.


"Hore ...," ucap Bobo.


Axel dan Raina masuk ke kontrakan mereka. Menikmati makanan yang dibawa Axel. Mereka begitu bahagia dengan kebahagian kecil mereka.


***


Pagi itu Albern menemani Tina jalan-jalan bersama Sella dan Riffai. Mereka ingin membantu Tina agar bisa bersemangat kembali menjalani hidupnya. Sella menyuapi Tina makan. Dulu mereka disekap bersamaan. Merasakan penderitaan yang sama.


"Tina, kau harus sembuh, bukannya kau ingin jalan-jalan keliling dunia?" tanya Sella.


"Lihat, tempat-tempat ini yang ingin kau datangikan?" tanya Albern.


Tina mengangguk.


"Kita bisa ke sana Tina, tapi kau harus tersenyum dan bersemangat lagi," ucap Sella.


"Iya Tina, Riffai dan Sella akan menemanimu jalan-jalan," ucap Riffai.


Tiba-tiba Tina memberikan sebuah surat dari dalam bajunya pada Sella.


"Itu apa sayang?" tanya Riffai pada Sella.


"Buka Sella," pinta Albern.


Sella mengangguk.


Segera Sella membaca surat itu. Air matanya tak kuasa jatuh di pipinya.


"Apa isinya?" tanya Albern.


"Sayang apa?" tanya Riffai.


"Surat untuk suaminya di kampung, sepertinya Tina punya suami, dia pergi merantau demi melunasi hutang kedua orangtuanya namun justru masuk ke dalam perdagangan manusia ke luar negeri," ucap Sella.

__ADS_1


"Jadi Tina masih punya suami?" tanya Albern.


"Iya namanya Tedi Suwardi, tinggal di kota G," jawab Sella.


"Berarti kita harus mencari suaminya, semoga aja Tina bisa sembuh dengan bertemu suaminya," ujar Albern.


"Iya Bang, kita harus pertemukan Tina dan suaminya," ujar Riffai.


"Setuju, aku bawa mobil," ujar Rangga yang baru datang langsung berkomentar.


Mereka bertiga tersenyum dengan usul Rangga.


"Kita harus minta izin Pak Abdul dulu, untuk mengantar Tina ke kota G bertemu suaminya," ujar Albern.


"Iya, setelah mendapat izin, barulah kita berangkat besok," ucap Rangga.


"Setuju," sahut semuanya kecuali Tina yang hanya diam saja.


Setelah itu Albern, Rangga, dan Riffai pergi ke ruangan pengurus panti sosial sedangkan Sella menemani Tina. Memberinya semangat.


Albern, Rangga, dan Riffai duduk di sofa bersama Pak Abdul. Mereka bertiga menceritakan maksud tujuan mereka menemui Pak Abdul.


"Jadi kalian akan membawa Tina bertemu suaminya?" tanya Pak Abdul.


"Iya Pak, mungkin dengan begitu Tina bisa sembuh," jawab Albern.


Pak Abdul terdiam sesaat untuk berpikir.


"Baiklah bapak setuju, jika memang Tina masih memiliki keluarga, pertemukan kembali dengan keluarganya," ucap Pak Abdul.


Semuanya mengangguk. Senang Pak Abdul memberi ijin untuk mempertemukan Tina dengan suaminya kembali.


"Besok pagi kami akan berangkat ke kota G," ucap Rangga.


"Pakai mobil panti aja lebih luas, itu mobil elf muat untuk kalian semua," usul Pak Abdul.


"Terimakasih Pak," sahut Albern.


"Hati-hati di jalan, salam untuk suami Tina," ucap Pak Abdul.


Mereka mengangguk.


Albern dan yang lainnya senang. Besok mereka bisa mengantar Tina bertemu suaminya.


Di kamar Tina, Sella membantunya mandi dan berganti pakaian. Dia juga menata semua baju Tina ke dalam koper sambil mengajaknya mengobrol.


"Besok kita pulang, pasti kangenkan sama suamimu?" tanya Sella.


Tina mengangguk. Air matanya menetes di pipinya.


"Mulai hari ini dan seterusnya kau harus bersemangat, ada hidup baru yang lebih indah di depan sana," ucap Sella.


"Ma-makasih Se-la," ucap Tina terbata-bata.

__ADS_1


Sella menghampiri Tina dan memeluknya. Bagi Sella dan Tina mereka sudah seperti sahabat seperjuangan. Saat mereka diperdagangkan, mereka melewati masa sulit bersama hingga tak memiliki semangat hidup lagi. Tapi untunglah polisi Internasional menemukan mereka dan mengantar mereka kembali ke negaranya.


"


__ADS_2